Kopi TIMES

Menyikapi HMI vs PMII di Muktamar NU ke-34

Rabu, 06 Oktober 2021 - 18:13 | 65.71k
Menyikapi HMI vs PMII di Muktamar NU ke-34
Achmad Faisol.
Editor: Yatimul Ainun

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Meski agak belotan dalam tulisan ini, saya ingin mendiskusikan (bantahan atas) pandangan KH. Imam Jazuli, Lc.MA soal HMI vs PMII di Muktamar NU ke-34.

Sebagai IKAPMII level biasa, mohon maaf bila penyampaian pendapat saya ditulisan ini tidak sistematis dan awut-awutan. Saya memang bukan penulis, tetapi saya mencintai PMII sekaligus NU. Kemudian, tak lupa salam takzim saya kepada Kiai Jazuli, semoga Allah selalu memberinya kesehatan.

Dalam tulisannya yang terbit di Tribuners pada Selasa (5/10/2021), Kiai Jazuli mengafirmasi peran besar NU ditingkat nasional dan global. Karena itu, posisi ketua NU menjadi sangat strategis untuk dikuasai. Secara tegas beliau mengatakan bahwa kader terbaik PMII (Muhaimin Iskandar, dkk) harus “menguasai” NU. “Kecuali jika Keluarga Besar PMII sudah mengikhlaskan PBNU dipimpin kader HMI,” kata beliau di akhir artikel.

Pernyataan ini khas cara kiai memberikan nasihat. Artinya, beliau cukup berat bila kader HMI (Yahya Cholil Staquf) memimpin NU. Pertanyaannya mengapa demikian sengit? Tentu saja ini tidak lepas dari persoalan sejarah antara kedua oganisasi, yang sebetulnya saya masih ragu apakah pantas konflik historis itu dibawa ke dalam kontestasi calon ketua PBNU. Mengingat NU lahir jauh lebih dulu dan jauh lebih besar dari PMII dan HMI. 

Sebelum berdiskusi lebih jauh, saya ingin menyatakan keprihatinan saya. Mengapa yang mengemuka di muktamar NU yang akan datang ini justru persoalan bursa calon ketua. Benarkah muktamar NU telah tereduksi pada sebatas memilih ketua? Lalu lupa dengan persoalan besar bangsa: keadilan, kemiskinan, kemanusian, dan keummatan, yang sebetulnya ingin dijawab oleh NU.

Fokus pada pemilihan calon ketua ini, membuat saya merasa Muktamar NU tak jauh beda dengan Kongres partai politik macam PDIP, Demokrat, PKS, Nasdem, dst. Harapan saya sebetulnya, Kiai Jazuli mengakhiri keidentikan dengan partai politik ini, terlebih NU telah kembali ke Khittahnya sebagai organisasi keummatan, kebangsaan, dan keIslaman.

Di dalam artikelnya Kiai Jazuli memberi sejumlah argumen pentingnya PMII “menguasai” NU, mulai dari garis ideologi, potensi relasi sosial, dan agenda strategis lainnya. 
Menjawab argumen ini, saya ingin kita semua menggunakan “perspektif buruf” dan bukan “perspektif katak”. Perspektif burung melihat NU secara lebih universal dari atas, sebagai suatu organisasi dengan nilai-nilai yang harus bisa masuk ke lembaga apapaun, baik lembaga pemerintah, orpol, ormawa, pun ormas-ormas lainnya.

Sementara perspektif katak, melihat NU dari bawah secara partikular. Dalam hal ini, saya menempatkan pandangan Kiai Jazuli. Sehingga beliau merasa NU perlu dikuasai PMII. Pandangan partikular ini juga akan dilakukan oleh pihak lain, dalam hal ini HMI, juga merasa perlu menguasai NU, bahkan mungkin partai-partai merasa perlu menguasai NU. 

Perspektif katak ini mereduksi nilai NU pada sebatas perebutan ketua NU, bukan bagaimana nilai-nilai ke-NU-an bisa membaluri seluruh kehidupan bangsa. Karena itu, perspektif ini dalam hemat saya tidak terlalu linear dengan spirit para Kiai pendiri NU dahulu. 

Kemudian, saya ingin menilik dari nama “Nahdlatul Ulama” (kebangkitan para ulama). Titik tekannya ada pada kata “ulama”, mengapa bukan pedagang dan bukan politisi? Di sini menurut saya, para Kiai pendiri NU paham betul kebutuhan bangsa ini pada ulama, bukan politisi ataupun pedagang. 
“Ulama” adalah bentul jamak dari “alim”. Yang dalam tradisi Islam seperti juga diyakini oleh NU, sebagai pewaris para nabi (al Ulama Waratsatul Anbiya).

Sehingga “alim” orang yang berilmu dalam konteks ini berbeda dengan berilmu dalam perspektif Barat, yang hanya cukup selesai dengan memiliki pengetahuan (knowledge). 

Tetapi “ilmu” dalam tradisi NU adalah pengetahuan plus moralitas dan plus spritualitas. Itulah sebabnya seorang yang dianggap “alim” yang akan maju di bursa calon ketua PBNU sama sekali tidak cukup diukur dari karena sebagai kader PMII ataupun HMI, apalagi sebatas kader partai politik.

Pernah terlibat di organisasi tertentu, mungkin saja sebagai salah satu kriteria menjadi ketua NU, tetapi sama sekali itu tidak cukup.

Di sinilah, sebetulnya saya berharap Kiai Jazuli dapat berbicara lebih luas ketimbang sekedar keharusan menjadi ketua PBNU hanya karena PMII segaris secara ideologi dan kultur. Saya secara pribadi, ingin NU ini berbicara di wilayah universal tanpa tersekat oleh kelompok-kelompok tertentu.

Demikianlah, pendapat yang dapat saya sampaikan. Semoga kita semua masih melestarikan tradisi berdiskusi ala NU.

***

*) Oleh : Achmad Faisol, mantan Ketua Komisariat PMII Unitri.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.



Publisher : Rizal Dani

EKORAN

TERBARU

  • AICIS Ke-20 Bakal Dibuka Wakil Presiden RI di UIN Surakarta, Ini Tiga Agenda Pentingnya
    AICIS Ke-20 Bakal Dibuka Wakil Presiden RI di UIN Surakarta, Ini Tiga Agenda Pentingnya
    24/10/2021 - 22:00
  • Foto Ayah dan Anak Ini Menangkan Photo of The Year Siena International Awards 2021
    Foto Ayah dan Anak Ini Menangkan Photo of The Year Siena International Awards 2021
    24/10/2021 - 21:58
  • Hari Santri Nasional, Muslimat dan Fatayat NU Kraksaan Gandeng Legislator Sosialisasikan UU dan Perpres Pesantren
    Hari Santri Nasional, Muslimat dan Fatayat NU Kraksaan Gandeng Legislator Sosialisasikan UU dan Perpres Pesantren
    24/10/2021 - 21:44
  • Pembukaan Ibudaya Festival 2021, Tampilkan Ketangguhan Perempuan Bali
    Pembukaan Ibudaya Festival 2021, Tampilkan Ketangguhan Perempuan Bali
    24/10/2021 - 21:28
  • Terkena Razia Vaksin di Tempat Wisata Indramayu, Ini yang Dilakukan Pedagang dan Wisatawan
    Terkena Razia Vaksin di Tempat Wisata Indramayu, Ini yang Dilakukan Pedagang dan Wisatawan
    24/10/2021 - 21:00

TIMES TV

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

01/04/2021 - 15:58

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi
Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo

Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo
Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan

Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan
The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Kapan Pandemi Berakhir
    Kapan Pandemi Berakhir
    23/10/2021 - 17:33
  • Santri di Era Revolusi Masyarakat 5.0
    Santri di Era Revolusi Masyarakat 5.0
    23/10/2021 - 13:13
  • Menjaga Identitas Kesantrian untuk Indonesia yang Lebih Hebat
    Menjaga Identitas Kesantrian untuk Indonesia yang Lebih Hebat
    23/10/2021 - 09:32
  • Dua Tahun Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin
    Dua Tahun Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin
    23/10/2021 - 02:01
  • Refleksi Singkat Tentang Maulid
    Refleksi Singkat Tentang Maulid
    23/10/2021 - 00:29
  • Menyuarakan Wakaf Sebagai Lifestyle
    Menyuarakan Wakaf Sebagai Lifestyle
    22/10/2021 - 18:39
  • Santri Agen Demokrasi
    Santri Agen Demokrasi
    22/10/2021 - 17:15
  • Jangan Sibuk Menilai Orang Lain Terus, Sibuklah dengan Dirimu Sendiri
    Jangan Sibuk Menilai Orang Lain Terus, Sibuklah dengan Dirimu Sendiri
    22/10/2021 - 10:20

KULINER

  • 5 Kuliner Korea yang Hits di Indonesia
    5 Kuliner Korea yang Hits di Indonesia
    23/10/2021 - 12:00
  • Sate Layah, Sate Ayam Hidden Gem dengan Saus Kacang Melelehkan Hati
    Sate Layah, Sate Ayam Hidden Gem dengan Saus Kacang Melelehkan Hati
    23/10/2021 - 06:51
  • Ragam Kuliner Seafood Tersedia di Kampung Mandar Banyuwangi, Begini Keseruannya
    Ragam Kuliner Seafood Tersedia di Kampung Mandar Banyuwangi, Begini Keseruannya
    23/10/2021 - 06:25
  • Pertama di Gresik, Bakso Lava di Atas Hot Plate
    Pertama di Gresik, Bakso Lava di Atas Hot Plate
    19/10/2021 - 14:01
  • Makan Malam Bak Artis Drakor di JW Marriott Surabaya
    Makan Malam Bak Artis Drakor di JW Marriott Surabaya
    18/10/2021 - 10:09