Kopi TIMES

Dilema Banjir Kalimantan

Rabu, 17 Februari 2021 - 01:12 | 27.72k
Dilema Banjir Kalimantan
Haris Zaky Mubarak, MA, Sejarawan dan Direktur Jaringan Studi Indonesia.
Editor: Faizal R Arief

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Apa yang terjadi di Kalimantan Selatan (Kalsel) baru-baru ini menjadi bukti bahwa wilayah tutupan hutan di Kalsel semakin berkurang sehingga banjir sangat mudah menguasai lingkungan kota dan desa. Alasan ini sangatlah rasional sebab salah satu fungsi hutan adalah sebagai pengatur tata air sehingga air hujan yang turun akan terserap ke dalam tanah.

Meskipun sebagian orang menganalisa banjir Kalsel ini disebabkan anomali cuaca dalam bentuk curah hujan yang ekstrim, tapi akar masalah banjir Kalsel awal tahun 2021 ini tetap memiliki relevansi kausalitas yang kuat dengan tindakan destruktif dari perusakan hutan yang masif terjadi.

Adanya penurunan daya serap permukaan tanah yang berakibat banjir ini disebabkan karena alih fungsi lahan hutan untuk kawasan perkebunan kelapa sawit dan pertambangan yang terjadi di wilayah Kalsel. Dalam catatan sejarah lingkungan di Kalimantan, kegiatan penebangan atau penggundulan hutan untuk dialihgunakan untuk penggunaan selain hutan (deforestasi) di Kalimantan sudah terjadi selama puluhan tahun. 

Kolonisasi Ekonomi

Hampir selama puluhan dekade berlalu, kebijakan deforestasi yang ada di Kalimantan sangat begitu masif terjadi selama puluhan tahun. Dalam kajian Peter Boomgard (1999) pada dekade 1840 para ilmuwan dan para pegawai Hindia Belanda telah mulai memperingatkan ancaman bahaya deforestasi yang dapat mengurangi jumlah pasokan air untuk irigasi dan menyebabkan terjadinya banjir.

Peringatan tersebut secara spesifik diberikan kepada seluruh Gubernur Jendral Hindia Belanda yang diperingatkan jika tindakan deforestasi akan dapat menimbulkan perubahan iklim, penurunan curah hujan, yang menyebabkan kegagalan panen dan menimbulkan kerugian besar bagi ekonomi Hindia Belanda.

Sayangnya teguran keras masa Hindia Belanda tersebut sepertinya tak diperhatikan sampai hari ini. Karena faktanya tanah hutan masih kehilangan daya tampung air. Luas tutupan hutan Kalsel mengalami penyusutan, dari 1,18 juta hektar pada 2005 menjadi 0,92 juta hektar pada 2019. (Walhi, 17 Januari 2021).

Mirisnya, beberapa dekade terakhir pengurangan area hutan di daerah aliran sungai (DAS) Barito telah mencapai 62,8%. Hutan – hutan di Kalimantan yang harusnya terpelihara dengan baik justru harus tersingkir karena kepentingan besar ekonomi para elite politik dan pengusaha yang gemar mengejar keuntungan praktis. Kondisi ini nyatanya membuat masyarakat lokal menanggung akibat buruk dari deforestasi.

Alam yang dirusak kini membawa petaka bagi banyak ruang kehidupan manusia. Banjir menjadi muara dari lingkaran krisis ekologis berskala besar yang sudah lama dan mungkin akan terus terjadi kedepannya.

Faktor ekologis lain yang turut memicu terjadinya banjir besar Kalsel adalah kerusakan lingkungan yang dibentuk oleh banyaknya lubang tambang yang dibiarkan begitu saja tanpa ditutup kembali. Tercatat ada sebanyak 814 lubang tambang di Kalsel yang aktif digunakan maupun yang ditinggalkan. Selain itu ada sebanyak 700 hektare lahan tambang yang keberadaannya tumpang tindih dengan kawasan pemukiman warga. Ironisnya lahan tambang berada dalam kawasan pertanian dan hutan tropis yang dilindungi. Tentu ini semakin membuat miris masyarakat.

Masalah eksploitasi alam nyatanya masih menjadi anomali kekinian dari pelaksanaan pembangunan. Mudahnya pemerintah daerah dan pusat memberikan izin tambang menjadi pemicu pokok yang membuat konsep pembangunan makin tak ramah lingkungan. Data empiris sudah memberi catatan penting jika banyak perusahaan tambang di Indonesia yang memiliki izin tambang illegal bahkan mengarah pada tindakan korupsi.

Ketatnya izin tambang karena analisa dampak lingkungan nyatanya makin membuat banyak perusahaan tambang Indonesia yang lebih memilih jalan suap sebagai cara untuk mendapatkan izin tambang. 

Bila melihat sejarah panjang pertambangan di Indonesia. Sejak tahun 1966 sampai tahun 1987, eksplorasi dan produksi batubara di Indonesia memang mengalami peningkatan sangat pesat. Pada tahun 1966, produksi batubara Indonesia sudah menyentuh pada angka 319.829 ton dan tahun 1987 melonjak menjadi 2.813.533 ton.

Apalagi ketika undang-undang otonomi daerah di Indonesia pada masa reformasi mulai diberlakukan. Penerbitan izin tambang menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi atau kabupaten sehingga hal ini praktis menjadikan para elite lokal sebagai kuasa penentu dari banyak izin tambang.Adapun soal hasil pembagian royalti penambangan akan menjadi penerimaan daerah provinsi dan kabupaten.

Tambang batubara pada dasarnya mempunyai kegunaan yang sangat strategis utamanya sebagai sumber devisa negara, sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) dalam hal ini pajak dan royalti menjadi sumber pembangunan infrastruktur. Namun, aktivitas pertambangan juga dinilai telah merusak sumber-sumber mata air dan sungai digunakan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.

Tak jarang sumur warga mengalami perubahan warna dan mengalami kekeringan karna dalamnya galian tambang batubara lebih dalam dari galian sumur mereka. Tanah menjadi gersang, tandus dan bekas galian batubara yang belum atau tidak direklamasi juga tidak dapat digunakan sama sekali karna mengandung sisa-sisa atau limbah. Masifnya praktik komersialisasi batubara secara berlebih ini jelas menkhawatirkan. Karena merugikan habitat ekosistem alam lingkungan dan manusia. 

Rasional Pembangunan

Dengan peristiwa banjir besar yang menerjang Kalsel awal tahun 2021, maka semestinya kejadian ini mampu membangunkan kembali kesadaran kolektif kita sebagai masyarakat akan urgensinya pelestarian lingkungan alam. Persoalan banjir Kalsel harusnya mendorong sikap tegas negara terhadap pihak yang selama ini berkuasa merusak hutan Kalimantan. Negara tidak boleh kalah melawan pengusaha dan elite politik yang haus kepentingan ekonomi pribadi tapi turut berpartisipasi aktif dalam menyengsarakan kehidupan masyarakat luas.

Dalam konteks bencana banjir di Kalsel, tanggung jawab negara tidak boleh sebatas pada tata kelola penanggulangan bencana saja, tapi juga harus menyentuh pada aspek yang lebih mendasar, yakni bagaimana Negara memfasilitasi kebijakan pembangunan berdasarkan tata alam.

Hadirnya musibah bencana banjir besar yang menerjang Provinsi Kalsel idealnya tak hanya menggugah solidaritas sosial para elite politik pusat dan daerah terhadap korban banjir, tapi menuntut keutamaan langkah sistematis yang lebih serius untuk mencegah terjadinya bencana alam lebih besar di waktu mendatang. Pada titik ini, kebijakan reforestasi haruslah menjadi kebijakan penting yang wajib untuk segera dilaksanakan. Kebijakan ekologis (eco-justice policy) harus menjadi sentrisme baru yang merekonstruksi pembangunan Negara berbasis kontekstual kehidupan masyarakat. Karena itu, tantangan pembangunan Indonesia ke depan bukan hanya pemerataan peningkatan hidup warga, melainkan kesadaran pengembalian keseimbangan ekosistem alam untuk kehidupan masyarakat terus menerus. Bila keseimbangan ekosistem alam terjaga maka kesejahteraan hidup masyarakat pastinya dapat terus terjaga.

***

*)Oleh: Haris Zaky Mubarak, MA, Sejarawan dan Direktur Jaringan Studi Indonesia.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.



Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

EKORAN

TERBARU

  • Dosen Unipma Usulkan Penyesuaian Kurikulum Pendidikan Kewirausahaan
    Dosen Unipma Usulkan Penyesuaian Kurikulum Pendidikan Kewirausahaan
    02/03/2021 - 17:07
  • Selain Surabaya, Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Tiga Wilayah Jatim
    Selain Surabaya, Densus 88 Tangkap Terduga Teroris di Tiga Wilayah Jatim
    02/03/2021 - 17:04
  • Kelulusan Masa Pandemi, Dispendik Gresik Minta Sekolah Buat Soal Ujian Berkualitas
    Kelulusan Masa Pandemi, Dispendik Gresik Minta Sekolah Buat Soal Ujian Berkualitas
    02/03/2021 - 17:01
  • [CEK FAKTA] Gebrakan Gibran di Kota Solo, Akan Bangun Disneyland
    [CEK FAKTA] Gebrakan Gibran di Kota Solo, Akan Bangun Disneyland
    02/03/2021 - 16:58
  • Kodiklat TNI AD Vaksinasi Covid-19 Secara Serentak
    Kodiklat TNI AD Vaksinasi Covid-19 Secara Serentak
    02/03/2021 - 16:55

TIMES TV

Menko Airlangga Hartarto: Patuhi 3M Saat Liburan Natal dan Tahun Baru

Menko Airlangga Hartarto: Patuhi 3M Saat Liburan Natal dan Tahun Baru

15/12/2020 - 15:25

Teaser Terbaru Wonder Women 1984 Makin Seru

Teaser Terbaru Wonder Women 1984 Makin Seru
Ayo Kunjungi Pameran Virtual Hari Bakti PU ke-75

Ayo Kunjungi Pameran Virtual Hari Bakti PU ke-75
Meluaskan Manfaat

Meluaskan Manfaat
Panglima TNI: Yang Mengganggu NKRI Berhadapan dengan TNI

Panglima TNI: Yang Mengganggu NKRI Berhadapan dengan TNI

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Ngopi Pagi: Hasud
    Ngopi Pagi: Hasud
    02/03/2021 - 07:02
  • Momentum (Me) Revisi UU ITE
    Momentum (Me) Revisi UU ITE
    02/03/2021 - 00:11
  • Berapakah Masa Jabatan Kepala Daerah?
    Berapakah Masa Jabatan Kepala Daerah?
    01/03/2021 - 23:14
  • Filsafat dalam Masyarakat
    Filsafat dalam Masyarakat
    01/03/2021 - 22:36
  • Tugas Utama Pendidikan
    Tugas Utama Pendidikan
    01/03/2021 - 21:27
  • Revisi UU ITE,  Revisi Rasa Keadilan yang Terkoyak
    Revisi UU ITE,  Revisi Rasa Keadilan yang Terkoyak
    01/03/2021 - 20:31
  • Ngopi Pagi: Manfaat
    Ngopi Pagi: Manfaat
    01/03/2021 - 07:00
  • Ngopi Pagi: Kontan
    Ngopi Pagi: Kontan
    28/02/2021 - 08:19

KULINER

  • Resep Oseng Daun Pepaya, Sajian Ndeso yang Menggugah Selera
    Resep Oseng Daun Pepaya, Sajian Ndeso yang Menggugah Selera
    02/03/2021 - 06:13
  • Empat Tips Hilangkan Rasa Pahit pada Daun Pepaya
    Empat Tips Hilangkan Rasa Pahit pada Daun Pepaya
    02/03/2021 - 02:31
  • Belut Sambal Sukarasa Ngawi, Rasanya Bikin Ketagihan
    Belut Sambal Sukarasa Ngawi, Rasanya Bikin Ketagihan
    01/03/2021 - 16:01
  • Kampung Mina Ijen Suites Resort and Convention Sajikan Olahan Menu Ikan Nusantara
    Kampung Mina Ijen Suites Resort and Convention Sajikan Olahan Menu Ikan Nusantara
    28/02/2021 - 14:54
  • Hadirkan Suasana Alam Pedesaan, De Pule Cafe & Resto Jadi Pilihan Wisata Kuliner di Madiun
    Hadirkan Suasana Alam Pedesaan, De Pule Cafe & Resto Jadi Pilihan Wisata Kuliner di Madiun
    28/02/2021 - 14:29
  • Kisah Pendaki Bertemu Marinir TNI Jalan Kaki 300 Kilometer di Argopuro
    Kisah Pendaki Bertemu Marinir TNI Jalan Kaki 300 Kilometer di Argopuro
    02/03/2021 - 07:14
  • Gara-gara Perut Buncit, TNI Tangkap Polisi Gadungan yang Suka Menilang
    Gara-gara Perut Buncit, TNI Tangkap Polisi Gadungan yang Suka Menilang
    02/03/2021 - 09:56
  • Keganasan Daud Yordan, Siksa Petinju Rusia hingga Bersimbah Darah
    Keganasan Daud Yordan, Siksa Petinju Rusia hingga Bersimbah Darah
    02/03/2021 - 01:21
  • Siap-siap, 3 Zodiak Ini Bakal Menderita Sepanjang Maret 2021
    Siap-siap, 3 Zodiak Ini Bakal Menderita Sepanjang Maret 2021
    02/03/2021 - 10:05
  • 4 Tahun Lalu Pengawal Botak Raja Salman Terjepit Wanita Cantik di DPR
    4 Tahun Lalu Pengawal Botak Raja Salman Terjepit Wanita Cantik di DPR
    02/03/2021 - 08:10