Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Gaya "Buto Cakil"

Kamis, 27 Mei 2021 - 13:49 | 49.06k
Gaya
Abdul Wahid, Dosen Ilmu Hukum Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Penulis buku hukum dan agama.
FOKUS

Universitas Islam Malang

Editor: Dhina Chahyanti

TIMESINDONESIA, MALANG – Ada gejala menarik belakangan ini  tentang turun gunungnya sejumlah kaum oportunis politik yang sudah lama tenggelam ditelan roda sejarah atau setelah sekian cukup lama menghilang dari percaturan jagad politik Indonesia. Mereka tiba-tiba kembali jadi publik figure yang menggegerkan arena dengan jargon-jargon politik pertarungan dan membuat panasnya suhu persaingan layaknya paradigma “buto cakil” untuk mengejar kepentingan eksklusifnya (kursi).

Kursi yang akan diincar bisa ada di jalur legislatif dan eksekutif maupun lainnya, khususnya dalam menyambut 2024 mendatang. Kedua jalur ini dianggap menjadi jalur paling strategis, karena antara eksekutif dan legislatif bisa saling mempengaruhi dan menentukan.  Kedua jalur ini dianggap sebagai area basah yang bisa dijadikan  jembatan untuk mengatrol, mengamankan, dan bahkan melebarkan posisi-posisi strategis di aspek lainnya.  Kursi masih ditempatkan sebagai target utama dan barangkali sangat mutlak wajib diperoleh.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kursi yang diobsesikan atau diambisikan bukannya  tidak sekedar dijadikan jalan memperoleh identitas social dan  politik, tetapi juga dibuat garansi untuk mengail dan menggali lading-ladang basah yang bisa membuatnya jadi “the upper class”  atau komunitas elit yang disegani dan kalau perlu disembah-sembah. 

Kursi bukannya ditempatkan sebagai jalur menegakkan amanat publik,  membumikan kemaslahatan umat, dan mengimplementasikan komitmen kerakyatan, melainkan dijadikan alat menciptakan disparitas social, mengalinasikan dari  persaudaraan kemasyarakatan (ukhuwah basyariyah)dan persaudaraan kerakyatan (ukhuwah istirakiyah).

Pengalaman selama ini mengisyaratkan, bahwa politisi yang sudah merengkuh kemapanan dari “harta rakyat Indonesia” lewat gaji berlimpah, ternyata tidak atau jauh dari menunjukkan pola hubungan yang berbasiskan kemanusiaan dan kerakyatan. Pola  hubungan yang dibangunnya lebih berbentuk sebagai “tuan-tuan” yang membutuhkan disembah-sembah, dan bukan sebagai abdi rakyat yang wajib merakyatkan totalitas pengadiannya.

Pengalaman itu juga dibuktikan dengan gugatan rakyat yang menunjukkan rendahnya tingkat kredibilitasnya kepada kaum politisi yang menjadi representatornya di legislative. Mereka merasa dikecewakan oleh politisi ini karena selama menduduki kursi empuknya di dewan, mereka jarang atau bahkan ada yang tidak kenal arena tugas kemanusiaan dan kerakyatannya.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Mereka berlaku seperti selebriti-selebriti dadakan atau orang kaya  berkelas instan  yang demikian tergiur dan terbius oleh pesona kebendaan, seperti gaji besar dan fasilitas lengkap yang diperolehnya,  sampai melupakan kalau apa yang diperolehnya ini berasal dari keringat rakyat dan jerit tangis orang-orang yang dilanda kelaparan, kekurangan gizi, dan segmen bangsa yang sedang marjinal serta jadi mustadh’afin,  yang menurut istilah Jalaluddin Rachmat “orang-orang yang dibuat teraniaya”.

Dengan perilaku itu, rakyat kemudian, antara lain berusaha menkritiknya secara radikal dengan mengancam hendak uzlah  atau  menjatuhkan opsi “menyepikan” (menjauhkan) diri dari hiruk pikuk: keramaian pergulatan politik. Sedang titik kulminasinya, rakyat berusaha menjatuhkan opsi Golput, alias tak menggunakan hak pilihnya dalam pesta demokrasi.

Di tengah kondisi itu, tiba-tiba rakyat kembali dirayu oleh sejumlah orang-orang lama yang sebenarnya sudah tenggelam atau lama tak muncul ke permukaan. Mereka kembali mendekati, merayu, dan  berusaha menjinakkan ideologi rakyat yang  sudah diarahkan pada Parpol tertentu atau figur-figur  yang selama ini jadi anutannya, setidak-tidaknya punya muatan moral yang patut dipilih.

Orang-orang lama yang sekarang jadi publik figur itu tentu saja telah membangun obsesi dan berusaha mewujudkan ambisi-ambisi politiknya guna memenuhi target berupa “kursi”. Dari kursi ini, mereka ingin merebut pasar, memenangkan wilayah pengaruh, dan menguasai zona-zona strategis yang bertebaran di tengah masyarakat yang bisa menguntungkan diri dan kelompoknya.

Orang-orang lama itu menganggap bahwa apa  yang dilakukan ini ibarat sedang melakukan safari spiritualisme politik, artinya mereka turun menjemput bola untuk mengajarkan kembali tentang doktrin bernegara, redefinisi, refungsionalisasi, dan reiinterpreasi amanat kebangsaan seperti  isyarat yang berbunyi “mencintai negara itu bagian dari iman”. 

Mereka itu mencoba menggunakan paradigma lama berupa pendekatan eksklusif kalau rakyat masihlah obyek atau “keranjang sampah” yang belum  dan tak akan mungkin cerdas, bisa dan mudah digiring-giring, dan dijadikan sebagai tumbal komoditi doktrin Partai Politik.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

 *)Penulis: Abdul Wahid, Dosen Ilmu Hukum Universitas Islam Malang (UNISMA) dan Penulis buku hukum dan agama.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id



Publisher : Rochmat Shobirin

EKORAN

TERBARU

  • Di Sumenep, 60 Persen Tenaga Pendidikan Sudah Terima Vaksinasi Covid-19
    Di Sumenep, 60 Persen Tenaga Pendidikan Sudah Terima Vaksinasi Covid-19
    16/06/2021 - 16:32
  • Komisi III DPR RI Dukung Kapolri Wujudkan Rencana Strategis 2020-2024
    Komisi III DPR RI Dukung Kapolri Wujudkan Rencana Strategis 2020-2024
    16/06/2021 - 16:28
  • Pemkab Pamekasan Siap Berikan Perlindungan untuk Pekerja Rentan
    Pemkab Pamekasan Siap Berikan Perlindungan untuk Pekerja Rentan
    16/06/2021 - 16:24
  • Kecewa Swab Antigen Suramadu, Warga Madura Bakal Geruduk Pemkot Surabaya
    Kecewa Swab Antigen Suramadu, Warga Madura Bakal Geruduk Pemkot Surabaya
    16/06/2021 - 16:20
  • Bantu Penanganan Covid-19 di Bangkalan, PT AMA Donasikan Suplemen PRO EM-1
    Bantu Penanganan Covid-19 di Bangkalan, PT AMA Donasikan Suplemen PRO EM-1
    16/06/2021 - 16:16

TIMES TV

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

01/04/2021 - 15:58

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi
Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo

Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo
Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan

Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan
The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Pemilu dan Sirkulasi Kepemimpinan
    Pemilu dan Sirkulasi Kepemimpinan
    16/06/2021 - 11:24
  • Empat Pilar untuk Harmonisasi dan Keluhuran Budaya Bangsa
    Empat Pilar untuk Harmonisasi dan Keluhuran Budaya Bangsa
    16/06/2021 - 10:05
  • Infrastruktur Pembelajaran Online Yang Kuat Adalah Kunci Masa Depan Pendidikan Tinggi
    Infrastruktur Pembelajaran Online Yang Kuat Adalah Kunci Masa Depan Pendidikan Tinggi
    16/06/2021 - 09:06
  • Catatan Anwar Sadad; Kiai Nawawi Bertemu Malaikat Maut
    Catatan Anwar Sadad; Kiai Nawawi Bertemu Malaikat Maut
    16/06/2021 - 08:30
  • Surat Kesatu: Untuk Pembelajar Pluralisme dan Kebangsaan
    Surat Kesatu: Untuk Pembelajar Pluralisme dan Kebangsaan
    15/06/2021 - 08:40
  • Ichhatigkeit
    Ichhatigkeit
    14/06/2021 - 13:29
  • Kacamata Akademisi: Tes Wawasan Kebangsaan Berujung Peretasan?
    Kacamata Akademisi: Tes Wawasan Kebangsaan Berujung Peretasan?
    14/06/2021 - 13:06
  • Distrosi di Balik Sebuah Inovasi Pendidikan
    Distrosi di Balik Sebuah Inovasi Pendidikan
    14/06/2021 - 11:33

KULINER

  • Kampung Adat Segunung, Desa Wisata Alam dengan Kekuatan Budaya Lokal
    Kampung Adat Segunung, Desa Wisata Alam dengan Kekuatan Budaya Lokal
    16/06/2021 - 07:45
  • Segarkan Siang Bersama Dessert Ala Timtong
    Segarkan Siang Bersama Dessert Ala Timtong
    15/06/2021 - 07:32
  • ASTON Kuta Hotel & Residence Sajikan “SUNSET BBQ is BACK”
    ASTON Kuta Hotel & Residence Sajikan “SUNSET BBQ is BACK”
    15/06/2021 - 03:12
  • Dawet Ayu Bu Seni, Satu-Satunya Kuliner Tradisional di Taman Ganjaran
    Dawet Ayu Bu Seni, Satu-Satunya Kuliner Tradisional di Taman Ganjaran
    13/06/2021 - 16:03
  • Sensasi Nikmatnya Bakmi Jawa di Kopi Luwak Mataram Yogyakarta
    Sensasi Nikmatnya Bakmi Jawa di Kopi Luwak Mataram Yogyakarta
    13/06/2021 - 06:16