Kopi TIMES

Bipang, Mudik, Dan Komunikasi Kepresidenan

Minggu, 09 Mei 2021 - 11:16 | 67.23k
Bipang, Mudik, Dan Komunikasi Kepresidenan
Rachmat Kriyantono, PhD (Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Univ Brawijaya)
Editor: Yatimul Ainun

TIMESINDONESIA, MALANG – Tulisan ini membahas pidato Presiden berisi yang menghimbau masyarakat agar tidak kuatir karena tidak bisa mudik lebaran. Masyarakat, kata Presiden, bisa membeli makanan-makanan khas Nusantara sebagai pengobat rindu kuliner kampung halaman. 

Tetapi, pidato ini mendapat respon negatif masyarakat (netijen), terkait disebutkannya nama makanan bipang. Netijen menyebut bipang ini singkatan dari babi panggang. Netijen pun mengkritik Presiden karena mengajak Muslim makan bipang (Muslim berpandangan haram hukumnya makan babi).

Berikut pidato Presiden yang menimbulkan polemik ini:

"Bapak, ibu dan saudara-saudara, sebentar lagi lebaran, namun karena pandemi pemerintah melarang mudik untuk keselamatan kita bersama..." Nah, untuk Bapak, ibu, serta saudara-saudara yang rindu kuliner khas daerah atau uang biasanya mudik membawa oleh-oleh tidak perlu ragu untuk memesannya secara online." Yang rindu makan gudeq Jogja, bandeng semarang, siomay Bandung, mpek-mpek Palembang, bipang ambawang dari Kalimantan, bisa tinggal dipesan..."

Ritual Budaya dan Ritual Agama
Saya menilai tidak ada ajakan makan babi dalam isi pidato Presiden ini. Persoalan muncul karena kebanyakan kita tidak memahami, atau lupa bahwa Idul Fitri mempunyai dua konteks: Budaya dan agama.

Presiden menggunakan istilah "lebaran" dalam pidatonya alih-alih idul fitri. Lebaran adalah momen atau ritual budaya yang terjadi bertahun-tahun dan berganti generasi. Masyarakat yang ikut lebaran, bukan hanya Muslim, tapi, juga nonmuslim, karena lebaran itu "milik bangsa". Masyarakat, bukan hanya Muslim, tapi, Kritiani, Hindu, Budha, dan berbagai suku bangsa, di dalam dan luar negeri, ikut mudik, ikut bertemu keluarga dan kerabat di kampung, ikut saling memaafkan, ikut makan ketupat, bahkan ikut ziarah kubur orang tua masing-masing. Sebagai ritual budaya, lebaran adalah pesta jati diri keguyuban, kegotongroyongan, dan saling mengasihi dari masyarakat kita.

Konteks kedua Hari Raya Idul Fitri adalah ritual agama. Sholat (Sembahyang) idul fitri hanya khusus dilakukan Muslim, karena terkait peribadatan.

Dua konteks ini memunculkan label masing-masing. Untuk konteks budaya, yang sering muncul label "Lebaran, mudik lebaran, lebaran ketupat, ketupat lebaran, hari raya ketupat, dan kupatan". Untuk konteks ritual agama, muncul istilah "Mudik idul fitri, mudik Hari Raya, atau Hari Raya Idul Fitri". 

 Istilah lain jarang atau hampir tidak pernah disebut, antara lain: "Lebaran Idul Fitri, Hari Raya Lebaran,  dan Ketupat Idul Fitri".

Inilah kearifan bangsa kita yang mampu meracik kegiatan berbudaya dan beragama dengan indah. Bahkan, silaturahim sebagai ritual agama dibudayakan melalui halal bihalal. Karena sebagai ritual budaya, halal bi halal pun tidak terbatas untuk Muslim, juga bisa diikuti lintas agama, suku bangsa, dan golongan. 

Jadi, saya sependapat dengan Menteri Perdagangan RI bahwa pidato Presiden ditujukan untuk seluruh masyarakat Indonesia. Namun, alasan saya berdasarkan pada dua konteks tersebut.

Pelajaran Bagi Komunikasi Kepresidenan
Saya tidak sepenuhnya menyalahkan netijen karena mispersepsi mereka. Karena mereka tidak paham dua konteks ritual budaya dan agama yang sudah melekat lama. Netijen menilai lebaran dan idul fitri adalah hal yang sama, yakni "milik Muslim".

Yang patut menjadi renungan.adalah kemampuan  kehumasan pemerintah yang masih kurang profesional dalam mengelola komunikasi kepresidenan. Pertama, mereka kurang memahami konteks sosial sebuah pesan komunikasi. Mereka gagal mengantisipasi kemungkinan dampak pesan. Mereka mestinya memahami bahwa ada nama makanan dalam pidato Presiden "berpotensi konflik" karena mengandung bahan yang diharamkan. Potensi konflik karena keharaman ini dikarenakan konteks sosial pidato saat menjelang ritual idul fitri dan bersamaan dengan polemik larangan mudik. Tentu, pihak yang kontra larangan akan memberi perhatian tinggi pada terpaan  pesan-pesan terkait mudik.
Namun, saya tidak sependapat dengan adanya kemungkinan orang dalam istana yang 'ingin menjerumuskan Presiden'. Hal ini murni ketidakpahaman si pembuat naskah saja.

Kedua, kehumasan yang belum one gate system of communication. Semua orang dalam lingkar istana bebas memberi tanggapan. Akibatnya, tidak ada one key message seragam sebagai strategi komunikasi kepresidenan. 

Pidato positif
Secara umum, pidato Presiden ini bermakna positif. Pertama, untuk mengingatkan keragaman.makanan Nusantara. Setiap suku bangsa.kita mempunyai makanan khas masing-masing. Kedua, mendorong online-isasi makanan tradisional yang bisa mendukung kemajuan ekonomi. Ketiga, memotivasi masyarakat agar tidak bersedih karena tidak bisa mudik lebaran di tengah pandemi ini. bisa mudik lebaran. 

(Selesai)

*) Oleh: Rachmat Kriyantono, PhD (Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi Univ Brawijaya)

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

 

___________

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.



Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

EKORAN

TERBARU

  • Bupati Banyuwangi Salurkan Bantuan kepada Keluarga Korban Longsor di Desa Pakel
    Bupati Banyuwangi Salurkan Bantuan kepada Keluarga Korban Longsor di Desa Pakel
    18/06/2021 - 10:02
  • Pemkot Pariaman dan Pemkot Medan Diskusi Pengembangan Sektor Pariwisata 
    Pemkot Pariaman dan Pemkot Medan Diskusi Pengembangan Sektor Pariwisata 
    18/06/2021 - 09:44
  • Gali Potensi Daerah Banyuwangi Lewat Festival BYCN
    Gali Potensi Daerah Banyuwangi Lewat Festival BYCN
    18/06/2021 - 09:26
  • Staf Khusus Presiden Angkie Yudistia Apresiasi Kepedulian Banyuwangi Terkait Disabilitas
    Staf Khusus Presiden Angkie Yudistia Apresiasi Kepedulian Banyuwangi Terkait Disabilitas
    18/06/2021 - 09:02
  • Syarief Hasan Ingin UMKM Mendapat Perlindungan dan Bantuan
    Syarief Hasan Ingin UMKM Mendapat Perlindungan dan Bantuan
    18/06/2021 - 08:33

TIMES TV

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

01/04/2021 - 15:58

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi
Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo

Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo
Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan

Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan
The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Welfare State, Sebuah Perbandingan untuk Indonesia
    Welfare State, Sebuah Perbandingan untuk Indonesia
    17/06/2021 - 13:21
  • Surat Kedua: Untuk Pembelajar Pluralisme dan Kebangsaan
    Surat Kedua: Untuk Pembelajar Pluralisme dan Kebangsaan
    17/06/2021 - 10:36
  • Membangun Paradigma Hukum di Tengah Pandemi Covid-19 :Implementasi dan Tantangan
    Membangun Paradigma Hukum di Tengah Pandemi Covid-19 :Implementasi dan Tantangan
    16/06/2021 - 21:34
  • Implikasi Pengenaan PPN Terhadap Jasa Pendidikan
    Implikasi Pengenaan PPN Terhadap Jasa Pendidikan
    16/06/2021 - 19:32
  • Pemilu dan Sirkulasi Kepemimpinan
    Pemilu dan Sirkulasi Kepemimpinan
    16/06/2021 - 11:24
  • Empat Pilar untuk Harmonisasi dan Keluhuran Budaya Bangsa
    Empat Pilar untuk Harmonisasi dan Keluhuran Budaya Bangsa
    16/06/2021 - 10:05
  • Infrastruktur Pembelajaran Online Yang Kuat Adalah Kunci Masa Depan Pendidikan Tinggi
    Infrastruktur Pembelajaran Online Yang Kuat Adalah Kunci Masa Depan Pendidikan Tinggi
    16/06/2021 - 09:06
  • Catatan Anwar Sadad; Kiai Nawawi Bertemu Malaikat Maut
    Catatan Anwar Sadad; Kiai Nawawi Bertemu Malaikat Maut
    16/06/2021 - 08:30

KULINER

  • Promo Asian Feast Jadi Menu Andalan Baru di Grand Ambarrukmo Yogyakarta
    Promo Asian Feast Jadi Menu Andalan Baru di Grand Ambarrukmo Yogyakarta
    16/06/2021 - 16:48
  • Kampung Adat Segunung, Desa Wisata Alam dengan Kekuatan Budaya Lokal
    Kampung Adat Segunung, Desa Wisata Alam dengan Kekuatan Budaya Lokal
    16/06/2021 - 07:45
  • Segarkan Siang Bersama Dessert Ala Timtong
    Segarkan Siang Bersama Dessert Ala Timtong
    15/06/2021 - 07:32
  • ASTON Kuta Hotel & Residence Sajikan “SUNSET BBQ is BACK”
    ASTON Kuta Hotel & Residence Sajikan “SUNSET BBQ is BACK”
    15/06/2021 - 03:12
  • Dawet Ayu Bu Seni, Satu-Satunya Kuliner Tradisional di Taman Ganjaran
    Dawet Ayu Bu Seni, Satu-Satunya Kuliner Tradisional di Taman Ganjaran
    13/06/2021 - 16:03