Kopi TIMES

Islam, Politik dan Intoleransi di Indonesia

Sabtu, 28 Agustus 2021 - 15:22 | 32.32k
Islam, Politik dan Intoleransi di Indonesia
Yadafial Maulana Hammi, Wasekum Bidang Ketenagakerjaan dan Kesehatan HMI Badan Koordinasi Jawa Timur.
Editor: Ronny Wicaksono

TIMESINDONESIA, MALANG – Relasi agama dan politik ini selalu menarik diperbincangkan. Akademisi, agamawan, politisi, aktivis, bahkan birokrat sama-sama bergairah membicarakan masalah agama dan politik.

Ada cukup banyak karya akademik yang mendiskusikan fenomena hubungan agama dan politik ini. Jonathan Fox, misalnya, seorang profesor ilmu politik di Bar-Ilan University, Israel, telah menulis banyak karya akademik mengenai hubungan komplek dan njlimet antara agama (berbagai agama di dunia) dan politik (berbagai sistem dan aktivitas politik).

Salah satu karya Jonathan Fox yang cukup komprehensif tentang hal ini adalah An Introduction to Religion and Politics: Theory and Practice, sebuah 'tour de force' yang mengombinasikan teori-teori relasi agama dan politik, serta data survei mengenai kebijakan-kebijakan politik tentang keagamaan dari sekitar 177 pemerintah atau negara.

Hasil survei ini menunjukkan adanya pluralitas sikap terhadap agama dan politik. Pemerintah yang mendukung maupun membatasi ruang gerak agama sama-sama besarnya.Satu sisi, banyak pemerintah yang 'mengunci' peran sentral agama di publik, sementara di pihak lain banyak juga agama yang mempengaruhi dan mendikte dunia politik. Netralitas politik terhadap agama semakin menjadi barang langka. Pada saat yang sama, agama juga menjadi entitas yang semakin penting dalam politik. Fox menulis, 'Religion is becoming an inescapable issue in politics'.

Fox benar. Ada negara-negara yang memisahkan secara ketat antara politik dan agama seperti sejumlah negara di Eropa. Tapi ada pula yang menganggap agama sebagai instrumen penting dalam politik-pemerintahan seperti Amerika Serikat dan berbagai negara yang mayoritas berpenduduk Muslim.

Tetapi, perlu dicatat, itu bukan berarti bahwa masyarakat di sebuah negara mengikuti pola pemikiran dan pandangan yang sama dan seragam. Pluralitas pemikiran, pandangan, dan praktik masyarakat selalu hadir di mana-mana. Dengan kata lain, meskipun di sejumlah negara Eropa modern, banyak masyarakat yang menginginkan pemisahan agama dari politik, tetapi banyak juga yang menginginkan 'kembalinya' agama dalam dunia politik-pemerintahan, seperti terjadi di zaman Eropa abad pertengahan.

Munculnya gagasan 'demokrasi Kristen' di Eropa, seperti pernah ditulis Stathis Kalyvas dalam The Rise of Christian Democracy in Europe, menunjukkan munculnya kembali keinginan sejumlah kelompok Kristen kontemporer di Eropa tentang pentingnya mengawinkan kekristenan (keagamaan) dengan dunia politik-pemerintahan.

Hal yang sama juga terjadi di Amerika. Meskipun banyak pihak yang menganggap pentingnya norma-norma Judeo-Christianity dalam 'mengarahkan' jalannya pemerintahan, banyak juga yang berpendirian agama sebagai 'penghambat' jalannya demokrasi liberal, sehingga harus 'diprivatkan'. Mereka berpendapat, jangan sampai menjadi 'agama publik' yang bisa berpotensi mengacaukan sistem dan tatanan demokrasi liberal, yang bertumpu pada kebebasan individu dan sekularisme.

Sejarah Indonesia dari dulu hingga kini, sebelum maupun sesudah kemerdekaan, juga tidak lepas dari kontroversi relasi agama (khususnya Islam) dan politik. Ada kelompok yang menganggap Islam dan politik adalah dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Ada juga yang berargumen Islam dan politik harus dipisah secara ekstrem. Yang lain lagi menolak agama terlibat dalam 'politik praktis-kekuasaan', tetapi membolehkan 'politik non-praktis', yaitu sejenis 'politik kerakyatan' di luar negara atau pemerintah.

Dulu, pada masa penjajahan Belanda, banyak ulama bekerja sama dengan kompeni, baik sebagai penasihat politik-agama seperti Habib Usman bin Yahya (1822–1913), yang menjadi penasihat Belanda atas usul Christian Snouck Hurgronje, sebagai pejabat pengadilan agama maupun sebagai petugas keagamaan untuk mengurusi masjid dan ritual keislaman.

Tetapi ada juga ulama yang menolak kongkalikong dengan Belanda dan memilih menjadi oposan pemerintah kolonial, yang menginisiasi perlawanan di sejumlah daerah.
Setelah Indonesia merdeka, para elit Muslim terbelah: sebagian pro 'perkawinan' antara Islam dan politik, sebagian lagi memilih 'perceraian' Islam dan politik.

Era Orde Lama menunjukkan, kelompok 'Islam politik' gagal meraih panggung kekuasaan setelah dibekukan oleh Bung Karno. Fenomena ini berlanjut di zaman Orde Baru. Pak Harto yang terkenal sebagai 'diktator bertangan dingin', juga tidak memberi ruang secuil pun bagi pertumbuhan kelompok 'Islam politik'.

Waktu itu, Pak Harto hanya memberi ruang bagi perkembangan 'Islam budaya', karena itu para aktivis 'Islam politik' (termasuk para pentolan eks-Masyumi) memilih bungkam dan tiarap. Mereka melakukan berbagai aktivitas pengajian dan pertemuan keagamaan secara diam-diam, tidak berani secara terbuka. Karena mereka tahu, Pak Harto tidak menyukai kelompok Muslim yang menggunakan Islam sebagai 'instrumen politik', yang bisa mengganggu stabilitas nasional dan 'stabilitas Cendana'.

Hanya pada awal 1990-an saja, Pak Harto mulai 'melirik' sejumlah teknokrat Muslim modernis dan cendekiawan Islam moderat, yang ternyata sebagian justru menjadi 'Brutus' bagi Pak Harto, yang turut menikam ketika Indonesia diterpa gelombang krisis ekonomi dan moneter, yang membawa pada tumbangnya kekuasaan Orde Baru. Lengsernya Pak Harto dan 'rontoknya' rezim Orde Baru membawa angin segar bagi kelompok Islam politik dan kaum Islamis, yang menginginkan Islam terlibat secara total dalam kepolitikan guna mengatur jalannya roda pemerintahan dan kenegaraan.

Mereka yang dulu 'ngumpet' mulai bermunculan dan menggelar berbagai acara berkaitan dengan 'Islam politik' secara terang-terangan.
Lengsernya Pak Harto berarti lahirnya iklim demokrasi yang memberi ruang lebar-lebar bagi kebebasan individu (termasuk kaum Islamis tadi), untuk berekspresi.

Tetapi ironisnya, atas nama agama, sejumlah kelompok Islam radikal dan intoleran justru sering berbuat ulah, memadamkan api kebebasan dengan memberangus berbagai kelompok atau sekte keagamaan, yang mereka hakimi sebagai sesat dan menyimpang dari 'kanon resmi' Islam. Mereka mau hidup bebas-merdeka tetapi tidak mau memberi ruang kebebasan-kemerdekaan itu kepada orang dan kelompok lain. Ironisnya lagi, mereka juga mengecam demokrasi sebagai 'budaya kafir, Pancasila sebagai 'sistem thoghut', Indonesia sebagai negara tidak Islami, dan seterusnya.

Padahal, mereka bisa mengekspresikan pendapat dengan bebas dan merdeka itu justru karena demokrasi. Dalam sistem politik otoriter seperti zaman Orde Baru dulu, kebebasan menjadi barang mewah. Pelan tapi pasti, berbagai kelompok 'Islam politik' ini semakin liar dan menjadi-jadi, karena mendapatkan panggung lebar untuk berekspresi dalam payung demokrasi. Akibatnya, banyak hal mulai tampak 'overdosis': semua diukur dari kaca mata Islam dan harus sesuai dengan norma-norma Islam.

Padahal, apa yang mereka klaim sebagai 'ajaran Islam' itu, dalam realitasnya sebetulnya adalah 'wacana keislaman', yang diproduksi oleh sejumlah pemikir-aktivis Muslim dan ulama favorit mereka. Seperti konsep 'Negara Islam' yang mereka usung dan klaim sebagai 'ajaran Islam', itu jelas merupakan produk politik sekuler kontemporer pascakolonialisme yang diinisiasi tokoh-tokoh seperti Abul A’la al-Maududi atau Sayyid Qutb, yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan ajaran Islam.

Ibarat rumah, Indonesia bukan hanya dihuni oleh kaum Muslim, tetapi juga umat non-Muslim yang sudah semestinya mendapat hak yang sama dengan kaum Muslim. Sebab mereka (umat non-Muslim) memiliki kewajiban yang sama dengan umat Islam sebagai anggota keluarga. Karena itu alangkah eloknya jika masing-masing pihak dan kelompok etnis-agama di Indonesia bersikap toleran dan tidak arogan karena negara ini bukan hanya didirikan oleh umat Islam tetapi juga oleh umat agama lain.

***

*) Oleh : Yadafial Maulana Hammi, Wasekum Bidang Ketenagakerjaan dan Kesehatan HMI Badan Koordinasi Jawa Timur.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.



Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

EKORAN

TERBARU

  • Kementerian PUPR RI: Lebih dari 300 Ribu Orang Peroleh Kerja lewat Program PKT Permukiman
    Kementerian PUPR RI: Lebih dari 300 Ribu Orang Peroleh Kerja lewat Program PKT Permukiman
    23/09/2021 - 02:31
  • Asyiknya Nikmati Senja di ASTON Sidoarjo City Hotel & Conference Center
    Asyiknya Nikmati Senja di ASTON Sidoarjo City Hotel & Conference Center
    23/09/2021 - 01:33
  • Masuki Musim Penghujan, Wisata Rafting di Banyuwangi Tambah Fasilitas Keamanan
    Masuki Musim Penghujan, Wisata Rafting di Banyuwangi Tambah Fasilitas Keamanan
    23/09/2021 - 00:31
  • Bank Jatim Sukseskan Program Vaksinasi hingga Pulau Bawean
    Bank Jatim Sukseskan Program Vaksinasi hingga Pulau Bawean
    22/09/2021 - 23:54
  • Kemenparekraf RI Dukung Festival Silek On The Sea 2021 Kota Pariaman
    Kemenparekraf RI Dukung Festival Silek On The Sea 2021 Kota Pariaman
    22/09/2021 - 23:30

TIMES TV

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

01/04/2021 - 15:58

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi
Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo

Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo
Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan

Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan
The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • ”Bahasa” Orang Miskin
    ”Bahasa” Orang Miskin
    21/09/2021 - 15:55
  • Vaksin Dipacu, Wsbk Melaju
    Vaksin Dipacu, Wsbk Melaju
    21/09/2021 - 13:14
  • Menuju Pendidikan yang Berkualitas
    Menuju Pendidikan yang Berkualitas
    21/09/2021 - 12:55
  • Agama Cinta Gus Dudung Abdurrachman, Sang Jenderal Bernasab Sunan Gunung Jati
    Agama Cinta Gus Dudung Abdurrachman, Sang Jenderal Bernasab Sunan Gunung Jati
    21/09/2021 - 09:58
  • Mengenang Isa Hasanda Pendiri SBT, 12 Tahun Dari Bui ke Bui
    Mengenang Isa Hasanda Pendiri SBT, 12 Tahun Dari Bui ke Bui
    20/09/2021 - 17:51
  • Pengakaran Kembali Pancasila di Masyarakat
    Pengakaran Kembali Pancasila di Masyarakat
    20/09/2021 - 13:25
  • Sinergi Pelaku Pengadaan Publik Berkelanjutan Pasca Covid-19
    Sinergi Pelaku Pengadaan Publik Berkelanjutan Pasca Covid-19
    19/09/2021 - 16:30
  • Mengenal Gagal Jantung, Sebuah Kondisi Akhir dari Penyakit Jantung
    Mengenal Gagal Jantung, Sebuah Kondisi Akhir dari Penyakit Jantung
    18/09/2021 - 15:35

KULINER

  • Asyiknya Nikmati Senja di ASTON Sidoarjo City Hotel & Conference Center
    Asyiknya Nikmati Senja di ASTON Sidoarjo City Hotel & Conference Center
    23/09/2021 - 01:33
  • Berburu Lezat Gurih Es Kopi Susu Tetangga di Toko Kopi Tuku Surabaya
    Berburu Lezat Gurih Es Kopi Susu Tetangga di Toko Kopi Tuku Surabaya
    20/09/2021 - 05:30
  • Unik, Ada Bakso Berbentuk Rantai di Sidoarjo
    Unik, Ada Bakso Berbentuk Rantai di Sidoarjo
    20/09/2021 - 01:25
  • 154 Tempat Wisata di Jatim Sudah Buka, Perhatikan Hal Ini
    154 Tempat Wisata di Jatim Sudah Buka, Perhatikan Hal Ini
    19/09/2021 - 14:50
  • Kopi Degan, Sensasi Dua Rasa
    Kopi Degan, Sensasi Dua Rasa
    18/09/2021 - 15:11