Peristiwa Internasional

19 Tahun Tragedi WTC (3): Pundak Imam Shamsi Ali Ditepuk Presiden Bush, lalu.....

Selasa, 15 September 2020 - 14:11 | 12.28k
19 Tahun Tragedi WTC (3): Pundak Imam Shamsi Ali Ditepuk Presiden Bush, lalu.....
Presiden Bush ditemani kepala pemadam kebakaran NYC di ground zero WTC. (foto: dok Fox46)
Editor: Deasy Mayasari

TIMESINDONESIA, NEW YORKImam Shamsi Ali, presiden Nusantara Foundation, adalah satu dari dua perwakilan umat Islam di dunia yang diundang Presiden Bush tiga hari setelah tragedi WTC. Apa yang disampaikan tokoh Islam asal Indonesia ini?

**

Kini Presiden AS George W. Bush Jr, negara super power yang kerap memposisikan diri sebagai polisi dunia berdiri di depan saya. Orangnya biasa saja. Tidak setinggi ayahnya, Bush Sr. Juga tidak setinggi pendahulunya, Bill Clinton. Atau penggantinya Barack Obama. 

Dalam hati saya berpikir, kalau saya bergulat dengan Presiden Amerika ini mungkin bisa saya kalahkan. Apalagi sisa-sisa silat masa lalu masih tersimpan.

Presiden Bush juga orangnya ramah. Cepat menyapa. Juga nampak sangat lincah. 

Di depan saya, sambil melihat orang di samping saya, Joe Potasnik (Vice President NY Board of Rabbis), dia mengulurkan tangan ke saya. Ia menjabat tangan, sambil menyapa seolah mengenal. “Hey, how are you?”. 

Sambil menjabat tangannya saya merespons. “I am fine, thanks Mr President.”

Keramahan dan kehangatan Presiden Bush terasa. Ketika menjabat tangan saya, dia juga menepuk-nepuk pundak saya. Mungkin karena saya tidak tinggi. Jadi mudah diperlakukan  demikian. 

Karena waktunya singkat, saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Sambil masih berjabat tangan, saya memulai percakapan. Saya ingin menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan. 

Pada intinya tiga hal yang saya sampaikan kepada Presiden Amerika ketika itu:

Yang pertama, “Mr. President, my deepest condolence on behalf of the Muslim people, here at home and around the world.” Bapak Presiden, saya menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas nama orang-orang Islam, baik di Amerika maupun di seluruh dunia. 

Nampak Presiden serius, lalu menjawab singkat dan datar: “Thank you!”. 

Tapi sebelum bergerak saya menambah: “Mr. President, I am representing the largest Muslim community in the world” (Saya mewakili komunitas Muslim terbesar dunia). 

Mendengar itu, Presiden nampak bingung. Tapi teman saya, Imam Ezekiel Pasha dari Harlem yang berdiri di samping saya menyela. “He is from Indonesia.” (Dia berasal dari Indonesia). 

Mendengar itu Presiden Bush tersenyum dan nampak mengangguk. 

Saya kemudian dengan agak serius menyampaikan kepada Presiden Amerika: “Mr. President, God is with the Truth and justice” (Pak Presiden, Tuhan itu bersama dengan kebenaran dan keadilan). 

Saya sebenarnya tidak sadar kenapa tiba-tiba saja saya sampaikan hal itu. Belakangan baru saya sadari ternyata itu adalah refleksi terhadap ucapan Bush sehari sebelumnya yang mengatakan bahwa “God is with America.” Tuhan bersama Amerika. 

Nampaknya itu sebuah respon spontan untuk mengoreksi Presiden Amerika bahwa Tuhan itu tidak memihak kepada siapa-siapa. Tapi apa dan bagaimananya siapa-siapa. Jika Amerika memang “benar dan adil” maka Tuhan bersama Amerika. Tapi jika tidak benar dan tidak adil, Anda salah mengklaim kebersamaan itu. 

Mendengar itu, sang Presiden nampak mengangguk. Saya sendiri tidak tahu apakah beliau paham maksud saya? Dan kalaupun paham, apakah dia mendengarnya dengan serius? Dalam hati saya berkata: “You did convey” (Anda sudah menyampaikan). 

Nampak presiden ingin berpindah menyalami orang di sebelah saya. Beliau orang dikenal di kota New York dan memiliki posisi terhormat. Joe Potasnik adalah salah seorang Rabbi terkenal di US. Orangnya tinggi besar, tapi ramah dan juga senang bercanda. 

Tapi sebelum sang Presiden menyalaminya, saya masih menyampaikan satu hal lagi yang tadinya telah saya siapkan untuk Walikota New York. Tapi ternyata pertemuan ini terjadi dengan President Amerika. 

Saya sampaikan: “Mr President, would it be possible for you to give a public statement that this these attacks have nothing to do with my Faith (Islam) and my Community (Muslim).” Bapak Presiden, apakah memungkinkan untuk Anda menyampaikan statemen publik bahwa serangan ini tidak ada hubungannya dengan agama dan komunitas kami?”

Mendengar itu sang presiden tersenyum dan mengangguk tanpa berkata apa-apa. Dia kemudian melangkah ke sebelah dan menyalami Rabbi Joseph Potasnik. Nampak mereka serius tapi lebih lama ngobrolnya dari waktu yang ditentukan. Mungkin karena posisinya sebagai Ketua pendeta Yahudi di Kota New York. 

Yang pasti saya lengah. Apa yang ingin saya sampaikan ke pejabat New York (Walikota) kini telah saya sampai ke Presiden Amerika. Minimal tanggung jawab saya hingga pada tingkatan ini telah saya tunaikan. 

Memang beban dan tantangan kepada Komunitas Muslim dalam hari-hari itu sangat berat. Bukan saja beban karena kekerasan-kekerasan yang mulai terjadi di mana-mana, khususnya kepada Komunitas Arab dan Asia Selatan. Tapi juga beban mental, dengan persepsi yang secara sistimatis terbangun bahwa orang Islam itu musuh Amerika dan berbahaya. 

Lebih sejam bersama Bush di ruangan besar Gereja St. Patrick itu. Lalu presiden meninggalkan ruangan. 

Setelah Presiden keluar ruangan kami (pada tokoh agama) diarahkan keluar ke jalan 5th Avenue dan menaiki sebuah bus yang dikawal oleh beberapa mobil polisi dan motorcades. 

Saya awalnya tidak mengetahui kita akan dibawa ke mana. Maklum semuanya serba dirahasiakan. Dalam perjalanan itu saya selalu memilih berdampingan dengan Imam Ezekiel Pasha. Saya belum mengenal siapa-siapa dari pimpinan agama New York ketika itu.

Dari Imam Pashalah saya tahu bahwa kita sedang menuju Ground Zero untuk mendampingi presiden yang juga menuju ke sana dengan mobil khusus. 

Sesampai di Ground Zero di samping jalan-jalan yang dilalui telah penuh dengan warga dengan ragam spanduk. Mereka adalah keluarga para korban yang rupanya sudah diberitahu akan kedatangan Presiden Amerika. 

Melihat wajah-wajah mereka yang menangis, melambaikan tangan, saya terbawa emosi juga. Saya merasakan bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang dicintai (loved one). Lambaian tangan dengan bendera-bendera kecil Amerika menambah rasa emosi itu. 

Kami pun diarahkan ke sebuah titik dalam lokasi Ground Zero. Saya membayangkan kembali kedua gedung tinggi itu. Maklum saya belum sempat melihatnya, apalagi menaikinya, sebelum diluluhlantahkan. 

Rupanya di Ground Zero ketika itu masing-masing kelompok warga ditempatkan pada tempat tertentu untuk menjemput kehadiran Presiden Bush. Ada barisan polisi, barisan pemadam kebakaran, barisan pejabat kota, dan tentunya barisan kami para tokoh agama.

Sementara di bagian luar lokasi Ground Zero adalah warga umum dan keluarga korban. Mereka tiada henti-hentinya meneriakkan yel-yel: USA, USA, USA! 

Terasa sedang menonton pertandingan sepak bola antara USA dan entah dengan siapa. 

Tidak lama kemudian dari salah satu sudut Ground berhenti iring-iringan kendaraan Presiden yang dikawal dengan sangat ketat. Nampak Presiden Bush turun dari mobil dikelilingi oleh pengawal (Secret Service). Lalu berjalan masuk kawasan Ground Zero didampingi oleh Walikota, Rudy Giuliani, Police Commissioner Bernard Kerik, dan kepala Pemadam kebakaran NYC. 

Sesampai di dalam Ground Zero, Presiden nampak mencari onggokan bebatuan. Lalu menaikinya dan mengajak kepala pemadam kebakaran naik bersamanya. 

Saya ketika itu terus terang lebih banyak bingung. Selain karena ada perasaan bercampur aduk. Antara sedih, marah, khawatir, bahkan ada perasaan yang tidak menentu. 

Hembusan panasnya api dari bekas-bekas runtuhan gedung juga masih terasa. Bahkan bau amis, entah bau apa, juga masih terasa. Mungkin saja bau jasad korban yang terbakar.

Posisi tokoh agama dari Presiden Amerika saat itu sekitar 10-15 meter. Ketika Bush berada di atas onggokan bebatuan itu, semua mata menuju kepadanya. 

Orang-orang di sekitar Ground Zero juga tidak henti-hentibya meneriakkan: "USA atau Live America!"

Suara bergemuruh itu seakan menusuk telinga. Sambil memegang pundak Kepala Pemadam Kebakaran NYC, Bush mulai menyapa semuanya: 

“Thank you! I want you to know that America today...” dan seterusnya. Intinya menyampaikan bagaimana Amerika sedang dirundung musibah. Tapi Amerika kuat dan tegar. 

Satu kalimat yang keluar dari mulut Bush, yang belakangan menjadi slogan di luas: “We will forgive, but never forget” (Kita akan maafkan. Tapi kita tidak akan melupakan). 

Lalu apa saja isi pidato Bush di Ground Zero sore itu yang paling penting dan berdampak luas bahkan secara global? (bersambung/baca lanjutan tulisan Imam Shamsi Ali edisi 4 tentang tragedi WTC ini).(*)



Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
KOMENTAR

EKORAN

TERBARU

  • Scribble Rider Game Mobile Paling Populer Selama Agustus 2020
    Scribble Rider Game Mobile Paling Populer Selama Agustus 2020
    20/09/2020 - 04:37
  • Jelang Pemilu AS 2020, Twitter Perketat Keamanan Akun
    Jelang Pemilu AS 2020, Twitter Perketat Keamanan Akun
    20/09/2020 - 02:24
  • TikTok Minta Dukungan Instagram Atas Larangan Pemblokiran AS
    TikTok Minta Dukungan Instagram Atas Larangan Pemblokiran AS
    20/09/2020 - 01:13
  • Dinkes Majalengka Usul Pembelajaran Tatap Muka Tidak Dipaksakan
    Dinkes Majalengka Usul Pembelajaran Tatap Muka Tidak Dipaksakan
    20/09/2020 - 00:06
  • Ketua DPRD Muratara Ajak Masyarakat Ciptakan Pilkada Aman dan Damai
    Ketua DPRD Muratara Ajak Masyarakat Ciptakan Pilkada Aman dan Damai
    19/09/2020 - 23:52
  • Dukung Santri saat Pandemi Covid-19, PEPC Bagikan Vitamin dan Sanitasi Kit
    Dukung Santri saat Pandemi Covid-19, PEPC Bagikan Vitamin dan Sanitasi Kit
    19/09/2020 - 23:45
  • Desa Dayeuhwangi Majalengka Gandeng Pertamina Bangun Pertashop, Satu Harga dengan SPBU
    Desa Dayeuhwangi Majalengka Gandeng Pertamina Bangun Pertashop, Satu Harga dengan SPBU
    19/09/2020 - 23:37
  • DPC PKB Lamongan Lakukan Konsolidasi untuk Kemenangan KarSa
    DPC PKB Lamongan Lakukan Konsolidasi untuk Kemenangan KarSa
    19/09/2020 - 23:33
  • Angkat Potensi Desa, Bupati Malang HM Sanusi Serahkan SK Forkom BUMDesa
    Angkat Potensi Desa, Bupati Malang HM Sanusi Serahkan SK Forkom BUMDesa
    19/09/2020 - 23:23
  • Pemkot Jakarta Utara Rayakan HUT PMI dengan Gerebek Disinfektan
    Pemkot Jakarta Utara Rayakan HUT PMI dengan Gerebek Disinfektan
    19/09/2020 - 23:15

TIMES TV

Rahasia Tubuh Bugar dan Cantik Aktris Yurike Prastika

Rahasia Tubuh Bugar dan Cantik Aktris Yurike Prastika

17/09/2020 - 11:27

[CEK FAKTA] Pemerintah Bagikan Laptop bagi Siswa dan Guru Terdampak Covid-19

[CEK FAKTA] Pemerintah Bagikan Laptop bagi Siswa dan Guru Terdampak Covid-19
Warga SDK Santa Maria 2 Turut Rayakan HUT 33 Arema FC

Warga SDK Santa Maria 2 Turut Rayakan HUT 33 Arema FC
Hari Ulang Tahun  Arema FC, Ideologi dan Prinsip Dasar Arek-arek Malang

Hari Ulang Tahun  Arema FC, Ideologi dan Prinsip Dasar Arek-arek Malang
[CEK FAKTA] Gibran Tantang Rocky Gerung, Presiden Jokowi Serahkan Jabatan ke Prabowo

[CEK FAKTA] Gibran Tantang Rocky Gerung, Presiden Jokowi Serahkan Jabatan ke Prabowo

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Pak Arif Hoetoro dan Ide
    Pak Arif Hoetoro dan Ide "Nakal"
    19/09/2020 - 09:48
  • Menyerasikan Visi Cakada dengan Pemerintah Pusatt
    Menyerasikan Visi Cakada dengan Pemerintah Pusatt
    19/09/2020 - 03:16
  • Digitalisasi Marketing dalam Pengembangan Umkm Di Era New Normal
    Digitalisasi Marketing dalam Pengembangan Umkm Di Era New Normal
    18/09/2020 - 18:13
  • Pelanggaran Serius Hak Edukasi
    Pelanggaran Serius Hak Edukasi
    18/09/2020 - 11:55
  • Pentingnya Olahraga di Era New Normal
    Pentingnya Olahraga di Era New Normal
    18/09/2020 - 10:33
  • Pertarungan Klaim Keberhasilan Vs Narasi Harapan Baru
    Pertarungan Klaim Keberhasilan Vs Narasi Harapan Baru
    18/09/2020 - 08:46
  • Jumat Berkah: Kematian adalah Hadiah
    Jumat Berkah: Kematian adalah Hadiah
    18/09/2020 - 06:16
  • Kurikulum Darurat dan Pergolakan Guru Dwitunggal
    Kurikulum Darurat dan Pergolakan Guru Dwitunggal
    18/09/2020 - 02:16
  • Taiwan Terancam, 19 Jet Tempur China Sudah Masuk Pulau Taiwan
    Taiwan Terancam, 19 Jet Tempur China Sudah Masuk Pulau Taiwan
    20/09/2020 - 00:14
  • Malam-malam, Anies Datangi TPU Pondok Ranggon
    Malam-malam, Anies Datangi TPU Pondok Ranggon
    20/09/2020 - 00:00
  • Kegilaan Denis Rodman, Gegerkan AS karena Oral Seks di Siaran Radio
    Kegilaan Denis Rodman, Gegerkan AS karena Oral Seks di Siaran Radio
    20/09/2020 - 00:00
  • Lautaro Martinez Hattrick, Inter Milan Menang 7-0 Lagi
    Lautaro Martinez Hattrick, Inter Milan Menang 7-0 Lagi
    20/09/2020 - 00:57
  • Dramatis, Gol Pemain Pengganti Pastikan Kemenangan Arsenal
    Dramatis, Gol Pemain Pengganti Pastikan Kemenangan Arsenal
    20/09/2020 - 04:01