Kopi TIMES

Pertarungan Klaim Keberhasilan Vs Narasi Harapan Baru

Jumat, 18 September 2020 - 08:46 | 26.76k
Pertarungan Klaim Keberhasilan Vs Narasi Harapan Baru
Imam Fauzi Surahmat, Peneliti di SIGI LSI Network (LSI Denny JA)
Editor: Yatimul Ainun

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pilkada serentak 2020 ini banyak menjadi atensi bukan hanya karena dilangsungkan di tengah tengah pandemi, namun juga karena gencarnya pertarungan yang ada diantara para kandidat, yang seringkali saking sengitnya persaingan yang ada justru mengabaikan apa yang menjadi fokus semua pihak saat ini, yaitu protokol kesehatan, dan seringkali juga abai apa itu keutamaan keselamatan, karena bagi siapapun kandidat yang bertarung didalamya, mencapai kemenangan adalah harga mati. mungkin itu yang ada dibenak mereka ? 

Seolah tidak ada yang salah ketika ada persepsi seperti itu oleh mereka para petarung pikada ini, karena nyatanya ada dua polarisasi persepsi masyarakat akan pandemi ini, ada yang menganggap ini adalah sangat serius bahkan mungkin sampai pada level paranoid, namun disisi lain ada pula publik yang begitu cuek dan terkesan bodo amat,  karena prinsipnya adalah penting yakin sehat.

lalu apa yang salah ? yang salah seringkali adalah penyikapan atas komunikasi masa yang ada, yang seharusnya dibangun dengan penyesuaian dari dinamisasi akan konteks pandemi ini, dan bagaimana adu kreatifitas tim pemenangan untuk tetap mendapatkan atensi publik secara maksimal, sehingga tetap dirasa dekat dan memikat dengan publik tanpa harus bertatap muka secara fisik skalipun. Karena bagaimanapun, setiap kandidat tentu terikat pada aturan main pemilu yang ada. yang salah satunya adalah mengatur ketat tentang protokol kesehatan, dan jika salah atau bahkan blunder dalam kemasan komunikasi masanya, misal melakukan pengumpulan orang, melakukan seremonial peresmian yang mehadirkan kerumunan, deklarasi dukungan secara masal, maka kemungkinan yang terjadi kemudian adalah spontanitas bullying oleh publik atau bahkan hujatan, jika ini tidak di recovery dengan baik, bisa saja akan terus dikapitalisasi jadi isu politik sebagai bagian dari downgrading oleh siapapun mereka yang mengininkan kemenangan didalamnya. Tentu hal tersebut adalah kerugian bagi siapapun, oleh karenanya memahami psikologi publik adalah penting!, Dan menjadi keharusan oleh siapapun itu, baik petahana maupun penantang.

"Keseruan" itu akan semakin menjadi tatkala kontestasi pikada ini menghadirkan perang dua poros atau lazim disebut Head to Head, cenderung akan semakin sengit lagi ketika dua poros itu adalah antara petahana dan penantang baru, seperti opini saya sebelumnya bahwa dalam pertarungan model seperti ini, cederung publik akan dipertontonkan "sarkasme" dan tarikan tarikan isu yang saling menghadirkan arus politik identitas diantara mereka, yang terus saling mendistorsi satu sama lain.

Kontestasi model head to head sejatinya adalah pertarungan antitesa, artinya pilkada satu lawan satu idealnya menjadi arus kontrasting ide di antara mereka, yaitu adu gagasan, serta konsep konsep perubahan besar, dimana antar konsep ter adu tersebut itu saling terkoreksi, saling tervaliadasi dan saling memberikan separasi konsep pada tiap sisi yang bisa dikritisi.  Seringkali di banyak daerah, petahana akan umbar tingkat keberhasilan pembagunanya, akan rilis klaim capaian-capaian keberhasilanya di setiap bidang yang ada. Maka, idealnya penantang harus mampu hadir sebagai antitesa keadaan itu, misal ungkap data ketimpangan arus pembangunan, adu data komparasi pencapaian dengan daerah lain yang ternyata apa yang dicapai jauh dari capaian prestasi daerah daerah lainnya. Lalu bangun opini akan harapan baru dengan narasi besar di dalamnya. Jika kemudian yang dilakukan oleh mereka para petahan dan penantang hanyalah setelan kampanye normatif dan tanpa ide besar yang menjadi antitesa dari apa yang di jual oleh keduanya, maka jangan harap arus besar perubahan akan tercipta. Dan jika itu yang terjadi yaitu stganasi konsep besar maka itu cenderung menguntungkan petahana.

Pun tidak lupa dalam konteks tagline kampanye yang menjadi identitas, maka hal ini harus di review secara cermat, jangan asal dirasa pas saja kemudian langsung jadi bagian atribut kampanye, tanpa ada kajian khusus yang mengawalinya.  Tagline kampanye sejatinya adalah "Brand" yang harus dibangun untuk kemudian dideliver kepada publik sebagai bagian identitas yang tidak terpisahkan sehingga tercipta kuat asosiasi kepada kandidat didalamnya.

Sederhananya, contohlah bagaimana perang pasar antara coca-cola dan Pepsi, Adidas dan Nike, Telkomsel dan Indosat mereka selalu menggunakan separasi konsep antitesa atau hope ekspektasi yang lebih dari siapa yang menjadi brand lawan secara head to headnya. atau lebih substantif konteks visi dan misi diantara dua poros seperti itu, harus dibangun dari arus utama isu yang berkembang dari basis pendukung masing masing sehingga akan mampu menciptkan kebanggaan yang kuat dan mengakar, yang pada akhirnya menjadi strong voters buat masing masing kandidat, dimana separasi pemilih ada dalam garis yang tegas, jika seorang penantang hadir dengan narasi A maka Petahana harus mampu meyakinkan pemilihnya pada narasi B atau minimal narasi A+ dari apa yang ada di arus penantang. Artinya kedua pihak harus terus saling beradu saling unggul pada dua sisi yang berbeda. Jangan bermain isu pada konteks yang sama.

Petahana sejatinya adalah petarung dengan modal rilis capain keberhasilan atas apa yang 5 tahun terakhir dikerjakan, sedangkan penantang adalah mereka yang hadir sebagai representasi harapan baru akan tawaran tawaran konsep pembangunan dan kesejahteraan yang lebih besar untuk 5 tahun yang akan datang. Lalu siapa yang akan menang diantara mereka? Adalah siapa yang bisa membaca arus sesungguhnya dalam ruang ekspektasi publiknya, apakah publik ada dalam ruang euforia kenyamanan dari keberhasilan yang ada, atau justru ada dalam arus kuat mewujudkan harapan baru sebagai ekspresi akan kegagalan-kegagalan pembangunan yang ada. Finalnya mari kita kawal bersama sampai nanti 09 Desember 2020. Petahana ataukah para penantang yang jadi jawaranya ?
 

***

 

* Penulis Imam Fauzi Surahmat, Peneliti di SIGI LSI Network (LSI Denny JA)

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.



Publisher : Sholihin Nur

EKORAN

TERBARU

  • Garuda Select 3 Panggil Tiga Siswa Akademi Arema
    Garuda Select 3 Panggil Tiga Siswa Akademi Arema
    27/10/2020 - 07:53
  • Gus Nur jadi Tersangka, Ketua Asosiasi Dai-Daiyah: Dia Harus Bertanggungjawab
    Gus Nur jadi Tersangka, Ketua Asosiasi Dai-Daiyah: Dia Harus Bertanggungjawab
    27/10/2020 - 07:44
  • Sega Waluya, a Festive Food That You will only Found Once in a Year
    Sega Waluya, a Festive Food That You will only Found Once in a Year
    27/10/2020 - 07:37
  • Sedekah Bumi dan Harapan Umat Hindu Banyuwangi
    Sedekah Bumi dan Harapan Umat Hindu Banyuwangi
    27/10/2020 - 07:21
  • Dikabarkan Pensiun dari Timnas Prancis, Ini Klarifikasi Paul Pogba
    Dikabarkan Pensiun dari Timnas Prancis, Ini Klarifikasi Paul Pogba
    27/10/2020 - 07:13
  • Yuk, Ikut Lomba Akronim ‘Pusat Kajian Hukum Tata Negara Indonesia’
    Yuk, Ikut Lomba Akronim ‘Pusat Kajian Hukum Tata Negara Indonesia’
    27/10/2020 - 07:04
  • Find an Ultimate Taste of Cirebon Delicacies at Jagasatru Area
    Find an Ultimate Taste of Cirebon Delicacies at Jagasatru Area
    27/10/2020 - 06:40
  • Luncurkan Aespa, SM Entertainment Pancing Spekulasi Penggemar K-Pop
    Luncurkan Aespa, SM Entertainment Pancing Spekulasi Penggemar K-Pop
    27/10/2020 - 06:12
  • Kekhawatiran MUI Soal Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron
    Kekhawatiran MUI Soal Pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron
    27/10/2020 - 06:04
  • Keramaian Jembatan Teluk Kendari Usai Diresmikan Presiden Jokowi
    Keramaian Jembatan Teluk Kendari Usai Diresmikan Presiden Jokowi
    27/10/2020 - 05:42

TIMES TV

Maluku Tenggara Akan Peringati Hari Sumpah Pemuda di Pulau Kecil Terluar

Maluku Tenggara Akan Peringati Hari Sumpah Pemuda di Pulau Kecil Terluar

26/10/2020 - 12:17

Oh my God, Aksi Demo UU Cipta Kerja disusupi Massa bayaran?

Oh my God, Aksi Demo UU Cipta Kerja disusupi Massa bayaran?
UU Cipta Kerja juga Hapus Sertifikat Halal MUI?

UU Cipta Kerja juga Hapus Sertifikat Halal MUI?
TERNYATA, Tokoh PKI DN Aidit Keturunan Habaib?

TERNYATA, Tokoh PKI DN Aidit Keturunan Habaib?
Progesterex Bisa Bikin Wanita Tidak Hamil

Progesterex Bisa Bikin Wanita Tidak Hamil

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Integritas Asas Pilkada 2020 di Masa Pandemi Covid-19
    Integritas Asas Pilkada 2020 di Masa Pandemi Covid-19
    26/10/2020 - 23:22
  • Peran Santri Milenial dalam Mempertahankan Kedaulatan NKRI
    Peran Santri Milenial dalam Mempertahankan Kedaulatan NKRI
    26/10/2020 - 22:03
  • Pemerataan Pendidikan di Era New Normal: Sudahkah Tut Wuri Handayani ?
    Pemerataan Pendidikan di Era New Normal: Sudahkah Tut Wuri Handayani ?
    26/10/2020 - 21:00
  • Kepemimpinan Sebagai Katalisator Kemaslahatan Rakyat
    Kepemimpinan Sebagai Katalisator Kemaslahatan Rakyat
    26/10/2020 - 16:12
  • Pengelolaan Eksternal Publik Lembaga Pemerintah
    Pengelolaan Eksternal Publik Lembaga Pemerintah
    26/10/2020 - 15:28
  • Jadi, Seperti Apa Standard Cantik Itu?
    Jadi, Seperti Apa Standard Cantik Itu?
    26/10/2020 - 13:52
  • Kegembiraan Lintas Batas
    Kegembiraan Lintas Batas
    26/10/2020 - 10:57
  • Pentingnya Istiqomah Dalam Memotivasi Diri Sendiri
    Pentingnya Istiqomah Dalam Memotivasi Diri Sendiri
    26/10/2020 - 10:08

KULINER

  • Kopi Cokot di Blitar, Lestarikan Budaya Bayar Seikhlasnya
    Kopi Cokot di Blitar, Lestarikan Budaya Bayar Seikhlasnya
    26/10/2020 - 17:44
  • Menikmati Makanan Tradisional Nge-hits di Kota Cirebon
    Menikmati Makanan Tradisional Nge-hits di Kota Cirebon
    26/10/2020 - 03:24
  • Sega Waluya, Makanan Tradisonal Indramayu yang Muncul Setahun Sekali
    Sega Waluya, Makanan Tradisonal Indramayu yang Muncul Setahun Sekali
    26/10/2020 - 01:20
  • Senjakala Kuliner Manisan Khas Majalengka Tak Semanis Peminat
    Senjakala Kuliner Manisan Khas Majalengka Tak Semanis Peminat
    25/10/2020 - 04:20
  • Belajar dari Orang Tua, Mistar Sukses Kembangkan Bluder Miroso di Kota Madiun
    Belajar dari Orang Tua, Mistar Sukses Kembangkan Bluder Miroso di Kota Madiun
    24/10/2020 - 18:29
  • Khabib dan Atlet Muslim yang Guncang Dunia, Nomor 3 Mengerikan
    Khabib dan Atlet Muslim yang Guncang Dunia, Nomor 3 Mengerikan
    27/10/2020 - 00:56
  • Dua Pelindung yang Tak Dapat Ditembus Virus Corona Penyebab COVID-19
    Dua Pelindung yang Tak Dapat Ditembus Virus Corona Penyebab COVID-19
    27/10/2020 - 01:09
  • Kolonel Vaginak Dipecat Gara-gara Pasukan Armenia Kalah Perang
    Kolonel Vaginak Dipecat Gara-gara Pasukan Armenia Kalah Perang
    27/10/2020 - 00:10
  • Kolonel Vaginak Dipecat, Azerbaijan Siapkan Senjata Pamungkas Perang
    Kolonel Vaginak Dipecat, Azerbaijan Siapkan Senjata Pamungkas Perang
    27/10/2020 - 04:10
  • Kemana Mike Tyson Saat Khabib Habisi Gaethje dan Pensiun?
    Kemana Mike Tyson Saat Khabib Habisi Gaethje dan Pensiun?
    27/10/2020 - 00:04