Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Pelanggaran Serius Hak Edukasi

Jumat, 18 September 2020 - 11:55 | 77.72k
Pelanggaran Serius Hak Edukasi
Moh. Muhibbin, Peneliti dan KPS Program Studi Magister Ilmu Hukum Pascasarjana, Universitas Islam Malang (UNISMA).
FOKUS

Universitas Islam Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Masih layakkah kita disebut beragama yang berbasis kemasyarakatan dan kerakyatan, kalau kita lebih sibuk mengurus diri sendiri, partai, kroni, atau kepentingan-kepentingan eksklusif, sementara di tengah masyarakat bertebaran anak-anak di kantong-kantong kebodohan, yang salah satunya ditandai dengan buta aksara.  Masih patutkah kita digolongkan masyarakat  beriodeologi Pancasila, kalau jutaan warga masih mengisi kantong-kantong ketidakberdayaan akibat pendidikannya rendah?

Jika mengacu pada satu sisi yuridis saja, sebenarnya kita ini belum layak disebut sebagai masyarakat yang sedang konsentrasi pada dunia pendidikan, pasalnya dalam
Pasal 4 ayat (1) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

Jelas dalam piranti yuridis itu menunjukkan, bahwa seharusnya system pendidikan atau persekolahan diselenggarakan dengan memperhatikan kondisi riil masyarakat. Pendidikan tidak boleh hanya memperhatikan golongan elit, sementara golongan alit dilupakan.  Komunitas alit juga mempunyai hak-hak asasi seperti bebas dari kebodohan dan “kefakiran” ilmu.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Misalnya masih banyaknya anak-anak kita dari keluarga miskin yang masih buta aksara merupakan bukti konkrit bahwa kita, khususnya pemerintah belum serius memperhatikan masalah pendidikan. Pemerintah hanya sibuk mengemas kulitnya pendikan, uang masuk yang diperoleh sekolah,   dan sisi menterengnya  bangunan sekolah, sementara kepentingan pendidikan riil masyarakat, seperti penyelenggaraan pendidikan yang bebaskan buta aksara yang benar-benar membebaskan keprihatinan edukatif yang menimpa orang atau keluaega miskin masih diabaikannya.

Praktik semacam itu jelas layak dikategorikan sebagai pelanggaran norma yuridis  secara serius terhadap hak edukasi. Asas keadilan dan keadaban dalam dunia pendidikan yang seharusnya ditegakkan, justru dilecehkan. Masyarakat miskin yang seharusnya dibebaskan dari “kefakiran” ilmu tidak ditempatkannya sebagai proyeksi istimewa pembumian penyelenggaraan pendidikan yang memihaknya. Akibatnya, masyarakat miskin semakin identik dengan penyakit pendidikan yang bernama buta aksara.

“Dosa” secara yuridis  edukasi itu identik dengan dosa publik secara agama, pasalnya  dalam agama juga diperintahkan supaya setiap bentuk penyakit sosial seperti kebodohan wajib dientasnya.  Agama melarang keluarga, masyarakat, atau bangsa memilki generasi yang lemah. Bukti generasi lemah terletak pada buta aksara yang menimpa masyarakat.

Bagaimana mungkin konstruksi negara bisa kuat di tangan generasi yang berpenyakitan secara edukasi (attarbiyah)? negara hanya  bisa kuat dan berjaya di tangan generasi yang bergelar pembebas atau masyarakat pembelajar, yang aktifitasnya menghadirkan pemerdekaan keterbelakangan pendidikan atau mewujudkan pencerahan edukasi.

Nabi Muhammad SAW pernah punya “proyek istimewa” di bidang pembebasan sahabat-sahabatnya yang mengalami buta aksara. Strategi pembebasannya diwujudkan dengan cara “menghukum” tawanan perang untuk menjadi guru. Tawanan perang yang pandai menulis, membaca, dan berhitung, dihukum secara edukatif, yakni mengajar kepada sahabat-sahabat itu hingga terbebaskan dari penyakit buta aksara, membaca, dan lain sebagainya.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Dalam kasus seperti itu, seharusnya kita layak merefleksikannya sebagai pelajaran berharga. Nabi merupakan sosok pemimpin yang berani menentukan langkah atau diskresi revolosioner di bidang pendidikan dengan cara melibatkan tawanan perang yang berbeda keyakinan, ideologi, dan agama untuk menjadi guru bagi masyarakat (pengikutnya).

Dalam hal transformasi ilmu pengetahuan, perbedaan agama dan ideologi tidak dijadikannya sebagai penghalang yang bisa membuat mandulnya cita-cita pembaharuan. Di sinilah Nabi menghitung dengan cerdas, bahwa fondasi kemajuan masyarakat dan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sumberdaya manusia. Islam, tidak akan bisa menjadi agama yang mencerahkan masyarakat, kalau ahli dakwahnya atau komunitasnya bukanlah manusia terdidik.

Sahabat Ali Ra, pernah bilang, seseorang yang mengajarkan aku satu huruf, maka ia adalah guru seumur hidupku. Apa yang diucapkannya ini menjadi suatu deklarasi esensi ilmu pengetahuan bagi masyarakat. Dari satu huruf saja, masyarakat bisa berkenalan, menjelajah, atau memasuki ranah ijtihad  guna memperdalam masalah keilmuan.

Pengakuan itu juga menunjukkan tentang pentingnya transformasi keilmuan di tengah masyarakat. Adanya jutaan masyarakat yang masih buta aksara mengindikasikan, bahwa sedang terjadi impotensi transformasi keilmuan. Ada segolongan masyarakat yang cendekia dan berdaya dengan uangnya, sementara banyak masyarakat miskin hidup tak berdaya dan buta aksara akibat stagnanya proses transformasi.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Moh. Muhibbin, Peneliti dan KPS Program Studi Magister Ilmu Hukum Pascasarjana, Universitas Islam Malang (UNISMA).

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Dapatkan update informasi pilihan setiap hari dari TIMES Indonesia dengan bergabung di Grup Telegram TI Update. Caranya, klik link ini dan join. Pastikan Anda telah menginstal aplikasi Telegram di HP.



Publisher : Rochmat Shobirin

EKORAN

TERBARU

  • Aremania Jombang Meninggal Saat Tragedi Stadion Kanjuruhan, Orang Tua Sempat Melarang
    Aremania Jombang Meninggal Saat Tragedi Stadion Kanjuruhan, Orang Tua Sempat Melarang
    02/10/2022 - 20:05
  • Tragedi Stadion Kanjuruhan, Gubernur Jatim Khofifah Takziah ke Rumah Keluarga Korban
    Tragedi Stadion Kanjuruhan, Gubernur Jatim Khofifah Takziah ke Rumah Keluarga Korban
    02/10/2022 - 19:56
  • Samsul Hadi: Kampoeng Batik Jetis Bisa Jadi Wisata Edukasi di Sidoarjo
    Samsul Hadi: Kampoeng Batik Jetis Bisa Jadi Wisata Edukasi di Sidoarjo
    02/10/2022 - 19:47
  • Santri Gresik Shalat Ghaib dan Doakan Korban Tragedi Stadion Kanjuruhan
    Santri Gresik Shalat Ghaib dan Doakan Korban Tragedi Stadion Kanjuruhan
    02/10/2022 - 19:34
  • Tragedi Stadion Kanjuruhan, Amnesty International Indonesia Desak Polri Selidiki Dugaan Penggunaan Kekuatan Berlebihan Aparat Keamanan
    Tragedi Stadion Kanjuruhan, Amnesty International Indonesia Desak Polri Selidiki Dugaan Penggunaan Kekuatan Berlebihan Aparat Keamanan
    02/10/2022 - 19:20

TIMES TV

Jelajah Kopi Nusantara: Kopi Taji Dulu Kini dan Nanti

Jelajah Kopi Nusantara: Kopi Taji Dulu Kini dan Nanti

11/08/2022 - 17:08

Aremania Jemput Juara Piala Presiden 2022

Aremania Jemput Juara Piala Presiden 2022
Mengenang Sejarah Nabi di Jabal Uhud

Mengenang Sejarah Nabi di Jabal Uhud
Friendly Match PSIS vs Arema FC, Suporter Nyanyi ke Stadion Lagi

Friendly Match PSIS vs Arema FC, Suporter Nyanyi ke Stadion Lagi
Petugas Haji Gelar Gladi Posko, Siap Sambut JCH Indonesia

Petugas Haji Gelar Gladi Posko, Siap Sambut JCH Indonesia

iGuides

  • Tawarkan Konsep Baru, Saygon Hotel and Cottage Terekomendasi Iguides 5 Star
    20/03/2022 - 18:00
  • Skipjack, Kuliner Seafood Murah Rasa Bintang Lima, iGuides Recommended!
    Skipjack, Kuliner Seafood Murah Rasa Bintang Lima, iGuides Recommended!
    28/01/2022 - 10:38
  • Miliki Kolam Ombak Ikonik, Saygon Waterpark Iguides Recommended
    Miliki Kolam Ombak Ikonik, Saygon Waterpark Iguides Recommended
    07/12/2021 - 20:06
  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05

KOPI TIMES

  • Diseminasi Nilai Kearifan Lokal Sebagai Upaya Mitigasi Risiko Bencana
    Diseminasi Nilai Kearifan Lokal Sebagai Upaya Mitigasi Risiko Bencana
    01/10/2022 - 16:19
  • Perkuat SRA, Menekan Banyaknya Tingkat Kekerasan pada Anak
    Perkuat SRA, Menekan Banyaknya Tingkat Kekerasan pada Anak
    01/10/2022 - 15:14
  • Urgensi Strategi Komunikasi Pemasaran bagi Petani Milenial
    Urgensi Strategi Komunikasi Pemasaran bagi Petani Milenial
    01/10/2022 - 14:00
  • Pancasila Sakti
    Pancasila Sakti
    01/10/2022 - 06:01
  • Praktik Diktator Konstitusional dan Bayang-bayang Komunisme
    Praktik Diktator Konstitusional dan Bayang-bayang Komunisme
    30/09/2022 - 09:01
  • Dampak Limbah Peternakan
    Dampak Limbah Peternakan
    29/09/2022 - 20:43
  • Gerakan Moral Petruk Jadi Raja
    Gerakan Moral Petruk Jadi Raja
    29/09/2022 - 12:12
  • Konsep Manajemen Dalam Islam
    Konsep Manajemen Dalam Islam
    29/09/2022 - 11:10

KULINER

  • Hangatkan Tubuh dengan Peuyeum Bandung, Yuk Rasakan Nikmatnya
    Hangatkan Tubuh dengan Peuyeum Bandung, Yuk Rasakan Nikmatnya
    30/09/2022 - 06:04
  • Menyicip Kuliner Nasi Ayam Kungpao dan Nasi Ayam Rempah ala Depot 2 Legenda
    Menyicip Kuliner Nasi Ayam Kungpao dan Nasi Ayam Rempah ala Depot 2 Legenda
    29/09/2022 - 04:38
  • 6 Jajanan Berbahan Aci yang Enak di Bandung
    6 Jajanan Berbahan Aci yang Enak di Bandung
    29/09/2022 - 02:21
  • Ulen Juara, Jajanan Tradisional Rasa Kekinian
    Ulen Juara, Jajanan Tradisional Rasa Kekinian
    26/09/2022 - 16:32
  • BBQ Seafood Luminor Hotel Jember, Menu Hasil Laut yang Menggugah Selera
    BBQ Seafood Luminor Hotel Jember, Menu Hasil Laut yang Menggugah Selera
    26/09/2022 - 10:01