Kopi TIMES

Minyak Goreng, Mafia Pangan, dan Reposisi Negara

Rabu, 23 Maret 2022 - 13:00 | 102.57k
Minyak Goreng, Mafia Pangan, dan Reposisi Negara
Mangku Purnomo, PhD, (Staff Pengajar Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya).

TIMESINDONESIA, MALANGMinyak Sumber Rasa Gurih Murah

Minyak goreng, pawang hujan di Mandalika, dan Perang Rusia menjejali dunia maya beberapa minggu terakhir. Khusus masalah minyak goreng, Ibu-ibu banyak mengeluh karena langka dan harga terus melambung sebulan terakhir. Meskipun kelangkaan tidak terjadi lagi, tetapi harga tetap dianggap mahal. Masalah harga tentu relative. Bisa subyektive karena ditentukan oleh tingkat pendapatan dan tingkat ketergantungan/konsumsi. Bagi masyarakat berpendapatan rendah, dengan kemampuan diversifikasi lauk yang kecil, minyak goreng adalah jalan murah menghadirkan rasa gurih dimenu keluarga. Bagi yang kaya, rasa gurih minyak goreng adalah sumber dari koresterol, langka tidak masalah! Karena fungsi minyak didapur si Kaya dan si Miskin berbeda, maka pasti lahir pendapat berbeda!

Berkaca dari kondisi tersebut, tidak heran jika komentar-komentar bermunculan yang berbeda-beda. Apalagi perang pendapat sekarang menggunakan Medsos. Bagi yang berkecukupan menyarankan mengurangi minyak, sementara yang miskin merasa sumber gurih termurah mereka terampas. Mungkin terkesan hanya masalah persepsi. Tetapi, asal strata sosial menentukan pendapat subjective mereka terhadap kelangkaan minyak goreng. Oleh karena itu untuk memahami berbagai komentar harga minyak oleh para pejabat seperti mentri atau siapapun, maka lihatlah latar belakang mereka!

Agak lebih mendalam kita merenung maka makna tersirat sebenarnya adalah masih lebarnya “KESENJANGAN”. Artinya, masih banyak rakyat kita yang mengandalkan minyak sebagai sumber rasa gurih. Ini tentu bencana besar bagi bangsa. Jika yang belajar ilmu gizi pasti langsung mengerti. Masalah minyak ini bisa menjadi tanda awal kenapa stunting, nutrisi buruk, Pola Pangan Harapan (PPH) rendah. Sumber-sumber gurih kita masih didominasi minyak! Padahal rasa gurih yang paling baik tentunya yang berasal dari daging dan susu beserta berbagai makanan turunannya. Jika harga minyak goreng masih jadi masalah banyak masyarakat, maka status gizi masyarakat kita juga bisa diukur dari situ.

Ini masalah yang sangat penting. Seorang menteri selalu mewanti-wanti. Jangan tinggalkan generasi yang lemah dimasa akan datang. Jangan terperangkap stunting. Perbaiki gizi mereka. Bahkan ada “desk” khusus yang mengurus masalah itu di kantor Wakil Presiden. Apakah kita terus berdebat tentang minyak? Ataukah melangkah lebih jauh menata pola konsumsi? Mengarahkan rakyat mengkonsumsi makanan dengan nilai tinggi? Menggantikan sumber gurih dengan daging dan susu? Ini kerja massal multi sectoral, mulai teknis hingga politis dengan partisipasi rakyat yang tinggi!

Mafia Pangan atau Ekonomi Biaya Mahal?

Mari bergeser pada mafia pangan. Jika hanya masalah kelangkaan, maka mudah untuk mengungkap. Saya yakin tidak sulit bagi apparat untuk menelusur. Apalagi dengan system kita yang terus terbuka. Bukan hanya penimbunan disaluran distribusi, petugas pajak pasti tahu mana perusahaan yang berproduksi banyak. Apalagi pajak akhir-akhir ini sangat intensif hingga menyusur sector pertanian dan perkebunan. Dari data itu saja sudah terlihat siapa yang bermain, jika memang ada yang bermain. Kenapa rumit? Karena masalah tidak sekedar penegakan hukum. Ini adalah masalah ekonomi politik!

Biaya membuat minyak goreng tidak hanya dihitung dari sisi input produksi menurut perhitungan ekonomi konvensional. Biaya tinggi pada perijinan pembukaan lahan sawit menjadi tentu berkontribusi. Berapa besarnya? Banyak kepala daerah dipejara karena sogokan! Berarti membuka kebun sawit biaya sangat tinggi! Tentu ini ditambah dengan kewajiban-kewajiban lain yang sifatnya formal dan informal. Kelola sosial, kewajiban iuran, kewajiban plasma, juga kenaikan pajak menjadi beban berat bagi perusahaan-perusahaan sawit. Dari sisi ini musti dibedah! Penyebab kenapa biaya produksi sawit tinggi. Harga Pokok Produksi (HPP) per liter minyak goreng tidak sesederhana menghitung biaya produksi biasa.

Proses menahan stok sepertinya bagian dari proses bargaining power. Pengusaha minyak pasti telah melakukan berbagai upaya menormalkan bisnis. Bisnis sawit bisnis jangka panjang dengan investasi yang besar. Rent seeker atau pencari keuntungan sesaat pasti ada. Pengusaha sawit tidak akan berani ambil resiko dengan tidak menstabilkan bisnis mereka. Jika kita lihat kapitalisasi bisnis minyak goreng saat ini, maka para pemain besar pasti ingin stabilitas. Menahan stok pasti dilakukan setelah cara-cara lobi dan diplomasi macet.

Dari sisi pemerintah menahan Harga Eceran Tertinggi (HET) juga sangat rasional ditengah menurunnya daya beli. Paparan covid 19 dua tahun ini sangat berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat. Pemerintah tahu persis jika minyak goreng sumber pangan utama kelompok bawah. Dari sisi ini maka pemerintah pasti sangat dilematis. Belum lagi disparitas harga diluar negeri, juga konversi sawit menjadi bahan bakar kendaraan. Pabrik-pabrik etanol berskala besar sudah dibangun dengan investasi besar. Apakah pasokan sawitnya juga akan dikurangi? Semua serba dilematis!

Langkah-Langkah Strategis

Langkah strategis yang perlu dilakukan pemerintah haruslah sistemik dan antisipatif bukan sporadic dan reaktif. Pertama, kunci utama sebenarnya ada pada tranparansi pengambilan kebijakan. Transparansi atau paling tidak penjelasan pemerintah dalam setiap proses pengambilan kebijakan terasa sangat kurang. Debat-debat dipublik juga hanya nyinyir sisi politiknya kadang terbawa sisa pilpres. Seputar ketidabecusan pemerintah dan isu-isu mafia yang sumir. Kita hanya tahu seorang mentri mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa di DPR. Hanya bisa mengatakan ada adanya “mafia minyak” yang sebenarnya juga sumir. Akhirnya isu berseliweran tak menentu.

Kedua, memperbaiki Pola konsumsi dimana sumber gurih harus digeser dari minyak ke daging dan sumber protein lainnya. Tentu saja ini diperuntukan pada kelas bawah yang mengandalkan minyak goreng sebagai sumber gurih. Ini tentu saja melibatkan tidak hanya kementrian perdagangan, tapi juga kementrian teknis seperti pertanian perikanan, kesehatan, juga BKKBN. Kampanye merubah pola konsumsi peran BKKBN sangat besar dimasa lalu dan berhasil. Intinya menyentuh keluarga, khususnya ibu-ibu. Kampanye mengurangi konsumsi mie instant dari teman-teman kesehatan juga terbukti berhasil dimana semua orang menyadari bahwa mie instant tidak menyehatkan. Meski kenyataannya belum tentu, tetapi semakin banyak orang mengurangi konsumsi mie instant. 

Ketiga, memperbaiki iklim usaha sawit. Isu korupsi saat perijinan usaha, juga berbagai transaksi cost diluar teknis usaha sawit termasuk biaya kelola lingkungan yang mahal harus segera diselesaikan. Pembebanan program pemberdayaan masyarakat sekitar pabrik dengan alasan CSR terkesan mengurangi kewajiban daerah untuk memberdayakan rakyatnya. Kalua pola bisnis di tanah air tetap seperti saat ini maka sulit untuk bersaing dengan negara tetangga. Padahal rata-rata gaji pekerja sawit di Malaysia jauh diatas Indonesia kenapa ongkos produksinya menjadi relative sama? Ini karena berbagai biaya transaksi tadi.

Keempat, proses review terhadap ongkos produksi harus terus dilakukan sebagai data pembanding dari pengusaha sehingga kenaikan harga bisa dimonitor dan dikonsultasikan dengan pemerintah. Data ini sangat penting sebagai rujukan para pelaku bisnis sehingga tidak semena-mena menaikan harga dengan alasan ongkos produksi naik, tetapi data tidak ada. Ini merupakan prinsip dasar untuk membangun ekosistem industry yang sehat, terutama industry pada bidang yang strategis dan berkaitan dengan hajat hidup orang banyak. 

Kelima, memperluas swasta kecil untuk ikut mengolah sawit. Bumdes-Bumdes dikawasan sawit bisa mengambil bagian. Pemerintah cukup mengeluarkan standard minimum untuk bisa beredar serta dan pola pengawasannya sehingga konsumen terjamin keamanannya. Pasti model ini akan ditentang oleh para pengusaha besar. Dengan luas Indonesia serta jalur distribusi, memberi peluang pada pengolahan-pengolahan kecil akan sangat membantu mengurangi kesenjangan. 

Keenam, menghapus segala bentuk subsidi. Ini masalah krusial. Pilihan system ekonomi kita liberal. Jikapun orang menyebut ekonomi Pancasila dan gotong royong, nyatanya kita sudah liberal penuh hamper semua lini. Subsidi terhadap industry pada sistem ekonomi liberal adalah pintu korupsi. Oleh karena itu segala  bentuk subsidi sebaiknya dihapus. Subsidi focus saja pada kaum rentan dengan program sosialnya. Cukup dengan fasilitas pajak khusus dan jangan malah dinaikkan. Uang subsidi lebih baik untuk membangunn jalan-jalan produksi di kebun2 sawit yang selama ini dibebankan ke perusahaan.

Ketujuh, memperbaiki pengawasan/monopoli. Membangun system ini yang kita tidak punya kemampuan. Ada komisi pengawas persaingan usaha (KPPU) malah tidak muncul menjadi penengah. Mustinya ada ekpose dari lembaga ini untuk menentukan apakah perusahaan tertentu memonopoli atau tidak. Di negara-negara yang maju lembaga ini memagang peranan penting bahkan sampai bisa merekomendasikan sangsi. 

Pada dasarnya masalah minyak goreng ini adalah masalah teknis. Jadi jika ada pihak berkompeten mengajukan argumentasi non teknis, apalagi politis berarti lembaga tersebut tidak paham posisinya. Logic pengusaha adalah stabilitas dan produktifitas. Memang cenderung ingin memonopoli atau oligopoly. Pada titik inilah negara musti hadir. Selain itu penciptaan ekosistem yang sehat bagi perusahaan sawit dan minyak goreng menjadi kunci kedua. Ini akan menekan ongkos produksi dan berakhir pada harga jual. Kombinasi dari keduanya ditambah dengan penggeseran sumber gurih atau pola konsumsi masyarakat bawah dari minyak goreng ke daging seyogjanya menambah efektiftas. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawabi.

***

*) Oleh: Mangku Purnomo, PhD, (Staff Pengajar Agribisnis, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Dapatkan update informasi pilihan setiap hari dari TIMES Indonesia dengan bergabung di Grup Telegram TI Update. Caranya, klik link ini dan join. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi Telegram di HP.



Publisher : Rochmat Shobirin

EKORAN

TERBARU

  • Sushi California Roll, a Japanese Fusion Food of Fave Hotel Rungkut
    Sushi California Roll, a Japanese Fusion Food of Fave Hotel Rungkut
    20/05/2022 - 03:10
  • 5 Cara Mudah Cepat Kaya dan Menghemat Budget Bulanan
    5 Cara Mudah Cepat Kaya dan Menghemat Budget Bulanan
    20/05/2022 - 01:27
  • Koperasi Diharapkan Menjadi Agregator Dalam Pertumbuhan Ekonomi
    Koperasi Diharapkan Menjadi Agregator Dalam Pertumbuhan Ekonomi
    19/05/2022 - 22:33
  • Megawati Ajak Parpol di Negara BRICS Kerja Sama Atasi Masalah Dunia
    Megawati Ajak Parpol di Negara BRICS Kerja Sama Atasi Masalah Dunia
    19/05/2022 - 22:22
  • KPU Probolinggo Sambut Baik Semangat Times Indonesia untuk Ikut Menyukseskan Pemilu
    KPU Probolinggo Sambut Baik Semangat Times Indonesia untuk Ikut Menyukseskan Pemilu
    19/05/2022 - 22:21

TIMES TV

Nyaman dan Aman, Yuk Belanja ke Matos

Nyaman dan Aman, Yuk Belanja ke Matos

10/11/2021 - 09:39

Suara Merdu Dipikat Label Maia Estianty- Ninaya Ilena

Suara Merdu Dipikat Label Maia Estianty- Ninaya Ilena
Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji

Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji
Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji

Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji
Pemkot Malang Kuatkan Infrastruktur Digital Penunjang Smart City Melalui Wifi Gratis

Pemkot Malang Kuatkan Infrastruktur Digital Penunjang Smart City Melalui Wifi Gratis

iGuides

  • Tawarkan Konsep Baru, Saygon Hotel and Cottage Terekomendasi Iguides 5 Star
    20/03/2022 - 18:00
  • Skipjack, Kuliner Seafood Murah Rasa Bintang Lima, iGuides Recommended!
    Skipjack, Kuliner Seafood Murah Rasa Bintang Lima, iGuides Recommended!
    28/01/2022 - 10:38
  • Miliki Kolam Ombak Ikonik, Saygon Waterpark Iguides Recommended
    Miliki Kolam Ombak Ikonik, Saygon Waterpark Iguides Recommended
    07/12/2021 - 20:06
  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05

KOPI TIMES

  • Bidan Praktik Mandiri Harus Profesi Bidan
    Bidan Praktik Mandiri Harus Profesi Bidan
    19/05/2022 - 19:24
  • Catatan Atas Pembentukan Partai Mahasiswa Indonesia
    Catatan Atas Pembentukan Partai Mahasiswa Indonesia
    19/05/2022 - 17:11
  • Urgensi Budaya Literasi di Era Digital
    Urgensi Budaya Literasi di Era Digital
    19/05/2022 - 05:35
  • Kongres III PERGUNU: Perlu Keberanian Menata Sistem Organisasi Profesi Guru
    Kongres III PERGUNU: Perlu Keberanian Menata Sistem Organisasi Profesi Guru
    19/05/2022 - 03:33
  • Cintai Pekerjaan
    Cintai Pekerjaan
    18/05/2022 - 17:51
  • Profesi Jurnalis Sangat Penting Bagi Kaum Perempuan
    Profesi Jurnalis Sangat Penting Bagi Kaum Perempuan
    17/05/2022 - 09:17
  • Islam Untuk Kemanusiaan dan Kedamaian Dunia
    Islam Untuk Kemanusiaan dan Kedamaian Dunia
    16/05/2022 - 06:28
  • Di Balik Substansi dan Eksistensi Partai Mahasiswa Indonesia
    Di Balik Substansi dan Eksistensi Partai Mahasiswa Indonesia
    14/05/2022 - 16:00

KULINER

  •  4 Makanan Mahal Luar Negeri dengan Harga Terjangkau di Indonesia
     4 Makanan Mahal Luar Negeri dengan Harga Terjangkau di Indonesia
    19/05/2022 - 08:25
  • Pesona Cafe Laut Semare Binaan Potensial HCML
    Pesona Cafe Laut Semare Binaan Potensial HCML
    18/05/2022 - 20:34
  • Menikmati Suasana Kupatan Ala Ijen Suites Resort & Convention Malang
    Menikmati Suasana Kupatan Ala Ijen Suites Resort & Convention Malang
    18/05/2022 - 01:33
  • Emil Dardak Penasaran Paru Babat Nggongso Probolinggo
    Emil Dardak Penasaran Paru Babat Nggongso Probolinggo
    16/05/2022 - 19:38
  • Di Banyuwangi Ada Sajian Kuliner Nusantara dalam Nuansa Pulau Santorini Yunani
    Di Banyuwangi Ada Sajian Kuliner Nusantara dalam Nuansa Pulau Santorini Yunani
    16/05/2022 - 17:12