Angka Stunting Capai 12,88 Persen, Berikut Strategi Mengatasinya ala Pemkot Yogyakarta
Jumlah anak yang mengalami stunting di Kota Yogyakarta ternyata masih cukup tinggi. ... ...

YOGYAKARTA – Jumlah anak yang mengalami stunting di Kota Yogyakarta ternyata masih cukup tinggi. Berdasarkan data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2AP2KB) Pemkot Yogyakarta, pada tahun 2021 angka stunting di Kota Yogyakarta mencapai sebanyak 1.433 anak atau setara 12,88 persen.
“Jumlah tersebut turun dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2020, anak yang mengalami stunting di Kota Yogyakarta sebanyak 1.708 anak atau 14.33 persen,” kata Kepala DP2AP2KB Pemkot Yogyakarta, Ir Edy Muhammad dalam acara Sosialisasi dan KIE Program Bangga Kencana Bersama Mitra Kerja di Provinsi DIY di Pendapa Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Sabtu (23/4/2022).
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh karena kekurangan gizi dalam seribu hari pertama kehidupan anak yang baru lahir.

Edy menegaskan, Pemkot Yogyakarta berkomitmen menurunkan angka stunting. Bahkan, pada tahun 2024 pihaknya menargetkan zero stunting. Untuk mewujudkan target tersebut, pihaknya telah menyiapkan delapan aksi konvergensi sebagai langkah strategis. Yakni, analisis situasi, penyusunan rencana kegiatan, rembug stunting, penerbitkan peraturan walikota dan peran kalurahan, pembinan kader pembangunan manusia, sistem manajemen data, pengkuran dan publikasi dana stunting dan terakhir mengevaluasi kinerja tahunan.
“Untuk mencegah stunting, kami melibatkan partisipasi aktif ibu-ibu PKK melalui Posyandu, memberikan tambahan gizi bagi anak yang baru lahir dan balita, melibatkan KUA untuk memberikan sosialisasi kepada calon pengantin, dan meminta kepada ibu hamil agar memperhatikan asupan gizi untuk pertumbuhan janinya,” tandas Edy.
Kepala BKKBN DIY, Shodiqin mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat bersama-sama menurunkan angka stunting. Menurutnya, tanpa ada partisipasi aktif masyarakat tentu pemerintah tak dapat menekan stunting di Indonesia khususnya di Yogyakarta.
“Bagi ibu hamil, mohon diperhatikan belum makannya, makan yang bergizi dan protein tinggi,” pinta Shodiqin.
Anggota Komisi IX DPR RI, Sukamto mengatakna, stunting bukanlah penyakit. Namun, apabila ini dibiarkan akan merugikan generasi penerus Bangsa Indonesia.
“Pada prinsipnya stunting itu bukan penyakit, kekurangan gizi saja. Hal ini terjadi ketika ibu mengandung ia kekurangan gizi, atau anak-anak yang dilahirkan dari ibu yang masih muda saat hamil,” kata Sukamto disela-sela menghadiri sosialisasi tersebut.
Sukamto menyebutkan, secara nasional angka stunting mencapai 24 persen. Sedangkan DIY sebesar 17 persen. Pemerintah pun telah berupaya melakukan percepatan menurunkan angka stating menjadi 14 persen sesuai dengan standar badan kesehatan dunia atau WHO.
“Salah satu yang dapat dilakukan untuk mencegah stunting adalah mencegah pernikahan dini. Bagi perempuan, usia menikah minimal 19 tahun dan laki-laki 21 tahun,” terang politisi PKB.
Sukamto mendukung upaya strategi yang dilakukan oleh Pemkot Yogyakarta dalam rangka menurunkan angka stunting di Kota Yogyakarta. “Semoga, tahun 2024 di Kota Yogyakarta tidak ada lagi stunting,” harapnya. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

