Kopi TIMES

Pemuda Teladan itu Pejuang Keadilan

Rabu, 28 Oktober 2020 - 17:13 | 39.07k
Pemuda Teladan itu Pejuang Keadilan
Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Editor: Yatimul Ainun

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Peringatan hari Sumpah Pemuda (SP) selama ini masih terkesan seremonial. Sama dengan peringatan hari-hari yang lain, sekadar mementingkan atribut fisik dalam perayaannya. Misalnya, hari Kartini memakai pakaian adat atau hari Santri yang diperingati dengan memakai sarung dan peci. Tidak salah memang, tetapi bisa menghilangkan substansi semangatnya. Seolah semua sudah puas dan merasa memperingati  dengan model perayaan seperti itu. Hal demikian terus berulang setiap tahun.

Bagaimana dengan peringatan SP? Hampir tak jauh berbeda. Hari SP juga sekadar seremonial. Bahkan tanpa peringatan dan gebyar sebagaimana peringatan  Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang diperingati setiap 17 Agustus. Padahal semangat para pemuda pada tahun 1928  telah menjadi tonggak republik ini bisa berdiri dan merdeka. Apakah kita cukup puas dengan memberikan cetak kalender merah pada setiap 28 Oktober? Inilah masalahnya.

Harusnya peringatan SP setiap tahun berbeda. Inti penting dari SP adalah mewarisi semangat para pemuda tahun 1928. Sudahkah tertancap kuat dalam diri pemuda masa kini? Sudahkah para orang tua, masyarakat dan bahkan pejabat resmi memberikan kebijakan bagaimana sebaiknya agar semangat pemuda selalu  tertanam kuat sebagaimana pemuda era 1928?

Apakah pemerintah sudah cukup puas dengan pemuda masa kini asal tidak protes kebijakan negara? Jika demikian maka jangan berharap SP yang diperingati setiap tahun itu akan punya makna mendalam bagi generasi muda yang konon akan menjadi tulang punggung negara di masa datang.

Kritis

Apa yang bisa kita petik hari peringatan tersebut? Sekarang kita harus berani putar  haluan. Mengapa?  Pertama, pemuda saat ini cenderung dimanja dengan  teknologi. Dimanja yang dimaksud di sini karena teknologi mudah didapat dan memudahkan pula pada apa yang diinginkannya. Dengan kata lain, teknologi bisa meninabobokkan.

Bukan berarti teknologi tak baik. Bukan itu. Masalahnya, teknologi saat ini tidak jarang membuat pemuda tak mampu berpikir kritis. Ini masalahnya. Sementara itu pemuda yang sudah tak mampu berpikir kritis seolah sudah hilang separuh ruh kepemudaaannya. Namanya pemuda tentu harus kreatif, inovatif,dan juga kritis. Pemuda yang kritis saja saat sudah tidak muda tak bisa mempertahankan sikap  kritisnya, apalagi mereka yang tak dibiasakan berpikir kritis?

Kedua, budaya baca yang kian berkurang. Memang  menumbuhkan budaya baca tidaklah mudah. Apalagi era sekarang  pemuda dimanja dengan berbagai fasilitas yang memudahkan agar mereka “melupakan” budaya baca.

Sementara itu, hanya dengan membaca seorang  pemuda akan menjadi kreatif, inovatif dan kritis. Memang pemuda bisa menjadi kreatif dengan menguasai teknologi. Masalahnya penguasaan teknologi tanpa dibarengi dengan sikap krisis yang itu didapatkan dari kebiasaan membaca akan memudahkan mereka hanya menjadi “budak” teknologi. Bisa jadi pula ia menjadikan teknologi hanya untuk meraih keuntungan pribadi.

Tentu budaya baca yang  tinggi diharapkan mampu membuat mereka kritis. Sikap kritis hanya bisa ditumbuhkembangkan manaka ia peka terhadap sekitarnya. Kepekaan ini bisa cepat diwujudkan dengan budaya membaca. Sekali lagi budaya membaca bukan budaya menonton dan mendengar.

Bukan Jongos

Mengapa itu penting dilakukan? Kita berada dalam kondisi persoalan ekonomi, politik, sosial yang tidak menguntungkan. Misalnya saja, kekuasaan politik pemerintah hampir tak terkontrol secara efektif. Oposisi “dimatikan”. Sikap kritis masyarakat  cenderung dicurigai. Perbedaan pendapat ditekan sedemikian rupa.

Itu  kondisi yang harus disadari oleh para pemuda.  Apakah tidak bisa mengharapkan dari golongan tua? Golongan tua sudah mapan. Kemapanan ini membuat mereka jarang punya kemampuan mendorong atau memberi teladan berpikir kritis. Apalagi sudah menjadi “budak” kekuasaan. Tentu saja tetap dengan perkecualian.

Ini penting ditekankan karena pemuda yang akan diharapkan pada masa datang adalah pemuda yang punya sikap kritis. Persoalan mau jadi apa mereka, urusan belakang. Kenyataan bahwa ada pemuda yang kritis pada tahun 1998 kemudian menjadi “pendukung” kemapanan itu satu soal. Soal lain tak sedikit dari mereka yang tetap bisa berpikir kritis dan tak hanya “menghamba” pada kekuasaan. Apakah aktivis yang pernah kritis tak boleh terlibat dalam kekuasaan? Tidak ada larangan. Hanya tak elok menjadi “hamba” kekuasaan dengan menikmati fasilitas negara dan mengubur “suara lantang” miliknya.

Membaca akan menumbuhkan kecerdasan, kepintaran, dan mengasah kepedulian pada sesamanya. Muatan itu akan tertancap kuat dalam dada mereka. Sehingga mereka bisa tumbuh kembang menjadi pemuda yang bisa menjadi pemandu perubahan di masa datang.

Masalahnya, kondisi kita saat ini sudah sangat memprihatinkan. Warisan politik kita membuat bangsa ini semakin tergantung pada asing yang mengakibatkan kurang mandiri. Sementara itu kemandirian menjadi kunci dan  pondasi kokoh bangsa di masa depan. Jika kondisi masih seperti ini sekian puluh tahun ke depan kita tidak akan menjadi bangsa yang disegani di dunia. Yang terjadi justru sebaliknya; kita hanya  akan menjadi bangsa pembebek dan jongos.

Catatan ini tidak bermaksud mendorong sikap pesimistis. Bukan begitu. Harapan tetap ada. Harapan itu dipikulkan pada diri para pemuda. Dengan melihat ketidakadilan di sekitar kita, maka pemuda yang hebat saat ini adalah pemuda yang mau dan mampu berbicara ketidakadilan. Tentu saja, ketidakadilan yang dibicarakan yang kemudian akan diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sangat mungkin harapan itu akan ”digembosi”  oleh mereka yang berasal dari kelompok mapan, pendukung membabi buta pemerintah atau kepentingan lain. Misalnya hanya karena  ketergantungan pada  fasilitas pemerintah, upah atau sikap pragmatis lain. Mereka yang sudah menjadikan ketergantungan membabi buta pada kepentingan kekuasaan selamanya akan merasa gerah dengan setiap gerakan lain yang muncul di masyarakat. Tetapi setiap gerakan akan menemukan takdirnya sendiri.

Jadi, peringatan SP tahun ini sebenarnya menantang pada pemuda sejauh mana mereka mampu dan mau berbicara tentang ketidakadilan. Bukan menjadi generasi pembebek dan jongos yang hanya mengikuti arus pemikiran stagnan para pendahulunya. Di tangan mereka masa depan kemajuan dan kemandirian bangsa ini dipikulkan.

***

*) Penulis: Nurudin, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.



Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

EKORAN

TERBARU

  • Merasakan Sensasi Ekstrem Memancing di Pantai Srau Pacitan
    Merasakan Sensasi Ekstrem Memancing di Pantai Srau Pacitan
    30/11/2021 - 03:23
  • Get the Authentic Taste of Local Coffee at Koopen Malang
    Get the Authentic Taste of Local Coffee at Koopen Malang
    30/11/2021 - 02:27
  • DNT Cigar Buktikan Bisa Hasilkan Cerutu Berdaya Saing Global
    DNT Cigar Buktikan Bisa Hasilkan Cerutu Berdaya Saing Global
    30/11/2021 - 01:11
  • Kafe Janu Tasikmalaya, Best Outdoor Coffee Shop for Coffee Catch-ups
    Kafe Janu Tasikmalaya, Best Outdoor Coffee Shop for Coffee Catch-ups
    30/11/2021 - 00:37
  • MPR RI Bersama Pimpinan Kementerian/Lembaga Terima DIPA 2022 dari Presiden 
    MPR RI Bersama Pimpinan Kementerian/Lembaga Terima DIPA 2022 dari Presiden 
    29/11/2021 - 23:10

TIMES TV

Suara Merdu Dipikat Label Maia Estianty- Ninaya Ilena

Suara Merdu Dipikat Label Maia Estianty- Ninaya Ilena

05/11/2021 - 09:44

Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji

Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji
Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji

Jelajah Kopi Nusantara : Sukron, Anak Desa Bangkitkan Kopi Taji
Pemkot Malang Kuatkan Infrastruktur Digital Penunjang Smart City Melalui Wifi Gratis

Pemkot Malang Kuatkan Infrastruktur Digital Penunjang Smart City Melalui Wifi Gratis
Profesor Kopi : Malang Gudangnya Kopi Robusta

Profesor Kopi : Malang Gudangnya Kopi Robusta

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Nahdlatul Ulama Tidak Boleh Pecah 
    Nahdlatul Ulama Tidak Boleh Pecah 
    29/11/2021 - 17:16
  • Terorisme dan Fundamentalisme Kemanusiaan
    Terorisme dan Fundamentalisme Kemanusiaan
    29/11/2021 - 14:54
  • Momen Hari Pahlawan: Berjiwa Heroik-Nasionalistik di Era Digital
    Momen Hari Pahlawan: Berjiwa Heroik-Nasionalistik di Era Digital
    29/11/2021 - 07:37
  • Refleksi antar Konferensi PCNU: Menjadikan  NU sebagai Organisasi Umat
    Refleksi antar Konferensi PCNU: Menjadikan NU sebagai Organisasi Umat
    28/11/2021 - 09:53
  • Mungkinkah Garuda Berganti Nama?
    Mungkinkah Garuda Berganti Nama?
    27/11/2021 - 17:05
  • Melawan Stigma Seksisme Wanita Karir
    Melawan Stigma Seksisme Wanita Karir
    27/11/2021 - 09:29
  • Meningkatkan Profesionalisme Guru Melalui Penelitian
    Meningkatkan Profesionalisme Guru Melalui Penelitian
    27/11/2021 - 00:29
  • Transisi Energi dan Memulihkan Keseimbangan Lingkungan Hidup
    Transisi Energi dan Memulihkan Keseimbangan Lingkungan Hidup
    26/11/2021 - 15:33

KULINER

  • Bakmi Pak Pendek Ponorogo, Kuliner Legendaris Langganan Pejabat
    Bakmi Pak Pendek Ponorogo, Kuliner Legendaris Langganan Pejabat
    29/11/2021 - 03:21
  • Saung Ma UTI Kota Banjar Tawarkan Menu Sunda di Alam Pedesaan Rejasari
    Saung Ma UTI Kota Banjar Tawarkan Menu Sunda di Alam Pedesaan Rejasari
    28/11/2021 - 01:16
  • Cek Deretan Dessert Paling WOW di Ji Restaurant Canggu
    Cek Deretan Dessert Paling WOW di Ji Restaurant Canggu
    26/11/2021 - 04:44
  • Macarina, Cemilan Makaroni yang Nagih untuk Terus Disantap
    Macarina, Cemilan Makaroni yang Nagih untuk Terus Disantap
    24/11/2021 - 02:06
  • Quatro Coffee, Nyaman, Elegan dan Tenang untuk Pekerja Milenial
    Quatro Coffee, Nyaman, Elegan dan Tenang untuk Pekerja Milenial
    22/11/2021 - 13:04