Kopi TIMES

Lawan Covid, Tanggalkan Madzhab Politik

Kamis, 17 September 2020 - 07:07 | 12.03k
Lawan Covid, Tanggalkan Madzhab Politik
Imam Shamsi Ali.
Editor: Deasy Mayasari

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Ketika Covid 19 atau virus Corona merebak di Wuhan, lalu menjalar masuk ke beberapa negara Asia, seperti Korea, Thailand, Singapura, bahkan Malaysia, saat itu Indonesia masih “merasa” aman-aman saja. Bahkan pendatang China masih leluasa keluar masuk ke negara ini. 

Ketika itu saya sempat menulis sebuah artikel singkat dengan judul: "Luar Biasa, Indonesia itu kebal!" Tulisan itu sempat dimuat oleh banyak media nasional. 

Tulisan saya sebenarnya bukan takjub. Justru saya heran kok masalah Corona ini disikapi Indonesia secara biasa-biasa saja. Bahkan ada pejabat tinggi negara saat itu mengatakan bahwa Indonesia itu negara tropis dan panas. 

Karenanya virus itu tidak akan bertahan. Sebuah pernyataan yang tidak rasional karena udara negara-negara tetangga Thailand, Singapura, dan Malaysia persis sama saja dengan udara Indonesia. 

Belakangan justru di saat Singapura dan negara-negara tetangga lain mulai keluar dari krisis, Indonesia malah menjadi epicentrum di Asia. Semua pihak baru kelabakan dan kebingungan bagaimana menghadapi Pandemi yang mematikan ini. 

Setelah beberapa saat kemudian dinyatakan membaik, tiba-tiba Covid 19 kembali mengganas. Memaksa beberapa daerah untuk memperlakukan PSBB (pembatasan sosial berskala besar). Jakarta mengistilahkan “menarik rem darurat”. 

Ada apa yang terjadi? Kenapa Corona masih juga meninggi di negara ini? 

Dalam dua hari ini saja saya dikejutkan oleh beberapa berita tentang orang besar yang saya kenal dan terdampak Corona. Salah satunya adalah Dubes Dino Patti Djalal, mantan Wamenlu dan mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat. 

Bahkan kita kembali dikejutkan dengan berita  meninggalnya Bapak Saifullah, Sekda DKI, seorang tokoh Betawi, meninggal dunia karena Corona. 

Pengalaman Amerika 

Amerika saat ini saya kira sedang ditimpa cobaan besar. Selain gonjang ganjing politik, bahkan krisis politik dan kepemimpinan, cobaan terbesar Amerika adalah kenyataan bahwa kendati dikenal sebagai negara super power, Amerika menjadi negara dengan korban kasus maupun kematian tertinggi di dunia karena Corona. 

Hingga pagi ini sudah lebih 6 juta kasus dan hampir 200 ribu yang meninggal dunia akibat Covid 19. Belum lagi permasalahan eokonomi, sosial, pengangguran, dan lain-lain. Dan semua ini terjadi di tengah memanasnya perpolitikan di negara ini. 

Saya melihat ada beberapa penyebab utama kenapa Amerika terkapar berat oleh Corona ini. 

Pertama, kelambatan mengambil tindakan ketika virus ini pertama kali masuk ke negara ini. Bahkan ketika itu Presiden Trump sempat mengatakan: this is hoax and will go away like a wind (ini hanya hoax dan akan hilang seperti angin). Juga pernah mengatakan virus ini akan hilang dengan “miracle” (mukjizat). 

Kedua, karena memang Amerika sedang berada di musim politik, isu Corona kemudian dijadikan isu politik. Kritikan Demokrat atas kelambanan Trump menangani Corona disikapi oleh Trump dan Republican secara politik. Sehingga semua masukan atau usulan Demokrat dianggap sebagai tekanan politik. 

Ketiga, tidak adanya koordinasi yang baik antara pemerintahan federal dan pemerintahan lokal (Gubernur/Walikota). Apalagi Amerika memang berbentuk negara federal. Sehingga seringkali hubungan antara pemerintah pusat dan daerah tidak harmoni, khususnya ketika mereka berbeda partai politik. 

Keempat, masih adanya elemen-elemen pengambil kebijakan yang tidak atau kurang mengambil “science” (ilmu) sebagai solusi terhadap masalah ini. Sehingga seringkali dalam merespon masalah Corona ini sikap politik lebih dikedepankan ketimbang pertimbangan keilmuan.

Kelima, di beberapa daerah yang terpengaruh oleh sikap politik para elit di negara ini, menjadi tidak disiplin dalam menjaga semua aturan-aturan untuk melawan virus ini. Hal ini terjadi khususnya di daerah-daerah yang dikuasai oleh Republican. Memakai masker misalnya dianggap “politisasi”. Bahkan Corona itu sendiri dianggap isu politik dan hoax. 

Keanam, adanya elemen-elemen masyarakat yang beragama secara fatalis. Barangkali mirip dengan mereka yang berpandangan “jabariyah” dalam perdebatan konsep Qadar dalam agama Islam. Mereka meyakini bahwa dengan percaya Tuhan semua akan selesai dengan sendirinya.

Ketujuh, memang ada juga kalangan yang masih kurang disiplin dalam menjaga semua aturan yang ada untuk melawan virus ini. Khususnya kalangan anak-anak muda yang merasa sehat dan kuat. Itu terjadi khususnya di kalangan kampus ketika musim sekolah kembali dibuka. 

Tanggalkan Madzhab Politik

Tentu semua poin-poin di atas sangat penting untuk menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia. Corona ini nyata. Bukan mainan (joke), apalagi diada-ada (hoak). 

Karenanya menghadapinya diperlukan kesungguhan, kedisiplinan, dan tentunya kerja keras dan kerbersamaan semua pihak. Semua pihak itu artinya pemimpin politik dan agama, tokoh masyarakat, tokoh bisnis, hingga kepada para pendidik, budayawan dan masyarakat umum. 

Semua harus mengambil peranannya dalam memerangi virus ini. Dan untuk memerangi virus ini diperlukan kebersamaan dalam kejauhan. Unik memang. Bersama tapi berjarak. 

Tapi yang terpenting dari semua itu, yang ingin saya ingatkan adalah mereka yang berada di posisi kepemimpinan, khususnya kepemimpinan politik, agar menjaga kebersamaan dalam menghadapinya. 

Isu Corona adalah isu hidup manusia. Karenanya jadikan isu ini sebagai isu “darurat” yang seharusnya dikedepankan di atas segala kepentingan apapun, termasuk kepentingan kelompok. Apalagi kepentingan itu sekedar kepentingan politik sesaat. 

Saya berkali-kali menyampaikan agar kiranya dalam menyikapi masalah Corona ini hendaknya “warna atau madzhab politik” untuk sementara dikesampingkan. Bangun kebersamaan dengan menjadikan keselamatan bangsa secara keseluruhan sebagai prioritàs utama.

Jika kebersamaan ini terbangun, akan terwujud kebijakan yang baik, dan dengan dukungan kedisiplinan warga, insya Allah peperangan melawan Covid ini akan kita menangkan. 

Saya bangga dengan New York State dan New York City, kampung saya saat ini. Dari Epi centrum dengan tingkat kematian tertinggi, kini menjadi daerah/kota yang cukup aman untuk beraktifitas. Walau tentunya kehati-hatian itu selalu dijaga. 

Insya Allah dengan usaha keras, kerjasama dan koordinasi yang baik, kedisiplinan tinggi, dan dengan doa serta tawakkal, semua ini akan kita lalui dengan baik. Insya Allah! (*) 

 

*) Penulis adalah Imam Shamsi Ali. Diaspora Indonesia di kota New York USA. Presiden Nusantara Foundation.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.



Publisher : Rizal Dani
KOMENTAR

EKORAN

TERBARU

  • Kemenparekraf RI Dorong Pelaku Parekraf di Yogyakarta Manfaatkan Program PEN
    Kemenparekraf RI Dorong Pelaku Parekraf di Yogyakarta Manfaatkan Program PEN
    22/09/2020 - 11:07
  • Ditlantas Polda Jatim Luncurkan Aplikasi TAR, Ini Keistimewaannya
    Ditlantas Polda Jatim Luncurkan Aplikasi TAR, Ini Keistimewaannya
    22/09/2020 - 11:00
  • Mantan Bupati Gresik KH Robbach Ma'sum Tutup Usia
    Mantan Bupati Gresik KH Robbach Ma'sum Tutup Usia
    22/09/2020 - 10:57
  • Mayday!, Pesawat Sedang Dibajak
    Mayday!, Pesawat Sedang Dibajak
    22/09/2020 - 10:54
  • Menlu RI: 75 Tahun Berdiri, PBB Harus Berdampak Nyata
    Menlu RI: 75 Tahun Berdiri, PBB Harus Berdampak Nyata
    22/09/2020 - 10:48
  • Mabincab Yakin Polemik Dualisme Ketua Terpilih PMII Banyuwangi Berakhir Happy Ending
    Mabincab Yakin Polemik Dualisme Ketua Terpilih PMII Banyuwangi Berakhir Happy Ending
    22/09/2020 - 10:42
  • Punya Kemampuan Melempar Bola Jarak Jauh, Arhan Alief Jadi Sorotan Selama TC di Kroasia 
    Punya Kemampuan Melempar Bola Jarak Jauh, Arhan Alief Jadi Sorotan Selama TC di Kroasia 
    22/09/2020 - 10:36
  • Perkara Pidana Kota Batu Didominasi Narkoba
    Perkara Pidana Kota Batu Didominasi Narkoba
    22/09/2020 - 10:30
  • Lomba Destana Jatim 2020, Ini yang Dilakukan Relawan Desa Durenan Madiun
    Lomba Destana Jatim 2020, Ini yang Dilakukan Relawan Desa Durenan Madiun
    22/09/2020 - 10:22
  • 270 Paus Pilot Terdampar di Pantai Tasmania, 90 Ekor Mati
    270 Paus Pilot Terdampar di Pantai Tasmania, 90 Ekor Mati
    22/09/2020 - 10:14

TIMES TV

Rahasia Tubuh Bugar dan Cantik Aktris Yurike Prastika

Rahasia Tubuh Bugar dan Cantik Aktris Yurike Prastika

17/09/2020 - 11:27

[CEK FAKTA] Pemerintah Bagikan Laptop bagi Siswa dan Guru Terdampak Covid-19

[CEK FAKTA] Pemerintah Bagikan Laptop bagi Siswa dan Guru Terdampak Covid-19
Warga SDK Santa Maria 2 Turut Rayakan HUT 33 Arema FC

Warga SDK Santa Maria 2 Turut Rayakan HUT 33 Arema FC
Hari Ulang Tahun  Arema FC, Ideologi dan Prinsip Dasar Arek-arek Malang

Hari Ulang Tahun  Arema FC, Ideologi dan Prinsip Dasar Arek-arek Malang
[CEK FAKTA] Gibran Tantang Rocky Gerung, Presiden Jokowi Serahkan Jabatan ke Prabowo

[CEK FAKTA] Gibran Tantang Rocky Gerung, Presiden Jokowi Serahkan Jabatan ke Prabowo

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Mayday!, Pesawat Sedang Dibajak
    Mayday!, Pesawat Sedang Dibajak
    22/09/2020 - 10:54
  • Kurikulum Baru: Biarkan Sejarah Berbicara
    Kurikulum Baru: Biarkan Sejarah Berbicara
    22/09/2020 - 03:22
  • Politik, Pemimpin dan Kepemimpinan
    Politik, Pemimpin dan Kepemimpinan
    21/09/2020 - 18:27
  • Membangun Optimisme di Tengah Ancaman Resesi Ekonomi
    Membangun Optimisme di Tengah Ancaman Resesi Ekonomi
    21/09/2020 - 15:12
  • Teaching English for 21st Century Students
    Teaching English for 21st Century Students
    21/09/2020 - 12:30
  • Parpol dan HAM
    Parpol dan HAM
    21/09/2020 - 10:09
  • Membaca Benturan Jelang Pilkada
    Membaca Benturan Jelang Pilkada
    21/09/2020 - 09:37
  • Pilihan Baru Organisasi Mahasiswa Baru
    Pilihan Baru Organisasi Mahasiswa Baru
    21/09/2020 - 08:55
  • Pengakuan 3 Pemerkosa Mahasiswi Secara Bergilir
    Pengakuan 3 Pemerkosa Mahasiswi Secara Bergilir
    22/09/2020 - 05:10
  • Radar TNI Rekam Kemunculan 200 Kapal Perang Asing di Selat Malaka
    Radar TNI Rekam Kemunculan 200 Kapal Perang Asing di Selat Malaka
    22/09/2020 - 07:10
  • Nunung Sekeluarga Positif, Lakukan Ini Usai Kontak sama Pasien Corona
    Nunung Sekeluarga Positif, Lakukan Ini Usai Kontak sama Pasien Corona
    22/09/2020 - 05:00
  • Sadis, Kisah Mantan Istri Dennis Rodman Ingin Bercinta Tiap 8 Detik
    Sadis, Kisah Mantan Istri Dennis Rodman Ingin Bercinta Tiap 8 Detik
    22/09/2020 - 06:56
  • Ternyata Mayjen TNI Andi Cucu Panglima Perang Kerajaan Islam Bone
    Ternyata Mayjen TNI Andi Cucu Panglima Perang Kerajaan Islam Bone
    22/09/2020 - 08:08