Kopi TIMES

Makna Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Bagi Siswa Muhammadiyah

Kamis, 22 Juli 2021 - 10:23 | 15.42k
Makna Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Bagi Siswa Muhammadiyah
Muh. Azkar, Mahasiswa Program Doktor PAI Unverstas Muhammadiyah Malang.
Editor: Deasy Mayasari

TIMESINDONESIA, MALANG – Pluralitas agama, suku, bangsa dan golongan di Indonesia seringkali diklaim sebagai kekayaan bangsa. Tidak jarang kemudian dibanggakan sebagai sebuah keberhasilan dalam pemeliharaan integrasi dan persatuan.

Walaupun di sisi yang berbeda tidak jarang pula memicu pro-kontra, terutama bagi pihak yang kerap kali merasa mendapatkan perlakuan tidak adil, diskriminasi, dan tindakan subordinasi lainnya disebabkan karena mereka sedikit secara kuantitas atau lemah secara kualitas.

Agama pada dasarnya, merupakan nilai-nilai abstrak dalam tataran ide yang diyakini sebagai pedoman dan penuntun bagi pemeluknya kepada jalan keselamatan. Agama pada tataran praktis (budaya) tidak akan selalu terrefleksikan secara linier oleh para pengikutnya.

Ide atau gagasan agama untuk mewujudkan kehidupan kemanusiaan yang damai dan harmonis, namun di satu sisi kerap berseberangan dengan realitas sosial masyarakat beragama.

Teror dan berbagai bentuk tindak kekerasan lainnya bahkan seringkali menjadikan agama sebagai legitimasinya. Salah satu faktor yang menjadi penyebabnya adalah interpretasi atas teks-teks keagamaan dimana dalam interpretasinya memunculkan varian-varian dalam agama. 

Kebijakan pendidikan di Indonesia terkait pendidika agama memiliki beberapa kasus, seperti materi Pedidikan Agama Islam di sekolah-sekolah umum, terutama yang dikelola pemerintah, materi yang diajarakan dalam bidang akidah berdasarkan pada mazhab Sunni, dan dalam bidang fikih berdasarkan mazhab Syafii yang dianut oleh mayoritas.

Padahal faktanya di sekolah-sekolah pemerintah, terdapat pula minoritas yang memiliki pemahaman, mazhab dan praktik keagamaan yang berbeda pada beberapa aspek.

Menyadari bahawa ada banyaknya perbedaan dalam bidang fikih yang dianut menjadi dasar Muh. Azkar dalam melakukan penelitian disertasinya, terutama pada para siswa yang menganut aliran Ahmadiyah.

Mahasiswa program Doktor Pendidikan Agama Islam tersebut mencoba memahami pemaknaan para siswa Ahmadiyah dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah. Pemaknaan mereka terutama pada materi-materi pembelajaran yang berbeda dengan keyakinan mereka sebagai Ahmadiyah. 

Beberapa alasan yang mendorong Azkar mengambil tema ini sebagai penelitian salah satunya terkait, konflik fisik yang terjadi antara mayoritas Islam dan Ahmadiyah yang berkepanjangan dan belum menemukan titik temu dalam upaya rekonsiliasi sejak 1983 sampai sekarang. 

Alasan lainya karena penolakan terhadap keberadaan Ahmadiyah baik secara sosial maupun secara hukum yang masih berlangsung di sebagian besar daerah dan oleh sebagian besar masyarakat, berdampak terhadap tindakan Ahmadiyah.

Sebagai kelompok yang tidak diakui atau ditolak, Ahmadiyah tidak memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diri baik secara sosial maupun keagamaan. 

Disisi lain anak-anak Ahmadiyah memiliki latar belakang ajaran dan pemahaman yang berbeda dengan mayoritas siswa pada umumnya dalam beberapa hal seperti pada keyakinan akan posisi Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi, Nabi Isa diangkat ke langit atau wafat, dan Imam Mahdi telah dibangkitkan atau tidak. Selain itu dalam salat, seorang Ahmadi tidak boleh diimami oleh non-Ahmadi, sehingga mereka memiliki masjid sendiri untuk beribadah.

Disela kesibukanya mempersiapkan ujian Promosi Doktornya Azkar menjelaskan meskipun penelitian tentang minoritas dan Ahmadiyah secara khusus di Indonesia telah banyak dilakukan, tetapi penelitian terhadap fenomena kebertahanan Ahmadiyah tetap menarik untuk diteliti.

Minoritas Ahmadiyah sepertinya memiliki cara sendiri untuk bertahan di tengah dakwah kelompok mayoritas Islam. Sehingga penting untuk mengetahui bagaimana siswa Ahmadiyah berinteraksi sosial dengan warga sekolah dan bagaimana ia memaknai materi pembelajaran PAI yang diajarkan di sekolah. 

A.    Hasil dan Pembahasan

Para siswa Ahmadiyah yang bersekolah di SMPN 16 Mataram adalah mereka yang berasal dari Wisma Transito (WT) Kota Mataram. Wisma Transito sendiri adalah tempat pengungsian bagi warga pengikut Ahmadiyah yang merupakan korban kekerasan sekitar 15 tahun yang lalu.

Sampai saat ini para pengikut Ahmadiyah tersebut masih mengungsi dan tidak diperkenankan untuk kembali ke kampung halaman mereka. Pemerintah secara khusus tidak memiliki kebijakan yang dapat menguntungkan dan menjamin kebebasan para pengikut Ahmadiyah baik secara sosial maupun agama.

Berbagai persoalan tersebut berdampak pada psikoligis para siswa Ahmadiyah. Pengalaman menjadi seorang pengikut Ahmadiyah yang kerap kali mendapat hinaan dari kelompok lain menjadi bahan interpretasi bagi siswa Ahmadiyah.

Simbol-simbol yang ditunjukkan oleh kelompok lain baik melalui bahasa dan tindakan represif lainnya dimaknai oleh para siswa Ahmadiyah sebagai bentuk penolakan terhadap eksistensinya. Hampir 15 tahun menempati WT sebagai tempat pengungsian bukanlah sesuatu yang mudah.

Para siswa Ahmadiyah mengutarakan keinginan untuk memiliki tempat tinggal yang layak seperti orang lain dan hidup sebagaimana anak-anak yang lain. 

Berdasarkan hasil penelitiannya Azkar mengemukakan bahwa konsep diri subjektif siswa Ahmadiyah terbentuk dari keluarga dan ajaran Ahmadiyah. Sedangkan konsep diri objektif terbentuk berdasarkan pandangan mayoritas terhadap Ahmadiyah sebagai organisasi yang menyimpang dan sesat.

Di sisi lain, pandangan-pandanga kelompok mayoritas, terhadap keyakinan Ahmadiyah sebagai kelompok sessat dan menyimpang dan tidak jarang pula di sekolah, mereka mendapatkan hinaan oleh sesama siswa.

Selain itu konflik masa lalu juga menjadi pertimbangan lain bagi pembentukan konsep diri objektif mereka. Bagi siswa Ahmadiyah pandangan kelompok mayoritas terhadap mereka adalah cermin diri atau looking glass self.

Selanjutnya Azkar melihat pemaknaan mereka terhadap pandangan mayoritas tersebut mengilhami tindakan-tindakan para siswa Ahmadiyah di sekolah terutama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

Seandainya pun banyak hal yang tidak berkenan dalam pembelajaran, mereka memilih diam dan tidak menanggapi. Hal demikian dianggap sebagai jalan terbaik agar eksistensinya tidak terganggu. Mereka memilih untuk mengalah dan menunjukkan penerimaan terhadap materi pembelajaran yang berbeda.

Walaupun pada akhirnya mereka tidak mengikuti pemahaman tersebut secara afektif dan psikomotorik. Di sekolah, mereka rajin mengikuti salat berjamaah di belakang non-Ahmadi. Sedangkan di rumah, mereka hanya boleh ke masjid khusus pengikut Ahmadiyah.

Demikian pula dengan keyakinan terhadap Nabi Muhammad dan Nabi Isa, di sekolah mengikuti mayoritas dan di rumah mengikuti Ahmadiyah.

Bagi siswa Ahmadiyah sekolah tidak lebih dari panggung sandiwara. “Sekolah hanyalah pentas drama. baginya mayoritas hanya menerima bagian dari pentas depan (front stage) yang hnaya definisi dari kenyataan, tanpa perlu memahami sifat kenyataan itu sendiri dengan apa yang terjadi di pentas belakang (back stage)."  

Bagi Ahmadiyah, posisi sebagai aliran atau organisasi yang tidak diakui, dalam berbagai bentuk perlakuan di sekolah diterima sebagai hal biasa. Kondisi ini diperlihatkan oleh para siswa Ahmadiyah yang tetap bertahan dan menerima pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah dengan sabar dan tanpa protes.

Sekolah dalam hal ini telah mewariskan dari pemerintah dan masyarakat melalui pembelajaran bahwa minoritas yang tidak diakui tidak memiliki hak menyelenggarakan pendidikan agama sendiri.

Sebagai penjaga doktrin, sekolah semakin menegaskan bahwa minoritas, lebih-lebih yang tidak diakui tidak berhak menjaga dan mengamalkan ajaran-ajaranya yang diyakininya.

Karenanya peran sebagai siswa yang baik dan patuh pada berbagai aturan sekolah harus tetap diperlihatkan.

Jika tidak, maka mayoritas akan merasa dilawan dan ditentang. Menentang mayoritas sama saja dengan mengundang konflik yang pastinya akan semakin merugikan posisi minoritas Ahmadiyah.

Tindakan adaptif yang dilakukan oleh para siswa Ahmadiyah adalah sebagai penyesuaian diri terhadap pandangan kelompok mayoritas. Trauma konflik dan pandangan-pandangan negatif terhadapnya menjadi dasar interpretasi mereka terhadap makna tindakan adaptif tersebut. 

Pemaknaan siswa Ahmadiyah motif dan alasan tertentu berdasarkan kegunaannya menurut interpretasi mereka. Tindakan para siswa Ahmadiyah dilakukan setelah melalui pertimbangan baik dan buruk, untung dan rugi baik terutama secara sosial.

Alasan atau motif yang paling jelas dari perilaku para siswa Ahmadiyah adalah trauma konflik masa lalu dan menghindari konflik masa datang. 

Telah banyak diuraikan Azkar dalam disertasinya bahwa para siswa Ahmadiyah mengingat-ingat konflik masa lalu yang menimpa keluarga mereka.

Hampir tidak ada pilihan pada kelompok ini selain mengalah. Berbagai persoalan yang bahkan sampai hari ini tidak terselesaikan menjadi pelajaran tersendiri bagi Ahmadiyah untuk berpasrah dan menyerahkan segala urusan kepada Allah semata.

Secara sosial, sebagai minoritas mereka tidak memiliki ruang bebas untuk mengekspresikan diri sebagai pengikut Ahmadiyah. (*)



Publisher : Rochmat Shobirin

EKORAN

TERBARU

  • Persela Berencana Kembali Latihan Akhir Juli
    Persela Berencana Kembali Latihan Akhir Juli
    23/07/2021 - 22:55
  • Jelang Usia Produktif, PKB Tingkatkan Kapasitas Kader di Era Digital
    Jelang Usia Produktif, PKB Tingkatkan Kapasitas Kader di Era Digital
    23/07/2021 - 22:43
  • Rizal Ramli Saksi Pemakzulan Gus Dur, Mega Sempat Nangis Tersedu
    Rizal Ramli Saksi Pemakzulan Gus Dur, Mega Sempat Nangis Tersedu
    23/07/2021 - 22:40
  • Kali Pertama Pada Olimpiade Tokyo 2020 NOC Diberi Kesempatan Bawa Bendera
    Kali Pertama Pada Olimpiade Tokyo 2020 NOC Diberi Kesempatan Bawa Bendera
    23/07/2021 - 22:37
  • Sensasi Plong, Terapi Uap Kayu Putih di Alas Cafe Ngawi
    Sensasi Plong, Terapi Uap Kayu Putih di Alas Cafe Ngawi
    23/07/2021 - 22:31

TIMES TV

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

01/04/2021 - 15:58

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi
Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo

Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo
Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan

Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan
The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Pendidikan Islam dalam Pandangan Salafi di Pondok Pesantren As-Salafiyah Medan
    Pendidikan Islam dalam Pandangan Salafi di Pondok Pesantren As-Salafiyah Medan
    23/07/2021 - 05:41
  • Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi Anak Berkebutuhan Khusus
    Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi Anak Berkebutuhan Khusus
    23/07/2021 - 05:34
  • Peran Perempuan dalam Sustainability Sumber Daya Alam
    Peran Perempuan dalam Sustainability Sumber Daya Alam
    22/07/2021 - 18:50
  • PHK Meningkat Dampak PPKM Darurat
    PHK Meningkat Dampak PPKM Darurat
    22/07/2021 - 14:36
  • PPKM Darurat, UMKM Sekarat?
    PPKM Darurat, UMKM Sekarat?
    22/07/2021 - 13:20
  • Celana Robek
    Celana Robek
    22/07/2021 - 11:33
  • Pembelajaran Pendidikan Ismuba Berbasis Multitalenta
    Pembelajaran Pendidikan Ismuba Berbasis Multitalenta
    22/07/2021 - 10:25
  • Makna Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Bagi Siswa Muhammadiyah
    Makna Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Bagi Siswa Muhammadiyah
    22/07/2021 - 10:23

KULINER

  • 6 Tips Olah Daging Kurban Praktis dan Nikmat Ala Chef Juna
    6 Tips Olah Daging Kurban Praktis dan Nikmat Ala Chef Juna
    20/07/2021 - 11:55
  • 4 Tips Olah Daging Kambing Agar Tidak Bau dan Empuk
    4 Tips Olah Daging Kambing Agar Tidak Bau dan Empuk
    20/07/2021 - 03:27
  • Pakar Kuliner: Indonesia Memiliki 104 Jenis Nasi Goreng
    Pakar Kuliner: Indonesia Memiliki 104 Jenis Nasi Goreng
    17/07/2021 - 09:22
  • Ini Resep Olahan Sehat Kambing Ala Quest Hotel Darmo Surabaya
    Ini Resep Olahan Sehat Kambing Ala Quest Hotel Darmo Surabaya
    16/07/2021 - 12:43
  • Terinspirasi Drakor, Mahasiswa Ubaya Bagikan Resep Kimchi Sehat
    Terinspirasi Drakor, Mahasiswa Ubaya Bagikan Resep Kimchi Sehat
    15/07/2021 - 12:31