Kopi TIMES

Apa Kabar Pemuda?

Jumat, 29 Oktober 2021 - 03:15 | 35.80k
Apa Kabar Pemuda?
Yasir Muharram Fauzi, S.HI., M.E.Sy; Dosen Ma’soem University Pengurus Pemuda PUI Jawa Barat.
Editor: Ronny Wicaksono

TIMESINDONESIA, JABAR – Sumber daya manusia yang secara kemungkinan mempunyai siklus panjang rentang waktu hidup untuk masa depan dan menjadi penerus estafeta pengganti kepemimpinan sekarang di antaranya diharapkan dari keterwakilan kader pemuda hari ini untuk menjadi calon pemimpin di masa yang akan datang. Kalau kita menengok sejarah, sudah banyak tinta emas mencatat kesuksesan pemuda yang menjadi pemimpin dalam kancah organisasi dan peranannya masing-masing yang mumpuni dan membumi. 

Sejarah mencatat dalam beberapa sambutan kongres-kongres Pemuda yang tergabung dalam Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) terjadi dinamika yang cukup positif dalam prosesnya, diceritakan di berbagai sambutan dan uraian, Soegondo berhaarap dengan adanya kongres pemuda ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda.

Lalu ada uraian Moehammad Jamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan.  Bidang pendidikan pun tak luput dari pembahasan di arena kongres tersebut, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada uraian berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal seperti ini yang dibutuhkan dalam perjuangan gerak langkah pemuda. 

Hari Sumpah Pemuda merupakan hasil final dari serangkaian proses sekumpulan organisasi yang merumuskan konsep dalam sebuah kongres yang diselenggarakan dari tanggal 27-28 Oktober 1928. Wadah PPPI tersebut dihadiri oleh organisasi pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Pemoeda Indonesia, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Sekar Rukun, Jong Ambon, dan Pemuda Kaum Betawi.

Isi dari kongres tersebut menghasilkan tiga butir kesepakatan komitmen. Adapun ketiga butir tersebut berbunyi sebagai berikut:'Kami Putra-Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia. Kami Putra-Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami Putra-Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia'.

Berbicara pemuda hari ini (dibaca; Pasca kemerdekaan dan kekinian), ada Komite Nasional Pemuda Indonesia atau disingkat KNPI yang merupakan wadah atau tempat berkumpulnya perwakilan-perwakilan kader pemuda Indonesia lintas organisasi. Organisasi kepemudaan tersebut berangkat dari berbagai latarbelakang baik yang berlatarbelakang politik, suku, agama, ekonomi, kemahasiswaan, dan background-nya masing-masing bersatu dalam satu bingkaian dan wadah pemuda hari ini bernama Komite Nasional Pemuda Indonesia.

Lalu pertanyaan besarnya hari ini adalah bagaimana memaknai dan merefleksikan hari sumpah pemuda sebagai penerus peradaban agama dan bangsa?

Pertama, Pemuda sebagai pemimpin dimasa yang akan datang. Statement ini penting untuk dipegang dan dipikirkan bersama bahwa keberadaan pemuda hari ini agar tidak menjadi sampah masyarakat yang secara kuantitas banyak, tapi secara kualitas mempunyai peranan yang dangkal baik dari segi pemikiran, mengembangkan potensi diri dan keikutsertaan dalam membangun peradaban agama dan bangsa.

Tidak salah pepatah mengatakan 'Syubbaanul Yaum, Rijaalul Ghaddi' yang artinya 'pemuda hari ini adalah pemimpin dimasa yang akan datang'. Tidak penting latar belakang keturunan, tidak penting latar belakang pendidikan, juga background yang lainnya. Tapi yang terpenting adalah adanya pemahaman baik dalam diri maupun kesadaran kolektif bahwa kepemimpinan yang akan datang akan diteruskan oleh estafeta pemuda hari ini dalam semua sendi kehidupan.

Kedua, Menumbuhkan potensi diri sebagai agent of change/agen perubahan. Sejarah sudah membuktikan bahwa ditangan pemudalah peranan sebagai agen perubahan itu nampak pada gerak langkah yang masih kuat, daya pikir yang kritis, dan proses berpendidikan yang terus ditempuh, digali, dan diasah. Dari kesemuanya itulah potensi diri akan muncul sehingga pemuda menjadi sumber daya manusia pendobrak perubahan dari sesuatu yang sifatnya statis kearah yang sifatnya dinamis.

Dalam konteks ke-lembaga-an ormas Islam, sudah banyak ormas Islam yang mempunyai organisasi kepemudaan masing-masing baik sudah menjadi badan otonom maupun masih badan semi otonom. Di ormas Nahdlatul ‘Ulama yang lahir di Jawa Timur ada gerakan pemuda Ansor, lalu di Muhammadiyah yang lahir di Jawa Tengah ada Pemuda Muhammadiyah, di Persatuan Ummat Islam yang lahir di Jawa Barat ada Pemuda PUI, dan tanpa mengurangi rasa hormat kepada ormas kepemudaan lainnya pun masih banyak.

Demikian pula secara perseorangan, tidak sedikit tokoh-tokoh muda (bisa dikatakan pemuda) yang hari ini sudah kelihatan bentuk karya nyatanya dalam bentuk potensi diri yang dimiliki. Ada pemuda yang bernama Belva Devara yang menciptakan aplikasi Ruang Guru dalam membantu proses pembelajaran bagi anak-anak sekolahan, dalam bidang kesehatan, ada dr. Gamal Albinsaid dengan klinik asuransi sampah dan bank sampahnya dalam membaktikan diri kepada masyarakat untuk pengobatan yang serba murah meriah yang secara ekonomi masuk pada kategori kurang beruntung.

Ketiga, Pemuda berkarakter independen. Didalam agama Islam, Salah satu Khulafa al-Rasyidin (khalifah yang empat; penerus Rasulullah Muhammad SAW) yakni Imam Ali Bin Abi Thalib pernah menyatakan semasa hidupnya dalam ungkapan: 'Laisal Fataa Man Yaquulu Kaana Abii, Wa laakinnal Fataa Haa Huwa Anaa Dzaa' yang artinya kurang lebih: 'Pemuda itu bukanlah yang mengatakan inilah bapak aku, akan tetapi pemuda itu yang mengatakan inilah aku'.

Dari pernyatan tersebut secara tersurat dan tersirat dapat difahami bahwa eksistensi pemuda itu terletak pada keberadaannya dalam sendi-sendi kehidupan yang ditopang oleh kemampuan jatidiri yang mumpuni tanpa adanya embel-embel apapun dari keturunan orangtuanya yang menjadikan silau diri, pongah dan bercongkak kaki dibawah tameng nama besar orang tua.

Keempat, Berjiwa patriot. Sang proklamator yang juga Presiden Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ke satu yakni Soekarno atau sebutan yang familiar di hati rakyat namanya 'Bung Karno' pernah menyebutkan dalam sebuah orasinya yang lantang, mempunyai ciri khas pekikan suara, dan berkarakter penyemangat pun pernah berucap: 'Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia'. Nampaknya perkataan patriotik dari bung karno tersebut sangat kentara sekali pengharapan dan motivasi beliau akan pentingnya peran pemuda dalam proses keberlangsungan perubahan zaman dengan berbagai gerak langkah pemuda yang masih dalam usia produktif, imajinatif, dan kerja kolektif.

Kelima, Pemuda harus punya lifeskill bukan hanya lifestyle. Semakin berkembangnya perubahan zaman menuntut persaingan dalam segala hal. Dengan kemajuan era komputer dan internet digital atau yang lebih dikenal dengan kemajuan industri 4.0, maka pemuda perlu membekali diri dengan dengan menggali, memahami, mengasah, dan melatih diri untuk mempunyai kemampuan diri melebihi kemampuan orang lain. Dunia luas dan lapangan kerja hari ini tidak hanya melihat pada administrasi ijazah lulusan sekolah atau kuliah saja, akan tetapi harus dibarengi dengan kelebihan diri melampaui kemampuan orang lain dalam memaksimalkan potensi dirinya. 

Kaitannya dengan lifestyle tentunya pemuda menjadi barometer objek dunia luas dalam mengembangkan lifestyle seperti kebiasaan dan tontonan dunia luar yang lainnya. Tidak sedikit pemuda hari ini mempunyai gaya hidup mengikuti tontonan gaya hidup dunia luar yang belum tentu sesuai dengan ajaran agama dan falsafah kehidupan bangsa Indonesia. Gaya hidup dari dunia luar perlu disaring antara yang positif untuk diikuti dan harus ditinggalkan ketika bernuansa negatif.

Gaya hidup berlebih-lebihan dalam selfie, bermain game online, berselancar di media sosial yang cenderung lupa waktu perlu disadari merupakan penggiringan gaya hidup yang mengarah kepada gaya hidup yang negatif.  Tidak ada yang salah dengan gaya hidup, sepanjang gaya hidup tersebut dibekali dengan kelebihan potensi diri yang memacu pada keseimbangan yang hakiki pada diri pemuda. Atas dasar itulah keduanya akan menjadi pasangan yang seiring sejalan untuk jadi bekal kehidupan pemuda dimasa yang akan datang.

Bangun Pemudi Pemuda Indonesia.

***

*) Oleh: Yasir Muharram Fauzi, S.HI., M.E.Sy; Dosen Ma’soem University Pengurus Pemuda PUI Jawa Barat.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.



Publisher : Sofyan Saqi Futaki

EKORAN

TERBARU

  • 27 PWNU Temui Rais Aam PBNU Terkait Muktamar Ke-34 NU Lampung, Ini Hasilnya
    27 PWNU Temui Rais Aam PBNU Terkait Muktamar Ke-34 NU Lampung, Ini Hasilnya
    29/11/2021 - 19:25
  • Membanggakan, Pelajar SDIT Al Uswah Tuban Juara 1 Panahan Porkab
    Membanggakan, Pelajar SDIT Al Uswah Tuban Juara 1 Panahan Porkab
    29/11/2021 - 19:17
  • Merespon Munculnya Omicron, Satgas Covid-19 Keluarkan SE Terbaru
    Merespon Munculnya Omicron, Satgas Covid-19 Keluarkan SE Terbaru
    29/11/2021 - 18:49
  • Kader Kesehatan se-Kota Surabaya Dikerahkan Sosialisasi Pencegahan Penyakit Pancaroba
    Kader Kesehatan se-Kota Surabaya Dikerahkan Sosialisasi Pencegahan Penyakit Pancaroba
    29/11/2021 - 18:42
  • Sri Untari Dorong Aktivis Kopma Optimalkan Potensi Teknologi Informasi
    Sri Untari Dorong Aktivis Kopma Optimalkan Potensi Teknologi Informasi
    29/11/2021 - 18:38

TIMES TV

Suara Merdu Dipikat Label Maia Estianty- Ninaya Ilena

Suara Merdu Dipikat Label Maia Estianty- Ninaya Ilena

05/11/2021 - 09:44

Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji

Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji
Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji

Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji
Pemkot Malang Kuatkan Infrastruktur Digital Penunjang Smart City Melalui Wifi Gratis

Pemkot Malang Kuatkan Infrastruktur Digital Penunjang Smart City Melalui Wifi Gratis
Profesor Kopi : Malang Gudangnya Kopi Robusta

Profesor Kopi : Malang Gudangnya Kopi Robusta

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Nahdlatul Ulama Tidak Boleh Pecah 
    Nahdlatul Ulama Tidak Boleh Pecah 
    29/11/2021 - 17:16
  • Terorisme dan Fundamentalisme Kemanusiaan
    Terorisme dan Fundamentalisme Kemanusiaan
    29/11/2021 - 14:54
  • Momen Hari Pahlawan: Berjiwa Heroik-Nasionalistik di Era Digital
    Momen Hari Pahlawan: Berjiwa Heroik-Nasionalistik di Era Digital
    29/11/2021 - 07:37
  • Refleksi antar Konferensi PCNU: Menjadikan  NU sebagai Organisasi Umat
    Refleksi antar Konferensi PCNU: Menjadikan NU sebagai Organisasi Umat
    28/11/2021 - 09:53
  • Mungkinkah Garuda Berganti Nama?
    Mungkinkah Garuda Berganti Nama?
    27/11/2021 - 17:05
  • Melawan Stigma Seksisme Wanita Karir
    Melawan Stigma Seksisme Wanita Karir
    27/11/2021 - 09:29
  • Meningkatkan Profesionalisme Guru Melalui Penelitian
    Meningkatkan Profesionalisme Guru Melalui Penelitian
    27/11/2021 - 00:29
  • Transisi Energi dan Memulihkan Keseimbangan Lingkungan Hidup
    Transisi Energi dan Memulihkan Keseimbangan Lingkungan Hidup
    26/11/2021 - 15:33

KULINER

  • Bakmi Pak Pendek Ponorogo, Kuliner Legendaris Langganan Pejabat
    Bakmi Pak Pendek Ponorogo, Kuliner Legendaris Langganan Pejabat
    29/11/2021 - 03:21
  • Saung Ma UTI Kota Banjar Tawarkan Menu Sunda di Alam Pedesaan Rejasari
    Saung Ma UTI Kota Banjar Tawarkan Menu Sunda di Alam Pedesaan Rejasari
    28/11/2021 - 01:16
  • Cek Deretan Dessert Paling WOW di Ji Restaurant Canggu
    Cek Deretan Dessert Paling WOW di Ji Restaurant Canggu
    26/11/2021 - 04:44
  • Macarina, Cemilan Makaroni yang Nagih untuk Terus Disantap
    Macarina, Cemilan Makaroni yang Nagih untuk Terus Disantap
    24/11/2021 - 02:06
  • Quatro Coffee, Nyaman, Elegan dan Tenang untuk Pekerja Milenial
    Quatro Coffee, Nyaman, Elegan dan Tenang untuk Pekerja Milenial
    22/11/2021 - 13:04