Kopi TIMES

Menuju Hubungan Agama dan Negara di Indonesia yang Lebih Baik

Rabu, 24 Februari 2021 - 12:02 | 32.33k
Menuju Hubungan Agama dan Negara di Indonesia yang Lebih Baik
Raihan Ariatama, Peneliti di Institute for Democracy and Welfarism, dan saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang Riset dan Teknologi PB HMI.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Hubungan agama dan negara adalah diskursus yang tidak pernah selesai dibicarakan, baik di negara-negara teokratis maupun sekuler, termasuk di Indonesia yang tidak termasuk ke dalam dua kutub tersebut. Merujuk pada The Encyclopedia of Religion, pada praktik kehidupan kenegaraan masa kini, hubungan antara agama dan negara dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk, yakni integrated (penyatuan antara agama dan negara), intersectional (persinggungan antara agama dan negara), dan secularistic (pemisahan antara agama dan negara).

Secara kultural dalam anggapan banyak orang modern sekarang ini, model hubungan agama dan negara yang paling ideal adalah model sekularistik, karena dianggap model yang paling mungkin untuk menjamin kebebasan beragama, bahkan termasuk kebebasan untuk tidak beragama.

Pandangan bahwa model sekularistik adalah model hubungan agama dan negara yang paling ideal diperkuat dengan banyaknya tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama seperti yang baru-baru ini terjadi di India dan kelompok ekstremis bersenjata IS (Islamic State) di Irak dan Suriah beberapa tahun belakangan. Tapi, model sekularistik bukan tanpa kritik. Pertama, fakta bahwa model sekularistik sangat bias Barat (Western bias) karena sangat didasarkan pada pengalaman peradaban Barat pada abad kegelapan, di mana institusi keagamaan sangat mengekang hak dan kebebasan masyarakat pada waktu itu. Kedua, terjadinya desekulerisasi secara global.

Menurut Masykuri Abdillah (2013), sosiolog terkemuka Peter L. Berger pada akhir dasawarsa 1990-an menolak teori “secularization” dan sebaliknya mengemukakan teori “desecularization of the world”. Hal ini terjadi karena dalam kenyataannya, proses sekularisasi menimbulkan reaksi dalam bentuk gerakan-gerakan tandingan sekularisasi yang kuat (powerful movements of counter-secularization). Teori tersebut merupakan revisi terhadap teorinya sendiri tentang sekularisasi yang ia kemukakan pada akhir dasawarsa 1960-an.

Pada dasarnya, lanjut Masykuri Abdillah (2013), konsep sistem ketatanegaraan dan realitas yang terjadi di Indonesia sejak masa kemerdekaan hingga saat ini berlaku model intersectional, di mana terdapat persinggungan antara agama dan negara. Hal ini berarti hubungan agama dan negara di Indonesia tidak sepenuhnya terintegrasi dan tidak pula sepenuhnya terpisah.

Dalam hubungan semacam ini, terdapat aspek-aspek keagamaan yang masuk dalam negara dan terdapat pula aspek-aspek kenegaraan yang masuk dalam atau memerlukan legitimasi agama. Negara Indonesia adalah negara yang secara kelembagaan berbentuk sekuler, tetapi secara filosofis mengakui eksistensi agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan agama sebagai dasar negara secara eksplisit disebutkan dalam pasal 29 ayat 1, yakni “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Sayangnya, model intersectional di Indonesia ini pada praktiknya masih belum maksimal. Salah satu buktinya adalah seringnya kita mendengar berita-berita negatif yang menyangkut relasi agama dan negara di Indonesia, seperti perusakan rumah ibadah, sulitnya mendapatkan izin beribadah bagi agama minoritas, persekusi pada mereka yang dianggap berbeda, sampai pemberian cap “radikal” hanya karena cara berpakaian yang didasari keyakinan tertentu. Menyikapi hal tersebut, penulis menganggap bahwa perlu adanya peningkatan kualitas implementasi model intersectional di Indonesia, yang secara konsensus berbangsa dan bernegara terwujud dalam Pancasila.

Dilihat dari perspektif kelembagaan politik, ada dua hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kualitas model intersectional di Indonesia. Pertama, harus ada pembagian yang jelas namun tetap saling melengkapi (komplementer) antara lembaga formal (negara) dengan lembaga informal (agama).

Ketika terjadi kekosongan-kekosongan yang ditinggalkan oleh lembaga formal dalam mengatasi masalah, pada saat yang bersamaan lembaga informal hadir sebagai pelengkap. Misalnya, ketika negara belum mampu menyediakan fasilitas pendidikan di suatu daerah, maka lembaga keagamaan dapat menyediakan layanan tersebut untuk masyarakat. Sebaliknya, ketika terdapat masalah antar pemeluk agama, maka negara secara formal harus mampu menyelesaikan masalah tersebut dengan tetap menjamin terpenuhinya hak beragama mereka.

Kedua, perlu dimunculkan pola akomodatif antara lembaga formal (negara) dengan lembaga informal (agama). Sebagai contoh, dalam pembuatan peraturan, lembaga keagamaan dapat membuat peraturan sendiri yang tidak bertentangan dengan aturan-aturan formal, sehingga tidak semua hal yang berkaitan dengan praktik beragama perlu diatur secara formal oleh negara.

Selain itu, negara dapat mengakomodasi lembaga keagamaan dengan mengadopsi nilai dan norma universal yang ada pada lembaga keagamaan ke dalam peraturan formal. Misalnya, semua agama melarang adanya pemerkosaan, maka negara mengadopsi nilai tersebut dan membuat peraturan yang melindungi setiap warga negara dari pemerkosaan. 
Kedua hal tersebut yang penulis kira dapat membawa hubungan agama dan negara di Indonesia ke arah yang lebih baik di masa depan.

***

*) Oleh: Raihan Ariatama, Peneliti di Institute for Democracy and Welfarism, dan saat ini menjabat sebagai Ketua Bidang Riset dan Teknologi PB HMI.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.



Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

EKORAN

TERBARU

  • Senggigi Jazz Listed on Calendar of Event of West Lombok
    Senggigi Jazz Listed on Calendar of Event of West Lombok
    27/02/2021 - 06:37
  • Gumelem Tourism Village, the Batik Paradise in Central Java
    Gumelem Tourism Village, the Batik Paradise in Central Java
    27/02/2021 - 05:43
  • Mayasi Resto Serves You an Authentic Taste of Ramen
    Mayasi Resto Serves You an Authentic Taste of Ramen
    27/02/2021 - 03:41
  • Manchester United Bertemu AC Milan, Berikut Hasil Undian Babak 16 Besar Liga Europa
    Manchester United Bertemu AC Milan, Berikut Hasil Undian Babak 16 Besar Liga Europa
    27/02/2021 - 02:22
  • Selebgram Helena Lim Bakal Divaksinasi Covid-19 Dosis Kedua
    Selebgram Helena Lim Bakal Divaksinasi Covid-19 Dosis Kedua
    27/02/2021 - 01:20

TIMES TV

Menko Airlangga Hartarto: Patuhi 3M Saat Liburan Natal dan Tahun Baru

Menko Airlangga Hartarto: Patuhi 3M Saat Liburan Natal dan Tahun Baru

15/12/2020 - 15:25

Teaser Terbaru Wonder Women 1984 Makin Seru

Teaser Terbaru Wonder Women 1984 Makin Seru
Ayo Kunjungi Pameran Virtual Hari Bakti PU ke-75

Ayo Kunjungi Pameran Virtual Hari Bakti PU ke-75
Meluaskan Manfaat

Meluaskan Manfaat
Panglima TNI: Yang Mengganggu NKRI Berhadapan dengan TNI

Panglima TNI: Yang Mengganggu NKRI Berhadapan dengan TNI

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Ngopi Pagi: Iman
    Ngopi Pagi: Iman
    25/02/2021 - 07:56
  • Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa
    Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa
    24/02/2021 - 16:10
  • Harapan Terhadap Perubahan UU Pemilu
    Harapan Terhadap Perubahan UU Pemilu
    24/02/2021 - 16:06
  • Mengubah Stigma Milenial dalam Dunia Peternakan di Era 4.0
    Mengubah Stigma Milenial dalam Dunia Peternakan di Era 4.0
    24/02/2021 - 13:51
  • Menuju Hubungan Agama dan Negara di Indonesia yang Lebih Baik
    Menuju Hubungan Agama dan Negara di Indonesia yang Lebih Baik
    24/02/2021 - 12:02
  • Ngopi Pagi: Sombong
    Ngopi Pagi: Sombong
    24/02/2021 - 07:00
  • Menanamkan Kebaikan pada Anak di Dalam Rumah 
    Menanamkan Kebaikan pada Anak di Dalam Rumah 
    24/02/2021 - 01:49
  • Kritik dan Kebebasan Berpendapat
    Kritik dan Kebebasan Berpendapat
    23/02/2021 - 21:32

KULINER

  • Catat, Inilah Resep Pedas dan Gurih Lontong Cap Gomeh
    Catat, Inilah Resep Pedas dan Gurih Lontong Cap Gomeh
    26/02/2021 - 06:27
  • Cold Pressed Juice Clean Label Kaya Manfaat
    Cold Pressed Juice Clean Label Kaya Manfaat
    25/02/2021 - 23:33
  • Jus Honje Produk Ooy Rukoyah Jadi Minuman Khas Pangandaran
    Jus Honje Produk Ooy Rukoyah Jadi Minuman Khas Pangandaran
    25/02/2021 - 16:06
  • Brokoli Pasta Solusi Sarapan yang Jadi Favorit Anak
    Brokoli Pasta Solusi Sarapan yang Jadi Favorit Anak
    25/02/2021 - 01:20
  • Ada Citarasa Variatif dan Modern di Limestory Coffee Favehotel Cilacap
    Ada Citarasa Variatif dan Modern di Limestory Coffee Favehotel Cilacap
    24/02/2021 - 13:13
  • Terliar, Ritual Seks Petarung Seksi Ini Bikin Merinding
    Terliar, Ritual Seks Petarung Seksi Ini Bikin Merinding
    27/02/2021 - 00:02
  • Kombes Ady Bawa Peti Mati Pratu Rizky, Sampai Polisi Ganggu Farrah
    Kombes Ady Bawa Peti Mati Pratu Rizky, Sampai Polisi Ganggu Farrah
    27/02/2021 - 04:30
  • Babak Baru Kisruh Demokrat: Marzuki Alie Sampai Jhoni Allen Dipecat
    Babak Baru Kisruh Demokrat: Marzuki Alie Sampai Jhoni Allen Dipecat
    27/02/2021 - 04:02
  • Curhat Sadis McGregor Takut dengan Ratu Seks WWE
    Curhat Sadis McGregor Takut dengan Ratu Seks WWE
    27/02/2021 - 06:00
  • Miftah Anwar Sani, Prajurit TNI yang Tak Menyangka Bisa Tembus Eropa
    Miftah Anwar Sani, Prajurit TNI yang Tak Menyangka Bisa Tembus Eropa
    27/02/2021 - 00:30