Kopi TIMES

74 Tahun HMI

Kamis, 04 Februari 2021 - 19:30 | 59.15k
74 Tahun HMI
Masril Karim, Ketua Umum HMI Cabang Manado Periode 2015-2016.
Editor: Faizal R Arief

TIMESINDONESIA, MANADO – Februari 1947 tahun terbentuknya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). 5 Februari 2021 HMI telah berusia 74 tahun. Jika pada manusia, usia itu sudah cukup tua, kekuatan pada tubuh mulai hilang, pikiran-pikiran segar tidak lagi muncul. Usia yang tidak begitu produktif untuk ukuran manusia, jika itu diandaikan pada HMI maka kemungkinan mirip seperti itu. 

Tapi jika HMI diumpamakan seperti kapal, maka mirip seperti kapal tua (bekas) yang tak layak lagi dioperasikan tetapi dipaksakan oleh tuanya, dan akibatnya adalah para penumpang akan berlarian keluar dan melompat ke dermaga dan meminta pertolongan karena kapal akan tenggelam, mirip kisah kapal di zaman Cicero yang dilukiskan oleh Robert Harris novel triloginya "Imperium", "Consprata" dan "Dictator". Para kader (penumpang) yang sementara menaikan kapal (HMI) pelan-pelan mulai melompat dari kapal karena merasa akan tenggelam. 

Dua analogi yang sederhana itu bukanlah akhir dari HMI jika kita tidak ingin nasib HMI seperti itu. Tetapi kondisi HMI memang mirip sepert itu. Itulah sebabnya penting bagi kita untuk mengambil peran menyelamtkan HMI.

Menyelamatkan HMI tidak hanya sekedar agenda tahunan seperti kongres, konferensi dan RAK (rapat anggota komisariat), tetapi menyelamtkan HMI harus dengan menumbuhkan ide dan pikiran yang serius dari para kader. Ide dan pikiran yang serius tidak hanya sekedar berakhir pada dialog dan seminar yang sifatnya seremoni belaka tidak memiliki keseriusan dan langkah kongkrit. Tema-tema yang diusung terkesan hanya sekedar gagah-gagahan tidak mengkonkritkan itu dengan langkah serius. Hal ini banyak dilakukan pada Pengurus Besar (PB) HMI hingga ke komisariat. 

Kita tentu ingat, bagaimana Cak Nur dengan gagasan pembaharuan Islamnya bisa membawa terobosan baru untuk corak pemikiran Islam Indonesia ketika itu. Cak Nur and the gang menyusun konsepnya dengan penuh keseriusan tidak hanya berhenti pada forum-forum dialog dan seminar tetapi menggerakan pikiran-pikiran itu dengan HMI dan akhirnya menjadi agenda bersama di dalam tubuh HMI. 

Kita memang kehilangan agenda besar dalam tubuh HMI, kita terlalu banyak bernostalgian pada masa lalu dan akhirnya lupa pada realitas hari ini. Jika berkaca pada realitas HMI hari ini, justeru terjebak pada agenda-agenda praktis kader HMI baik di puncak PB HMI hingga pada level Cabang dan bahkan Komisariat.

Penulis membayangkan ketika ramai-ramai para kader dengan bangganya masuk pada jajaran struktural PB HMI hingga Cabang dan Komisariat membawa ide dan pikiran-pikiran besar untuk membangun HMI ternyata "tidak", justeru hanya sekedar gagah-gagahan dan memikirkan hal praktis untuk bertahan hidup di Jakarta dan di daerah-daerah. Program-program yang diusulkan hanya bersifat praktis-jangka pendek yang kemungkinan ujungnya soal proposal bagi-bagi duit. Jika sudah begitu, apa yang perlu dibanggakan dengan HMI hari ini? 

Dualisme Yang Merusak HMI

Bukan HMI namanya jika tidak memunculkan dualisme, barangkali penggalan kalimat itu cocok untuk melihat dualisme HMI sekarang ini. Seakan-akan HMI memang melahirkan kader yang memikirkan tentang dualisme. Pada periode ini, memunculkan dualisme yang berulang kali, seperti mislanya duliasme antara Saddam Aljihad dan Arya Kharisma Hardy. Dan sekarang muncul lagi dulisme antara Arya dan Abdul Muis. Saya tidak tahu persis apa penyebab dualisme itu, yang jelas sampai hari ini kedua kubu saling mengkalim soal kebenaran aturan dalam HMI. 

Andai saja dua kepemimpinan dan mentor-mentornya memilih untuk meninggalkan egonya masing-masing dan duduk bersama-sama untuk memperbaiki HMI, barangkali tidak akan terjadi seperti ini. Sayang sekali kedua kepemimpinan dan mentor-mentornya lebih memilih merusak wajah HMI ketimbang menyelamatkan HMI. Yang satunya sedang mempersiapkan Kongres di Surabaya, yang satunya lagi sedang memikirkan langkah-langkah apa yang diambil dalam waktu dekat ketika kongres Surayabaya akan berjalan. 

Kader akhirnya bingung, kepada siapa kita harus berpihak. Akhirnya munculah dualisme pada cabang juga komisariat. Jika sudah begitu, kita mesti menyalahkan pada siapa? 

HMI akhirnya kehilangan arah, beragam masalah yang membutuhkan HMI untuk tampil justeru malah absen dan memilih diam. Sebut saja kasus HAM, perusakan lingkungan atas nama investasi/pertambangan, kasus penangkapan aktivis dan berbagai masalah yang terjadi akhir-akhir ini HMI malah memilih diam. Padahal HMI punya bidang pertambangan tetapi tidak pernah melakukan advokasi atas masalah pertambangan, begitu halnya dengan HAM dan lingkungan hidup yang tidak pernah secara serius HMI melakukan advokasi.

Pada masalah-masalah keumatan/kebangsaan HMI banyak absen dan tidak melibatkan diri secara organisatoris tetapi selau mengangkat tema-tema tentang keumatan yang pada akhirnya semua hanyalah omong kosong. 

Karena itu, kalian para kader yang serius melakukan pendampingan dan advokasi atas beragama masalah keumatan yang terjadi hari ini, jangan pernah berharap HMI secara organisatoris akan mendukung langkah itu. Yang terjadi justeru munculnya transaksional diantara elit PB HMI hingga pada level cabang dengan elit kekuasaan negara yang berfailisasi dengan para oligarki yang menjadi penyebab masalah keumuatan di negeri ini. 

HMI Yang Makin Tertinggal

Suda 74 tahun usia HMI. Itu artinya kurang lebih 26 tahun lagi HMI akan masuk pada usia 1 abad. Dalam menuju 1 abad HMI, beragam persoalan yang muncul dalam internal HMI mulai dari tertinggalnya tatakelola organisasi berbasis teknologi di abad 21 hingga pada menurunya tradisi intelektulitas kader HMI.

Banyak contoh beragam organisasi bisnis terpaksa harus gulung tikar karena tidak mampu menyusaikan dengan kebaruan zaman. Tentu, kita tidak ingin nasib HMI seperti itu, karena itu, kata kunci membangun HMI di era digital menuju 1 abad HMI adalah "inovasi". 

Inovasi adalah kunci untuk membangun HMI hari ini. Meski kaderisasi terus jalan, tanpa inovasi, HMI akan tertinggal, karena, produk-produk yang dihasilkan tidak memunculkan hal baru dan pada akhirnya tidak ada lagi yang menaruh minat. Seperti pada kasus Nokia dan Sonny Ericson yang terpaksa harus gulung tikar karena tidak memiliki inovasi baru dalam produk-produknya. 

HMI harus berani keluar dari pakem lamanya yang selama ini terjebak dengan aktivitas nostalgia masa lalu, perkaderan yang selalu mengandalkan cerita kebesaran masa lalu haruslah mulai ditinggalkan. Inovasi perkaderan amatlah begitu penting. Materi-materi perkaderan yang selama ini mengedepankan tradisi pemikiran abad 19 dan 20 sudah mestinya update pada tradisi pemikiran abad 21 tentu tanpa mengenyampingkan tradisi pemikiran lama. 

Itulah sebabnya, pada momentum 74 tahun HMI tidak cukup hanya dirayakan dengan acara-acara sermoni seperti biasanya. Harus berani mengevalusi secara total dan merombak kultur lama yang merusak wajah HMI yang menyebabkan HMI makin tertinggal, meminjam istilah Satya Nadella, HMI harus di hit refreshkan atau dalam bahasa Arif Satria HMI harus di re–install kembali dengan pendekatan dan model baru yang berbasis riset dan teknologi.

Tentunya pendekatan dan model baru harus selalu mengedepankan corak pemikiran baru. Hal itu bisa kita wujudkan kecuali kita siap dan mau memulai dengan kultur baru dan itu harus dimulai dari elit PB HMI hingga pada tingkatan komisariat, jika tidak, selamanya HMI akan menjadi organisasi yang hanya sebatas perkumpulan bukan lagi menjadi laboratorium intelektual mahasiswa Islam.

Padahal, HMI punya banyak kader yang memiliki banyak kemampuan, tetapi sayangnya keunggulan dan kemampuan para kader itu tidak didukung dengan baik dalam hal pengembangan diri dalam HMI, yang akhirnya menyebabkan empati para kader terhadap HMI pelan-pelan mulai hilang dan mencari tempat yang lain untuk belajar. 

Karena itu, pembaruan terhadap HMI wajib untuk kita lakukan agar bisa melahirkan kader yang istilah David Epstein pada bukunya "Range" generalis bukan kader yang hanya spesialis pada satu bidang. Kader generalis adalah mereka yang kreatif (inovasi) yang tidak hanya spesialis pada satu bidang tetapi mencoba pada banyak bidang bukan hanya berfokus memperdalam pada satu bidang pengetahuan tertentu. Epstein mengumpamakan itu dengan komputer. Ketika sejumlah pakar mengotak-ngotakkan keahlian sementara komputer memiliki kemampuan lebih banyak bila diopereasikan oleh orang-orang sangat fokus, orang yang berpikir secara luas serta merangkul keberagaman pengalaman dan perspektif akan semakin berkembang. 

***

*)Oleh: Masril Karim, Ketua Umum HMI Cabang Manado Periode 2015-2016.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.



Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

EKORAN

TERBARU

  • Datangi Kemenkum HAM, AHY Minta KLB Kubu Moeldoko Ditolak
    Datangi Kemenkum HAM, AHY Minta KLB Kubu Moeldoko Ditolak
    08/03/2021 - 12:16
  • Bangun Kebersamaan, TNI dan Warga 'Ngecor' Bareng
    Bangun Kebersamaan, TNI dan Warga 'Ngecor' Bareng
    08/03/2021 - 12:09
  • Sebanyak 13 Ribu Lebih Akta Kematian Warga Pangandaran Belum Dicetak
    Sebanyak 13 Ribu Lebih Akta Kematian Warga Pangandaran Belum Dicetak
    08/03/2021 - 12:01
  • Ramai-ramai Hijrah ke PKB Kabupaten Bandung
    Ramai-ramai Hijrah ke PKB Kabupaten Bandung
    08/03/2021 - 11:54
  • Pelatih Bali United Ungkap Alasan Menurunkan Tiga Pemain Timnas di Laga Uji Coba
    Pelatih Bali United Ungkap Alasan Menurunkan Tiga Pemain Timnas di Laga Uji Coba
    08/03/2021 - 11:47

TIMES TV

Menko Airlangga Hartarto: Patuhi 3M Saat Liburan Natal dan Tahun Baru

Menko Airlangga Hartarto: Patuhi 3M Saat Liburan Natal dan Tahun Baru

15/12/2020 - 15:25

Teaser Terbaru Wonder Women 1984 Makin Seru

Teaser Terbaru Wonder Women 1984 Makin Seru
Ayo Kunjungi Pameran Virtual Hari Bakti PU ke-75

Ayo Kunjungi Pameran Virtual Hari Bakti PU ke-75
Meluaskan Manfaat

Meluaskan Manfaat
Panglima TNI: Yang Mengganggu NKRI Berhadapan dengan TNI

Panglima TNI: Yang Mengganggu NKRI Berhadapan dengan TNI

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Perempuan Berdikari di Tengah Pandemi
    Perempuan Berdikari di Tengah Pandemi
    08/03/2021 - 07:48
  • Ngopi Pagi: Wabah
    Ngopi Pagi: Wabah
    08/03/2021 - 07:06
  • Fenomena Perbedaan Pendapat Dalam Islam
    Fenomena Perbedaan Pendapat Dalam Islam
    08/03/2021 - 02:20
  • Humor Retjeh Pendiri Bangsa di Banda Neira
    Humor Retjeh Pendiri Bangsa di Banda Neira
    08/03/2021 - 00:52
  • Blantik Bermartabat
    Blantik Bermartabat
    08/03/2021 - 00:15
  • Ngopi Pagi: Ujian
    Ngopi Pagi: Ujian
    07/03/2021 - 07:03
  • Peradaban Islam Rahmatan Lil Alamin
    Peradaban Islam Rahmatan Lil Alamin
    07/03/2021 - 02:18
  • Ketuhanan yang Maha Esa, Cinta, Makna dan Corona B117
    Ketuhanan yang Maha Esa, Cinta, Makna dan Corona B117
    06/03/2021 - 11:40

KULINER

  • Pedas Nikmat di Nasi Judes Yu Gembul Ponorogo
    Pedas Nikmat di Nasi Judes Yu Gembul Ponorogo
    08/03/2021 - 09:10
  • Black Melody Jadi Incaran Penikmat Kopi di Kota Tasikmalaya
    Black Melody Jadi Incaran Penikmat Kopi di Kota Tasikmalaya
    07/03/2021 - 01:34
  • Rawon Sup Terenak se-Asia Versi Taste Atlas
    Rawon Sup Terenak se-Asia Versi Taste Atlas
    06/03/2021 - 15:30
  • Sajikan Ragam Bakso, Udang dan Cumi Jadi Andalan Kedai A.Je Majalengka
    Sajikan Ragam Bakso, Udang dan Cumi Jadi Andalan Kedai A.Je Majalengka
    06/03/2021 - 15:00
  • Shokudo Resto Sajikan Fusion Sushi Nachos
    Shokudo Resto Sajikan Fusion Sushi Nachos
    06/03/2021 - 04:04
  • Max Sopacua Tak Bisa Jawab Peserta KLB, Andi Mallarangeng Tertawa Geli
    Max Sopacua Tak Bisa Jawab Peserta KLB, Andi Mallarangeng Tertawa Geli
    08/03/2021 - 00:04
  • Gila, Kisah Model Seksi Rela Jadi Pemuas Nafsu Mike Tyson 
    Gila, Kisah Model Seksi Rela Jadi Pemuas Nafsu Mike Tyson 
    08/03/2021 - 06:02
  • Promo Superindo 8 Maret 2021: Wow, Diskonnya hingga 50 Persen
    Promo Superindo 8 Maret 2021: Wow, Diskonnya hingga 50 Persen
    08/03/2021 - 04:31
  • Bawa-bawa Jokowi soal Kaesang, Ibunda Felicia Minta Maaf
    Bawa-bawa Jokowi soal Kaesang, Ibunda Felicia Minta Maaf
    08/03/2021 - 08:25
  • Profil & Fakta Nadya Arifta, Kekasih Baru Kaesang Pangarep?
    Profil & Fakta Nadya Arifta, Kekasih Baru Kaesang Pangarep?
    08/03/2021 - 08:53