Kopi TIMES

Mengapa Ketimpangan Berpotensi Memburuk Pasca Pandemi?

Kamis, 30 Juli 2020 - 16:19 | 13.66k
Mengapa Ketimpangan Berpotensi Memburuk Pasca Pandemi?
Hidsal Jamil, peneliti di Pusat Kajian Ekonomi Pembangunan dan Kerakyatan (PKEPK) Universitas Brawijaya Malang.

TIMESINDONESIA, MALANG – Di tengah masifnya penyebaran pandemi Covid-19, Bank Dunia membawa kabar gembira bagi Indonesia. Berdasarkan data tahun 2019, Bank Dunia merilis pendapatan nasional bruto per kapita Indonesia sekitar 4.050 dollar AS. Dengan capai tersebut, Indonesia sudah dapat dikategorikan sebagai negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income). 

Terlepas dari capaian tersebut, pembangunan ekonomi yang lebih inklusif tetap menjadi pertanyaan besar, bahkan semakin intens selama masa pandemi; apakah pendapatan di Indonesia telah terdisitribusi secara lebih merata pada setiap lapisan masyarakat? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mencermati kembali kondisi ketimpangan sebelum menyebarnya pandemi Covid-19. 

Ketimpangan Pra Pandemi

Mari kita kembali mengkaji kondisi ketimpangan Indonesia sejak Krisis Keuangan Asia 1998. Selama Krisis Keuangan Asia, terjadi penurunan aktivitas ekonomi yang cukup tajam dan puluhan juta orang harus jatuh ke dalam jurang kemiskinan. Namun demikian, pada periode tersebut tingkat ketimpangan individu mengalami penurunan cukup drastis dari rasio gini setahun sebelumnya mencapai 0,34 menjadi 0,31 pada periode krisis. 

Terjadinya penurunan ketimpangan selama Krisis Keuangan Asia dikarenakan pengeluaran kelompok pendapatan terkaya mengalami penurunan cukup dalam. Sebaliknya, pengeluaran kelompok pendapatan termiskin relatif tidak begitu berubah secara signifikan dikarenakan mereka yang berada di kelompok ini dapat berpindah dari ke sektor informal dengan skala usaha kecil, mikro, dan menengah.

Selanjutnya, selama dua dekade Pasca Krisis Keuangan Asia, ketimpangan individu di Indonesia yang dicerminkan dengan rasio gini mengalami peningkatan sebesar 7 basis poin menjadi 0,38 pada tahun 2019. Ketimpangan pada periode ini dikarenakan 20% kelompok terkaya menikmati ekspansi pendapatan dan konsumsi yang jauh lebih tinggi, dan pada saat yang sama, 40% kelompok termiskin tidak mengalami perubahan yang berarti.

Ketimpangan Pasca Pandemi

Lalu, bagaimana kondisi ketimpangan Indonesia pasca pandemi Covid-19? Jawaban dari pertanyaan ini dapat dilihat pada studi Davide Furceri dkk (2020) berjudul “Will Covid-19 affect inequality? Evidence from past pandemics”.

Secara garis besar, studi yang mereka lakukan memprediksi dampak pandemi Covid-19 terhadap ketimpangan individu berdasarkan pengalaman lima epidemi besar yang terjadi pada dua decade terakhir yaitu: SARS (2003); H1N1 (2009); MERS (2012); Ebola (2014); dan Zika (2016). Studi mereka juga menyertakan Indonesia sebagai sampel penelitian bersama dengan 63 negara lainnya.

Studi mereka memperkirakan terjadi peningkatan ketimpangan individu yang persisten pasca pandemi. Studi mereka mencatat rasio gini meningkat sekitar 0,75-1,25% pada saat lima tahun setelah pandemi berakhir. 

Peningkatan ketimpangan individu pasca pandemi, paling tidak, dapat dijelaskan melalui dua mekanisme. Pertama, ketimpangan individu yang memburuk dikarenakan respons kebijakan pemerintah selama proses pemulihan ekonomi pasca pandemi bersifat regresif. Artinya, manfaat dari stimulus ekonomi lebih banyak berpihak pada 20% kelompok terkaya dibandingkan dengan 40% kelompok termiskin. 

Dalam banyak kasus, skema pemulihan ekonomi seperti kebijakan pelonggaran perpajakan dunia usaha, restrukturisasi kredit, dan subsidi bunga cenderung dinikmati korporasi besar. Kalaupun UMKM yang menjadi tanggul hidup kelompok miskin dan rentan direncanakan memperoleh stimulus, namun efektivitas dari kebijakan ini sangat terbatas mengingat aktivitas UMKM di Indonesia banyak bersentuhan dengan lembaga keuangan informal. Juga tidak ada jaminan kalau kebijakan stimulus UMKM memungkinkan mereka berkolaborasi dengan korporasi besar.

Kedua, ketimpangan individu yang memburuk disebabkan perbedaan kualitas SDM. Sebagai contoh, dunia usaha dan industri semakin masif melakukan digitalisasi pasca pandemi dan pada saat yang sama, melakukan perampingan tenaga kerja yang digunakan dalam proses produksi. 

Sebagian besar pengurangan tenaga kerja cenderung menyasar SDM berketrampilan dan berpendidikan rendah. Sedangkan, SDM berketrampilan dan berpendidikan tinggi yang sudah dibekali dengan literasi digital, kemampuan kolaborasi dan adaptasi yang memadai cenderung dipertahankan untuk meningkatkan produktivitas dan mengungkit daya saing perusahaan pasca pandemi. Sayangnya, selama satu dekade terakhir transformasi ketenagakerjaan di Indonesia masih berjalan cukup lambat sehingga mayoritas tenaga kerja masih belum dibekali kemampuan yang dibutuhkan di era Revolusi Industri 4.0.

Potensi memburuknya ketimpangan individu bisa saja membuyarkan ikhtiar Indonesia untuk bergerak dari negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income) ke negara berpendepatan tinggi (high income).  

Itu sebabnya, peringatan yang diutarakan oleh Joseph Stiglitz, peraih nobel ekonomi di tahun 2001, perlu kita cermati kembali dalam menyusun skema pemulihan ekonomi pasca pandemi; kebijakan yang melahirkan cacat ekonomi akan memunculkan cacat individu, dan selanjutnya menciptakan cacat masyarakat. Tentu, kita berharap skema pemulihan ekonomi yang dirancang tidak berujung pada cacat ekonomi seperti yang dituturkan Stiglitz. (*)

***

*)oleh: Hidsal Jamil, peneliti di Pusat Kajian Ekonomi Pembangunan dan Kerakyatan (PKEPK) Universitas Brawijaya Malang.

*)Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.



Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
KOMENTAR

EKORAN

TERBARU

  • Have a Customized Printed Shirt from These Guys
    Have a Customized Printed Shirt from These Guys
    10/08/2020 - 03:16
  • Hijab Arre Gives You a Trendy Looking Veil
    Hijab Arre Gives You a Trendy Looking Veil
    10/08/2020 - 02:20
  • Enjoy a Lush of Pine Tree at Pinus Songgon Banyuwangi
    Enjoy a Lush of Pine Tree at Pinus Songgon Banyuwangi
    10/08/2020 - 01:12
  • Pekan Kemerdekaan Ala Desa Blaban Pamekasan untuk Meriahkan HUT RI ke 75
    Pekan Kemerdekaan Ala Desa Blaban Pamekasan untuk Meriahkan HUT RI ke 75
    09/08/2020 - 23:26
  • Inilah 4 Kesamaan Jatuhnya Thoriq dan Multazam dari Bukit Piramid Bondowoso
    Inilah 4 Kesamaan Jatuhnya Thoriq dan Multazam dari Bukit Piramid Bondowoso
    09/08/2020 - 23:11
  • Komisi IX DPR RI Ingatkan Pemerintah Soal Bantuan Korban PHK
    Komisi IX DPR RI Ingatkan Pemerintah Soal Bantuan Korban PHK
    09/08/2020 - 23:05
  • Menikmati Senja di Garden Cafe Kateko Surabaya
    Menikmati Senja di Garden Cafe Kateko Surabaya
    09/08/2020 - 22:54
  • Ledia Hanifa: Lembaga Pendidikan Swasta Makin Menjerit di Tengah Pandemi
    Ledia Hanifa: Lembaga Pendidikan Swasta Makin Menjerit di Tengah Pandemi
    09/08/2020 - 22:44
  • Transmisi Lokal Bontang, 8 Warga Terkonfirmasi Positif Covid-19
    Transmisi Lokal Bontang, 8 Warga Terkonfirmasi Positif Covid-19
    09/08/2020 - 22:32
  • Mebel Jombang, Pertahankan Kualitas Meski Harga Kayu Semakin Mahal Saat Pandemi
    Mebel Jombang, Pertahankan Kualitas Meski Harga Kayu Semakin Mahal Saat Pandemi
    09/08/2020 - 22:25

TIMES TV

Bedah Buku: Bincang-bincang Perempuan

Bedah Buku: Bincang-bincang Perempuan

28/07/2020 - 12:12

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan
Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?
Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil

Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil
Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang

Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Integrasi Komunal Desa, Antisipasi Krisis Pascapandemi
    Integrasi Komunal Desa, Antisipasi Krisis Pascapandemi
    08/08/2020 - 15:01
  • Gak Usah Eman-Eman, Dana dan Aset Desa Itu Milik Seluruh Masyarakat Desa
    Gak Usah Eman-Eman, Dana dan Aset Desa Itu Milik Seluruh Masyarakat Desa
    08/08/2020 - 14:06
  • Solusi Masalah Daftar Pemilih Jelang Pilkada
    Solusi Masalah Daftar Pemilih Jelang Pilkada
    07/08/2020 - 13:00
  • Jumat Berkah: Kesabaran Kaum Awam dan Khas
    Jumat Berkah: Kesabaran Kaum Awam dan Khas
    07/08/2020 - 10:06
  • Masa Pandemi: Guru pun harus di Zonasi
    Masa Pandemi: Guru pun harus di Zonasi
    07/08/2020 - 09:33
  • Etika, Kebebasan dan Pemuliaan Perempuan
    Etika, Kebebasan dan Pemuliaan Perempuan
    07/08/2020 - 05:10
  • Menghitung Peluang Kandidat di Pilkada Tangsel 2020
    Menghitung Peluang Kandidat di Pilkada Tangsel 2020
    07/08/2020 - 03:22
  • Dilema Pilkada Serentak 2020
    Dilema Pilkada Serentak 2020
    07/08/2020 - 01:21
  • Polisi Tangkap Spesialis Pencurian HP di Tempat Kos, Begini Modusnya
    Polisi Tangkap Spesialis Pencurian HP di Tempat Kos, Begini Modusnya
    10/08/2020 - 03:05
  • Ditemani Mega, Penghuni Apartemen Prospero Meninggal Usai Minum Ronde
    Ditemani Mega, Penghuni Apartemen Prospero Meninggal Usai Minum Ronde
    10/08/2020 - 02:10
  • Keroyok Agung di Penginapan, Dua Remaja Diamankan Polisi
    Keroyok Agung di Penginapan, Dua Remaja Diamankan Polisi
    10/08/2020 - 01:05
  • Cegah Pengguna KRL Berkerumun, KCI Buat Penyekatan di Stasiun Tanah Abang
    Cegah Pengguna KRL Berkerumun, KCI Buat Penyekatan di Stasiun Tanah Abang
    10/08/2020 - 00:05
  • Negatif Corona Usai 10 Karyawannya Tes Ulang di 2 Lab , RS Azra Buka Suara
    Negatif Corona Usai 10 Karyawannya Tes Ulang di 2 Lab , RS Azra Buka Suara
    09/08/2020 - 23:14
  • Mengerikan, Tubuh Mike Tyson Usai Terapi Listrik Bikin Terpana
    Mengerikan, Tubuh Mike Tyson Usai Terapi Listrik Bikin Terpana
    10/08/2020 - 00:01
  • Pirlo Menangis Setelah Juventus Dihancurkan Barcelona
    Pirlo Menangis Setelah Juventus Dihancurkan Barcelona
    10/08/2020 - 00:50
  • Imbas Ledakan Beirut, Menteri Penerangan Lebanon Mundur
    Imbas Ledakan Beirut, Menteri Penerangan Lebanon Mundur
    10/08/2020 - 01:07
  • 8 Macam Fetish yang Jarang Diketahui Orang, Balon Hingga Cermin
    8 Macam Fetish yang Jarang Diketahui Orang, Balon Hingga Cermin
    10/08/2020 - 01:54
  • Sadis, Rayuan Solskjaer Agar Pogba Bertahan di MU
    Sadis, Rayuan Solskjaer Agar Pogba Bertahan di MU
    10/08/2020 - 01:54