Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Ichhatigkeit

Senin, 14 Juni 2021 - 13:29 | 24.47k
Ichhatigkeit
Abdul Wahid, Dosen Universitas Islam Malang (UNISMA) dan penulis buku.
FOKUS

Universitas Islam Malang

Editor: Dhina Chahyanti

TIMESINDONESIA, MALANG – Kaum pembelajar tentu tidak sulit memahami perkembangan istilah di sekitar kita, seperti dorongan mengabdi pada diri sendiri, yang dikenal dengan istilah ichhatigkeit, atau menurut istilah Alfred Adler disebutnya sebagai dorongan untuk superior, dorongan untuk mendapatkan harga diri, dorongan untuk berkuasayang lebih condong pada penahbisan diri sendiri atau kelompok.

Jika kita dalam suatu kelompok yang harus berhadapan dengan kelompok lainnya, maka masing-masing akan merasa dan menganggap bahwa hanya kelompoknya sajalah yang paling super. Gejala seperti ini adalah gejala manusiawi, dan oleh karenanya ia akan mudah dijumpai pada setiap ikatan sosial, baik dalam bentuk keluarga, suku, daerah, bangsa, ikatan agama, ras maupun ikatan regional. Ikatan-ikatan semacam ini  yang oleh ilmuwan E. Shils disebutnya sebagai ikatan primordial. Ini memang sering diasumsikan tidak rasional, namun menjadi tali pengikat yang cukup kuat dalam kehidupan masyarakat, dan merupakan satu kebangsaan tersendiri.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Dalam kajian nasionalitas dideskripsikan, kebangsaan terhadap golongan atau kelompoknya ini bagi suatu bangsa bila terlalu berlebih-lebihan akan terlihat dalam bentuk rasa nasionalismenya yang tidak sehat, yang lazim dikenal dengan istilah chauvinistik.

Sebaliknya kalau suatu bangsa telah kehilangan rasa bangga akan dirinya sebagai suatu bangsa, telah kehilangan national pride dan national dignity, maka keadaan seperti ini akan mengakibatkan timbulnya penyimpangan rasa kebangsaan yang lazim disebut dengan kosmopolitanistik, yaitu suatu sikap yang melihat tidak ada artinya merasa bangga sebagai suatu bangsa.

Mereka melihat nilai kemanusiaan jauh lebih tinggi daripada nilai kebangsaan. Dari gambaran di atas dapat dikatakan bahwa penyimpangan psikologik itu dapat terjadi baik pada diri manusia selaku individu ataupun diri manusia selaku jiwa kolektif semacam bangsa.

Kalau individu terlalu didominasi oleh ichhaftigkeit-nya akan melahirkan manusia yang egoistik, arogan, sombong, dsb, maka dalam kehidupan kolektifnya akan melahirkan bangsa yang chauvinistik sebagaimana yang pernah menghinggapi bangsa Jerman pada zaman Nazi di bawah Adolf Hitler dengan semboyannya yang sangat angkuh, Deutchland uber Alles, Jerman adalah unggul segala-galanya.

Sedang individu yang terlalu didominasi oleh dorongan Sachlichkeit-nya akan melahirkan manusia yang altruistik. Dalam kehidupan bernegara bangsa yang mengidap gejala altruis seperti ini, suatu bangsa yang tidak lagi memiliki national pride and national dignity, yang dengan bangga akan mendengungkan semboyan my nationality is humanism. Penyakit semacam inilah yang disebut kosmopolitan. Faham seperti ini pernah didengungkan oleh Jamaluddin al-Afghany dan Pan Islamisme (Khalid, 2017)

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Lebih esensial kita paham tentang politik kebangsaan kedeoan, bahwa negara adalah organisasi besar dan mulia. Kebesarannya terletak pada saratnya isi yang terkandung di dalamnya, baik secara ideologis, budaya, politik, ekonomi, geografis, agama, maupun aspek-aspek strategis lainnya. Sedangkan kemuliannya terletak pada tugas yang melekat dalam diri negara, yang antara lain bertanggungwab dalam menyejahterakan rakyat, menjauhkan rakyat dari praktik-praktik ketidak-adaban, dan mengantarkan setiap warga bangsa dalam kesatuan, mampu menikmati kesatuan dalam keragaman, dan keragaman dalam kesatuan.

Indonesia merupakan negara paling plural di dunia. Plural berarti majemuk. Dari Sabang sampai Merauke, terentang di atas ribuan pulau sejauh lebih dari 5000 kilometer, dengan ratusan bahasa, suku dengan adat dan budaya sendiri-sendiri, pelbagai daerah yang cukup berbeda, serta hampir semua agama yang terdapat di dunia juga ada, serta agama-agama itu sendiri jauh dari monolit. Indonesia itu secara hakiki plural. Itulah yang sudah terungkap dalam semboyan "Bhinneka Tunggal Ika". (Suseno, 2005)

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Atas dasar itu, menjadi makin jelas bahwa Indonesia hanya bisa bersatu, bahkan bangsa Indonesia hanya ada, kalau kemajemukan itu diakui. Segala usaha untuk menyama-ratakan semua dengan satu pola budaya atau beragama adalah sama dengan usaha dominasi sebagian warga di atas yang lain-lain dan pasti akan mengakibatkan kehancuran Indonesia. Indonesia terlalu besar untuk bisa dipertahankan kesatuannya hanya dengan cara-cara paksa, pasalnya secara geberal ideologi yang mengajarkan “kekitaan” kita sangat kuat.

Logislah para pendiri Republik ini menyepakati Pancasila, karena itu tokoh-tokoh Islam pun 1945 memiliki keluasan wawasan dan kebesaran hati untuk menerima bahwa negara yang baru diproklamasikan kemerdekaannya ini harus bisa dimiliki oleh semua warganya, tanpa membedakan antara mayoritas dan minoritas. Itulah hakekat Pancasila. Dan karena Pancasila dipertahankan sampai hari ini, Indonesia masih bersatu. ***

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Abdul Wahid, Dosen Universitas Islam Malang (UNISMA) dan penulis buku.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id



Publisher : Rochmat Shobirin

EKORAN

TERBARU

  • The Students of Untag Banyuwangi Help the Locals Created Their Own Snacks
    The Students of Untag Banyuwangi Help the Locals Created Their Own Snacks
    29/07/2021 - 06:07
  • Airlangga Park, an Iconic Wanna be Destination at Lamongan
    Airlangga Park, an Iconic Wanna be Destination at Lamongan
    29/07/2021 - 05:30
  • Meski Tinggi Lemak, Makanan Ini Baik untuk Kesehatan
    Meski Tinggi Lemak, Makanan Ini Baik untuk Kesehatan
    29/07/2021 - 04:40
  • Gempuran Pandemi dan Ancaman Generasi Blank
    Gempuran Pandemi dan Ancaman Generasi Blank
    29/07/2021 - 03:07
  • Royal Singosari Hospitality of Gili Trawangan Joining the Business
    Royal Singosari Hospitality of Gili Trawangan Joining the Business
    29/07/2021 - 02:17

TIMES TV

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

01/04/2021 - 15:58

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi
Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo

Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo
Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan

Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan
The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Gempuran Pandemi dan Ancaman Generasi Blank
    Gempuran Pandemi dan Ancaman Generasi Blank
    29/07/2021 - 03:07
  • Semua Bisa Jadi Wartawan
    Semua Bisa Jadi Wartawan
    29/07/2021 - 01:22
  • Pertukaran Sosial Antara Calon Kepala Desa dan Pemilih
    Pertukaran Sosial Antara Calon Kepala Desa dan Pemilih
    28/07/2021 - 20:50
  • Tradisi Pendidikan Agama Keluarga Kiai
    Tradisi Pendidikan Agama Keluarga Kiai
    28/07/2021 - 20:43
  • Pulih dari Covid-19 dengan Meningkatkan Imunitas Melalui Aspek Psikologis
    Pulih dari Covid-19 dengan Meningkatkan Imunitas Melalui Aspek Psikologis
    28/07/2021 - 20:35
  • Membingkai Pendidikan Melalui Keteladanan
    Membingkai Pendidikan Melalui Keteladanan
    28/07/2021 - 19:00
  • Catatan Harian KKN Mahasiswa IAI Ibrahimy Genteng Banyuwangi
    Catatan Harian KKN Mahasiswa IAI Ibrahimy Genteng Banyuwangi
    28/07/2021 - 18:23
  • Mahasiswa, BEM UI, dan Jokowi
    Mahasiswa, BEM UI, dan Jokowi
    28/07/2021 - 17:39

KULINER

  • Dorong Ekonomi Saat Pandemi, Mahasiswa Untag Banyuwangi Buat Produk Jajanan
    Dorong Ekonomi Saat Pandemi, Mahasiswa Untag Banyuwangi Buat Produk Jajanan
    27/07/2021 - 08:56
  • Nikmatnya Jajan Sambil Donasi di DoubleTree by Hilton Surabaya
    Nikmatnya Jajan Sambil Donasi di DoubleTree by Hilton Surabaya
    24/07/2021 - 12:00
  • 6 Tips Olah Daging Kurban Praktis dan Nikmat Ala Chef Juna
    6 Tips Olah Daging Kurban Praktis dan Nikmat Ala Chef Juna
    20/07/2021 - 11:55
  • 4 Tips Olah Daging Kambing Agar Tidak Bau dan Empuk
    4 Tips Olah Daging Kambing Agar Tidak Bau dan Empuk
    20/07/2021 - 03:27
  • Pakar Kuliner: Indonesia Memiliki 104 Jenis Nasi Goreng
    Pakar Kuliner: Indonesia Memiliki 104 Jenis Nasi Goreng
    17/07/2021 - 09:22