Kopi TIMES

Larangan Mudik di Masa Pandemi yang Tidak Efektif

Minggu, 09 Mei 2021 - 07:16 | 72.59k
Larangan Mudik di Masa Pandemi yang Tidak Efektif
Elok Nuriyatur Rosyidah, Status: Mahasiswa Magister KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Mudik atau pulang kampung telah menjadi praktik tahunan dalam budaya Indonesia yang telah dilakukan sejak ratusan tahun lalu.  Menjelang lebaran orang desa yang mengadukan nasibnya ke Ibu Kota mendapatkan libur panjang, sehingga dimanfaatkan untuk mudik. Berdasarkan data Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI, tahun Pada 2015, jumlah pemudik menembus angka 23,4 juta orang, dan menurun di tahun 2016 yakni 18,16 juta orang. Setahun berikutnya, ada sekira 18,6 juta orang. Sementara di tahun 2018, masyarakat yang melakukan mudik ada sebanyak 19,5 juta orang. di tahun 2019 mengalami penurunan menjadi 14,90 juta orang pemudik.

Namun sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia pada tahun 2020, tradisi mudik tidak bisa dilakukan lagi seperti sebelumnya. Pemerintah membatasi bahkan melarang para perantau untuk mudik menjelang lebaran. Hal ini dikarenakan mudik dapat menyebabkan naiknya angka kasus Covid-19. Dilansir dari kanal Youtube Sekretariat Negara. Presiden Jokowi juga mengingatkan masyarakat atas melonjaknya kasus Covid-19 usai mudik lebaran idul fitri 2020 lalu yang menembus kenaikan kasus hingga 93%.

Dengan kemajuan teknologi, informasi dan penyebaran internet membantu memudahkan komunikasi jarak jauh, sehingga banyak ajakan atau iklan masyarakat tentang silaturahmi secara virtual atau online, namun hal tersebut dirasa tidak efektif bahkan tidak mampu menggantikan tradisi mudik. Selain itu, menurut Ari Sudjito pakar Sosilog Universitas Gajah Mada, kemajuan teknologi, informasi dan penyebaran internet juga belum mampu menggantikan tradisi mudik, salah satunya bahwa teknologi belum menjadi bagian yang mendasar dari tradisi di Indonesia, terutama masyarakat desa.

Pada 22 April 2021, Pemerintah kembali melarang perantau di Jakarta untuk Mudik, hal ini disampaikan melalui Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Bakti Bawono Adisasmito mengumumkan dan memberikan surat edaran terkait penambahan kebijakan larangan mudik diperluas mulai tanggal 22 April hingga 24 Mei 2021, bagi yang melakukan perjalanan 2 April-5 Mei 2021 dan tanggal 18 Mei-24 Mei 2021 diberlakukan surat tanda negatif untuk pelaku perjalanan baik dengan pemeriksaan PCR ataupun rapid antigen maksimal 1x24 jam sebelum keberangkatan atau tes GeNose untuk semua moda transportasi.

Sementara itu Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi merilis hasil survei mudik tahun 2021, dari data tersebut diketahui sebanyak 7% atau 18 juta penduduk Indonesia tetap melakukan mudik menjelang lebaran Idul Fitri 2021

Berdasarkan pemaparan diatas tampak larangan mudik di masa pandemi yang pemerintah ungkapkan sama sekali tidak efektif. Masyarakat tidak mengindahkan larangan tersebut. Dengan demikian tulisan ini berupaya untuk menjawab pertanyaan: mengapa larangan mudik yang diberlakukan pemerintah tidak efektif padahal berdasarkan data tahun 2020 mudik menyebabkan angka kasus Covid-19 naik?

Menurut penulis pulang kampung menjelang lebaran tidak hanya perantau lakukan untuk sekedar melepas rindu bertemu orang tua. Jauh dari itu mudik memiliki makna mendalam dan erat kaitannya dengan alasan kultural yang menyangkut tiga hal pokok, yaitu kebutuhan kultural untuk mengunjungi orang tua dan keluarga, berziarah ke makam kerabat, dan melihat warisan tinggalan keluarga di tempat asal (Soebyakto, 2011; Arribathi & Aini, 2018). Jika ketiga alasan tersebut tidak ada, maka bisa dipastikan keinginan untuk mudik menjelang lebaran tidak akan pernah ada.

Kebutuhan Kultural Mengunjungi Orang Tua

Mudik secara kultur bisa dikatakan sebagai keharusan, namun secara spiritual dan moral mudik juga menjadi ajang berbaktinya anak terhadap orang tua dengan mengunjungi mereka ketika hari raya Idul Fitri. Ada satu tradisi yang tidak terlewatkan ketika hari raya yaitu tradisi sungkeman.

Tradisi sungkeman ketika hari raya, bukan hanya sekedar kontak fisik namun ada nilai spiritual bahwasannya orang tua menjadi perantara anak mengenal Tuhan, dari situ muncul doa-doa baik yang dipanjatkan orang tua terhadap anaknya. Sungkeman juga menjadi bentuk rasa terima kasih seorang anak kepada orang tuanya, karena telah mengurusi mereka selama ini.

Bahkan ada pula yang menyebutkan bahwa tradisi sungkeman menjadi bentuk penyempurnaan ibadah selama bulan ramadhan, dengan merayakan kemenangan membuka hati untuk saling bermaaf-maafan dengan harapan semua dosa dan kesalahan uang dilakukan dapat terhapus dan berguguran.

Yulianto (2011) juga menambahkan ritual mudik menjadi ajang dimana masyarakat meminta maaf (sungkem) kepada orang tuanya, ada konsekuensi moral yang dirasakan saat mudik, bagi yang tidak mudik akan dianggap bahwa ia tidak menghormati orang tua.

Berziarah ke Makam Leluhur atau Kerabat

Secara spiritual mudik tidak hanya ajang silaturahmi atau sungkeman, ada nilai-nilai leluhur yang dipertahankan yaitu berziarah ke makam, hal ini tidak terlepas dari sejarah tradisi mudik yang sudah terjadi sejak berabad-abad lamanya, menurut Umar Kayam (2002) tradisi mudik merupakan tradisi masyarakat primodial petani jawa, hadir jauh sebelum adanya kerajaan Majapahit. Kegiatan ini berawal dari pembersihan makam atau kuburan leluhur dengan dipanjatkan doa bersama kepada para dewa di khayangan. Tujuannya dari kegiatan ini tak lain agar para perantau diberi kesehatan dan keselamatan dalam mencari rejeki.

Berziarah ke makam sebagai bentuk merefleksikan diri atas kematian, saat mengunjungi pemakaman ada nuansa penyadaran diri dihadapan leluhurnya bahwa mereka pernah menjalani kehidupan seperti kita, ada sebuah representasi garis keturunan yang panjang dari leluhur hingga generasi mendatang.

Mengunjungi makam leluhur membantu kita mengenali asal usul garis keturunan, menyadari bahwa kita hidup tidak sendirian sehingga dengan begitu berziarah ke makam leluhur dapat membangun relasi sosial dan mempererat ikatan kekeluargaan yang disatukan oleh garis keturunan yang sama.

Melihat Warisan Tinggalan Keluarga

Tradisi mudik yang dilakukan masyarakat Indonesia menunjukkan bahwasannya hubungan emosional seseorang dengan tanah leluhurnya masih kuat bahkan tidak pernah terkikis oleh perjalanan waktu

Mudik menjadi ajang silaturahmi itu sulit terhapuskan dari tradisi, ada beberapa hal yang pertama mudik menjadi ajang mencari berkah dan silaturahmi kepada sanak keluarga. Bagi yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, mudik bisa menjadi ajang pengenalan asal usul mereka, secara psikologis mudik mampu membantu refreshing dari penatnya bekerja di ibu kota, dan yang terakhir mudik bisa menjadi ajang unjuk diri terkait kesuksesan mengadu nasib di Ibu kota (Arie Sudjito: 2012)

Sementara itu ditinjau dari aspek psikologi, manusia pada hakikatnya cinta dan butuh mudik, yang artinya manusia mencintai dan membutuhkan nilai-nilai dasar luhur seperti butuh dimaafkan. ingin memaafkan, menyayangi-disayangi, menerima dan berbagi serta kumpul bersama. Dan inilah menjadi kebutuhan dasar fisiologis manusia. Jadi bisa disimpulkan mudik masih menjadi tradisi keharusan, sejauh apapun merantau pada akhirnya ia akan kembali ke asalnya, seperti sebuah pepatah yang menyatakahan setinggi-tinggi bangau terbang, ia akan kembali ke sangkarnya.

***

*)Oleh: Elok Nuriyatur Rosyidah, Status: Mahasiswa Magister KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.



Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

EKORAN

TERBARU

  • Syarief Hasan Ingin UMKM Mendapat Perlindungan dan Bantuan
    Syarief Hasan Ingin UMKM Mendapat Perlindungan dan Bantuan
    18/06/2021 - 08:33
  • [CEK FAKTA] Roket Melewati Wilayah Udara Indonesia dan Malaysia
    [CEK FAKTA] Roket Melewati Wilayah Udara Indonesia dan Malaysia
    18/06/2021 - 08:09
  • Naomi Osaka Tak Akan Ambil Bagian di Wimbledon
    Naomi Osaka Tak Akan Ambil Bagian di Wimbledon
    18/06/2021 - 07:54
  • Maju di Pilpres 2024, Prabowo Subianto: Kenapa Tidak?
    Maju di Pilpres 2024, Prabowo Subianto: Kenapa Tidak?
    18/06/2021 - 07:46
  • Tips Merawat Kesehatan Gigi dan Mulut
    Tips Merawat Kesehatan Gigi dan Mulut
    18/06/2021 - 07:37

TIMES TV

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

01/04/2021 - 15:58

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi
Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo

Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo
Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan

Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan
The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Welfare State, Sebuah Perbandingan untuk Indonesia
    Welfare State, Sebuah Perbandingan untuk Indonesia
    17/06/2021 - 13:21
  • Surat Kedua: Untuk Pembelajar Pluralisme dan Kebangsaan
    Surat Kedua: Untuk Pembelajar Pluralisme dan Kebangsaan
    17/06/2021 - 10:36
  • Membangun Paradigma Hukum di Tengah Pandemi Covid-19 :Implementasi dan Tantangan
    Membangun Paradigma Hukum di Tengah Pandemi Covid-19 :Implementasi dan Tantangan
    16/06/2021 - 21:34
  • Implikasi Pengenaan PPN Terhadap Jasa Pendidikan
    Implikasi Pengenaan PPN Terhadap Jasa Pendidikan
    16/06/2021 - 19:32
  • Pemilu dan Sirkulasi Kepemimpinan
    Pemilu dan Sirkulasi Kepemimpinan
    16/06/2021 - 11:24
  • Empat Pilar untuk Harmonisasi dan Keluhuran Budaya Bangsa
    Empat Pilar untuk Harmonisasi dan Keluhuran Budaya Bangsa
    16/06/2021 - 10:05
  • Infrastruktur Pembelajaran Online Yang Kuat Adalah Kunci Masa Depan Pendidikan Tinggi
    Infrastruktur Pembelajaran Online Yang Kuat Adalah Kunci Masa Depan Pendidikan Tinggi
    16/06/2021 - 09:06
  • Catatan Anwar Sadad; Kiai Nawawi Bertemu Malaikat Maut
    Catatan Anwar Sadad; Kiai Nawawi Bertemu Malaikat Maut
    16/06/2021 - 08:30

KULINER

  • Promo Asian Feast Jadi Menu Andalan Baru di Grand Ambarrukmo Yogyakarta
    Promo Asian Feast Jadi Menu Andalan Baru di Grand Ambarrukmo Yogyakarta
    16/06/2021 - 16:48
  • Kampung Adat Segunung, Desa Wisata Alam dengan Kekuatan Budaya Lokal
    Kampung Adat Segunung, Desa Wisata Alam dengan Kekuatan Budaya Lokal
    16/06/2021 - 07:45
  • Segarkan Siang Bersama Dessert Ala Timtong
    Segarkan Siang Bersama Dessert Ala Timtong
    15/06/2021 - 07:32
  • ASTON Kuta Hotel & Residence Sajikan “SUNSET BBQ is BACK”
    ASTON Kuta Hotel & Residence Sajikan “SUNSET BBQ is BACK”
    15/06/2021 - 03:12
  • Dawet Ayu Bu Seni, Satu-Satunya Kuliner Tradisional di Taman Ganjaran
    Dawet Ayu Bu Seni, Satu-Satunya Kuliner Tradisional di Taman Ganjaran
    13/06/2021 - 16:03