Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Pembangkangan “Kelas Coro”

Minggu, 29 November 2020 - 06:00 | 19.93k
Pembangkangan “Kelas Coro”
Abdul Wahid, Dosen Ilmu Hukum dan Pascasarjana Universitas Islam Malang, serta penulis buku hukum dan agama. 
FOKUS

Universitas Islam Malang

Editor: Dhina Chahyanti

TIMESINDONESIA, MALANG – Kata Jurgen Habermas dalam Legitimation Crisis tatkala masyarakat menghadapi suatu krisis yang serius seperti sekarang akibat Indonesia sudah masuk di lumpur resesi seiring resiko pandemi Covid-19, maka sistem apapun menjdi tampak terbaca akan atau sedang kesulitan menghadapi atau menjawabnya, dan bahkan sistem terasa sulit mempertahankan eksistensinya sendiri. Dalam ranah inilah  sebagian dari kita tentu menunjukkan reaksi yang bermacam-macam.

Krisis yang terjadi itu juga diniscayakan akan atau sedang membuka kran berkecamuknya atau bersemainya berbagai bentuk penyimpangan norma-norma, yang salah satunya sebagai wujud pembangkang terhadap sistem.

Kita sudah  banyak punya sistem yang diandalkan untuk mengatur atau meregulasi perilaku masyarakat, mulai dari sistem hukum, politik, budaya, pendidikan,  hingga agama, tetapi sistem yang ada ini akan sulit diharapkan mampu menjawab krisis yang sedang membeli dan “menghegemoni” ini bilamana kita, khususnya kalangan elitisnya yang bernama pemimpin  tidak ada  atau kurang menunjukkan  kesungguhan atau kegigihan menegakkan jihad terhadap sistem yang kita percayai dan agungkan.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Selama ini saja, kita sudah merasakan tingkat kemandulan atau impotensi beberapa sistem tersebut akibat  miskinnya pemahaman terhadap nilai fitri dari sistem dan ketidakkonsistenan pelaku-pelaku sejarah yang seharusnya  memposisikan dirinya sebagai, meminjam istilah penyair kenamaan A. Syauqy Beq “arsitek masyarakat berkeringat harum”.

Kita telah diakrabkan atau diberi tontonan dengan suatu potret bangunan masyarakat yang kehilangan “keringat harumnya” gara-gara sepak terjang sebagian kasta strategis, dalam hal ini komunitas elitnya yang terbuai dan terjerumus berburu dan menikmati keuntungan dan kelezatan berbingkai hedonisme yang diberikan dan dialirkan oleh broker-broker yang pandai memanfaatkan atau menyiasai kemapanan sistem.

Kita akhirnya menjadi manusia-manusia yang gagal mengasah dan menajamkan kebeningan nurani, karena kita sibuk melabuhkan diri dalam wilayah petualangan yang serba  materialistik, hedonistik, dan eksklusif, sehingga kita tidak sampai atau belum sempat menolehkan mata kita dalam realitas sosial yang semakin sarat penyakit dan anomali.

Jagad sosial yang semakin dimarakkan oleh perbuatan berklas patologis seperti perjudian dan pelacuran  serta maling “kelas coro”, yang nota bene sebagai bentuk  pembangkangan “kelas corp” misalnya menjadi jagad asing, yang kita alinasikan dari komitmen humanitas kita.

Kita terjebak dalam asumsi yang skeptis, yang membenarkan suatu polaritas, vis-à-vis antara dunia putih dan “jagad abu-abu”, yang justru menyeret kita masuk dalam lobang-lobang dan klas-klas tersendiri, seperti klas ningrat atau mapan dengan klas pinggiran, seperti kaum miskin, penganggur, dan kumpulan orang-orang yang tergusur.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Pemimpin terhadap yang dipimpin itu laksana orang tua yang menyayangi dan melindungi anaknya sendiri”  (Plato). Pernyataan filosof ini merupakan nasehat bagi setiap penguasa supaya cerdas dan berintegritas dalam menjalankan amanat kepemimpinannya.  Bagaimana dengan para pemimpin negeri ini? Sudahkah mereka menunjukkan kinerja yang berbasis “pemanusiaan” rakyat?

Pertanyaan itu mengisyaratkan kalua pemimpin kita belum menjadi orang tua dan pengemban amanat yang baik. Mereka belum bekerja maksimal dalam menyayangi dan melindungi rakyat. Kalau mereka memang benar sungguh-sungguh mengadvokasi atau mehumanisasi rakyat, tentulah kegundahan masyarakat atau minimal yang diledek dalam strata “kelas coro” tidak akan sampai meledak jadi “kelompok upahan”, rentan terseret melakukan pelanggaran hukum, atau jadi kelompok sosial yang mudah berseberangan dengan kepentingan negara.

Dalam ranah itu, idealitasnya sebagai pemimpin bangsa dari strata apapun wajib membacanya dengan bahasa yang jernih, bahwa “kelas coro” sedang memanggilnya untuk mengevaluasi kinerja sejati kerakyatan atau kebangsaanya, dan bukannya tergesa-gesa memberikan label “kelas coro” sebagai kelompok anti negara.

Jika benar-benar mau jujur (semoga saya salah), adalah terbaca kalau  tak sedikit pemimpin di negeri ini yang terperosok dalam keasyikan atau eforia menikmati ragam pola hidup, relasi sosial-struktural, rajutan pertarungan politik, keserakahan ekonomi dan bangunan kultural dan struktural eksklusif yang lebih memihak kepongahan, keserakahan, ketamakan dan bahkan ”penyunatan” amanah secara sistemik, sementara tanggungjawab humanistiknya dalam menjaga persaudaraan kerakyatan (ukhuwah istirakiyah) dan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah) diabaikannya.

Komunitas pemimpin itu merasa bangga bisa memerangkapkan dirinya dalam akrobat kemunafikan dan formalisme keagamaan, serta menghabiskan waktunya lebih banyak untuk urusan kepentingan diri, keluarga, dan kelompok eksklusifitasnya, sementara kepentingan humanitas-religiusitas seperti keberagamaan dalam keberagamaan kurang mendapat perhatian serius.

Pemimpin negeri yang sedang ”terlena” itu merupakan deskripsi komunitas elitis yang gagal menerjemahkan dan menyejarahkan peran-peran positip dan fundamental progresip yang mendisain wilayah kehidupan masyarakat negeri ini sebagai arena amanat progresif menuju pembaruan, pemberdayaan,  dan pencerahan masyarakat.

Mereka itu memang menempati posisi masih sebagai elit bergaji besar, namun masih ”miskin” kinerja humanis-nasionalistik akibat dikalahkan atau dikerangkeng oleh kepentngan hedonisme strukturalnya. Mereka seolah tidak paham bahwa golongan ”kelas coro” senyatanya terbaca dan mudah ditemukan dimana-mana.

Kita yang berstrata komunitas pintar atau intelek, barangkali asyik masuk dalam jebakan euforia perdebatan atau diskusi yang seolah sangat senang kalau tidak sampai titik nadir, padahal dalam wajah riil sangat memprihatinkan, faktanya ”kelas coro”  benar-benar terpuruk dalam kesulitanya.

Akibat kesulitan yang luar biasa (exstra ordinary), terdapat kelompok sosial, yang ketika diajak iuran berjamaah sebesar Rp.20.000 untuk solidaritas korban Covid-19, dengan berang menolaknya. Mereka yang menolak ini berdalih, uang darimana lagi, apalagi dirinya juga memosisikan sebagai korban pandemi.

Sebagian kaum elitis itu belum menunjukkan bakti kesejatiannya atau masih krisi nasinalisme. Mereka ini masih terpesona dan terpedaya oleh magnit kepentingan (kesenangan) keduniaan, hedonisasi kekuasaan dan kekayaan. Mereka bangga bisa diperbudak nafsu, dihegemoni ambisi, menjual integritas moral, menggadaikan keimanan dan mengomoditaskan komitmen kerakyatan dan kebangsaannya.

Mereka itu terbaca tidak atau belum serius menangani problem seperti disparitas sosial dan ekonomi serta friksi ringan keragamaan dalam keberagamaan. Mereka harus menyadarkan dirinya, bahwa bangsa ini sedang menantang kapabilitasnya sebagai kekuatan fundamental yang bisa menjadi pembebas, dan bukan malah tergelincir dalam penahbisan kelompok dan egoisme sektoral. ***

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Abdul Wahid, Dosen Ilmu Hukum dan Pascasarjana Universitas Islam Malang, serta penulis buku hukum dan agama. 

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id



Publisher : Rochmat Shobirin

EKORAN

TERBARU

  • Hindari Jenis Makanan Ini Agar Cepat Sembuh dari Covid-19
    Hindari Jenis Makanan Ini Agar Cepat Sembuh dari Covid-19
    23/01/2021 - 09:03
  • Hendy Siswanto, Anak Kampung yang Dipercaya Jadi Bupati Jember
    Hendy Siswanto, Anak Kampung yang Dipercaya Jadi Bupati Jember
    23/01/2021 - 08:40
  • 5 Cara Mudah Kontrol Nafsu Makan Berlebih
    5 Cara Mudah Kontrol Nafsu Makan Berlebih
    23/01/2021 - 08:30
  • Kementerian PUPR RI Targetkan Bantuan Subsidi Perumahan TA 2021 Sebanyak 380.376 Unit
    Kementerian PUPR RI Targetkan Bantuan Subsidi Perumahan TA 2021 Sebanyak 380.376 Unit
    23/01/2021 - 08:07
  • Cegah Pencemaran Danau Toba, Kementerian PUPR RI Bangun IPAL Parapat Senilai 59,42 Miliar
    Cegah Pencemaran Danau Toba, Kementerian PUPR RI Bangun IPAL Parapat Senilai 59,42 Miliar
    23/01/2021 - 07:43
  • Destinasi Wisata Lobang Timah di Ciamis Butuh Sentuhan Profesional
    Destinasi Wisata Lobang Timah di Ciamis Butuh Sentuhan Profesional
    23/01/2021 - 07:23
  • Temui Uskup Agung Jakarta, Menag RI Gus Yaqut Bicarakan  Penguatan Moderasi Beragama
    Temui Uskup Agung Jakarta, Menag RI Gus Yaqut Bicarakan Penguatan Moderasi Beragama
    23/01/2021 - 07:00
  • Minyak Zaitun dapat Atasi Rambut Rontok, Yuk Bikin Formulanya
    Minyak Zaitun dapat Atasi Rambut Rontok, Yuk Bikin Formulanya
    23/01/2021 - 06:16
  • Sup Tomat ala Italia, Pas untuk Sarapan di Musim Hujan
    Sup Tomat ala Italia, Pas untuk Sarapan di Musim Hujan
    23/01/2021 - 05:27
  • Kaya Antioksidan, Wortel Mampu Tingkatkan Kesuburan Pria
    Kaya Antioksidan, Wortel Mampu Tingkatkan Kesuburan Pria
    23/01/2021 - 04:30

TIMES TV

Menko Airlangga Hartarto: Patuhi 3M Saat Liburan Natal dan Tahun Baru

Menko Airlangga Hartarto: Patuhi 3M Saat Liburan Natal dan Tahun Baru

15/12/2020 - 15:25

Teaser Terbaru Wonder Women 1984 Makin Seru

Teaser Terbaru Wonder Women 1984 Makin Seru
Ayo Kunjungi Pameran Virtual Hari Bakti PU ke-75

Ayo Kunjungi Pameran Virtual Hari Bakti PU ke-75
Meluaskan Manfaat

Meluaskan Manfaat
Panglima TNI: Yang Mengganggu NKRI Berhadapan dengan TNI

Panglima TNI: Yang Mengganggu NKRI Berhadapan dengan TNI

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Wakil Presiden RI Paparkan Transformasi Wakaf Indonesia Produktif
    Wakil Presiden RI Paparkan Transformasi Wakaf Indonesia Produktif
    22/01/2021 - 12:05
  • Vaksin Sinovac: Untuk Indonesia sehat
    Vaksin Sinovac: Untuk Indonesia sehat
    21/01/2021 - 20:32
  • Perlunya Pelayanan Publik Digital Di Masa Pandemi Covid-19
    Perlunya Pelayanan Publik Digital Di Masa Pandemi Covid-19
    21/01/2021 - 19:30
  • Kuasa Kekerabatan dalam Pilkada 2020
    Kuasa Kekerabatan dalam Pilkada 2020
    21/01/2021 - 17:24
  • Bocornya di Atap, Mereka Sibuk Membersihkan Lantai
    Bocornya di Atap, Mereka Sibuk Membersihkan Lantai
    21/01/2021 - 13:34
  • Pendidikan Era Paradigma Baru
    Pendidikan Era Paradigma Baru
    21/01/2021 - 13:20
  • Berbuat Baiklah dan Tidak Merusak
    Berbuat Baiklah dan Tidak Merusak
    21/01/2021 - 02:30
  • Selamatkan Usia Produktif
    Selamatkan Usia Produktif
    20/01/2021 - 21:34

KULINER

  • Sup Tomat ala Italia, Pas untuk Sarapan di Musim Hujan
    Sup Tomat ala Italia, Pas untuk Sarapan di Musim Hujan
    23/01/2021 - 05:27
  • Hati-Hati 5 Jenis Makanan ini Bisa Turunkan Imun
    Hati-Hati 5 Jenis Makanan ini Bisa Turunkan Imun
    23/01/2021 - 01:20
  • Donat Alanuts Hotel Alana Angkat Kearifan Lokal
    Donat Alanuts Hotel Alana Angkat Kearifan Lokal
    22/01/2021 - 23:25
  • Nasi Padang Rempah Hotel Aston Sidoarjo, Cocok Bantu Jaga Imunitas Tubuh di Musim Hujan
    Nasi Padang Rempah Hotel Aston Sidoarjo, Cocok Bantu Jaga Imunitas Tubuh di Musim Hujan
    22/01/2021 - 17:03
  • Berawal dari Acara Pramuka, Kacang Telur Brawijaya jadi Legenda
    Berawal dari Acara Pramuka, Kacang Telur Brawijaya jadi Legenda
    22/01/2021 - 10:45
  • Gugur Ditembak OPM Usai Salat, Pratu Roy Ternyata Pasukan UNIFIL PBB
    Gugur Ditembak OPM Usai Salat, Pratu Roy Ternyata Pasukan UNIFIL PBB
    23/01/2021 - 07:10
  • Alasan Mohammad Ahsan Hijrah dan Kerap Tampil Islami
    Alasan Mohammad Ahsan Hijrah dan Kerap Tampil Islami
    23/01/2021 - 05:06
  • Skandal Olahraga, Kevin-Prince Boateng Hiperseks Sampai Sering Cedera
    Skandal Olahraga, Kevin-Prince Boateng Hiperseks Sampai Sering Cedera
    23/01/2021 - 00:02
  • Neraka Dunia Buatan Mike Tyson untuk Korban Kecanduan Seksnya
    Neraka Dunia Buatan Mike Tyson untuk Korban Kecanduan Seksnya
    23/01/2021 - 00:00
  • Nagita Slavina Melongo Ditanya: Pernah Gak Makan Sarden Bansos?
    Nagita Slavina Melongo Ditanya: Pernah Gak Makan Sarden Bansos?
    23/01/2021 - 06:38