Kopi TIMES

Perubahan Kebijakan Terkait Guru Harus Sistemik

Kamis, 26 November 2020 - 10:00 | 57.51k
Perubahan Kebijakan Terkait Guru Harus Sistemik
Hetifah Sjaifudian bersama guru. (Foto: Hetifah For TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BONTANG – Hari Guru tahun 2020 ini diawali dengan sejumlah berita baik dari beberapa kebijakan pemerintah yang pro- guru. Diantaranya adalah kebijakan pemberian kuota bagi guru untuk keberjalanan PJJ, pemberian bantuan subsidi upah bagi guru honorer, serta pengumuman pembukaan seleksi guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian kontrak (PPPK) di tahun 2021 yang memprioritaskan guru honorer. Hal-hal tersebut tentu merupakan berita baik bagi kita, dan diharapkan dapat menjadi awal dari rentetan kebijakan yang berpihak pada guru.

Permasalahan terkait guru di Indonesia adalah sebuah wicked problem, yang tidak hanya kompleks dan penuh dengan komplikasi, namun juga sulit untuk ditentukan dimana awal, tengah, dan ujung permasalahannya. Berbeda dengan tame problem, dimana masalah bisa ditemukan, dicarikan solusinya berdasarkan ilmu pengatahuan, lalu masalah tersebut selesai. Perlu proses iteratif untuk menyelesaikan wicked problem ini, dan perubahan harus terjadi secara sistemik, bukan dengan mindset kuratif.

Transformasi manajemen guru merupakan kunci utama reformasi dunia pendidikan, lebih dari infrastruktur, teknologi, dan hal-hal lainnya. Aset terbesar kita adalah sumber daya manusia. Guru yang baik, ditempatkan dimanapun, akan mampu berinovasi dan berkreasi meski dengan berbagai keterbatasan. Sebaliknya, sebesar apapun biaya yang kita keluarkan untuk infrastruktur dan teknologi, tidak akan berdampak besar bagi pembelajaran jika tidak berada di tangan yang tepat. Oleh karena itu, dalam upaya kita membenahi dunia pendidikan di Indonesia, pantaslah jika segala energi, waktu, dan sumber daya kita kerahkan dengan porsi yang signifikan bagi guru-guru kita.

Isu yang sedang hangat dibicarakan di momentum Hari Guru ini adalah kebijakan pemerintah merekrut PPPK di tahun 2021 dan seterusnya. Rencananya, ditargetkan tak kurang dari 1 juta guru dapat menjadi PPPK melalui skema ini. Hanya guru honorer baik di negeri maupun swasta, serta lulusan PPG yang dapat mengikuti seleksi tersebut. Hal ini merupakan berita yang sangat baik,mengingat dengan terdaftar menjadi PPPK, guru mendapatkan kepastian terkait status, gaji, dan tunjangan, sesuatu yang bertahun-tahun tidak dimiliki sebagian besar guru honorer kita.

Terlebih, pemerintah pusat sudah menjamin anggaran tersebut, sehingga daerah tidak perlu khawatir akan membebani APBDnya. Ini merupakan bentuk komitmen bersama bagi peningkatan kesejahteraan guru-guru kita.

Namun demikian, terdapat beberapa catatan yang saya miliki terkait program tersebut. Pertama, menurut hemat saya, hendaklah seleksi tersebut tidak hanya berdasarkan pada tes kompetensi yang akan dilakukan, namun juga mempertimbangkan pengabdian yang telah dilakukan. Misalnya, menjadikan pengalaman mengajar sebagai salah satu instrumen penilaian, dengan memberikan bobot lebih bagi mereka yang telah mengajar lebih lama. Hal ini akan menyeimbangkan aspek kompetensi dengan pengalaman, dan memberikan reward bagi mereka yang telah mengabdi lebih lama, tentu tanpa mengorbankan standar kompetensi yang harus dimiliki.

Untuk itu, pendataan haruslah akurat. Dalam Dapodik, perlu juga disertakan lama mengajar seorang guru honorer. Buka data tersebut secara publik, agar masyarakat terutama sesama guru dapat saling mengawasi apabila ada data yang kurang akurat. Hal ini mengurangi praktik- praktik kurang terpuji, seperti adanya fenomena guru honorer bodong atau titipan. Kita harus pastikan bahwa yang mendapatkan kesempatan tersebut adalah mereka yang berhak, mereka yang telah mengabdikan hidupnya untuk mendidik anak-anak bangsa.

Selain itu, Kemendikbud juga harus menerapkan kriteria yang jelas terkait pengajuan guru oleh daerah. Bagaimana mendefinisikan kekurangan guru? Apakah yang dimaksud adalah kekurangan guru PNS? Bagaimana dengan swasta? Terdapat data-data yang menunjukkan bahwa sebenarnya secara rasio guru dan murid, jumlah guru kita secara nasional tidaklah kurang, namun masalah terletak pada distribusi yang tidak merata.

Hal-hal ini harus diperjelas, baik dari sisi jumlah maupun lokasi penempatan. Jangan sampai pemerintah daerah mengajukan sebanyak-banyaknya, namun tidak disertai justifikasi yang jelas. Jika ini terjadi, anggaran yang begitu besar dari pemerintah pusat tidak akan teralokasikan dengan efektif dan efisien.

Program PPPK tersebut merupakan kebijakan yang baik untuk menangani permasalahan guru honorer dan kebutuhan guru yang mendesak saat ini. Namun demikian, perlu solusi lain yang bersifat sistemik untuk jangka panjang, yang memastikan rekrutmen guru berlangsung secara adil, meritrokratik, serta mengedepankan kesejahteraan guru. Selain dalam rekrutmen, perlu juga ada cetak biru manajemen guru kedepannya, yang mencakup sertifikasi dan pelatihan yang efektif, program-program pengembangan keprofesian, serta jenjang karier yang jelas. Hal ini harus tercantum dala Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2035 yang sedang dibahas bersama dengan Komisi X DPR RI.

Kami harap, kedepannya, putra-putri terbaik bangsa tidak ada yang ragu untuk mendaftar sebagai guru. Sejatinya, pekerjaan menjadi guru adalah salah satu pekerjaan tersulit, karena berkaitan dengan bagaimana membangun manusia. Oleh karena itu, pekerjaan ini harus diisi dengan orang-orang terbaik, dengan semangat pengabdian yang tinggi, dan tentunya diimbangi dengan kesejahteraan yang memadai. Kami di Komisi X akan terus mendorong kebijakan-kebijakan terkait guru kedepannya agar visi tersebut dapat tercapai.

Selamat Hari Guru, semoga semangat pengabdian Bapak/Ibu selama ini dapat berbuah manis bagi kemajuan bangsa Indonesia. (*)

***

Oleh : Hetifah Sjaifudian
Penulis merupakan anggota DPR RI Daerah Pemilihan Kalimantan Timur. 
Saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi X DPR RI. Yang juga membidangi Pendidikan.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.



Publisher : Rizal Dani

EKORAN

TERBARU

  • Sang Putu Eka Pertama Terpilih sebagai Ketua Manca Agung Kabupaten Gianyar
    Sang Putu Eka Pertama Terpilih sebagai Ketua Manca Agung Kabupaten Gianyar
    20/01/2021 - 10:34
  • Kapten Persija Jadikan Kritikan Jakmania Sebagai Penyemangat
    Kapten Persija Jadikan Kritikan Jakmania Sebagai Penyemangat
    20/01/2021 - 10:27
  • Korban Tanah Longsor Akhirnya Ditemukan di Bendungan Sengguruh Kepanjen
    Korban Tanah Longsor Akhirnya Ditemukan di Bendungan Sengguruh Kepanjen
    20/01/2021 - 10:13
  • Persib Bandung Tetap Genjot Skill Pemain Putri
    Persib Bandung Tetap Genjot Skill Pemain Putri
    20/01/2021 - 10:06
  • Dijadwalkan Tampil di Konferensi Internasional Vatikan, Katib Aam PBNU: Dialog Antaragama Harus Jujur
    Dijadwalkan Tampil di Konferensi Internasional Vatikan, Katib Aam PBNU: Dialog Antaragama Harus Jujur
    20/01/2021 - 09:53
  • Kemenparekraf RI-Kemendes PDTT Sinergikan Wujudkan Desa Wisata 
    Kemenparekraf RI-Kemendes PDTT Sinergikan Wujudkan Desa Wisata 
    20/01/2021 - 09:48
  • Presiden RI Jokowi Instruksikan Perbaikan Rumah dan Bangunan Terdampak Gempa Sulbar
    Presiden RI Jokowi Instruksikan Perbaikan Rumah dan Bangunan Terdampak Gempa Sulbar
    20/01/2021 - 09:36
  • Hari ini Pelantikan Joe Biden, 25 Ribu Pasukan Garda Nasional Disiagakan
    Hari ini Pelantikan Joe Biden, 25 Ribu Pasukan Garda Nasional Disiagakan
    20/01/2021 - 09:30
  • Permalukan Chelsea, Leicester City Puncaki Klasemen Liga Inggris
    Permalukan Chelsea, Leicester City Puncaki Klasemen Liga Inggris
    20/01/2021 - 09:24
  • Longing for Korean Noodle? You could Have it at Waroeng Dolan Cirebon
    Longing for Korean Noodle? You could Have it at Waroeng Dolan Cirebon
    20/01/2021 - 09:12

TIMES TV

Menko Airlangga Hartarto: Patuhi 3M Saat Liburan Natal dan Tahun Baru

Menko Airlangga Hartarto: Patuhi 3M Saat Liburan Natal dan Tahun Baru

15/12/2020 - 15:25

Teaser Terbaru Wonder Women 1984 Makin Seru

Teaser Terbaru Wonder Women 1984 Makin Seru
Ayo Kunjungi Pameran Virtual Hari Bakti PU ke-75

Ayo Kunjungi Pameran Virtual Hari Bakti PU ke-75
Meluaskan Manfaat

Meluaskan Manfaat
Panglima TNI: Yang Mengganggu NKRI Berhadapan dengan TNI

Panglima TNI: Yang Mengganggu NKRI Berhadapan dengan TNI

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Jokowi, Vaksin Sinovac, dan Legitimasi MUI
    Jokowi, Vaksin Sinovac, dan Legitimasi MUI
    19/01/2021 - 09:39
  • Musibah Demi Musibah
    Musibah Demi Musibah
    19/01/2021 - 00:50
  • Optimisme Gresik Baru
    Optimisme Gresik Baru
    18/01/2021 - 23:04
  • Gotong Royong Milenial, Kearifan Lokal Menyokong Penanganan Covid-19
    Gotong Royong Milenial, Kearifan Lokal Menyokong Penanganan Covid-19
    18/01/2021 - 22:41
  • Tahun Pengharapan 2021: Indonesia Bangkit Melalui Ekonomi Kreatif
    Tahun Pengharapan 2021: Indonesia Bangkit Melalui Ekonomi Kreatif
    18/01/2021 - 21:00
  • Pendidikan untuk Lanjut Usia
    Pendidikan untuk Lanjut Usia
    18/01/2021 - 20:24
  • Orang Pintar yang Dipelihara oleh Orang Awam
    Orang Pintar yang Dipelihara oleh Orang Awam
    18/01/2021 - 16:35
  • Mewujudkan Instansi yang Bersih
    Mewujudkan Instansi yang Bersih
    18/01/2021 - 14:15

KULINER

  • Begini Cara Mudah Bikin Ayam Geprek
    Begini Cara Mudah Bikin Ayam Geprek
    20/01/2021 - 05:48
  • Asal Nama Jajanan Khas Indonesia ini Ternyata Berasal dari Singkatan Kata
    Asal Nama Jajanan Khas Indonesia ini Ternyata Berasal dari Singkatan Kata
    20/01/2021 - 01:04
  • Nikmati Sensasi Makan Siang di Tengah Taman Bunga di Jombang
    Nikmati Sensasi Makan Siang di Tengah Taman Bunga di Jombang
    19/01/2021 - 07:03
  • Malas Sarapan Nasi Bubur Sumsum jadi Solusi, Ini Resepnya
    Malas Sarapan Nasi Bubur Sumsum jadi Solusi, Ini Resepnya
    19/01/2021 - 05:24
  • Filosofi Bubur Sumsum yang Manis dan Lembut di Mulut
    Filosofi Bubur Sumsum yang Manis dan Lembut di Mulut
    19/01/2021 - 04:37
  • Hubungan Suami Istri yang Dilarang Islam Hingga Bercinta Tanpa Busana
    Hubungan Suami Istri yang Dilarang Islam Hingga Bercinta Tanpa Busana
    20/01/2021 - 05:02
  • Buya Yahya Jawab Hukum Tentang Memperbesar Alat Kelamin Pria
    Buya Yahya Jawab Hukum Tentang Memperbesar Alat Kelamin Pria
    20/01/2021 - 05:41
  • Seragam Basah Ajudan Jokowi, Pengusaha Borong 7 Ton Emas Antam
    Seragam Basah Ajudan Jokowi, Pengusaha Borong 7 Ton Emas Antam
    20/01/2021 - 05:30
  • Ssstt.. Ada 2 Jenderal Kopassus di Rumah Orang Kepercayaan Jokowi
    Ssstt.. Ada 2 Jenderal Kopassus di Rumah Orang Kepercayaan Jokowi
    20/01/2021 - 00:23
  • Sultan HB X Pecat 2 Adiknya dari Jabatan di Keraton Yogyakarta
    Sultan HB X Pecat 2 Adiknya dari Jabatan di Keraton Yogyakarta
    20/01/2021 - 03:58