Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Vonis dan ”Vonis”

Kamis, 16 September 2021 - 13:15 | 21.15k
Vonis dan ”Vonis”
Abdul Wahid, Dosen Universitas Islam Malang (UNISMA) dan penulis buku.
FOKUS

Universitas Islam Malang

Editor: Dhina Chahyanti

TIMESINDONESIA, MALANG – Jika direfleksi, memang tidak mudah merelasikan kausalitas antara vonis pengadilan dengan kemungkinan akibat yang mencuat, namun demikian, vonis pengadilan diharapkan oleh kalangan pencari keadilan (masyarakat) supaya tak keluar dari ril keadilan, obyektifitas, dan rasionalitas.

Sebelum vonis dijatuhkan, umumnya hakim sudah mendengarkan  beberapa terstimoni yang disampaikan oleh saksi-saksi yang diajukan penggugat atau korban, sehingga  tinggal menimang kebenaran, rasionalitas, dan keobyektifitasannya guna dikonklusikan menuju ranah keputusan yang berkeadilan. Vonis yang berkeadilan memang belum tentu diterima oleh pihak yang berperkara, akan tetapi dari vonis berkeadilan ini, masyarakat  di kemudian hari atau lambat laun akan mencerdasinya dengan kebeningan hati dan kerelaan.

Beda halnya jika putusan pengadilan didasari oleh ”pesanan” kelompok kekuatan politik tertentu, maka bukan tidak mungkin akan mencuatkan dan menyemarakkan ”vonis” chaos (kekacauan). Kekacauan sosial tidak sert a merta terjadi kalau tidak didahului oleh penyebab yang bertajukkan praktik kotor seperti konspirasi, rekayasa kebohongan, atau pemenangan ketidak-jujuran, ketidak-adilan, dan pembusukan nilai (values decay).

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

  Ibarat pepatah yang berbunyi ”evil causis evil  vallacy”, bahwa sesuatu yang buruk terjadi di masyarakat berkorelasi dengan hal-hal buruk yang mempengaruhinya. Kekacauan sebagai penyakit sosial-politik-ekonomi tidak akan terjadi kalau tidak didahului oleh praktik-praktik kotor. 

Itu artinya, kalau ada suatu komunitas pencari keadilan yang terpaksa menggelar ”vonis” kekerasan (perlawanan sosial), maka kejadian demikian ini haruslah disikapi dengan kearifan atau kebeningan nurani, pasalnya sangat niscaya bahwa yang dilakukannya itu demi panggilan atas nama keadilan, kepentingan perut, ekspresi rasa prustasi dan regresi, menggugat krisis kepercayaan amanat dan berjuang mengembali­kan hak berpendapat, menjatuhkan opsi, atau berdemokrasinya yang ternoda..

Dapat saja terjadi bahwa ketidakberdayaan suatu komu­nitas (community empowerment) pemilih pilkada yang menjadi korban ketidak-adilan dan ketidak-manusiawian, serta ketidak-jujuran  praksis sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya secara reflektif dan eksplosif menunjukkan kemarahannya dengan mengunggulkan protes (perlawanan) yang amat radika­listik dan barbarianisti, mengingat mereka sudah tidak bisa menahan desakan emosi dalam dirinya akibat dikorbankan atau ditumbalkan secara berlarut-larut dan berlapis.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Sosiolog Hurton dan Hunt (1987) membenarkan, “akar dari semua gerakan seperti perlawanan, pembangkangan,  atau aksi massa itu sesungguhnya berasal dari ketidakpuasan”. Hernando de Soto juga menguatkan, “rasa tidak puas yang timbul dapat dengan mudah mencetuskan mence­tuskan kekerasan dan tindakan ilegal yang sulit dikendali­kan”.

Sejalan dengan Hurton dan Hunt itu, Girand dalam Violence and Sacred (1989) mengemukakan, bahwa keberingasan  massa bisa terjadi karena perasaan tertekan yang berlangsung secara intens yang meluas dalam masyarakat. Keberingasan atau kejahatan kekerasan akan begitu saja bisa terjadi akibat prustasi akut yang diderita seseorang dan masyarakat, yang tidak tahan lagi dengan perlakuan menyakiti, diskriminasi, dan ketidak-adilan.

Mencermati pandangan Hurton, Hunt dan Girand itu menunjukkan bahwa kekerasan individual dan massal potensial terjadi ter­kait secara signifikan dengan perasaan ketidakpuasan, ke­tertekanan, perlakuan tidak adil, distribusi sumber pendapa­tan yang disparitas, praktik dehumanitas atau ketidakberadaban  yang berbingkai apologi kepentingan sosial, ekonomi, politik dan budaya negara. Ketika seseorang atau komunitas politik misalnya merasa hidupnya dalam tekanan ekonomi yang hebat, maka bukan tidak mungkin akan lahir opsi kekerasan, ekstremitas atau kriminalitas.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kerusuhan dan kekerasan (sebagai warna kekacauan) akhirnya menjadi “ongkos” socsal (social cost) atas kesen­jangan berpolitik, hukum, dan ekonomi yang terlestarikan, keadilan yang dipermainkan, kemiskinan yang dikomoditi, kemustadh’afinan yang tidak terbebaskan dan sekedar dijadikan proyek kepentingan politik instan. Mereka, orang miskin “menjawab” praktik kezaliman pasar politik, bisnis elit parpol, atau dehumanisasi diskresi ekonomi-politik yang diproduk oleh pemerintah atau elemen oportunisme yang membuat masyarakat semakin akrab dengan penderitaan, sesuai dengan kondisi dan bahasa yang bisa digunakannya.

Bahasa yang digunakan oleh orang komunitas politik, khususnya yang menempati kantong kemiskinan, ketika bahasa keadilan, kejujuran, amanah kepemimpinan, dan kesungguhan mewujudkan pengabdian sedang lenyap dari persada adalah bahasa perlawanan.

Bahasa perlawanan seperti memproduk kekacauan terpaksa dipilih seiring dengan hak-hak asasinya sebagai warga negara yang ditinggalkan atau diabaikan oleh pemeintah. Bahasa perlawanan seperti kata Miqdad Husen merupakan ”bahasa sosiologis yang paling dekat dengan seseorang atau sekelompok orang yang menjalani kehidupan dalam lingkaran sosial-struktural (politik)   yang tidak adil dan mendiskriminasikannya. Dengan kekacauan yang ditunjukkan, mereka sejatinya menunjukkan eksistensinya sebagai elemen sosial-politik yang mempunyai hak-hak yang harus diperjuangkannya”.

Mereka tidak mungkin akan bersabar terus menerus menerima realitas ketidak-adilan dan ketidak-manusiawian yang dilakukan oportunis politik yuridis dan ekonomi yang mengebiri, menggagalkan, dan menghegemoni hak demokratisasinya. Mereka ingin tontonan suatu sistem peradilan yang mendidiknya  atau menghormatinya sebagai pemilik kedaulatan atau penjaga citra negara hukum (rechtstaat). Mereka tidak bisa tahan terus menerus hidup dalam lingkaran permainan kotor atau ”jagad abu-abu politik” yang mengamputasi kejujuran, keadilan,  atau keobyektifitasan.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*) Penulis: Abdul Wahid, Dosen Universitas Islam Malang (UNISMA) dan penulis buku.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.



Publisher : Rochmat Shobirin

EKORAN

TERBARU

  • Angkringan Among Tani Gives You a Taste of Yogyakarta in Batu
    Angkringan Among Tani Gives You a Taste of Yogyakarta in Batu
    26/10/2021 - 05:32
  • Bakso Lava of Omah Bakso Sully, the Spiciness will Make You Cry in Tears
    Bakso Lava of Omah Bakso Sully, the Spiciness will Make You Cry in Tears
    26/10/2021 - 03:29
  • Amily Hijab, Melenggang Penuh Pesona dari Indonesia Fashion Week
    Amily Hijab, Melenggang Penuh Pesona dari Indonesia Fashion Week
    26/10/2021 - 01:22
  • Membangun Kesadaran Atas Kekerasan Berbasis Gender Terhadap Perempuan
    Membangun Kesadaran Atas Kekerasan Berbasis Gender Terhadap Perempuan
    26/10/2021 - 00:27
  • Lestari Moerdijat Dukung IAIN Palopo Menjadi UIN
    Lestari Moerdijat Dukung IAIN Palopo Menjadi UIN
    25/10/2021 - 23:56

TIMES TV

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

01/04/2021 - 15:58

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi
Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo

Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo
Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan

Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan
The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Membangun Kesadaran Atas Kekerasan Berbasis Gender Terhadap Perempuan
    Membangun Kesadaran Atas Kekerasan Berbasis Gender Terhadap Perempuan
    26/10/2021 - 00:27
  • Teladan Nabi, Moderasi Beragama dan Islam Kita
    Teladan Nabi, Moderasi Beragama dan Islam Kita
    25/10/2021 - 16:00
  • Memuliakan Guru Honorer
    Memuliakan Guru Honorer
    25/10/2021 - 15:00
  • Kapan Pandemi Berakhir
    Kapan Pandemi Berakhir
    23/10/2021 - 17:33
  • Santri di Era Revolusi Masyarakat 5.0
    Santri di Era Revolusi Masyarakat 5.0
    23/10/2021 - 13:13
  • Menjaga Identitas Kesantrian untuk Indonesia yang Lebih Hebat
    Menjaga Identitas Kesantrian untuk Indonesia yang Lebih Hebat
    23/10/2021 - 09:32
  • Dua Tahun Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin
    Dua Tahun Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin
    23/10/2021 - 02:01
  • Refleksi Singkat Tentang Maulid
    Refleksi Singkat Tentang Maulid
    23/10/2021 - 00:29

KULINER

  • Ini Alasan Pepaya Dijuluki Malaikatnya Buah
    Ini Alasan Pepaya Dijuluki Malaikatnya Buah
    25/10/2021 - 13:09
  • Tak Sampai Rp20 Ribu, Lezatnya Domba Bakar Madu di Malang
    Tak Sampai Rp20 Ribu, Lezatnya Domba Bakar Madu di Malang
    25/10/2021 - 04:08
  • 135 Orang Ikuti Pelantikan PCNU Ciamis Masa Khidmat 2021-2026
    135 Orang Ikuti Pelantikan PCNU Ciamis Masa Khidmat 2021-2026
    24/10/2021 - 22:02
  • 5 Kuliner Korea yang Hits di Indonesia
    5 Kuliner Korea yang Hits di Indonesia
    23/10/2021 - 12:00
  • Sate Layah, Sate Ayam Hidden Gem dengan Saus Kacang Melelehkan Hati
    Sate Layah, Sate Ayam Hidden Gem dengan Saus Kacang Melelehkan Hati
    23/10/2021 - 06:51