Kopi TIMES

Sebuah Konsep dalam Menghadapi Keberagaman di Era Disrupsi

Sabtu, 22 Januari 2022 - 12:03 | 91.17k
Sebuah Konsep dalam Menghadapi Keberagaman di Era Disrupsi
Akbar Faris Rama Hunafa, Taruna Politeknik Ilmu Pemasyarakatan.
Editor: Ronny Wicaksono

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Perubahan sejatinya akan selalu ada di setiap bidang kehidupan, apakah itu perubahan yang besar maupun kecil dan perubahan itu tidak bisa dikendalikan kecuali dengan cara menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi. Tak terkecuali perubahan besar dan mendasar kearah yang lebih modern yang kita sebut sebagai era disrupsi.

Mengutip pernyataan dari Prof Dr Fathur Rokhman MHum, dalam era disrupsi, perubahan tidak terjadi secara bertahap seperti orang meniti tangga. Perubahan pada era ini lebih menyerupai ledakan gunung berapi yang meluluhlantakkan ekosistem lama dan menggantinya dengan eksosistem baru yang sama sekali berbeda. Era Disrupsi sekarang lahir dikarenakan situasi pandemi yang melanda dunia, yang menuntut Negara-negara di Dunia untuk berdapatasi tak terkecuali Indonesia.  Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencatat, jumlah penduduk Indonesia sebanyak 272,23 juta jiwa pada 30 Juni 2021. Rinciannya, sebanyak 137,52 juta jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 134,71 juta berjenis kelamin perempuan.

Jumlah penduduk tersebut bertambah 879 ribu jiwa dari 171,35 juta jiwa pada posisi akhir 2020. Indonesia merupakan salah satu negara yang tinggi akan keberagaman dan kebhinekaan. Mengutip data sensus BPS tahun 2010, Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, lebih tepatnya terdapat 1.340 suku bangsa di Tanah Air. Suku Jawa adalah kelompok terbesar di Indonesia dengan jumlah yang mencapai 41% dari total populasi. Keberagaman dapat dijadikan sebagai kekayaan bangsa, tetapi tidak dapat dibohongi keberagaman juga dapat menjadi cikal bakal terjadinya konflik dalam suatu Negara. 

Lalu kemudian timbul sebuah pertanyaan, apakah dengan jumlah penduduk yang banyak serta memiliki keberagaman yang tinggi dapat menjadi hambatan pada era Disrupsi di Indonesia? Tentu saja iya. Hal itu bisa saja disebabkan oleh individualisme, fanatisme golongan ataupun kontras-kontras sosial lainnya. Lebih lanjut, menurut data yang penulis dapatkan, konflik di Indonesia dapat dipetakan berdasarkan pada rentang periode waktu. Pola konflik dengan isu anti komunis terjadi pada rentang waktu periode 1998 dan sebelumnya. Pada tahun 1999 hingga 2004 konflik kekerasan bercorak komunal yaitu konflik sesama masyarakat dengan isu identitas.

Selanjutnya pada periode 2004-2015 cenderung pada isu moral/tersinggung, penganiayaan, dan perkelahian yang kemudia mengakibatkan berbagai kekerasan. Sedangkan periode 2016 hingga 2020 pola konflik dominan bercorak konflik bertikal antara masyarakat sipil berhadapan dengan pemerintah, terutama didominasi oleh kalangan umat Islam yang secara politik termarginalkan. Tentunya jika tidak segera dilakukan strategi untuk mengatasinya, di era disrupsi ini tingkat terjadinya konflik vertikal dan horizontal akan semakin tinggi.

Jika benar-benar terjadi, keadaan ini tentu sangat mengkhwatirkan karena dapat mengancam eksistensi Negara. Seperti kata pepatah lama “berubah atau punah”. Akhirnya dengan berkaca pada kata pepatah lama tersebut, muncul sebuah strategi untuk menjadikan jumlah penduduk dan keberagaman yang dimiliki Indonesia menjadi sebuah kekuatan menghadapi era disrupsi.

Memang benar, di satu sisi kita tidak boleh menutup mata pada keadaan yang mengharuskan kita untuk berubah yang jika tidak akan mengalami kehancuran. Akan tetapi menjadikan jumlah penduduk dan keberagaman yang dimiliki Indonesia menjadi sebuah kekuatan menghadapi era disrupsi tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hal itu semakin sulit akibat tantangan integrasi nasional yang saat ini dihadapi, antara lain terkait dengan faktor keberagaman suku bangsa, kebudayaan, hubungan antar umat beragama dan keadilan sosial.

Maka dari itu, diperlukan sebuah konsep nonkonvensioanl yang tentunya adaptif dalam menghadapi keberagaman di era disrupsi untuk menjadikannya sebagai suatu kekuatan. Konsep yang dimaksud harus benar-benar dapat meminimalisasi atau bahkan mencegah perpecahan akibat dari keberagaman. Hal itu mengilhami lahirnya sebuah gagasan yang kemudian diberi nama “TML” (Toleransi, Moderasi dan Literasi) sebagai sebuah konsep dalam menghadapi keberagaman di era disrupsi yang berbasis masyarakat.

Penjelasan paling sederhana dari Implementasi TML berbasis masyarakat adalah membangun, mendidik, dan melatih, yang dimulai dari anggota masyarakat untuk masyarakat, jadi dimulai dari lingkup terkecil yaitu desa, yang nantinya akan bermuara pada, dari desa untuk Indonesia, dimana pemerintah hanya sebagai fasilitator. Istilah ini mencakup serangkaian sistem yang dimana kelompok masyarakat/anggota masyarakat memegang tanggung jawab. Konsep ini melibatkan komponen dari masyarakat itu sendiri yang bersedia menjadi pionir, yang meliputi; membangun toleransi, menerapkan moderasi dan juga memberikan pengetahuan dan pendidikan.

Konsep ini membutuhkan partisipasi masyarakat setempat pada semua tahapan, mulai dari  mengidentifikasi kebutuhan, merencanakan kegiatan-kegiatan, melaksanakan rencana, dan mengkaji hasil dan membuat perubahan-perubahan yang diperlukan dalam suatu daur proses yang terus berlanjut. Kesemua tahapan ini membutuhkan dialog secara terus menerus antara masyarakat dan juga pemerintah. Konsep yang dikembangkan akan sangat tergantung pada kebutuhan dan kondisi desa setempat serta masyarakat yang melaksanakannya.

***

*)Oleh: Akbar Faris Rama Hunafa, Taruna Politeknik Ilmu Pemasyarakatan.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Dapatkan update informasi pilihan setiap hari dari TIMES Indonesia dengan bergabung di Grup Telegram TI Update. Caranya, klik link ini dan join. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi Telegram di HP.



Publisher : Rizal Dani

EKORAN

TERBARU

  • Mendagri Surati Gubernur Malut, Persiapkan Pelantikan Pj Bupati Pulau Morotai
    Mendagri Surati Gubernur Malut, Persiapkan Pelantikan Pj Bupati Pulau Morotai
    17/05/2022 - 23:26
  • Ridwan Kamil: PPDB di Jabar Makin Adil dan Andal
    Ridwan Kamil: PPDB di Jabar Makin Adil dan Andal
    17/05/2022 - 23:19
  • Kemenparekraf Glontorkan Dana 4,5 untuk Poltekpar Sragen
    Kemenparekraf Glontorkan Dana 4,5 untuk Poltekpar Sragen
    17/05/2022 - 22:56
  • Lagi, Neraca Perdagangan Tembus Rekor, Menko Perekonomian RI: Ekonomi Kian Tangguh
    Lagi, Neraca Perdagangan Tembus Rekor, Menko Perekonomian RI: Ekonomi Kian Tangguh
    17/05/2022 - 22:49
  • Warga Keluhkan Balai Desa di Blora Kerap Tutup saat Jam Kerja
    Warga Keluhkan Balai Desa di Blora Kerap Tutup saat Jam Kerja
    17/05/2022 - 22:43

TIMES TV

Nyaman dan Aman, Yuk Belanja ke Matos

Nyaman dan Aman, Yuk Belanja ke Matos

10/11/2021 - 09:39

Suara Merdu Dipikat Label Maia Estianty- Ninaya Ilena

Suara Merdu Dipikat Label Maia Estianty- Ninaya Ilena
Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji

Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji
Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji

Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji
Pemkot Malang Kuatkan Infrastruktur Digital Penunjang Smart City Melalui Wifi Gratis

Pemkot Malang Kuatkan Infrastruktur Digital Penunjang Smart City Melalui Wifi Gratis

iGuides

  • Tawarkan Konsep Baru, Saygon Hotel and Cottage Terekomendasi Iguides 5 Star
    20/03/2022 - 18:00
  • Skipjack, Kuliner Seafood Murah Rasa Bintang Lima, iGuides Recommended!
    Skipjack, Kuliner Seafood Murah Rasa Bintang Lima, iGuides Recommended!
    28/01/2022 - 10:38
  • Miliki Kolam Ombak Ikonik, Saygon Waterpark Iguides Recommended
    Miliki Kolam Ombak Ikonik, Saygon Waterpark Iguides Recommended
    07/12/2021 - 20:06
  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05

KOPI TIMES

  • Profesi Jurnalis Sangat Penting Bagi Kaum Perempuan
    Profesi Jurnalis Sangat Penting Bagi Kaum Perempuan
    17/05/2022 - 09:17
  • Islam Untuk Kemanusiaan dan Kedamaian Dunia
    Islam Untuk Kemanusiaan dan Kedamaian Dunia
    16/05/2022 - 06:28
  • Di Balik Substansi dan Eksistensi Partai Mahasiswa Indonesia
    Di Balik Substansi dan Eksistensi Partai Mahasiswa Indonesia
    14/05/2022 - 16:00
  • Syawal sebagai Bulan Silaturrahim
    Syawal sebagai Bulan Silaturrahim
    13/05/2022 - 16:11
  • Gaya Kepemimpinan Gus Dur, Refleksi untuk Pemimpin Masa Kini
    Gaya Kepemimpinan Gus Dur, Refleksi untuk Pemimpin Masa Kini
    12/05/2022 - 17:33
  • Ekstrakurikuler Jurnalistik SMP: Upaya Mengasah Critical Thinking Sejak Dini
    Ekstrakurikuler Jurnalistik SMP: Upaya Mengasah Critical Thinking Sejak Dini
    12/05/2022 - 16:27
  • Catatan Ketua MPR RI: Merawat Momentum Pertumbuhan di Tengah Lonjakan Pertumbuhan Harga Energi
    Catatan Ketua MPR RI: Merawat Momentum Pertumbuhan di Tengah Lonjakan Pertumbuhan Harga Energi
    12/05/2022 - 10:37
  • Korupsi itu Budaya Siapa? Bentuk dan Implikasinya bagi Kehidupan Bernegara
    Korupsi itu Budaya Siapa? Bentuk dan Implikasinya bagi Kehidupan Bernegara
    10/05/2022 - 14:07

KULINER

  • Emil Dardak Penasaran Paru Babat Nggongso Probolinggo
    Emil Dardak Penasaran Paru Babat Nggongso Probolinggo
    16/05/2022 - 19:38
  • Di Banyuwangi Ada Sajian Kuliner Nusantara dalam Nuansa Pulau Santorini Yunani
    Di Banyuwangi Ada Sajian Kuliner Nusantara dalam Nuansa Pulau Santorini Yunani
    16/05/2022 - 17:12
  • Jalakotek Majalengka, Pedas Asin Manis Rasanya‎ Bikin Ngiler
    Jalakotek Majalengka, Pedas Asin Manis Rasanya‎ Bikin Ngiler
    15/05/2022 - 16:35
  • Wow! Londo Kampung Mencoba Jadi Waiter di Srasa Desa Kota Madiun
    Wow! Londo Kampung Mencoba Jadi Waiter di Srasa Desa Kota Madiun
    14/05/2022 - 20:27
  • Nikmati Akhir Pekanmu di 4 Resto di Majalengka yang Lagi Hits
    Nikmati Akhir Pekanmu di 4 Resto di Majalengka yang Lagi Hits
    14/05/2022 - 19:08