Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Dekonstruksi Kelemahan Fundamental

Sabtu, 07 November 2020 - 12:52 | 51.08k
Dekonstruksi Kelemahan Fundamental
Moh. Muhibbin, Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Islam Malang (UNISMA).
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – “Sejarah itu guru yang berharga”, demikian adagium yang sering kita dengar tentang makna belajar sejarah. Seperti dari ratusan tahun kita dijajah bangsa asing, idealitasnya dapat atau  telah membuat kita melek terhadap sekurang-kurangnya keberadaan penyakit dalam diri bangsa ini.

Ratusan tahun dijajah bangsa asing mestinya kita cerdas, bahwa dalam diri kita tentulah banyak mengidap penyakit mental, yang membuat kita gampang dijadikan bulan-bulanan atau dikorbankan oleh bangsa atau kekuatan asing. Kelemahan dalam diri sendiri merupakan sumber utama yang membuat kita gagal jadi “bangsa yang gagah” di tengah percaturan dunia.

Itu mestinya menunjukkan, bahwa pengalaman sejarah sudah mengajarkan kepada kita, bahwa akibat kebodohan yang mengidap masyarakat atau bangsa, tangan-tangan penjajah mencengkeram dan menindas negeri ini hingga ber-abad-abad. Kesalahan berabad-abad mengindikasikan seriusnya  kelemahan yang menjangkitinya.

Kalau andaikan masyarakat atau bangsa ini menempati status sebagai masyarakat terpelajar atau terdidik, tentulah tidak akan sampai menjadi korban penjajahan demikian parah, atau minimal kita bisa menjadi bangsa yang bukan hanya siap bertarung, melainkan juga menjadi bangsa yang berani mengajak banghsa lain “bertarung” dalam ranah positip progresifitas.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kalau begitu, yang patut dikedepankan sebagai akar kesalahan yang membuat bangsa ini takluk dan dibuat tidak berdaya oleh bangsa lain adalah kebodohan. Akibat kebodohan ini, bangsa lain bisa menipu, berbuat curang, atau mengadu-domba kita, sehingga kita menjadi kumpulan manusia-manusia yang tidak berdaya, digolongkan menjadi bangsa kuli, atau terpuruk dalam keprihatinan kemanusiaan.

Kekuatan asing juga tidak akan demikian mudah menjerumuskan kita dalam keterjajahan berlarut-larut jika mereka tidak mengetahui dengan benar kelemahan yang melekat dalam tubuh bangsa ini. Justru karena mereka paham dengan benar kelemahan kita, maka mereka berhasil menancapkan akar hegemoninya secara merajalela. Disinilah yang dimaksudkan kelemahan kita adalah sumber bagi kecerdasan bangsa lain untuk “mempermainkan” kita.

Kelemahan yang membuat kita terjajah adalah kebodohan. Terbukti, kekuatan asing yang pernah menjajah negeri ini, selalu berusaha mengkondisikan lahirnya dan maraknya tantangan atau hambatan berat yang menghambat langkah-langkah kaki dan tekad bangsa ini dalam menciptakan budaya belajar. Mereka tidak ingin bangsa ini pintar dan bebas dari kebodohan, karena jika bangsa ini pintar atau “merdeka” dari kebodohan, maka mereka akan mudah menggalang perlawanan atau sulit  dijadikan obyek yang terus menerus dibodohi.

Apa yang disampaikan oleh cendekiawan Ali Bin Abi Thalib bahwa “siapapun yang pernah mengajari aku suatu ilmu (satu huruf), maka dialah guruku sepanjang hidupku”, adalah layak dijadikan sebagai refleksi kita bersama, bahwa gerakan pembebasan kebodohan harus benar-benar dihidupkan dan diberdayakan di sepanjang waktu, di setiap gerak nafas, setiap pergeseran  zaman, dan perjalanan sejarah kehidupan manusia.

Pernyataan itu merupakan tantangan kepada setiap manusia supaya tidak membiarkan dirinya terjerat dalam penyakit kebodohan. Penyakit ini tidak boleh dipelihara dan apalagi dibudayakannya, karena jika penyakit ini masih saja dipertahankan, maka bangsa ini bukan hanya akan sulit memperoleh kemajuan dan pencerahan, tetapi juga akan menjadi manusia dan bangsa yang gampang dijadikan korban.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Belajar dari pengalaman bersejarah sebagai “bangsa terjajah” ratusan tahun seharusnya menyadarkan kita atau setiap elemen bangsa ini supaya  menyalakan obor semangat dan mentalitas untuk membebaskan diri dari penyakit kebodohan. Penyakit ini memang layak ditempatkan sebagai “musuh utama”, karena dari kebodohan inilah berbagai bentuk penyakit lain yang membuat bangsa ini tidak berdaya akan rawan tumbuh subur. Gerakan masyarakat pembelajar sudah mendesak dilakukan setiap elemen bangsa ini untuk mengeliminasi penyakit kebodohan, yang salah satunya bersumber primer dari produk norma yuridis, yang memberi “ruang” toleransi dehumanisasi. Produk norma yuridis bisa disebut sebagai salah satu pemberi yang terbaik dalam kehidupan bangsa, namun juga sebaliknya bisa memberikan kondisi atau persoalan yang serius padanya.

Logis jika rakyat berharap besar pada lahirnya atau terbentuknya norma yuridis yang memahami dan mengadopsi kepentingan fundamentalnya. Ketika kepentingan ini tidak diakomodasi oleh para pembentuk peraturan perundang-undangan, maka yang harus didekonstruksinya adalah norma yuridisnya, bukan rakyatnya yang disuruh beradaptasi atau belajar memahami dan menyikapi pembaruan.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Moh. Muhibbin, Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Islam Malang (UNISMA).



Publisher : Rochmat Shobirin

EKORAN

TERBARU

  • Gubernur Anies Minta Warga Kampung Tanah Merah Selalu Jaga Lingkungan
    Gubernur Anies Minta Warga Kampung Tanah Merah Selalu Jaga Lingkungan
    16/10/2021 - 17:06
  • HUT Kota Batu, Momen Kebangkitan dari Pandemi Covid-19
    HUT Kota Batu, Momen Kebangkitan dari Pandemi Covid-19
    16/10/2021 - 17:00
  • Majalengka Targetkan Vaksinasi 16 Ribu Dosis Per Hari
    Majalengka Targetkan Vaksinasi 16 Ribu Dosis Per Hari
    16/10/2021 - 16:53
  • Menparekraf Sandiaga Uno Terpukau Keindahan Goa Kedungrombang di Desa Wisata Serang
    Menparekraf Sandiaga Uno Terpukau Keindahan Goa Kedungrombang di Desa Wisata Serang
    16/10/2021 - 16:49
  • Rumah Moderasi Beragama UIN KHAS Jember Gandeng Ormawa sebagai Duta Moderasi Beragama
    Rumah Moderasi Beragama UIN KHAS Jember Gandeng Ormawa sebagai Duta Moderasi Beragama
    16/10/2021 - 16:46

TIMES TV

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

Rektor UIN Maliki: Genjot Kualitas SDM menuju Smart Islamic University

01/04/2021 - 15:58

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi

Rektor UNU: Merdeka Belajar di Tengah Pandemi
Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo

Tangis Haru Warnai Penganugerahan Doktor Kehormatan Doni Monardo
Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan

Peresmian SPAM Umbulan di Kabupaten Pasuruan
The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

The Voice of Peace Official Video by Maria Stefanie

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Masa Sulit Kok Daftar Haji?
    Masa Sulit Kok Daftar Haji?
    16/10/2021 - 12:02
  • Rapor Semester 1 Bank Syariah Indonesia Pasca Merger
    Rapor Semester 1 Bank Syariah Indonesia Pasca Merger
    15/10/2021 - 17:14
  • Pengangkatan Dewan Pengarah BRIN Sesuai Kaidah Hukum
    Pengangkatan Dewan Pengarah BRIN Sesuai Kaidah Hukum
    15/10/2021 - 16:22
  • Praktik Pancasila Zaman Now
    Praktik Pancasila Zaman Now
    15/10/2021 - 14:35
  • Kita Sendiri Penentu Kualitas Informasi di Media Sosial
    Kita Sendiri Penentu Kualitas Informasi di Media Sosial
    15/10/2021 - 01:13
  • Simalakama Corona, Antara Makan dan Pendidikan
    Simalakama Corona, Antara Makan dan Pendidikan
    15/10/2021 - 00:17
  • Saya Perempuan, Saya Muslim, Saya Merdeka
    Saya Perempuan, Saya Muslim, Saya Merdeka
    14/10/2021 - 15:10
  • Pinjol Ilegal Merusak Moralitas Ekonomi
    Pinjol Ilegal Merusak Moralitas Ekonomi
    13/10/2021 - 16:01

KULINER

  • Kreatif dan Edukatif, Among Tani Foundation Dirikan Angkringan Asli Jogja di Kota Batu
    Kreatif dan Edukatif, Among Tani Foundation Dirikan Angkringan Asli Jogja di Kota Batu
    16/10/2021 - 14:31
  • Makan Sushi Sambil Jadi Peserta Squid Game di Genki Sushi
    Makan Sushi Sambil Jadi Peserta Squid Game di Genki Sushi
    16/10/2021 - 13:00
  • Laris Manis Penjual Sempolan di Ngawi, Omzet Setengah Juta Sehari
    Laris Manis Penjual Sempolan di Ngawi, Omzet Setengah Juta Sehari
    15/10/2021 - 19:21
  • The Local Culinary Weeks Novotel Samator Surabaya Berikan Sajian Khas nan Lezat
    The Local Culinary Weeks Novotel Samator Surabaya Berikan Sajian Khas nan Lezat
    14/10/2021 - 02:22
  • Sup Kepompong Tawon Ndas, Kuliner Ekstrem Banyuwangi Bikin Pria Makin Jantan
    Sup Kepompong Tawon Ndas, Kuliner Ekstrem Banyuwangi Bikin Pria Makin Jantan
    13/10/2021 - 17:20