Advertisement
Indonesia Positif

Lestarikan Tradisi, Siswa TK Dilatih Membatik Teknik Ponding

Sebagai warisan budaya tak benda milik Indonesia yang sudah diakui dunia, batik mempunyai kekhususan dalam hal pembuatan dan coraknya juga beragam, seperti canting tulis, celup ikat, cap, colet, hingga printing.

TIMES Indonesia,
Lestarikan Tradisi, Siswa TK Dilatih Membatik Teknik Ponding
Siswa TK Masyitoh sedang berinovasi dengan dedaunan untuk membatik. (FOTO: Heni Purwono for TIMES Indonesia)
A-AA+

Sebarkan Narasi Positif untuk Indonesia

Aplikasi Jurnalisme Positif (AJP) hadir sebagai ruang kolaboratif untuk menebarkan berita baik, inspiratif, dan membangun. Kami mengajak jurnalis, pembuat konten, dan masyarakat luas untuk bersama-sama menciptakan ekosistem informasi yang sehat, optimis, dan bermanfaat bagi kemajuan bangsa.

CILACAP Sebagai warisan budaya tak benda milik Indonesia yang sudah diakui dunia, batik mempunyai kekhususan dalam hal pembuatan dan coraknya juga beragam, seperti canting tulis, celup ikat, cap, colet, hingga printing.

Karena itu, pengenalan teknik membatik perlu diajarkan kepada generasi masa depan Indonesia sejak dini agar tradisi ini tidak hilang ditelan zaman.

Advertisement

Calon Guru Penggerak dari TK Masyitoh Adiraja, Kecamatan Adipala, Cilacap, Jateng, Bunda Murni punya cara tersendiri mengenalkan tradisi membatik ini.

Yaitu siswa diajak membuat seni batik ecoprint dengan teknik ponding.

Murni menjelaskan, teknik ini tidak sekadar mengenalkan siswa pada aktivitas membatik yang menyenangkan, namun juga melatih motorik kasar siswa.

membatik-2.jpg

"Bahan yang dipakai adalah dedaunan yang ada di sekitar rumah, sehingga para ibu di rumah bisa mempraktikkannya bersama anak di waktu longgar," ujar Murni, Kamis (8/7/2021).

Advertisement

Dedaunan aneka bentuk, jenis, dan warna, tambahnya, diletakkan di atas kain mori putih, lalu anak memukul-mukul daun tersebut dengan batu seukuran genggaman anak.

"Aktivitas ini melatih motorik anak dan juga kesabaran, serta ketelatenan. Mereka akan suka, apalagi setelah sisa daun diangkat ternyata menjadi motif yang sangat indah," ungkapnya.

Pendamping Guru Penggerak Kartono menerangkan, apa yang dilakukan Murni menurutnya memenuhi unsur pemenuhan kebutuhan anak dengan memakai aset yang ada di sekitar rumah.

"Anak butuh bermain, beraktivitas fisik. Apalagi di era pandemi seperti ini. Bahan-bahannya juga mudah didapat. Saya pikir hal seperti ini patut ditiru oleh guru TK yang lain," kata Kartono.

Sementara, Kepala TK Masyitoh Adiraja Muji Masiah berharap, nantinya muncul inovasi lain dari Calon Guru Penggerak di sekolahnya itu.

"Saya sangat mendorong Bunda Murni untuk terus berinovasi. Dengan program Guru Penggerak yang sedang dijalaninya, terbukti bahwa pembelajaran ketika jeli ternyata bisa juga dipakai untuk menanamkan dan mengajarkan pelestarian tradisi, seperti batik," tandas Muji. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

E
PenulisEstanto Prima Yuniarto Penulis TIMES Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia