Kopi TIMES

"Logika" Sosial BRIN dan Megawati

Sabtu, 15 Januari 2022 - 18:27 | 79.24k
Andang Subaharianto, Sekjen PERTINASIA (Perkumpulan Perguruan Tinggi Nasionalis Indonesia), Rektor Untag Banyuwangi
Editor: Deasy Mayasari

TIMESINDONESIA, BANYUWANGIKETUA Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri berkeluh kesah. Saat berbicara dalam perayaan HUT ke-49 PDIP secara daring, Senin, 10 Januari 2022. Soal posisi dirinya di BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional).

Menurut Presiden RI ke-5 itu, Presiden Jokowi lah yang menginginkan dirinya memimpin BRIN sebagai Ketua Dewan Pengarah. Bukan kemauan dirinya. Dia merasa heran dengan banyak sorotan. Juga sindiran terkait dirinya ditunjuk presiden. Ada yang menyoal dirinya sebagai politikus. Bahkan, menyangsikan kapasitasnya. Saat berkeluh kesah itu Megawati menyebut dirinya dianggap kurang pintar.

Saya mencoba menemukan “logika” sosial di baliknya. Mengapa?  Di sini lah pangkalnya. Bukan logika hukum. Dari sisi hukum sudah terjawab. Menurut Perpres 78/2021 tentang BRIN, Ketua Dewan Pengarah secara ex-officio berasal dari unsur Dewan Pengarah BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila). Megawati adalah Ketua Dewan Pengarah BPIP.

Sorotan dan sindiran itu muncul, karena sebagian publik belum memahami kaitan logis secara sosial. Bahasa sederhananya “kepantasan, kelayakan”. Sebagian publik melihat jurang antara BRIN dan Megawati. Tidak nyambung di antara keduanya. BRIN mengurus riset dalam rangka pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Mestinya ditunjuk orang yang punya pengalaman panjang soal riset. Bergelar doktor, bahkan profesor. Bukan politikus. Apalagi pemimpin partai politik, yang tak punya riwayat soal riset. Jangan-jangan BRIN akan terkooptasi untuk kepentingan politik elektoral. Inilah kira-kira yang muncul di benak sebagian publik.  

Haruskah berjarak antara iptek yang diurus BRIN dengan politik? Menurut hemat saya, “tidak”. Keduanya memang punya domain masing-masing. Keduanya juga punya aksioma masing-masing. Tapi, iptek tak mungkin berjalan sendiri tanpa politik. Menurut Habermas, filsuf asal Jerman, iptek tak akan bebas nilai, kepentingan, dan kekuasaan. Justru posisi iptek terhadap nilai, kepentingan, dan kekuasaan akan menentukan corak iptek tersebut.

Ketika iptek berada pada skala lab, sepenuhnya otoritas periset. Politik berada di luar. Politikus tak bisa mengintervensi. Seperti apa hukum-hukum iptek itu sebagai temuan pada disiplin masing-masing dan bagaimana ditemukan sepenuhnya urusan periset. Tak ada yang bisa mengubah hukum-hukum iptek, termasuk politikus.

Tapi, ketika temuan-temuan iptek itu berada di luar lab, berada di tengah-tengah publik, politik lah yang berperan penting. Mau diapakan dan dikemanakan hukum-hukum iptek itu, bukan lagi keputusan metodologis, melainkan keputusan politis. Temuan-temuan iptek sudah memasuki ranah politik. Temuan-temuan iptek hanya akan mengisi perpustakaan tanpa ada kemauan politik dari pemegang otoritas politik. Nilai guna iptek tak akan dinikmati masyarakat tanpa campur tangan politik. Otoritas politik lah penyambung lidah periset agar temuan-temuan iptek itu segera bermanfaat buat masyarakat. Politikus lah eksekutor akhir dari rangkaian panjang kegiatan riset dan pengembangan iptek. Bukan periset.

Bukankah ujung dari kegiatan riset adalah kesejahteraan masyarakat? Bukankah iptek dikembangkan tak lain untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat? Dalam konteks BRIN dirumuskan pada pasal 5 UU 11/2019 tentang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Disebutkan iptek berperan: (a) menjadi landasan dalam perencanaan pembangunan nasional di segala bidang kehidupan yang berpedoman pada haluan ideologi Pancasila, (b) meningkatkan kualitas hidup dan mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat, (c) meningkatkan ketahanan, kemandirian, dan daya saing bangsa, (d) memajukan peradaban bangsa yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dan menjaga nilai etika sosial yang berperikemanusiaan, serta (e) melindungi seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia serta melestarikan dan menjaga keseimbangan alam.

Jelas sekali, tak mungkin iptek berdaya tanpa bergandeng tangan dengan politik. Sebaliknya, iptek juga bisa teperdaya oleh politik. Banyak cacatan ironis bahwa iptek yang seharusnya memuliakan dan mengabdi kepada kemanusiaan justru sebaliknya mendegradasi kemanusiaan. Itulah iptek yang teperdaya oleh politik ketamakan.    

Karena itu, tak aneh bila presiden menunjuk Megawati. Dia pemimpin partai politik pemenang pemilu dua kali berturut-turut. Pemilu legislatif maupun pemilihan presiden. Daya politik Megawati luas dan besar. Sangat bisa dimengerti bila Kepala BRIN Laksana Tri Handoko menilai bahwa Megawati dipilih sebagai Ketua Dewan Pengarah BRIN karena punya posisi politik yang kuat. Niscaya BRIN butuh dukungan politik. Setiap tahun BRIN akan membahas anggaran bersama DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) yang merupakan entitas politik.

Lalu, haruskah jebolan pendidikan tinggi dan punya riwayat riset panjang? Saya kira, “tidak”. Untuk periset atau jabatan eksekutif BRIN (di perpres disebut pelaksana) barangkali perlu jejak pendidikan dan penelitian. Tapi, untuk jabatan dewan pengarah sudah selayaknya menggunakan sudut pandang politik.

Namun, untuk kasus Megawati unik. Dia memang bukan jebolan pendidikan tinggi, karena alasan tertentu. Tapi, nyatanya banyak lembaga perguruan tinggi menganugerahkan gelar doktor honoris causa. Baik perguruan tinggi di dalam negeri maupun luar negeri.

Tak mungkin gelar doktor honoris causa diberikan kepada seseorang tanpa jejak yang pantas. Pasti perguruan tinggi melihat kelayakan pada diri Megawati untuk menerima gelar doktor honoris causa. Pemikiran dan peran-perannya dalam jangka panjang pasti dinilai layak. Bukan seperti pohon pisang, sekali berbuah lalu mati. Tapi, keistiqomahan, konsistensi, dalam ruang dan waktu yang panjang.

Faktanya, Megawati pernah mencapai puncak jabatan eksekutif sebagai Presiden RI. Tentu bakan sembarang orang bisa. Megawati pula tokoh nasional seangkatannya yang masih jaya di Indonesia hari ini. Dengan daya politik besar dan luas.

Saya kira klop. Pada diri Megawati ada energi politik sekaligus iptek. Kedua energi dibutuhkan BRIN. Kita bermimpi suatu saat Indonesia hebat dalam urusan iptek. Iptek yang memuliakan dan menyejahterakan manusia secara berkelanjutan. Iptek yang berpedoman pada Pancasila.

 

****

 

*) Andang Subaharianto, Sekjen PERTINASIA (Perkumpulan Perguruan Tinggi Nasionalis Indonesia), Rektor Untag Banyuwangi

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

**) Dapatkan update informasi pilihan setiap hari dari TIMES Indonesia dengan bergabung di Grup Telegram TI Update. Caranya, klik link ini dan join. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi Telegram di HP.



Publisher : Sholihin Nur

EKORAN

TERBARU

  • Satu PMI Meninggal di RSU Haji, Dipastikan Bukan Covid-19
    Satu PMI Meninggal di RSU Haji, Dipastikan Bukan Covid-19
    23/01/2022 - 17:01
  • Plt Bupati Usut Penyebab Banjir Bandang di Probolinggo
    Plt Bupati Usut Penyebab Banjir Bandang di Probolinggo
    23/01/2022 - 16:56
  • Hadi Tjahjanto: Mario Aji adalah Aset Bangsa
    Hadi Tjahjanto: Mario Aji adalah Aset Bangsa
    23/01/2022 - 16:41
  • Usai Jajal Sirkuit, Mario Aji Diterima Komandan Mandalika Hadi Tjahjanto
    Usai Jajal Sirkuit, Mario Aji Diterima Komandan Mandalika Hadi Tjahjanto
    23/01/2022 - 16:20
  • CEK FAKTA: Salah, Pemindahan Ibu Kota Negara ke Kaltim adalah Program PKI Tahun 1955
    CEK FAKTA: Salah, Pemindahan Ibu Kota Negara ke Kaltim adalah Program PKI Tahun 1955
    23/01/2022 - 16:14

TIMES TV

Nyaman dan Aman, Yuk Belanja ke Matos

Nyaman dan Aman, Yuk Belanja ke Matos

10/11/2021 - 09:39

Suara Merdu Dipikat Label Maia Estianty- Ninaya Ilena

Suara Merdu Dipikat Label Maia Estianty- Ninaya Ilena
Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji

Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji
Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji

Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji
Pemkot Malang Kuatkan Infrastruktur Digital Penunjang Smart City Melalui Wifi Gratis

Pemkot Malang Kuatkan Infrastruktur Digital Penunjang Smart City Melalui Wifi Gratis

iGuides

  • Miliki Kolam Ombak Ikonik, Saygon Waterpark Iguides Recommended
    07/12/2021 - 20:06
  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00

KOPI TIMES

  • Ratu Terakhir Kerajaan Hawai’i
    Ratu Terakhir Kerajaan Hawai’i
    23/01/2022 - 12:36
  • Belajar dari Kesabaran Megawati
    Belajar dari Kesabaran Megawati
    23/01/2022 - 08:27
  • Strategi Pengembangan Perpustakaan Desa
    Strategi Pengembangan Perpustakaan Desa
    22/01/2022 - 19:51
  • Keluarga Be(re)ncana
    Keluarga Be(re)ncana
    22/01/2022 - 13:45
  • Sebuah Konsep dalam Menghadapi Keberagaman di Era Disrupsi
    Sebuah Konsep dalam Menghadapi Keberagaman di Era Disrupsi
    22/01/2022 - 12:03
  • Tahun 2022, Persaingan Militer Antar Negara Akan Makin Intens
    Tahun 2022, Persaingan Militer Antar Negara Akan Makin Intens
    22/01/2022 - 11:00
  • Menempatkan Taklid Pada Tempatnya
    Menempatkan Taklid Pada Tempatnya
    21/01/2022 - 20:21
  • Undang-Undang Ibu Kota Negara, Pemerataan Ekonomi dan Pembangunan
    Undang-Undang Ibu Kota Negara, Pemerataan Ekonomi dan Pembangunan
    21/01/2022 - 19:23

KULINER

  • Bisa Jadi Lauk atau Camilan, Ini Resep Membuat Chicken Popcorn
    Bisa Jadi Lauk atau Camilan, Ini Resep Membuat Chicken Popcorn
    23/01/2022 - 06:14
  • Pempek, Makanan Tradisional Palembang Berbahan Ikan
    Pempek, Makanan Tradisional Palembang Berbahan Ikan
    23/01/2022 - 04:19
  • Kafe Kopi Siip Probolinggo Jadi Primadona Kalangan Pemuda
    Kafe Kopi Siip Probolinggo Jadi Primadona Kalangan Pemuda
    22/01/2022 - 19:15
  • Lezatnya Sarapan Pagi di Depot Bakmi Kolonel, Rajanya Bakmi di Kota Blora
    Lezatnya Sarapan Pagi di Depot Bakmi Kolonel, Rajanya Bakmi di Kota Blora
    22/01/2022 - 14:14
  • Nikmati 8 Menu Spesial Tahun Baru Imlek dari Vasa Hotel Surabaya
    Nikmati 8 Menu Spesial Tahun Baru Imlek dari Vasa Hotel Surabaya
    22/01/2022 - 11:39