Kopi TIMES

Gerakan Pakai Masker dan upaya  Mencegah "Death Spiral" Dalam Penanganan Krisis

Selasa, 04 Agustus 2020 - 10:33 | 23.99k
Gerakan Pakai Masker dan upaya  Mencegah
Sigit Pramono, Chairman Indonesian Institute for Public Governance (IIPG).

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Berita menyangkut pandemi covid 19 di negara kita masih didominasi berita-berita yang sungguh sangat  memprihatinkan. Dari kabar pedagang pasar yang positif terinfeksi virus corona yang mengakibatkan ratusan  pasar rakyat harus ditutup, hingga kabar paling mengagetkan bahwa Indonesia bisa menjadi episentrum covid 19 ketiga setelah China dan India. Beberapa hari terakhir juga beredar kabar buruk bahwa Warga Negara Indonesia termasuk dalam kelompok beberapa warga negara asing yang belum bisa masuk ke negara-negara di Eropa . Ini melengkapi kabar buruk yang beredar bulan sebelumnya  yang dilansir majalah Forbes,  bahwa Indonesia  ada di peringkat 97 dari 100 Negara Di Dunia Yang Paling Aman dari Covid 19. 

Apa konsekuensi jika penanganan krisis karena pandemi tidak berhasil dan korban Covid 19 terus berjatuhan ? 
Kemungkinan besar akan dilakukan PSBB lagi atau bahkan bisa jadi malah   ‘lockdown’. 
Jika upaya apapun yang dilakukan yang menyebabkan orang harus tinggal di rumah, akan sangat buruk untuk perekonomian dan bisnis. Karena kenyataannya negara dan rakyat kita sudah tidak mampu memikul beban untuk melakukan PSBB lagi.
Di samping itu ada risiko sangat buruk yang akan muncul jika PSBB dilakukan lagi. Ada  risiko munculnya Spiral Maut atau "death spiral" dalam penanganan pandemi. 
Apa itu spiral maut dalam penanganan krisis akibat pandemi ? 
Ada beberapa pengertian mengenai spiral maut tetapi kita tampilkan 2 di sini :

 1. A period of continuous deterioration that leads ultimately to catastrophic failure or destruction. Atau,
 2. A situation that is quickly getting worse, often one that ends in disaster.

Jadi munculnya spiral maut dalam penanganan pandemi pada dasarnya ialah  suatu keadaan di mana dampak dari suatu kebijakan yang akan diambil setelah kebijakan sebelumnya,   yang dapat menimbulkan suasana yang semakin memburuk. Akhirnya berujung pada timbulnya kekacauan atau bencana . 
Kalau kita cermati perkembangan akhir-akhir ini di negeri kita, tanda-tanda memburuknya keadaan sudah terlihat. Sebagai contoh, sebelum wabah corona merebak, yaitu pada periode Kwartal IV akhir tahun 2019, pertumbuhan ekonomi kita masih tercatat 4,97%. Dan pada kuartal I/2020 tercatat hanya 2,97%. Pengangguran bertambah 4,86 juta,  restrukturisasi kredit  perbankan hingga 15 Juni 2020 mencapai 6,27 juta debitur dengan outstanding kredit Rp655,84 triliun dan akan terus bertambah.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati,  memprediksi sampai akhir tahun 2020 pertumbuhan ekonomi kita bisa 0 % atau bahkan bisa negatif. Beberapa pengamat juga menyampaikan prediksi pertumbuhan ekonomi 0% atau tidak tumbuh bahkan bisa -3,1%. Artinya dalam penanganan pandemi ini ada kemungkinan keadaan semakin memburuk, ada risiko terjadinya depresi,  perusahaan yang bangkrut akan semakin banyak, pengangguran semakin meningkat. Ujung-ujungnya bisa terjadi keresahan dan kerusuhan sosial.
Penangananan pandemi dengan melakukan PSBB lagi, juga bisa membawa risiko  munculnya lingkaran setan : masalah kesehatan menimbulkan masalah ekonomi, kemudian masalah ekonomi menimbulkan masalah kesehatan dan seterusnya, berputar putar tanpa ujung pangkal yang jelas.

Jadi apa yang harus kita lakukan ? 
Kita harus melakukan upaya-upaya pencegahan agar tidak muncul spiral maut tersebut. 

Hanya saja yang harus kita perhatikan dengan seksama, sekarang ini pilihan kita tidak banyak. Bahkan jika kita belajar dari pengalaman kita sendiri dalam menangani pandemi covid 19 dari sejak wabah merebak awal Maret 2020 sampai sekarang, kita hanya punya satu pilihan yang tersisa, yaitu mendisiplinkan masyarakat pakai masker. Tentu dengan upaya lainnya yang sudah menjadi paket “ tri tunggal ” yaitu: Pakai Masker, Jaga Jarak, Jaga Kesehatan dengan sering cuci tangan. 

Upaya meningkatkan  kesadaran dan disiplin masyarakat memakai masker harus menjadi sebuah gerakan nasional yang masif. Gerakan Pakai Masker harus menjadi hajat hidup semua pihak, tanpa terkecuali. Pemerintah dan semua warga negara harus bergerak bersama bahu membahu menyadarkan masyarakat agar disiplin pakai masker. 

Pilihan menggalakkan masyarakat  pakai masker ini sebetulnya jauh lebih murah dari pada kita melakukan PSBB. Kita tahu PSBB  biayanya mahal, karena kegiatan ini  melibatkan banyak sekali pihak, memobilisasi pegawai negeri sipil, polisi, tentara dan sebagainya. 

Memakai masker mungkin banyak yang menganggapnya sepele, remeh temeh. Tetapi jika masyarakat disiplin pakai masker, kita dapat menekan jumlah korban yang meninggal.  Apakah itu mungkin kita lakukan? Mengapa tidak?
Karena memakai masker akan mengurangi risiko tertular dan menularkan virus corona turun hingga 70%. Jika ditambah dengan kebiasaan jaga jarak dan cuci tangan risiko tertular dan menularkan virus corona turun hampir 100%.

Tujuan utama gerakan pakai masker  adalah untuk mengurangi jumlah korban nyawa karena pandemi covid 19. Tetapi kita juga akan mendapatkan keuntungan lain jika gerakan pakai masker berhasil.
Apa saja keuntungan  itu? 

Yang pertama, Indonesia akan menjadi negara pilihan teratas yang akan dikunjungi investor untuk melakukan transaksi bisnis, investasi dan perdagangan.

Kedua, Indonesia akan menjadi negara pilihan pertama yang akan dikunjungi wisatawan asing.

Ketiga, warga negara Indonesia akan dipermudah  memasuki negara lain.
Ke empat, jemaah haji dan umroh Indonesia akan segera dizinkan masuk oleh Pemerintah Arab Saudi.

Selain itu masih ada lagi  keuntungan tambahannya. Yaitu  kita dapat sekaligus melakukan upaya pencegahan timbulnya spiral maut dalam penanganan pandemi.
Kita juga bisa mengubah  persepsi bangsa lain terhadap Indonesia, dari bangsa yang dianggap gagal menangani pandemi, menjadi bangsa yang berhasil  dalam penanganan pandemi.

Di samping itu jika gerakan pakai masker berhasil, akan dapat menghindari kemungkinan dilakukannya PSBB lagi di masa yang akan datang. Karena jika dilakukan lagi PSBB , jelas akan membawa dampak lebih buruk pada  perekonomian dan dunia bisnis. Jika kita melakukan PSBB lagi mungkin kita dapat menyelamatkan nyawa, tetapi kita tidak bisa menyelamatkan ekonomi.

Jika kita berhasil mencegah timbulnya spiral maut, artinya kita bisa mencegah timbulnya risiko terburuk yaitu  depresi ekonomi dan kerusuhan.  Jika hal-hal di atas terjadi maka proses pemulihan perekonomian dijamin akan lebih cepat. 

Sektor pariwisata misalnya,  yang menjadi salah satu tulang punggung ekonomi negara kita, penyumbang devisa terbesar, penyedia lapangan pekerjaan yang besar, akan bangkit dan hidup kembali.

Kita kembangkan pariwisata  domestik yang menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kita dorong masyarakat Indonesia gemar jalan-jalan di negeri sendiri.

Jelas penerimaan devisa dari ekspor dan pariwisata yang mengandalkan wisatawan asing akan anjlok karena seluruh dunia juga resesi.

Kementerian Parekraf sebaiknya hentikan promosi gaya "Wonderful Indonesia" atau " Thoughtful Indonesia'.

Dalam 2 tahun ke depan tidak akan banyak wisatawan asing datang ke Indonesia. 
Pengalaman krisis  ekonomi 97/98 dan peristiwa Bom Bali 1 dan 2, diperlukan waktu lebih dari 2 tahun agar pariwisata pulih, dan akhirnya turis asing kembali berduyun duyun ke Indonesia.
Apalagi sekarang ini yang di bom Corona  bukan hanya Bali, tetapi seluruh Indonesia bahkan seluruh dunia.

Kampanye Pariwisata agar masyarakat Indonesia jalan-jalan ke seluruh negeri dengan protokol kesehatan yang ketat, harus terus  digencarkan. Ayo bung,  kita bekerja keras  bersama-sama mencegah agar tidak terjadi "death spiral" dalam penanganan pandemi Covid 19, agar perekonomian Indonesia tidak semakin terpuruk masuk ke jurang resesi yang semakin dalam. (*)

 

*) Sigit Pramono, sekarang memimpin sebuah gerakan sosial yang mengkampanyekan penggunaan masker : Gerakan Pakai Masker. Selain itu dia adalah Chairman Indonesian Institute for Public Governance ( IIPG) dan Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin)

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.



Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

EKORAN

TERBARU

  • Dusun Gerdu, a Tourism Village in Batu Where all Herbs and Spices Nestled
    Dusun Gerdu, a Tourism Village in Batu Where all Herbs and Spices Nestled
    02/10/2020 - 06:16
  • Artis Dunia Juga Pernah Terpapar Covid-19, Siapa Saja Mereka?
    Artis Dunia Juga Pernah Terpapar Covid-19, Siapa Saja Mereka?
    02/10/2020 - 05:25
  • i Boat, a Smart Boat to Help the Lifeguards
    i Boat, a Smart Boat to Help the Lifeguards
    02/10/2020 - 04:59
  • Shopping for Groceries at Conventional Market During the Pandemic
    Shopping for Groceries at Conventional Market During the Pandemic
    02/10/2020 - 04:22
  • Prominent Artists Diagnosed with Covid-19
    Prominent Artists Diagnosed with Covid-19
    02/10/2020 - 03:27
  • Enam Tips Pakar Agar Hidupmu Dekat dengan Keberuntungan
    Enam Tips Pakar Agar Hidupmu Dekat dengan Keberuntungan
    02/10/2020 - 02:26
  • Creek Flows on Your Feet while You Enjoy Your Meals at Banyu Biru Jombang
    Creek Flows on Your Feet while You Enjoy Your Meals at Banyu Biru Jombang
    02/10/2020 - 02:00
  • 5 Top Beaches to Watch Sunrise in Indramayu
    5 Top Beaches to Watch Sunrise in Indramayu
    02/10/2020 - 01:31
  • New K-Drama Series for You on October
    New K-Drama Series for You on October
    02/10/2020 - 00:53
  • Corona Menghentikan Semua, Kecuali Pilkada
    Corona Menghentikan Semua, Kecuali Pilkada
    02/10/2020 - 00:27

TIMES TV

[CEK FAKTA] Pemerintah Bagikan Laptop bagi Siswa dan Guru Terdampak Covid-19

[CEK FAKTA] Pemerintah Bagikan Laptop bagi Siswa dan Guru Terdampak Covid-19

18/08/2020 - 19:13

Warga SDK Santa Maria 2 Turut Rayakan HUT 33 Arema FC

Warga SDK Santa Maria 2 Turut Rayakan HUT 33 Arema FC
Hari Ulang Tahun  Arema FC, Ideologi dan Prinsip Dasar Arek-arek Malang

Hari Ulang Tahun  Arema FC, Ideologi dan Prinsip Dasar Arek-arek Malang
[CEK FAKTA] Gibran Tantang Rocky Gerung, Presiden Jokowi Serahkan Jabatan ke Prabowo

[CEK FAKTA] Gibran Tantang Rocky Gerung, Presiden Jokowi Serahkan Jabatan ke Prabowo
Pro Kontra Masuk Sekolah Saat Pandemi

Pro Kontra Masuk Sekolah Saat Pandemi

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Corona Menghentikan Semua, Kecuali Pilkada
    Corona Menghentikan Semua, Kecuali Pilkada
    02/10/2020 - 00:27
  • Strategi Mutu dan Daya Saing Perguruan Tinggi Swasta
    Strategi Mutu dan Daya Saing Perguruan Tinggi Swasta
    01/10/2020 - 22:04
  • Mempertanyakan Kembali Ruang Publik untuk Perempuan
    Mempertanyakan Kembali Ruang Publik untuk Perempuan
    01/10/2020 - 21:27
  • "Memainkan" Kejahatan Pilkada
    01/10/2020 - 20:28
  • Hari Kopi Sedunia di Tengah Pandemi Covid-19
    Hari Kopi Sedunia di Tengah Pandemi Covid-19
    01/10/2020 - 18:44
  • Melihat Peristiwa G30S PKI dengan Sudut Pandang Berbeda
    Melihat Peristiwa G30S PKI dengan Sudut Pandang Berbeda
    01/10/2020 - 17:24
  • Mobilisasi Orkestrasi Kampus Merdeka Merajut Keberagaman
    Mobilisasi Orkestrasi Kampus Merdeka Merajut Keberagaman
    01/10/2020 - 04:52
  • Generasi Alfa, Teknologi Pembelajaran dan Indonesia 2045
    Generasi Alfa, Teknologi Pembelajaran dan Indonesia 2045
    30/09/2020 - 16:22
  • Hari Batik Nasional, Berikut Sejarah Batik di Indonesia
    Hari Batik Nasional, Berikut Sejarah Batik di Indonesia
    02/10/2020 - 06:05
  • Ramalan Zodiak 2 Oktober 2020: Libra Cemburu, Efek Kepikiran Mantan?
    Ramalan Zodiak 2 Oktober 2020: Libra Cemburu, Efek Kepikiran Mantan?
    02/10/2020 - 06:05
  • GEGER Kamera GoPro Dipasang di Toilet Perempuan Kampus UIN
    GEGER Kamera GoPro Dipasang di Toilet Perempuan Kampus UIN
    02/10/2020 - 06:05
  • Gatot Merasa Dicopot, Moeldoko: Belum Tentu Sesuai yang dipikirkan Pimpinan
    Gatot Merasa Dicopot, Moeldoko: Belum Tentu Sesuai yang dipikirkan Pimpinan
    02/10/2020 - 06:00
  • Warga Suriah Demonstrasi 5 Tahun Intervensi Rusia
    Warga Suriah Demonstrasi 5 Tahun Intervensi Rusia
    02/10/2020 - 06:00
  • Gejala Khas Pasien COVID-19, Tidak Bisa Cium Dua Bau Ini
    Gejala Khas Pasien COVID-19, Tidak Bisa Cium Dua Bau Ini
    02/10/2020 - 04:44
  • Bintang Porno Ungkap Rasanya Beradegan Seks Dilihat Pasangan Sendiri
    Bintang Porno Ungkap Rasanya Beradegan Seks Dilihat Pasangan Sendiri
    02/10/2020 - 00:20
  • Cara Santun Penuh Hormat Kolonel TNI Ucu Hadapi Jenderal Gatot Cs
    Cara Santun Penuh Hormat Kolonel TNI Ucu Hadapi Jenderal Gatot Cs
    02/10/2020 - 00:07
  • Adu Penalti, Liverpool Disingkirkan Arsenal dari Piala Liga
    Adu Penalti, Liverpool Disingkirkan Arsenal dari Piala Liga
    02/10/2020 - 04:06
  • 10 Pemain Barcelona Bantai Celta Vigo
    10 Pemain Barcelona Bantai Celta Vigo
    02/10/2020 - 04:32