Kopi TIMES

Muasal Kambing Hitam (1)

Jumat, 19 Maret 2021 - 13:48 | 28.71k
Muasal Kambing Hitam (1)
Ach Dhofir Zuhry.
Editor: Yatimul Ainun

TIMESINDONESIA, MALANG – Dunia anak-anak adalah jagad nirmala adiwarna. Dunia asmaraloka yang kita senantiasa ingin kembali bernostos dan algos alias bernostalgia tiap temaram membekap, saat lindap melilit maupun rona senja menyergap kelelahan kerja dan penatnya hidup. Kerap kali kita bersenandika untuk kembali menjadi bayi lagi, mengatupkan kenakalan pada kasih ibu. 

Namun demikian, sedari orok, kita sudah dibentuk untuk mencari kambing hitam. Sebuah permisalan, apabila ada balita jatuh dari sepeda mainan, orang tua mereka lantas memukul sepeda, menyalahkan sepeda, memukul lantai, bukan malah mengedukasi sang anak agar lebih mawas diri dan menyadari bahwa jatuh-bangun itu biasa dalam hidup.

Tengiknya, sekolah melanjutkan serentetan taksa itu dan semakin ugal-ugalan menabalkan kultur kambing hitam ini. Murid dan mahasiswa menjadi sasaran kambing hitam guru, dosen dan orang tua, juga perundungan bahkan pelecehan kakak kelas. Guru diintimidasi kepala sekolah, lantas para kepala itu diteror kepala dinas terkait untuk membuat manipulasi data oleh karena kucing-kucingan mencari celah korupsi dan penyelewengan anggaran.

Ada ujar-ujar lama yang terus berkelindan di sudut-sudut kampus: mahasiswa takut pada dosen, dosen takut pada kaprodi, kaprodi juga takut pada dekan, lantas dekan takut pada rektor, kemudian rektor takut kepada dirjen dan menteri, pada gilirannya menteri takut terhadap presiden, konon presiden takut didemo mahasiswa dan ujung-ujungnya mahasiswa takut kepada ibu kos. Nah, lingkaran takut inilah yang melahirkan kultur bawahan selalu salah dan atasan otomatis benar. Menjilat saat menjadi bawahan dan menindas tatkala menjadi atasan. Tak habis-habislah kambing hitam disalah-salahkan.

Selain kambing hitam, masih ada sederet istilah binatang yang "dipinjam" dan lalu dimiliki secara permanen oleh bangsa manusia, misalnya: kumpul kebo, sapi perah, tikus kantor, kelinci percobaan, lintah darat, buaya darat, ayam kampus, kupu-kupu malam, ulat bulu, bajingan tengik, bajing loncat, gurita bisnis, gurita cikeas, kambing congek, singa betina, singa ompong, jago kandang, gajah bengkak, ular berbisa, serigala cendana, srigala berbulu kambing, bandot tua, kampret, cebong serta belakangan kadal gurun alis kadrun, dll. Tak peduli apakah bangsa binatang protes perihal sinisme dan atau sarkasme (dalam konteks bahwa tak jarang binatang lebih baik dari manusia) tersebut. Namun demikian, pada kesempatan ini kita hanya akan membincang soal kambing hitam.

Dahulu, pasca suksesi berdarah dari Demak, Pajang, Jipang dan berlanjut ke Mataram Islam, Panembahan Senopati—untuk melindungi dan melanggengkan aristokrasinya—sengaja memanggil para pendekar, begawan, resi dan elit kampung untuk ngenger (mengabdi) ke istana dengan iming-iming gelar Ki Gede dan Ki Ageng, mereka diangkat menjadi ASN dan digaji dari APBN untuk meredam gejolak pemberontakan dan ketidakpuasan terhadap kebijakan politik istana serta demi mendapatkan legitimasi politis manakala Mataram hendak melakukan ekspansi dan aneksasi ke negara-negara tetangga. Ini terus berlanjut sekurang-kurangnya hingga Panembahan Hanyokrowari dan Panembahan Hanyokrokusumo alias Sultan Agung, pahlawan Nasional. Tentu, Anda juga bisa menebak bahwa mitos gunung Merapi, wahyu keprabon dan Nyi Roro Kidul tak lain adalah bagian dari upaya melanggengkan kekuasaan.  

Beberapa dekade silam, dalam pembuangannya di Bandaneira, Sutan Sjahrir selalu merenungi peradaban kita di tengah Revolusi Kemerdekaan—ia menulis buku berjudul Renungan Indonesia. Karuan saja, ia sangat prihatin dengan peradaban Timur yang bermental menyembah-nyembah, ngapurancang menunduk sambil pegang 'burung', bersikap budak dan memang sebagaimana dituduhkan Belanda, orientalis dan banyak tempurung jahat lainnya, kita ini inlander, candala yang inferior dalam segala hal.

Secara serampangan, kita lantas mengkambing-hitamkan penjajah, terutama saat ini penjajahan modern, penjajahan ekonomi, mental gaya hidup hingga ideologi. Ini semua ulah dari sistem kultur serta manifestasi dari sikap rendah diri alias inferior tadi. Eksesnya, sulit merdeka, sulit beradab, sulit berkembang, dan tentu saja terus menikmati penjajahan dengan berharap siapa tahu kelak masuk surga. Inilah pandangan masokhistik kebanyakan kita. Tentu, tema ini mengundang sekian sawala tak berujung, debat kusir, sebab di sisi lain, muasal bangsa-bangsa Nusantara adalah bangsa besar, penjajah dan penakluk.

Namun demikian, mengejutkan, Sjahrir ternyata memproyeksi bahwa Barat dan Timur akan padam dan lalu kemudian tenggelam sementara peradaban baru akan muncul di tengah belantara penjajahan, dari jenggala ketertindasan, seiring dengan semakin dihargainya setiap manusia berdasarkan kemanusiaannya, oleh karena harkatnya setelah rentetan pengalaman pelik dengan sederet derita dan nestapa pasca perang kemerdekaan lalu diendapkan dalam laboratorium nilai-nilai perjuangan, nuraga dan berbagi rasa senasib sepenanggungan untuk merdeka, berdaulat, adil dan makmur.

Tetapi, mungkinkah ramalan humanis Sjahrir ini adan menjadi nyata tanpa kita membangun revolusi rohani, kejernihan batin, keheningan kalbu, kebeningan budi, keagungan pekerti dan kearifan wiyata? Bukankah mengendapkan gejolak di luar diri dan gelegak di dalam diri sendiri dalam lanskap keindonesiaan dan bingkai kebinekaan tidak pernah selesai hanya dengan kurikulum di sekolah semata—yang jamak kita mafhumi sebagai industri, menjadi dagangan dan sebagian dagelan? Nah, kecerdasan macam apakah yang harus kita cangkokkan kepada anak-anak kita? Tidakkah kita mencium bau busuk sampai ke tulang sumsum bahwa model pendidikan warisan penjajah ini sangat membuka ruang untuk memperjual-belikan guru, murid, kompetensi, bahan ajar dan bahkan gelar? Benarkah produksi masal kambing hitam dimulai dari bangku sekolah, khususnya pascaklonial?

Ego primordial selalu meniscayakan kambing hitam, entah agama, suku, bahasa dan bahkan (mirisnya) tingkat pendidikan dan strata sosial. Faktanya, justru segala bentuk kesenjangan dimulai dan disulut para elit: agamawan, politisi, pebisnis, pesuruh partai, ilmuwan menara gading, sosialita, buzzer dan penentu kebijakan lainnya. Cara pandang teknokratis yang mengabaikan jagad nilai semacam ini adalah buah dari pendidikan yang salah, pembonsaian logika sajak di sekolah. Sekurang-kurangnya kita bisa dapati dalam satu dekade ini bahwa guru dan dosen sibuk diperbudak sertifikasi dan polas-poles pemberkasan. Sementara itu guru honorer selalu kena prank dan ghosting. (bersambung)

*) penulis Ach Dhofir Zuhry  (penulis buku Nabi Muhammad bukan Orang Arab?, Peradaban Sarung dan Kondom Gergaji)

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

________
*)
 Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.



Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

EKORAN

TERBARU

  • Hebat! Ponpes Mumtaza Berhasil Menulis 30 Juz Al Quran dalam Satu Jam
    Hebat! Ponpes Mumtaza Berhasil Menulis 30 Juz Al Quran dalam Satu Jam
    11/04/2021 - 18:51
  • Ratusan Mahasiswa UM Jember Jalani Wisuda, Rektor: Hadapi Dunia Baru dengan Cara Baru
    Ratusan Mahasiswa UM Jember Jalani Wisuda, Rektor: Hadapi Dunia Baru dengan Cara Baru
    11/04/2021 - 18:47
  • Tee Jay Water Park, Tempat Favorit Tradisi Munggahan Warga Tasikmalaya
    Tee Jay Water Park, Tempat Favorit Tradisi Munggahan Warga Tasikmalaya
    11/04/2021 - 18:34
  • [CEK FAKTA] Kantor DPRD Kabupaten Malang Rusak Akibat Gempa di Malang
    [CEK FAKTA] Kantor DPRD Kabupaten Malang Rusak Akibat Gempa di Malang
    11/04/2021 - 18:20
  • Gempa di Malang, Presiden RI Jokowi Perintahkan Lakukan Langkah Darurat
    Gempa di Malang, Presiden RI Jokowi Perintahkan Lakukan Langkah Darurat
    11/04/2021 - 18:11

TIMES TV

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

01/04/2021 - 15:58

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi
Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo

Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo
Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan

Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan
The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Kurikulum Darurat Menuntut Kreatifitas di Masa PJJ
    Kurikulum Darurat Menuntut Kreatifitas di Masa PJJ
    11/04/2021 - 14:15
  • Interaksi Intepretasi Ilmu Informasi
    Interaksi Intepretasi Ilmu Informasi
    11/04/2021 - 11:34
  • Pendangkalan Politik Perempuan Dalam Terorisme
    Pendangkalan Politik Perempuan Dalam Terorisme
    11/04/2021 - 10:31
  • Ngopi Pagi: Ramadan
    Ngopi Pagi: Ramadan
    11/04/2021 - 08:13
  • Terorisme dan Politik Global (2)
    Terorisme dan Politik Global (2)
    11/04/2021 - 06:10
  • Peran Agamawan dan Ormas dalam Pembangunan Negara
    Peran Agamawan dan Ormas dalam Pembangunan Negara
    10/04/2021 - 18:00
  • Indonesia Berduka Merupakan Tanggung Jawab Bersama
    Indonesia Berduka Merupakan Tanggung Jawab Bersama
    10/04/2021 - 17:00
  • (Dilema) Vaksinasi bagi Penyintas Covid-19
    (Dilema) Vaksinasi bagi Penyintas Covid-19
    10/04/2021 - 15:22

KULINER

  • Kuliner Keliling Dunia Selama Ramadan di JW Marriott Hotel Surabaya
    Kuliner Keliling Dunia Selama Ramadan di JW Marriott Hotel Surabaya
    10/04/2021 - 22:39
  • Warung Mak Yar Ngawi, Spesialis Ayam Goreng Jawa
    Warung Mak Yar Ngawi, Spesialis Ayam Goreng Jawa
    10/04/2021 - 16:16
  • Menikmati Siomay Ikan Tenggiri nan Mak Nyus di Kota Batu
    Menikmati Siomay Ikan Tenggiri nan Mak Nyus di Kota Batu
    10/04/2021 - 10:08
  • Bukan Mie Biasa, Ini Cwie Mie di Malang yang Enak Dicoba
    Bukan Mie Biasa, Ini Cwie Mie di Malang yang Enak Dicoba
    10/04/2021 - 03:28
  • Praktis, Resep Asli Sambel Pecel Khas Blitar Anti Kolesterol
    Praktis, Resep Asli Sambel Pecel Khas Blitar Anti Kolesterol
    09/04/2021 - 12:52
  • Gempa Susulan Pagi Ini, Warga Malang Sempat Berhamburan
    Gempa Susulan Pagi Ini, Warga Malang Sempat Berhamburan
    11/04/2021 - 07:15
  • Real Madrid Kalahkan Barcelona, Casemiro Kartu Merah
    Real Madrid Kalahkan Barcelona, Casemiro Kartu Merah
    11/04/2021 - 03:57
  • 9 Fakta Mengerikan AC Milan Usai Hajar Parma
    9 Fakta Mengerikan AC Milan Usai Hajar Parma
    11/04/2021 - 09:33
  • Bandara Pekon Serai Berubah Nama Jadi Bandara Muhammad Taufiq Kiemas
    Bandara Pekon Serai Berubah Nama Jadi Bandara Muhammad Taufiq Kiemas
    11/04/2021 - 01:47
  • La Nyalla, Pernah Ditahan 7 Bulan Kini Bermobil Pelat R1-7
    La Nyalla, Pernah Ditahan 7 Bulan Kini Bermobil Pelat R1-7
    11/04/2021 - 06:42