Kopi TIMES

Socrates dan Publik

Kamis, 25 November 2021 - 16:04 | 39.40k
Socrates dan Publik
Bambang Satriya, Guru Besar Universitas Merdeka Malang dan penulis buku filsafat.
Editor: Ronny Wicaksono

TIMESINDONESIA, MALANG – Bisa kita baca suatu fenomena tentang  keinginan publik untuk mengetahui praktik hukum (law in action) yang benar-benar sebagai 'hukum' dan bukan kepentingan eksklusif yang menjadikan hukum sebagai instrumennya.

Publik tidak ingin menyaksikan norma yuridis yang kesejatiannya sakral berubah menjadi alat yang menyeramkan, meniadakan kemanusiaan, dan menghempaskan keadilan. Publik makin pintar dan sadar, bahwa jika hukum sampai digunakan oleh tangan-tangan yang salah atau tangan-tangan yang kotor (the dhirty hands), maka hukum bisa menjadi instrumen yang memproduk banyak dan beragam kesengsaran dan penderitaan. 

Law in action yang 'tersesat' jalan bisa disebabkan oleh keinginan pelaksananya yang memburu kesuksesan atau target strukturalnya. Inilah yang bisa terjadi, bahwa karena hasrat overdosis  'demi kesuksesan', maka persyaratannya harus dipenuhi dengan mencari sosok sukses. 'Success is neither magical or mysterious. Success is the natural consequence of consistently applying the basic fundamentals' demikian peringatan Jim Rohn yang maknanya   kesuksesan bukanlah sesuatu yang ajaib atau penuh misteri. Kesuksesan adalah konsekuensi alami dari kekonsistenan menerapkan dasar-dasar hukum. 

Peringatan Rohn itu sejatinya ditujukan pada seluruh aparat penegak hukum  supaya konsisten menerapkan kebenaran yuridis. Kesuksesan berparameter dan bersyarat pada konsistensi menerapkan norma, dan bukan sebagai tujuannya. Jika kesuksesan ditetapkan sebagai tujuan, maka bisa jadi apa saja dan 'siapa saja' yang dijadikan 'ongkosnya'.

Alkisah filosof kenamaan Socrates pernah ditahan (dipenjara) oleh aparat  karena didakwa melakukan suatu tindak kejahatan.  Aparat penegak hukum ini sukses menjalankan pekerjaannya dengan menetapkan Socrates sebagai 'wajah kebenaran hukum'. Segala bukti yang diajukan Socrates kalau dirinya tidak bersalah ditolak oleh aparat. Aparat sukses memberikan label kalau Socrates sebagai sosok populer yang bisa bersalah (melanggar hukum).

Reaksi publik bermunculan saat Socrates ditetapkan sebagai sosok bersalah dan dipenjara. Publik menilai, bahwa ada law in action yang tidak mencerminkan kebenaran hukum yang sebenarnya. Aparat senang atas kesuksesan kinerjanya yang bisa membuat Socrates tidak berdaya. Salah satu reaksi ditunjukkan oleh Creto, sang pengusaha yang pernah menjadi murid Socrates. Creto kasihan melihat gurunya ditahan seperti kriminal-kriminal pada umumnya. Creto menganggap ini perlakuan tidak adil.  Creto menilai, bahwa hukum sedang digunakan oleh sekelompok orang yang 'tersesat'.

Dengan maksud membebaskan Socrates, Creto hendak menyuap petugas penjara yang menahan gurunya itu, tetapi di luar dugaan, Socrates menolaknya sambil berujar 'keadilan memang harus ditegakkan, tetapi keadilan harus berlaku pula untuk semua (justice for all)  atau yang lainnya.

Mereka yang ditahan ini bukan tidak mungkin juga seperti aku, yang belum tentu bersalah, di samping cara (menyuap)  demikian akan membuka peluang bagi masyarakat di kemudian hari untuk menempuh cara yang sama, yakni menegakkan keadilan dengan cara-cara  kejahatan'. Dalam ranah itu, bukan siapapun harus belajar pada Socrates, trmasuk setiap elemen institusi peradilan harus belajar kepadanya. Socrates memberi pelajaran tentang cara menegakkan hukum yang benar-benar hukum, bukan menurut 'pesanan'.

Andaikan filosof ini menjadi  guru yang ditaati atau diteladani di negeri ini oleh setiap aparat penegak hukum, tentulah republik Indonesia tidak akan rentan dijuluki sebagai negara yang gagal memberikan keadilan, kesejahteraan, dan keadaban kepada setiap pencari keadilan (justibelen)

Apa yang diedukasikan Socrates kepada muridnya itu juga mengajarkan, bahwa Socrates bukan hanya tidak membenarkan cara memperjuangkan atau mewujudkan keadilan dengan kejahatan, 'tukar guling' kesuksesan dengan kejahatan, melanggar dan menyelingkuhi hukum, atau 'main pintu belakang' seperti suap-menyuap, tetapi juga menghargai dan menghormati berlakunya sistem peradilan pidana (criminal justice system) yang mencita-citakan tegaknya keadilan untuk semua (justice for all).

Apa sedang  berstatus sebagai aparat kepolisian, kejaksaan, kehakiman, KPK,  maupun institusi strategis lainnya, karena hukum sudah memerintahkan dirinya untuk menjadi 'sang penegak', maka polisi menjaring polisi, jaksa memeriksa jaksa, hakim menyidang hakim, atau elemen KPK menangkap elemen KPK, haruslah diwjudkannya tanpa kecuali. 

Idealitas itu sejalan dengan apa yang dituangkan dalam konstitusi kita (UUD 1945) yang menganut prinsip equality before the law, yang konsekuensinya setiap aparat penegak hukum tidak boleh mengistimewakan (memenangkan) oknum jaksa, polisi, dan hakim yang bermasalah. Sayangnya, berbagai sistem  hukum yang berlaku di negeri ini seringkali tidak dihormati oleh aparat penegak hukum sendiri. Sistem ini kerap, kalau tak dibilang akrab berada dalam pasungan praktik-praktik perekayasaan yang justru arsiteknya dari pilar penegakan hukum.

***

*) Oleh: Bambang Satriya, Guru Besar Universitas Merdeka Malang dan penulis buku filsafat.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.



Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

EKORAN

TERBARU

  • Delicious Zero-Waste Foods at The G Flavours
    Delicious Zero-Waste Foods at The G Flavours
    09/12/2021 - 01:18
  • Penuhi Permintaan Kiai Sepuh, KH Said Siap Maju Ketum PBNU Lagi di Muktamar Ke-34 NU Lampung
    Penuhi Permintaan Kiai Sepuh, KH Said Siap Maju Ketum PBNU Lagi di Muktamar Ke-34 NU Lampung
    08/12/2021 - 23:06
  • Hujan Angin Terjang Kota Banjar, Akibatkan Pohon Tumbang dan Matikan Jaringan Listrik
    Hujan Angin Terjang Kota Banjar, Akibatkan Pohon Tumbang dan Matikan Jaringan Listrik
    08/12/2021 - 22:20
  • Jelang Nataru, Pemkab Morotai Tingkatkan Pengawasan Harga dan Pendistribusian BBM
    Jelang Nataru, Pemkab Morotai Tingkatkan Pengawasan Harga dan Pendistribusian BBM
    08/12/2021 - 22:14
  • Kapolda Jabar Tinjau Lahan Bakal Mako Batalyon D Brimob
    Kapolda Jabar Tinjau Lahan Bakal Mako Batalyon D Brimob
    08/12/2021 - 22:02

TIMES TV

Suara Merdu Dipikat Label Maia Estianty- Ninaya Ilena

Suara Merdu Dipikat Label Maia Estianty- Ninaya Ilena

05/11/2021 - 09:44

Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji

Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji
Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji

Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji
Pemkot Malang Kuatkan Infrastruktur Digital Penunjang Smart City Melalui Wifi Gratis

Pemkot Malang Kuatkan Infrastruktur Digital Penunjang Smart City Melalui Wifi Gratis
Profesor Kopi : Malang Gudangnya Kopi Robusta

Profesor Kopi : Malang Gudangnya Kopi Robusta

iGuides

  • Miliki Kolam Ombak Ikonik, Saygon Waterpark Iguides Recommended
    07/12/2021 - 20:06
  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00

KOPI TIMES

  • Refleksi Hari Anti Korupsi, Masyarakat Semakin Anti Korupsi?
    Refleksi Hari Anti Korupsi, Masyarakat Semakin Anti Korupsi?
    08/12/2021 - 18:22
  • Kondisi Ketenagakerjaan dan Pengangguran di Indonesia
    Kondisi Ketenagakerjaan dan Pengangguran di Indonesia
    08/12/2021 - 17:31
  • Urgensinya Komunikasi Dalam Kehidupan Sehari-Hari
    Urgensinya Komunikasi Dalam Kehidupan Sehari-Hari
    08/12/2021 - 16:02
  • Hak Asasi Manusia Dalam Sudut Pandang Demokrasi
    Hak Asasi Manusia Dalam Sudut Pandang Demokrasi
    08/12/2021 - 15:34
  • Kesetaraan Pendidikan Bagi Kaum Hawa
    Kesetaraan Pendidikan Bagi Kaum Hawa
    08/12/2021 - 14:38
  • Literasi Baca, Melestarikan Arsip Tekstual di Indonesia
    Literasi Baca, Melestarikan Arsip Tekstual di Indonesia
    07/12/2021 - 16:21
  • Akankah Permendikbud Ristek Berujung Pada Uji Materi di MA?
    Akankah Permendikbud Ristek Berujung Pada Uji Materi di MA?
    07/12/2021 - 15:13
  • Optimalisasi Program Sister School
    Optimalisasi Program Sister School
    07/12/2021 - 11:31

KULINER

  • Ide Snack Platter Terbaik untuk Teman Asyik di Rumah
    Ide Snack Platter Terbaik untuk Teman Asyik di Rumah
    08/12/2021 - 12:29
  • Q5 Steak Gelar Eating Challenge TikTok, Hadiah 2 Bulan Makan Sepuasnya
    Q5 Steak Gelar Eating Challenge TikTok, Hadiah 2 Bulan Makan Sepuasnya
    07/12/2021 - 13:16
  • Lontong Tahu Kuliner Khas Blora, Cita Rasa Unik dan Berbeda
    Lontong Tahu Kuliner Khas Blora, Cita Rasa Unik dan Berbeda
    07/12/2021 - 03:22
  • Makanan Lezat dan Konsep No Waste, Bikin Ketagihan Nongkrong di The G Flavours
    Makanan Lezat dan Konsep No Waste, Bikin Ketagihan Nongkrong di The G Flavours
    05/12/2021 - 13:12
  • Batu Street Food Hadir Lagi di Kota Batu
    Batu Street Food Hadir Lagi di Kota Batu
    04/12/2021 - 21:06