Kopi TIMES

Empat Pilar untuk Harmonisasi dan Keluhuran Budaya Bangsa

Rabu, 16 Juni 2021 - 10:05 | 20.22k
Empat Pilar untuk Harmonisasi dan Keluhuran Budaya Bangsa
Bambang Soesatyo, Ketua MPR RI/Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – KETIKA semakin banyak elemen masyarakat menyuarakan ‘NKRI Harga Mati’, aspirasi ini hanya memperjelas adanya persoalan pada aspek harmoni dalam dinamika kehidupan masyarakat. Benih disharmoni muncul karena adanya pandangan atau pengajaran yang bertentangan dengan keagungan, keluhuran dan kearifan budaya bangsa sebagaimana sudah terpatrikan dalam Empat Pilar.

Keagungan, keluhuran dan kearifan budaya bangsa Indonesia sejak awal sudah dibingkai oleh para bapa bangsa dalam Empat Pilar, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Empat Pilar adalah rahim budaya bangsa. Rahim yang, kodrati, mempertautkan persaudaraan putra-putri ibu pertiwi dari Sabang  hingga Merauke dan dari Miangas hingga Pulau Rote. Putra-putri sebangsa dan satu tanah air yang adab dan laku hidupnya berlandaskan Ketuhanan yang Maha Esa, peduli sesama, santun, toleran di tengah keberagaman, bersemangat gotong royong dan menjadikan musyawarah sebagai keutamaan. 

Catatan sejarah memberi bukti kepada generasi sekarang dan generasi penerus bahwa komunitas internasional lebih mengenal masyarakat Indonesia sebagai komunitas yang adat ketimurannya sangat kental sehingga sangat ramah, santun dan terbuka. Bukan komunitas yang senang berperilaku menista atau menghina komunitas lain. Sekarang pun, sebagian besar masyarakat Indonesia sejatinya masih memegang teguh nilai-nilai lihur itu. 

Rahim Empat Pilar itu pula menjadi bagian tak terpisah dari proses terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang mancakup 16.056 pulau dan 801 bahasa daerah dan akar budaya lokal, dengan Bahasa Indonesia dan budaya nusantara sebagai budaya dan bahasa pemersatu. Fakta ini layak dipahami sebagai Karya Agung Tuhan Yang Maha Kuasa. Jadi, patut digarisbawahi oleh generasi terkini dan generasi masa depan bahwa NKRI terbentuk karena kesadaran dan kehendak bersama masyarakat dari belasan ribu pulau besar maupun pulau kecil, dengan akar budaya dan bahasa lokal yang sangat beragam. Tidak ada manusia di muka bumi ini yang bisa mempersatukan keberagam berskala besar itu, kalau bukan karena kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Di masa lalu, NKRI memang pernah dicobai atau dirongrong. Namun, upaya para petualang memecah NKRI selalu gagal karena masyarakat pun menolak, dan tetap bersetia menjadi bagian tak terpisah dari Republik Indonesia. Kini, dengan menyuarakan aspirasi ‘NKRI  Harga Mati’ itu, sebagian besar elemen masyarakat kembali bersikap tegas untuk menyatakan Empat Pilar dan NKRI itu sudah final. Dan, menjadi kewajiban generasi sekarang dan generasi penerus untuk menjaga dan merawat eksistensi NKRI, termasuk mempertahankan dan merawat keagungan, keluhuran dan kearifan budaya bangsa. 

Aspirasi ‘NKRI Harga Mati’ itu memang harus disuarakan mayoritas masyarakat untuk menanggapi upaya kelompok-kelompok tertentu merusak nilai-nilai luhur dari empat pilar itu. Upaya merusak itu masih terdengar dan terlihat. Isu khilafah belum dapat dikatakan sepenuhnya sudah hilang. Setelah isu khilafah, berlanjut dengan ulah sekelompok orang yang dengan seenaknya menuduh orang lain sebagai komunitas kafir hanya karena beda keyakinan dan beda budaya. Tuduhan kafir bahkan tak jarang melebar hingga ke produk dan jasa tertentu. 

Pandangan dan pengajaran yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur Empat Pilar itu kemudian dieskalasi dengan ajakan memusuhi negara dan pemerintah. Bahkan, kewajiban warga negara menghormati Bendera Merah Putih pun sempat dipermasalahkan. Masyarakat tentu memiliki sejumlah catatan lainnya tentang pandangan atau pengajaran yang menentang nilai-nilai luhur Empat Pilar.

Baru-baru ini, masyarakat pemerhati sempat terusik karena kewajiban warga negara menyanyikan Indonesia Raya juga dipersoalkan. Belum reda masalah ini, muncul lagi pandangan sesat lainnya yang juga sempat diviralkan, yakni pandangan yang menyalahkan nilai dan makna sungkem kepada orang tua. Pokoknya, dalam pandangan orang yang mengaku paling suci dan paling benar sendiri itu, penghormatan warga negara kepada simbol negara dan sungkem kepada orang tua itu tidak benar. 

Tentu saja pandangan dan pengajaran seperti itu menyulut pro-kontra. Dan, pro-kontra itu menyebabkan disharmoni di tengah masyarakat. Maka, jadilah ruang publik bising dan banjir ujaran kebencian.  Persepsi tentang masyarakat Indonesia yang ramah, santun dan toleran pun tercoreng, karena ada kelompok yang memanfaatkan media sosial untuk menyemburkan ujaran kebencian, diskriminasi, menyebarluaskan hoaxs serta penipuan. 

Sebuah survei pernah melaporkan bahwa warga net Indonesia termasuk kelompok paling tidak sopan ketika memanfaatkan media sosial. Lebih dari itu, muncul pula anggapan bahwa sebagian masyarakat Indonesia telah berubah menjadi komunitas yang gampang marah dan tak jarang berperilaku beringas. Semua kecenderungan ini bukan lagi rahasia, melainkan sudah menjadi pengetahuan bersama.

Memang, dalam jumlah yang terus membesar, sebagian masyarakat Indonesia telah tercabut dari akar budayanya yang luhur dan penuh kearifan itu. Hal ini terjadi karena mereka terus dicekoki pandangan dan pengajaran yang bertentangan nilai-nilai luhur Empat Pilar. Mereka telah ‘dipaksa’ melupakan warisan agung dari para leluhur mereka sendiri. Padahal, warisan agung itu sendiri adalah karunia Sang Pencipta yang menjadi pondasi kokoh bagi terwujudnya kehidupan bersama yang harmonis di tengah keberagaman.

Maka, selain sebagai masalah kekinian, kecenderungan itu tentu saja harus disikapi sebagai tantangan bersama. Jangan lari dari masalah itu, dan jangan juga masalahnya dianggap biasa-biasa saja. Sesulit apa pun akar masalahnya, tetap harus dihadapi dan disikapi dengan bijaksana. Kecenderungan menista dan menghina orang lain sejatinya bukanlah kepribadian Indonesia, dan karenanya tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Bukankah semua orang pada dasarnya mendambakan kehidupan bersama yang harmonis.

Dengan begitu,  tantangan paling utama bagi semua elemen masyarakat sekarang ini adalah mengedepankan kehendak baik, dengan mengupayakan dan mewujudkan harmonisasi dalam kehidupan bersama. Semua institusi negara yang berwenang dan relevan, termasuk institusi keagamaan, diharapkan lebih memberi perhatian pada masalah ini.

Dan, oleh karena NKRI sudah final dan ‘Harga mati’, harmonisasi kehidupan bersama harus menjadikan Empat Pilar sebagai pijakan filosofisnya.  MPR RI, misalnya, terus aktif menyosialisasikan hakekat dan makna Empat Pilar. Institusi lainnya pun diharapkan bergerak menyosialisasikan makna Empat Pilar. Institusi hukum juga diharapkan pro aktif dan persuasif menyikapi semua pihak yang bertindak atau berperilaku menentang nilai-nilai luhur Empat Pilar. Rongrongan terhadap nilai-nilai luhur Empat Pilar tidak boleh lagi dibiarkan.

Perubahan zaman memang tak terhindarkan, tetapi budaya Indonesia yang agung dan luhur itu harus terjaga eksistensinya. Dia tidak boleh dirusak oleh siapa pun dan atas nama apa pun.

***

*) Oleh: Bambang Soesatyo, Ketua MPR RI/Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.



Publisher : Rochmat Shobirin

EKORAN

TERBARU

  • The Students of Untag Banyuwangi Help the Locals Created Their Own Snacks
    The Students of Untag Banyuwangi Help the Locals Created Their Own Snacks
    29/07/2021 - 06:07
  • Airlangga Park, an Iconic Wanna be Destination at Lamongan
    Airlangga Park, an Iconic Wanna be Destination at Lamongan
    29/07/2021 - 05:30
  • Meski Tinggi Lemak, Makanan Ini Baik untuk Kesehatan
    Meski Tinggi Lemak, Makanan Ini Baik untuk Kesehatan
    29/07/2021 - 04:40
  • Gempuran Pandemi dan Ancaman Generasi Blank
    Gempuran Pandemi dan Ancaman Generasi Blank
    29/07/2021 - 03:07
  • Royal Singosari Hospitality of Gili Trawangan Joining the Business
    Royal Singosari Hospitality of Gili Trawangan Joining the Business
    29/07/2021 - 02:17

TIMES TV

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

01/04/2021 - 15:58

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi
Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo

Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo
Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan

Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan
The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Gempuran Pandemi dan Ancaman Generasi Blank
    Gempuran Pandemi dan Ancaman Generasi Blank
    29/07/2021 - 03:07
  • Semua Bisa Jadi Wartawan
    Semua Bisa Jadi Wartawan
    29/07/2021 - 01:22
  • Pertukaran Sosial Antara Calon Kepala Desa dan Pemilih
    Pertukaran Sosial Antara Calon Kepala Desa dan Pemilih
    28/07/2021 - 20:50
  • Tradisi Pendidikan Agama Keluarga Kiai
    Tradisi Pendidikan Agama Keluarga Kiai
    28/07/2021 - 20:43
  • Pulih dari Covid-19 dengan Meningkatkan Imunitas Melalui Aspek Psikologis
    Pulih dari Covid-19 dengan Meningkatkan Imunitas Melalui Aspek Psikologis
    28/07/2021 - 20:35
  • Membingkai Pendidikan Melalui Keteladanan
    Membingkai Pendidikan Melalui Keteladanan
    28/07/2021 - 19:00
  • Catatan Harian KKN Mahasiswa IAI Ibrahimy Genteng Banyuwangi
    Catatan Harian KKN Mahasiswa IAI Ibrahimy Genteng Banyuwangi
    28/07/2021 - 18:23
  • Mahasiswa, BEM UI, dan Jokowi
    Mahasiswa, BEM UI, dan Jokowi
    28/07/2021 - 17:39

KULINER

  • Dorong Ekonomi Saat Pandemi, Mahasiswa Untag Banyuwangi Buat Produk Jajanan
    Dorong Ekonomi Saat Pandemi, Mahasiswa Untag Banyuwangi Buat Produk Jajanan
    27/07/2021 - 08:56
  • Nikmatnya Jajan Sambil Donasi di DoubleTree by Hilton Surabaya
    Nikmatnya Jajan Sambil Donasi di DoubleTree by Hilton Surabaya
    24/07/2021 - 12:00
  • 6 Tips Olah Daging Kurban Praktis dan Nikmat Ala Chef Juna
    6 Tips Olah Daging Kurban Praktis dan Nikmat Ala Chef Juna
    20/07/2021 - 11:55
  • 4 Tips Olah Daging Kambing Agar Tidak Bau dan Empuk
    4 Tips Olah Daging Kambing Agar Tidak Bau dan Empuk
    20/07/2021 - 03:27
  • Pakar Kuliner: Indonesia Memiliki 104 Jenis Nasi Goreng
    Pakar Kuliner: Indonesia Memiliki 104 Jenis Nasi Goreng
    17/07/2021 - 09:22