Peristiwa Nasional Fakta atau Hoaks

[CEK FAKTA] Vaksin Covid-19 Senjata Biologis, Tangkal dengan Garam Laut

Kamis, 22 Juli 2021 - 10:11 | 57.59k
[CEK FAKTA] Vaksin Covid-19 Senjata Biologis, Tangkal dengan Garam Laut
Informasi yang berisi cara menghilangkan vaksin yang sudah masuk ke dalam tubuh dan klaim vaksin adalah senjata biologis.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Beredar informasi tentang vaksin covid-19 merupakan senjata biologis yang dapat ditangkal dengan garam laut. Informasi tersebut beredar luas di media sosial, WhatsApp Grup.

Dalam informasi itu disebutkan bahwa vaksin covid-19 merupakan senjata biologis yang dapat merusak gen, mengentalkan darah, dan melumpuhkan sel otak, serta membunuh penerima vaksin dalam jangka waktu tertentu. 

Selain itu, dalam pesan yang beredar disebutkan bahwa meminum air dicampur garam laut dapat menetralisir daya rusak vaksin covid-19. Disebutkan pula, bekam dapat menambah keampuhan melenyapkan vaksin covid yang masuk dalam tubuh.

Berikut narasi yang beredar secara berantai melalui aplikasi WhatsApp:

MENGHILANGKAN VAKSIN YANG SUDAH DI MASUKAN KE TUBUH.!!!

VAKSIN ITU SENJATA BIOLOGI
... Merusak Gen
... Pengentalan Darah
... Melumpuhkan Sel Otak
... Jangka 2hari. 2bulan. 2tahun akan membunuh

ALHAMDULILLAH. Skrg ada penangkal/ menetralisir daya rusak vaksin itu
Ahli Biologi-Biokimia anak bangsa menemukan
"GARAM LAUT" tapi bukan Garam Dapur
Biasa disebut Garam Krosok (karungan)
- 1 Sendok makan Garam
- 1/2 Gelas Air 
Diseduh. Tunggu sampai mendap, baru diminum
2 X Sehari (pagi + malam) Se Minggu

Ditambah "Bekam" lebih bagus lagi
INSHAAALLOH... VAKSIN yang bersarang itu lenyap

https://radaraktual.com/68044/kemenkes-izinkan-warga-dki-jakarta-usia-18-tahun-ke-atas-divaksin-corona.html

VIRALLL KAN...!!!*
sehingga program yahudi & komunis yang telah gelontorkan uang triliunan dolar. Ambisi menyingkirkan umat dan pribumi
rontok, buyar dan rugi besar ALLAHU AKBAR sebaik baik Penolong

cek fakta vaksin covid 19 senjata biologis 2Sumber: Tangkapan layar WhatsApp

CEK FAKTA

Setidaknya ada lima klaim yang terdapat dalam narasi tersebut. Klaim pertama, vaksin covid-19 merusak gen. Kedua, vaksin covid-19 mengentalkan darah. Ketiga, vaksin covid-19 melumpuhkan sel otak. Keempat, vaksin covid-19 dapat membunuh penerimanya dalam jangka waktu tertentu. Kelima, meminum air dicampur garam laut dapat menteralisir vaksin covid-19.

Selanjutnya, Tim Cek Fakta TIMES Indonesia melakukan penelusuran melalui mesin pencari, ditemukan fakta-fakta atas sejumlah klaim tersebut.

Klaim pertama, vaksin covid-19 merusak gen. 

Fakta:
Gugus Tugas Penanganan Covid-19 melalui situs resminya covid19.go.id menyatakan bahwa modifikasi genetik hanya bisa terjadi jika memasukkan DNA asing ke dalam inti sel manusia, sedangkan vaksin Covid-19 sama sekali tidak melakukan itu. 

cek fakta vaksin covid 19 senjata biologis 3Sumber: [SALAH] Vaksin Covid-19 berbasis mRNA Dapat Mengubah DNA Manusia | Covid19.go.id

Melansir dari dw.com, tidak ada risiko integrasi mRNA ke dalam genom manusia.
Dalam artikel berjudul “Coronavirus vaccines: Fake news and myths go viral, Institut Paul-Ehrlich, Institut Federal untuk Vaksin dan Biomedis menjelaskan bahwa alam kasus manusia, genom terletak di inti sel dalam bentuk DNA. Integrasi RNA ke dalam DNA tidak dimungkinkan antara lain karena struktur kimianya yang berbeda. Selain itu, belum ada bukti bahwa mRNA yang diintegrasikan oleh sel tubuh setelah vaksinasi akan berubah menjadi DNA.

Masih dari artikel yang sama, ditegaskan bahwa tidak ada vaksin yang bisa mengubah DNA manusia. Mark Lynas, dari Alliance for Science Cornell University memberikan penjelasan bahwa, modifikasi genetik hanya bisa terjadi jika memasukkan DNA asing ke dalam inti sel manusia, dan vaksin sama sekali tidak melakukan itu.

Dalam artikel lain berjudul “Experts: mRNA vaccine for COVID-19 does not alter DNA”, Dr. Dan Culver, ahli paru di Klinik Cleveland memaparkan bahwa vaksin tidak bisa mengubah susunan genetik manusia karena waktu bertahan sebuah vaksin di dalam sel manusia relatif singkat dalam rentang jam.

cek fakta vaksin covid 19 senjata biologis 4Sumber: Coronavirus vaccines: Fake news and myths go viral | DW | 18.11.2020

Kedua, vaksin covid-19 mengentalkan darah.

Fakta:
Para ahli menemukan vaksin Covid-19 produksi AstraZeneca terkait dengan pembekuan darah yang banyak terjadi di Eropa. Penelitian dari University College London Hospitals ini baru saja dipublikasikan di New England Journal of Medicine.

Hasil ini didapat setelah peneliti dari menganalisis 22 pasien yang mengalami pembekuan darah setelah menerima vaksin AstraZeneca. Gejala pembekuan darah ini umumnya didapat lima hari setelah menerima vaksin dosis pertama. Pasien mengalami gumpalan darah di otak, pembuluh vena dan juga arteri.

Peneliti mendapati respons antibodi pasien tidak seperti pada umumnya. Reaksi ini tampak seperti reaksi langka yang terjadi pada penggunaan obat pengencer darah heparin.
Menurut peneliti, berdasarkan teori yang ada, reaksi kekebalan menjadi dasar pembekuan darah tersebut. Peneliti menyebut reaksi sistem imun dengan trombosis sehingga menyebabkan pembekuan yang tidak terkontrol.

Namun, temuan ini belum dapat dijelaskan secara detail. Kasus ini juga terhitung jarang terjadi dalam populasi umum.

"Risiko trombositopenia (jumlah trombosit yang rendah) dan risiko tromboemboli vena (bekuan darah) setelah vaksinasi SARS-CoV-2 tampaknya tidak lebih tinggi daripada risiko latar belakang pada populasi umum, sebuah temuan yang konsisten dengan sifat langka dan sporadis dari sindrom ini," tulis peneliti, dikutip dari CNN.

cek fakta vaksin covid 19 senjata biologis 5Sumber: Doctors home in on cause of blood clots potentially linked with Covid-19 vaccines | CNN

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, "Hingga saat ini sesuai pernyataan European Medicine Agency (EMA) pada Kamis (11/3/2021) vaksin AstraZeneca dinyatakan aman.Berdasarkan fakta, lebih dari 10 juta vaksin AstraZeneca yang telah digunakan tidak menunjukkan bukti risiko emboli paru atau trombosis vena dalam golongan usia, jenis kelamin dan golongan lainnya di negara-negara yang menggunakannya." ujar Wiku, dikutip dari liputan6.com.

"Belum ada indikasi bahwa vaksin AstraZaneca menyebabkan pembekuan darah. Hal ini juga tidak terdaftar sebagai efek samping AstraZaneca," katanya menambahkan.

cek fakta vaksin covid 19 senjata biologis 6Sumber: Satgas Covid-19: Vaksin AstraZeneca Tidak Terindikasi Menyebabkan Pembekuan Darah | Liputan6

Kembali mengutip liputan6.com, dr. Muhamad Fajri Adda'i, dokter sekaligus edukator dan Tim Penanganan Covid-19, menyebut belum ada bukti bahwa vaksin covid-19 buatan AstraZeneca bisa menyebabkan pembekuan darah.

"Sejauh ini di Inggris sudah disuntikkan 11 juta dosis vaksin AstraZeneca, dan memang ada 22 kasus dari tiga juta vaksin yang disuntikkan. Tapi ini masih sama frekuensi kejadian pada populasi umum yang tidak disuntik vaksin, jadi semuanya masih diinvestigasi," ujar dr. Fajri, Minggu (14/3/2021).

"Efek samping vaksin AstraZeneca sama dengan vaksin lain seperti nyeri, demam, dan efek samping ringan lainnya, belum terbukti ada efek samping berat. Yang jelas manfaat vaksin vaksin covid-19 buatan AstraZeneca lebih besar risiko, ini dinyatakan WHO dan EMA," ujarnya.

cek fakta vaksin covid 19 senjata biologis 7Sumber: Cek Fakta: Belum Terbukti Vaksin Covid-19 AstraZeneca Menyebabkan Pembekuan Darah | Liputan6

Sementara itu, World Health Organization (WHO) merilis pernyataan yang mengatakan tidak perlu menghentikan vaksin karena kekhawatiran pembekuan darah. 

Margaret Harris, selaku juru bicara WHO mengatakan kepada wartawan bahwa negara-negara harus terus menggunakan vaksin AstraZeneca. Tidak ada indikasi untuk tidak menggunakannya. AstraZeneca mengatakan keamanan obat telah dipelajari secara ekstensif dalam uji klinis, sehingga mereka menjamin betul bahwa vaksin ini aman. Regulator juga memiliki standar kemanjuran dan keamanan yang jelas dan ketat untuk persetujuan obat baru. 

Mengutip dari halodoc.com, Berdasarkan semua data yang tersedia, para ahli percaya bahwa manfaat vaksinasi COVID-19 jauh lebih besar daripada potensi komplikasi, bahkan untuk pasien dengan riwayat pembekuan darah atau mereka yang mengonsumsi obat pengencer darah. 

cek fakta vaksin covid 19 senjata biologis 8Sumber: Ini Fakta Vaksin AstraZeneca yang Sebabkan Penggumpalan Darah | Halodoc

Mengutip kompas.com, ahli menegaskan, kejadian pembekuan darah akibat vaksin Covid-19 produksi AstraZeneca memang dipercaya bisa terjadi, tetapi itu adalah kejadian yang sangat langka atau jarang terjadi.

Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Farmasi UGM & Mantan Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Prof Zullies Ikawati, PhD, Apt dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/6/2021).

"Tetapi kejadiannya sangat jarang," kata Prof Zullies dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/6/2021).

Menurut Prof Zullies, mekanisme penyebab pembekuan darah akibat dosis vaksin AstraZeneca ini pastinya masih dipelajari.

Akan tetapi, seorang peneliti Jerman, Greinacher, menduga bahwa reaksi pembekuan darah yang jarang ini berkaitan dengan platform vaksinnya, yaitu viral vector vaksin Covid-19 AstraZeneca yang menggunakan adenovirus.

"Memang belum bisa dipastikan, tetapi penelitian sebelumnya menggunakan platform adenovirus ternyata menghasilkan reaksi yang sama, yaitu aktivasi platelet yang menyebabkan pembekuan darah," jelasnya.

cek fakta vaksin covid 19 senjata biologis 9Sumber: Gejala Pembekuan Darah yang Jarang Terjadi Akibat Vaksin AstraZeneca | Kompas

Ketiga, vaksin covid-19 melumpuhkan sel otak

Fakta:
vaksin Covid-19 menyebabkan kerusakan pada sel otak dan sel darah. Narasi tersebut menyatakan bahwa kandungan aluminium yang terkandung dalam vaksin Covid-19 merupakan kandungan yang dapat menyebabkan kerusakan pada sel otak dan sel darah.

Berdasarkan hasil penelusuran, unggahan serupa juga beredar pada tanggal 1 April 2021, satu hari sebelum unggahan pada akun Mohamad Nasrun diunggah. Melansir dari Liputan6 yang mewawancarai dr. Muhammad Fajri Adda’i, yang merupakan edukator dan relawan tim penanganan Covid-19 menjelaskan bahwa aluminium yang disebutkan dalam unggahan tersebut berfungsi untuk membuat kemampuan vaksin menjadi lebih efektif. 

Hal ini mengindikasikan bahwa aluminium yang terkandung dalam vaksin Covid-19 tidak merusak sel otak dan sel darah, justru membantu meningkatkan kemampuan kerja vaksin.

cek fakta vaksin covid 19 senjata biologis 10Sumber: Cek Fakta: Tidak Benar Vaksin Bisa Merusak Sel Darah dan Sel Otak | Liputan6

Hingga detik ini tidak ada penelitian yang menyatakan bahwa vaksin Covid-19 dapat menyebabkan kerusakan sel otak dan sel darah. Meskipun unggahan tersebut mencantumkan sumber referensi dari jurnal, isi dari jurnal tersebut tidaklah berhubungan dengan Covid-19. Isi jurnal tersebut menjelaskan hubungan antara aluminium dengan Alzheimer serta peningkatan CRP secara umum, dan tidak sama sekali menyinggung tentang Covid-19

cek-fakta-vaksin-covid-19-senjata-biologis-16.jpgSumber: Vaksin Bisa Rusak Otak Manusia, Hoaks | CNN Indonesia

Keempat, vaksin covid-19 membunuh dalam jangka waktu tertentu.

Fakta:
Narasi vaksin ini berasal dari informasi yang mencantumkan pemenang Hadiah Nobel Luc Montagnier telah mengonfirmasi bahwa tidak ada kesempatan untuk bertahan hidup bagi orang-orang yang telah menerima segala bentuk vaksin. 

Menurut penelusuran tim Cek Fakta TIMES Indonesia, melalui mesin pencari ditemukan bahwa informasi ini tidak benar. Tidak ada penyataan dari ahli virologi dan peraih hadiah Nobel bidang Kedokteran dan Fisiologi asal Prancis, Luc Montagnier, dalam berita yang dilampirkan pada pesan WhatsApp itu.

“Secondly, Montagnier did not say that everyone who received experimental COVID-19 vaccines would “all die” within two years. This quote was falsely attributed to him in a fake news meme that has been widely distributed.”

“Kedua, Mogtagnier tidak mengatakan bahwa setiap orang yang menerima vaksin eksperimental Covid-19 akan “mati semuanya” dalam dua tahun. Kutipan itu secara keliru dikaitkan dengannya dalam meme berita palsu yang telah beredar secara luas,” ungkap Celeste McGovern, penulis berita yang terbit pada 19 Mei 2021 itu.

cek fakta vaksin covid 19 senjata biologis 11Sumber: Nobel Prize winner: Mass COVID vaccination an ‘unacceptable mistake’ | Life Site

Dalam pesan tersebut Montagnier juga menyatakan vaksinasi massal melawan Covid-19 menyebabkan terciptanya varian virus berbahaya yang mendorong kepada kematian. Namun, pernyataan tersebut telah dibantah oleh seorang profesor biokimia yang memimpin upaya pengurutan varian SARS CoV-2 di West Virginia, AS bernama Peter Stoilov, PhD. Mengutip dari healthline, ia menyatakan bahwa mutasi yang menentukan menentukan varian SARS-CoV-2 saat ini muncul sebelum vaksin dibuat atau tersedia secara luas.

“Kami tidak melihat apa-apa tentang itu. Faktanya, kami melihat yang sebaliknya. Di tempat-tempat dengan tingkat vaksinasi tinggi, jumlah kasus dan kematian menurun; keragaman virus terbatas pada beberapa (satu sampai tiga) varian; dan, sejauh ini, tidak ada varian baru yang muncul di antara populasi yang divaksinasi,” ujar Stoilov dalam artikel berjudul “No, COVID-19 Vaccines Do Not Cause New Coronavirus Variants” (2/6/2021).

cek fakta vaksin covid 19 senjata biologis 12Sumber: No, COVID-19 Vaccines Do Not Cause New Coronavirus Variants | Healthline

World Health Organization (WHO) menjelaskan, vaksinasi tidak dapat menyebabkan virus Corona asli bermutasi menjadi varian baru. Hal yang menyebabkan virus Corona bermutasi adalah karena virus menyebar secara luas dalam populasi yang besar, serta menginfeksi banyak orang.

“Semakin banyak peluang yang dimiliki virus untuk menyebar, semakin banyak ia bereplikasi – dan semakin berpeluang untuk mengalami perubahan,” ungkap WHO. Lebih lanjut, dilansir dari Reuters, Dr. Robert Bollinger, seorang spesialis penyakit menular di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins menjelaskan kepada Reuters melalui email bahwa, dibandingkan orang yang tidak divaksin, orang yang sudah divaksin akan cenderung kebal terhadap infeksi virus Corona varian baru dan tidak berpotensi menyebarkan varian pula. 

cek fakta vaksin covid 19 senjata biologis 13Sumber: The effects of virus variants on COVID-19 vaccines | WHO

Informasi tersebut juga tercantum dalam Cek Fakta TIMES berjudul [CEK FAKTA] Penerima Vaksin Covid-19 Akan Mati dalam 2 Tahun.

Kelima, meminum air dicampur garam laut dapat menetralisir vaksin covid-19.

Fakta:
Mengutip liputan6.com, kandungan garam air garam yang digunakan untuk pengawetan makanan umumnya lebih dari 15 persen, air garam konsentrasi tinggi memiliki efek penghambatan pada pertumbuhan bakteri di lingkungan, tetapi tidak memiliki efek membunuh pada virus seperti Virus Corona.

Dokter relawan Covid19, dr Muhammad Fajri Addai menyatakan, informasi berkumur dengan air garam dapat membunuh Covid-19 tersebut adalah hoaks.

"Hoaks. Air garam tidak menyembuhkan Covid," kata dr Fajri kepada liputan6, Kamis (8/7/2021).

cek fakta vaksin covid 19 senjata biologis 14Sumber: Cek Fakta: Resep Dokter di China Berkumur Air Garam untuk Membunuh Covid-19 di Tenggorokan Tidak Benar | Liputan6

Masih terkait dengan penggunaan air garam, dr. Decsa Medika, Sp.PD. Dalam penjelasannya ia menyebut belum ada bukti ilmiah dari klaim berkumut dengan air garam dan madu dapat menangkal Covid-19

"Jika tujuannya untuk menghilangkan virus corona covid-19 kurang tepat. Jika memang mau dijadikan standar terapi, maka harus uji klinis terlebih dulu," kata Decsa, saat berbincang dengan Liputan6.com.

cek fakta vaksin covid 19 senjata biologis 15Sumber: Cek Fakta: Tidak Benar Berkumur Pakai Air Garam dan Madu Bisa Tangkal Virus Corona Covid-19 | Liputan6

Sebelumnya, klaim penggunaan garam atau NaCl untuk menghilangkan virus dan bakteri pernah diperiksa oleh Tim Cek Fakta TIMES Indonesia dalam artikel berjudul [CEK FAKTA] Cara Menghilangkan Virus dan Bakteri di Lubang Hidung: Cuci Pakai NaCl 0,9%.

KESIMPULAN

Menurut hasil penelusuran Tim Cek Fakta TIMES Indonesia, informasi Covid-19 merupakan senjata biologi dan cara menangkalnya dengan garam laut merupakan informasi yang salah. 

Menurut misinformasi dan disinformasi yang dikategorikan First Draft, informasi tentang penerima vaksin akan meninggal dunia dalam dua tahun dalam kategori Misleading content (konten menyesatkan). Konten ini dibentuk dengan nuansa pelintiran untuk menjelekkan seseorang maupun kelompok. Konten jenis ini dibuat secara sengaja dan diharap mampu menggiring opini sesuai dengan kehendak pembuat informasi.

----

Cek Fakta TIMES Indonesia

TIMES Indonesia adalah media online yang sudah terverifikasi faktual di Dewan Pers. Dalam kerja melakukan cek fakta, TIMES Indonesia juga bekerja sama dengan 23 media nasional dan lokal, untuk memverifikasi berbagai informasi hoaks yang tersebar di masyarakat.

Jika anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silakan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA TIMES Indonesia di email: redaksi.timesmedia@gmail.com atau redaksi@timesindonesia.co.id (*)



Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

Fakta atau hoaks?
Jika Anda mengetahui ada berita viral yang hoaks atau fakta, silakan klik tombol laporkan hoaks di bawah ini.

EKORAN

TERBARU

  • BHS Minta Pemkab Sidoarjo Evaluasi PPKM Darurat dan Prioritaskan Vaksin untuk Pelaku UMKM
    BHS Minta Pemkab Sidoarjo Evaluasi PPKM Darurat dan Prioritaskan Vaksin untuk Pelaku UMKM
    25/07/2021 - 17:00
  • Persembahkan Perak di Olimpiade Tokyo 2020, Eko Yuli Ulang Rekor Olimpiade Rio
    Persembahkan Perak di Olimpiade Tokyo 2020, Eko Yuli Ulang Rekor Olimpiade Rio
    25/07/2021 - 16:54
  • Sejarah Hari Ini: 25 Juli, Mengenang KH Hasyim Asyari Sosok di Balik Resolusi Jihad
    Sejarah Hari Ini: 25 Juli, Mengenang KH Hasyim Asyari Sosok di Balik Resolusi Jihad
    25/07/2021 - 16:47
  • Praveen Jordan/Melati Daeva Siap Hadapi Tuan Rumah di Laga Penyisihan Terakhir Grup C Olimpiade Tokyo 2020
    Praveen Jordan/Melati Daeva Siap Hadapi Tuan Rumah di Laga Penyisihan Terakhir Grup C Olimpiade Tokyo 2020
    25/07/2021 - 16:40
  • Kasus Konfirmasi Covid-19 di Musi Rawas Dua Kali Lipat dari Lubuklinggau
    Kasus Konfirmasi Covid-19 di Musi Rawas Dua Kali Lipat dari Lubuklinggau
    25/07/2021 - 16:25

TIMES TV

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

01/04/2021 - 15:58

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi
Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo

Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo
Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan

Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan
The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Kiai Dan Upaya Memperbaiki Keletihan Sosial
    Kiai Dan Upaya Memperbaiki Keletihan Sosial
    25/07/2021 - 08:12
  • Jadi Pribadi Kecanduan Menulis
    Jadi Pribadi Kecanduan Menulis
    25/07/2021 - 00:21
  • Demokrasi Ilusif Menghantui Indonesia
    Demokrasi Ilusif Menghantui Indonesia
    24/07/2021 - 17:07
  • Memberantas Kecerdasan
    Memberantas Kecerdasan
    24/07/2021 - 16:31
  • Energi Positif Lawan Corona
    Energi Positif Lawan Corona
    24/07/2021 - 15:43
  • Mengenal Sejarah dan Polemik Rokok
    Mengenal Sejarah dan Polemik Rokok
    24/07/2021 - 14:26
  • Rajin Melawan Pemanasan Global
    Rajin Melawan Pemanasan Global
    24/07/2021 - 13:40
  • Perlukah Pemerintah Menggandeng Primary Healthcare Swasta Dalam Penanganan Covid-19?
    Perlukah Pemerintah Menggandeng Primary Healthcare Swasta Dalam Penanganan Covid-19?
    24/07/2021 - 13:20

KULINER

  • Nikmatnya Jajan Sambil Donasi di DoubleTree by Hilton Surabaya
    Nikmatnya Jajan Sambil Donasi di DoubleTree by Hilton Surabaya
    24/07/2021 - 12:00
  • 6 Tips Olah Daging Kurban Praktis dan Nikmat Ala Chef Juna
    6 Tips Olah Daging Kurban Praktis dan Nikmat Ala Chef Juna
    20/07/2021 - 11:55
  • 4 Tips Olah Daging Kambing Agar Tidak Bau dan Empuk
    4 Tips Olah Daging Kambing Agar Tidak Bau dan Empuk
    20/07/2021 - 03:27
  • Pakar Kuliner: Indonesia Memiliki 104 Jenis Nasi Goreng
    Pakar Kuliner: Indonesia Memiliki 104 Jenis Nasi Goreng
    17/07/2021 - 09:22
  • Ini Resep Olahan Sehat Kambing Ala Quest Hotel Darmo Surabaya
    Ini Resep Olahan Sehat Kambing Ala Quest Hotel Darmo Surabaya
    16/07/2021 - 12:43