Kopi TIMES

Anak Ruhani Kang Jalal

Selasa, 16 Februari 2021 - 21:30 | 29.43k
Anak Ruhani Kang Jalal
Yusran Darmawan, penulis, antropolog dan pengamat sosial. (FOTO: fb yusran)
Editor: Ahmad Sugriwa

TIMESINDONESIA, BANDUNG – Di masa awal belajar menulis, saya berpikir bahwa semakin canggih pilihan kata, maka semakin hebatlah seseorang. Makin banyak istilah asing, makin cerdaslah seseorang. Semakin pusing membaca satu tulisan, semakin tinggi jelajah intelektual penulisnya.

Dulu, saya begitu terpesona melihat penulis memajang gelar doktor dan profesor di tulisannya. Padahal, sering kali, saya tak paham dia sedang membahas apa. Mungkin pikiran saya pendek. Tapi, kata Rocky Gerung, sering kali gelar bisa lebih panjang dari pikiran seseorang. Entah. 

Hingga suatu hari, saya membaca buku Islam Aktual yang ditulis Jalaluddin Rakhmat atau Kang Jalal. Saya terkesima dengan bahasa yang sederhana, namun dalam. Kalimatnya pendek-pendek. Dia menggunakan gaya bercerita, serupa kakek mendongeng di hadapan cucu yang terkantuk-kantuk. 

Seeingat saya, di buku Islam Aktual, ada beberapa cerita yang melekat di benak saya hingga kini. Di antaranya cerita tentang prajurit Amerika yang bunuh diri saat berada di kancah Perang Teluk. Dia bunuh diri bukan saat berperang, tetapi saat sedang istirahat. 

Rupanya, prajurit itu menonton tayangan di televisi mengenai Presiden Amerika George Bush yang sedang bermain golf. Prajurit itu merasakan ketidakadilan. Dia dan rekannya sedang menyabung nyawa demi nasionalisme negerinya di tanah yang jauh, sementara presidennya malah bermain golf.

Di mata saya, Kang Jalal adalah penulis yang selalu memikat. Dia tak pernah berniat memusingkan pembacanya. Dia sabar memilih kata yang dipahami semua orang. Dia tahu kalau semua orang tidak berada di garis perjalanan pengetahuan yang sama. Tugas seorang penulis adalah menjernihkan sesuatu dan mencerahkan.

Dia sering mengutip pakar atau filosof, tapi entah kenapa, kutipan itu terasa ringan dan mudah dipahami. Saya masih terkenang renyahnya tulisannya tentang Nietzsche, Heidegger, dan Kierkegard. Dia menggambarkan pemikiran mereka dengan bahasa sederhana, yakni serupa manusia terlempar di padang pasir, lalu bingung hendak ke mana.

Tahun 2000-an, Kang Jalal sering berkunjung ke Makassar. Saya merasakan nikmatnya mengikuti ceramahnya di kampus, ataupun di berbagai forum diskusi. Dia menjawab pertanyaan mahasiswa juga dengan bahasa yang sederhana.

Saya ingat, teman Gego, pernah bertanya di satu acara diskusi. “Saya gampang lupa sesuatu. Bagaimana cara menguatkan daya ingat?” Tadinya saya pikir Kang Jalal akan menjawab dengan kutipan nama-nama pemikir. Eh, dia mencontohkan dirinya yang juga pelupa semasa sekolah

“Biar saya tidak lupa, saya bikin gambar-gambar. Misalnya saat belajar definisi berita, ada kata novelty atau kebaruan. Saya gambar mobil baru yang kinclong, terus saya tulis novelty. Dengan cara begitu saya tidak akan pernah lupa,” katanya. 

Sayang, dalam pertemuan itu, saya lupa bertanya bagaimana menulis yang baik. Untunglah, saya membaca catatan Yudi Latif, cendekiawan yang satu almamater dengan Kang Jalal di Unpad. Yudi Latif mengakui kalau dia meniru gaya menulis Kang Jalal. Bersetuju dengan Kang Jalal, tulisan yang baik adalah tulisan yang sederhana, yang dipahami semua orang, yang tidak menyiksa pembacanya.

Kata Kang Jalal, jika seorang penulis membuat catatan yang rumit dan penuh istilah teknis, berarti penulis itu sendiri tidak paham apa yang ditulisnya. “Dia berlindung di balik istilah-istilah asing untuk menyembunyikan ketidaktahuannya.’

Saya merenungi kalimat dari Kang Jalal. Di mata saya, dia tipe penulis yang humble. Dia menjelaskan sesuatu sesederhana mungkin dan sejelas-jelasnya. Dia tidak bermaksud meninggikan diri. Dia tidak pernah bercerita yang hebat-hebat tentang dirinya. Tulisan adalah cara terbaik untuk membangun jembatan hati, mengalirkan makna, serta menjadi kecipak inspirasi yang terngiang di benak pembacanya.

Tulisannya adalah pancaran dari pengetahuannya, serta ikhtiar sederhana untuk berbagi. Dengan menulis, dia membangun jejaring makna dengan banyak orang. Dia bisa menginspirasi dan menggerakkan orang lain, serta menyebarkan pengetahuan dan kearifan ke segala sisi, dalam kecepatan yang tak bisa kita bayangkan.

Saya merasa beruntung sebab masih merasakan masa-masa tahun 1990-an dan 2000-an yang begitu haru biru wacana intelektualitas. 

Di masa itu, ada banyak penulis hebat dengan artikulasi yang sederhana. Itulah masa emas di mana banyak intelektual dan cendekiawan meramaikan media cetak. Mereka tidak berada di menara gading, tetapi meramaikan media massa, memenuhi rak toko buku dengan bacaan bermutu, hingga tampil di banyak forum diskusi.

Mereka tidak terjebak dalam tengkar yang tidak mutu mengenai dukung mendukung atau cebong kampret, namun mereka mencerahkan masyarakat dengan gagasan-gagasan. Selain Kang Jalal, ada juga Cak Nur, Gus Dur, Sobary, Emha Ainun Najib, dan banyak lagi. Tidak keliru jika mereka disebut sebagai Zaman Baru Islam Indonesia. 

Kini, di era televisi dan internet, kita melihat para intelektual jaman now berbagi ide di Podcast, bikin kanal Youtube, juga bikin postingan dengan nama yang diberi embel-embel gelar agar tampak keren. Mereka marah-marah kalau penontonnya sedikit, seolah itu cerminan dari masyarakat yang makin bodoh. Padahal, jujur saja, konten yang dibuat Rafi Ahmad jauh lebih menarik.

Atas alasan ini, kita akan sering mengenang Kang Jalal, cendekiawan rendah hati yang berbicara dengan bahasa sederhana dan menyentuh hati.  Sore ini, sehari setelah kepergiannya, seusai membaca banyak catatan tentangnya, saya merasa dia tak pernah benar-benar pergi. Anak ruhaninya sudah merasuk ke mana-mana. 

Catatannya akan terus abadi dan menjadi prasasti tentang dirinya. Dia mengingatkan pada Will Durant: “Scripta manent, verba volant.” Kata tertulis abadi, kata terucap lenyap.

Dia akan selalu abadi.

***

*) Yusran Darmawan, penulis, antropolog dan pengamat sosial. 

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.



Publisher : Rizal Dani

EKORAN

TERBARU

  • Kabupaten Tasikmalaya Terima 24 Ribu Vaksin Sinovac
    Kabupaten Tasikmalaya Terima 24 Ribu Vaksin Sinovac
    25/02/2021 - 11:12
  • Empat Mahasiswa UB Bawa Pulang Medali Emas di AISEEF 2021
    Empat Mahasiswa UB Bawa Pulang Medali Emas di AISEEF 2021
    25/02/2021 - 11:04
  • Pesawat Penjalajah Mars Mengirimkan Rekaman Suara Desiran Angin
    Pesawat Penjalajah Mars Mengirimkan Rekaman Suara Desiran Angin
    25/02/2021 - 10:56
  • SBY Sebut Moeldoko Rugikan Nama Presiden Jokowi, Ini Komentar Ngabalin
    SBY Sebut Moeldoko Rugikan Nama Presiden Jokowi, Ini Komentar Ngabalin
    25/02/2021 - 10:47
  • Pertamina Gandeng BRI Sosialisasikan Program Pertashop ke 5.000 Agen Brilink
    Pertamina Gandeng BRI Sosialisasikan Program Pertashop ke 5.000 Agen Brilink
    25/02/2021 - 10:39

TIMES TV

Menko Airlangga Hartarto: Patuhi 3M Saat Liburan Natal dan Tahun Baru

Menko Airlangga Hartarto: Patuhi 3M Saat Liburan Natal dan Tahun Baru

15/12/2020 - 15:25

Teaser Terbaru Wonder Women 1984 Makin Seru

Teaser Terbaru Wonder Women 1984 Makin Seru
Ayo Kunjungi Pameran Virtual Hari Bakti PU ke-75

Ayo Kunjungi Pameran Virtual Hari Bakti PU ke-75
Meluaskan Manfaat

Meluaskan Manfaat
Panglima TNI: Yang Mengganggu NKRI Berhadapan dengan TNI

Panglima TNI: Yang Mengganggu NKRI Berhadapan dengan TNI

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Ngopi Pagi: Iman
    Ngopi Pagi: Iman
    25/02/2021 - 07:56
  • Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa
    Pembelajaran yang Berpusat pada Siswa
    24/02/2021 - 16:10
  • Harapan Terhadap Perubahan UU Pemilu
    Harapan Terhadap Perubahan UU Pemilu
    24/02/2021 - 16:06
  • Mengubah Stigma Milenial dalam Dunia Peternakan di Era 4.0
    Mengubah Stigma Milenial dalam Dunia Peternakan di Era 4.0
    24/02/2021 - 13:51
  • Menuju Hubungan Agama dan Negara di Indonesia yang Lebih Baik
    Menuju Hubungan Agama dan Negara di Indonesia yang Lebih Baik
    24/02/2021 - 12:02
  • Ngopi Pagi: Sombong
    Ngopi Pagi: Sombong
    24/02/2021 - 07:00
  • Menanamkan Kebaikan pada Anak di Dalam Rumah 
    Menanamkan Kebaikan pada Anak di Dalam Rumah 
    24/02/2021 - 01:49
  • Kritik dan Kebebasan Berpendapat
    Kritik dan Kebebasan Berpendapat
    23/02/2021 - 21:32

KULINER

  • Brokoli Pasta Solusi Sarapan yang Jadi Favorit Anak
    Brokoli Pasta Solusi Sarapan yang Jadi Favorit Anak
    25/02/2021 - 01:20
  • Ada Citarasa Variatif dan Modern di Limestory Coffee Favehotel Cilacap
    Ada Citarasa Variatif dan Modern di Limestory Coffee Favehotel Cilacap
    24/02/2021 - 13:13
  • Hadirkan Udang Asam Manis ala Restoran di Meja Makan Keluarga
    Hadirkan Udang Asam Manis ala Restoran di Meja Makan Keluarga
    24/02/2021 - 04:15
  • Warung Pecel Pincuk Ngisor Talok di Ngawi Jadi Langganan Pejabat Berburu Kuliner
    Warung Pecel Pincuk Ngisor Talok di Ngawi Jadi Langganan Pejabat Berburu Kuliner
    23/02/2021 - 14:04
  • Rumah Makan Ayam Gepuk Mi Benk Suguhkan Pemandangan yang Asri
    Rumah Makan Ayam Gepuk Mi Benk Suguhkan Pemandangan yang Asri
    23/02/2021 - 14:00
  • Penyidik KPK Bawa 2 Koper Usai Geledah Rumah Politikus PDIP
    Penyidik KPK Bawa 2 Koper Usai Geledah Rumah Politikus PDIP
    25/02/2021 - 00:10
  • Surat Larangan Salat Jumat hingga Paspampres Jokowi Nyungsep
    Surat Larangan Salat Jumat hingga Paspampres Jokowi Nyungsep
    25/02/2021 - 05:30
  • Kasus Dihentikan, Ini Pengakuan 4 Nakes yang Dituduh Menista Agama
    Kasus Dihentikan, Ini Pengakuan 4 Nakes yang Dituduh Menista Agama
    25/02/2021 - 01:22
  • Pamer Video Bareng Widi Vierratale, Kevin Aprilio Sindir Nissa Sabyan?
    Pamer Video Bareng Widi Vierratale, Kevin Aprilio Sindir Nissa Sabyan?
    25/02/2021 - 08:00
  • Kisah Jasmine Crowe, Miliarder yang Kaya dari Bantu Lawan Kelaparan
    Kisah Jasmine Crowe, Miliarder yang Kaya dari Bantu Lawan Kelaparan
    25/02/2021 - 03:01