Kopi TIMES

CIA, Ansor, dan Banser

Rabu, 01 Juli 2020 - 10:28 | 322.67k
CIA, Ansor, dan Banser
KH Imron Rosyadi Hamid, Rois Syuriyah PCINU Tiongkok, Kandidat PhD. Hubungan Internasional Jilin University - China
Editor: Deasy Mayasari

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Di tengah pro dan kontra Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (HIP), PBNU meminta agar pembahasan RUU tersebut dihentikan karena dapat menguak kembali konflik ideologi yang bisa mengarah kepada krisis politik. Meskipun sikap NU tersebut tidak secara eksplisit menyebut kata-kata komunisme, tetapi ada baiknya kita membaca sejarah peran Nahdlatul Ulama terutama sayap pemudanya - Ansor dan Banser - dalam gerakan pembersihan PKI di Tahun 1965-1966 yang sempat direkam oleh lembaga intelijen Amerika.

Central Intelligence Agencies (CIA) pernah membuat sebuah catatan intelijen (intelligent memorandum) bernomor 1586/66 tanggal 29 Juni 1966 dengan judul Indonesian Youth Groups. Dokumen rahasia lembaga telik sandi paling berpengaruh di dunia ini tidak boleh disebarkan ke pihak asing karena berklasifikasi NFD (No Foreign Dissem).

IMgae.jpg

Selain dibaca Wakil Direktur Intelijen Russel Jack Smith - berselang sehari - dokumen ini sampai ke Gedung Putih untuk diteruskan ke beberapa orang penting: Wakil Presiden Amerika Serikat Hubert Humprey dan veteran Perang dunia kedua yang pernah berkunjung ke Jakarta, Jenderal Maxwell D. Taylor yang juga menjadi penasehat khusus Presiden Lyndon Johnson.

Tulisan ini ingin membedah sejauh mana CIA melihat posisi dan peran Ansor - Banser dalam turbulensi politik Tahun 1965-1966 di Indonesia.

Pengakuan Peran Kesejarahan Dalam dokumen yang dirilis untuk umum Tahun 2001 ini, CIA mengakui peran kesejarahan organisasi pelajar dan pemuda sejak era pra kemerdekaan, terutama ketika penjajahan Jepang  dan  dilanjutkan empat tahun pasca kemerdekaan melawan Belanda yang ingin menjajah kembali Indonesia.

CIA melakukan kategorisasi terhadap lima belas organisasi pelajar dan kepemudaan yakni Ansor, Banser, HMI, PII, KAMI, KAPPI, GMNI, Banra, Pemuda Pancasila, PKRI, PMKRI, GMKI, Germindo, CGMI dan Pemuda Rakyat ke dalam tiga afiliasi aliran: Agama, Nasionalis, dan Sosialisme/Marxisme yang merujuk pada tiga kekuatan politik besar Indonesia di tahun-tahun menjelang peristiwa 30 September 1965 yakni Partai NU, PNI dan PKI.

Data CIA ini tidak salah, tetapi jika dibedah secara lebih detail berdasarkan sejarah kelahiran organisasi pelajar dan kepemudaan di Indonesia maka hanya Ansor dan Banser memiliki usia paling tua karena lahir sebelum penjajahan Jepang (lihat Ansor dan Orbitnya, Soeleiman Fadeli, 1995:12). Organisasi lain yang disebut dalam dokumen CIA, lahir setelah proklamasi kemerdekaan bahkan KAMI dan KAPPI baru muncul pasca peristiwa 30 September 1965.

Efektivitas Ansor dan Banser di daerah basis PKI 

Yang menarik dalam mapping kekuatan pemuda dan pelajar Indonesia, CIA memberikan catatan khusus terhadap Ansor dan Banser.

Pertama, secara internal, Ansor dan Banser dianggap lebih ‘blak-blakan (forthright)’ berhadapan dengan kekuatan komunis dibanding organisasi induknya, Nahdlatul Ulama, yang relatif pragmatis (terhadap kebijakan Nasakom ala Soekarno). Analisa CIA bisa kita perdebatkan terutama jika dikaitkan dengan penjelasan KH. Wahab Hasbullah bahwa masuknya Partai NU dalam barisan Nasakom justru merupakan strategi ‘kontrol dan amar ma’ruf nahi munkar dari dalam’.

Sikap ini juga menghindari pembubaran partai karena NU sempat memperoleh surat teguran dari Menteri Keamanan Nasional, Jenderal AH. Nasution, karena dianggap belum memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam Penetapan Presiden No. 7/1959 tentang syarat-syarat dan penyederhanaan kepartaian (Choirul Anam, 1990: 69).

Strategi ‘kontrol dari dalam’ ini pernah terbukti efektif ketika terjadi peristiwa bentrok anggota Ansor dengan PKI di Kediri, dan kemudian dibahas di sidang kabinet Bulan Maret 1964. Waktu itu, Ketua CC PKI Dipo Nusantara Aidit pernah meminta agar Ansor dibubarkan karena melakukan tindakan kekerasan terhadap rakyat.

Permintaan Aidit ini langsung disanggah oleh Idham Chalid sebagai ketua Partai NU dan mengatakan di depan Bung Karno, “Tidak bisa! saya tidak pernah mengajarkan kekerasan. Yang dilakukan Ansor membela rakyat akibat BTI (Barisan Tani Indonesia, salahsatu underbouw PKI) melakukan aksi sepihak”.

Ansorpun tidak jadi dibubarkan meskipun pada Bulan April 1964 pim pinannya yang terdiri dari Yahya Ubaid, Chalid Mawardi, Kun Sholehudin dan Hizbullah Huda (dua orang terakhir merupakan pimpinan Ansor Jawa Timur) sempat dipanggil Kepala BPI (Biro Pusat Intelijen) Subandrio yang didampingi Sekretaris BPI, Mayjend Soetarto untuk melakukan klarifikasi atas peristiwa Kediri tersebut (wawancara dengan Choirul Anam, 9 Pebruari 2018). 

Kedua, secara eksternal, CIA melihat Ansor dan Banser memiliki persebaran yang merata dan efektif sebagai kekuatan Islam dalam gerakan anti komunis terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur yang dianggap sebagai basis PKI dan nasionalis kiri. Berdasarkan asesmen dari CIA, dua organisasi yang memiliki afiliasi dengan Masyumi yakni HMI hanya efektif di Jakarta dan PII juga tidak mangkus karena terlibat perselisihan dengan ormas pemuda lain akibat proposalnya untuk menjadi ‘pimpinan permanen’ ditolak dan membuatnya dikeluarkan dari KAPPI tanggal 25 Mei 1966 (dokumen CIA halaman 5).

Lembaga intelijen Amerika itu secara khusus menyebut ada kompleksitas persoalan di Jawa Timur sebagai daerah basis PKI dan PNI yang harus dihadapi Ansor: keterlibatan sayap pemuda NU dalam gerakan ‘pembersihan’ PKI di sisi lain juga menghadapi tantangan dari sebagian anggota KKO dan Mobrig yang memiliki keluarga terafiliasi dengan PKI, ditambah lagi adanya unsur militer lain yang mendukung nasionalis kiri (leftist nationalist).

Ansor juga dilaporkan berselisih dengan organisasi lain lain yang menggunakan sentimen pro Sukarno (dokumen CIA halaman 8), bahkan berujung pada upaya penculikan dan pemukulan (dokumen CIA halaman 9).

Pada akhirnya, peristiwa yang terjadi sepanjang Tahun 1965-1966 bahkan sesudahnya, cukuplah menjadi bagian dari sejarah kelam kenegaraan masa lalu.

Meminjam kalimat George Santayana, those who cannot remember the past are condemned to repeat it (barangsiapa yang tidak dapat mengingat masa lalu, dikutuk untuk mengulanginya). Bangsa Indonesia perlu mengambil pelajaran agar peristiwa semacam itu tidak akan terjadi lagi. Wallahu a’lam bisshawab. (*)

 

***

 

* Oleh KH Imron Rosyadi Hamid, Rois Syuriyah PCINU Tiongkok, Kandidat PhD. Hubungan Internasional Jilin University - China

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.



Publisher : Sholihin Nur
KOMENTAR

EKORAN

TERBARU

  • Inovasi Biofuel, Bupati Muba Bakal Jadi Pembicara Seminar International
    Inovasi Biofuel, Bupati Muba Bakal Jadi Pembicara Seminar International
    10/07/2020 - 19:39
  • Di Ngawi Tak Pakai Masker, Siap-siap E-KTP Ditarik
    Di Ngawi Tak Pakai Masker, Siap-siap E-KTP Ditarik
    10/07/2020 - 19:35
  • Sempat Defisit, BUMdes Sarimulyo Kini Mampu Beri Pemasukan untuk Desa
    Sempat Defisit, BUMdes Sarimulyo Kini Mampu Beri Pemasukan untuk Desa
    10/07/2020 - 19:25
  • Telaga Sarangan Magetan Ditutup Lagi, Ini Penyebabnya
    Telaga Sarangan Magetan Ditutup Lagi, Ini Penyebabnya
    10/07/2020 - 19:23
  • DPRD Bondowoso Minta BUMD PT Bogem Dinonaktifkan, Ini Alasannya
    DPRD Bondowoso Minta BUMD PT Bogem Dinonaktifkan, Ini Alasannya
    10/07/2020 - 19:17
  • Aman dan Sehat Bersepeda di Masa Pandemi? Ini Tips Gus Haris
    Aman dan Sehat Bersepeda di Masa Pandemi? Ini Tips Gus Haris
    10/07/2020 - 19:16
  • Sebanyak 620 Orang Jalani Rapid Test, 500 Diantaranya dari Pondok Modern Gontor 2
    Sebanyak 620 Orang Jalani Rapid Test, 500 Diantaranya dari Pondok Modern Gontor 2
    10/07/2020 - 19:10
  • Pasta Madura, Kombinasi Makanan Lokal Unik Ala Regantris Hotel Surabaya
    Pasta Madura, Kombinasi Makanan Lokal Unik Ala Regantris Hotel Surabaya
    10/07/2020 - 19:05
  • Sempat Taaruf, Dinda Hauw Dinikahi Rey Mbayang
    Sempat Taaruf, Dinda Hauw Dinikahi Rey Mbayang
    10/07/2020 - 18:59
  • Lewat Video Call, Kapolri Apresiasi Polisi Pejuang Covid-19 Polresta Malang Kota
    Lewat Video Call, Kapolri Apresiasi Polisi Pejuang Covid-19 Polresta Malang Kota
    10/07/2020 - 18:54

TIMES TV

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

30/06/2020 - 20:22

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?
Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil

Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil
Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang

Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang
Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Penangkapan Maria Pauline Lumowa, Gebrakan atau Pengalihan Isu?
    Penangkapan Maria Pauline Lumowa, Gebrakan atau Pengalihan Isu?
    10/07/2020 - 15:18
  • Kerja Sama Singapura dan Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19
    Kerja Sama Singapura dan Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19
    10/07/2020 - 14:35
  • Guru Penggerak Sekaligus Pemimpin dan Pentingnya Simposium
    Guru Penggerak Sekaligus Pemimpin dan Pentingnya Simposium "Problem Base Learning"
    10/07/2020 - 14:00
  • Gus Dur: “Begitu Saja Kok Repot”
    Gus Dur: “Begitu Saja Kok Repot”
    10/07/2020 - 12:09
  • Mengulik Visi Pendidikan Kita
    Mengulik Visi Pendidikan Kita
    10/07/2020 - 11:27
  • Jum'at Berkah: Berjumpa Nabi Muhammad SAW secara Langsung
    Jum'at Berkah: Berjumpa Nabi Muhammad SAW secara Langsung
    10/07/2020 - 10:32
  • Poster Anti Korupsi Berbasis Teologis di Era New Normal
    Poster Anti Korupsi Berbasis Teologis di Era New Normal
    10/07/2020 - 07:06
  • Menakar Kekuatan Media Sosial
    Menakar Kekuatan Media Sosial
    10/07/2020 - 04:16
  • Tidur Menghadap Kipas Angin, Benarkah Berbahaya Bagi Kesehatan?
    Tidur Menghadap Kipas Angin, Benarkah Berbahaya Bagi Kesehatan?
    10/07/2020 - 19:43
  • Berkat Sandal Jepit, Kakek Suharto Selamat Usai 2 Jam Terjebak dalam Sumur
    Berkat Sandal Jepit, Kakek Suharto Selamat Usai 2 Jam Terjebak dalam Sumur
    10/07/2020 - 19:40
  • Donasi untuk Sains, Ribuan Mayat Justru Dibiarkan Busuk dan Dimakan Tikus
    Donasi untuk Sains, Ribuan Mayat Justru Dibiarkan Busuk dan Dimakan Tikus
    10/07/2020 - 19:40
  • Pilot Maskapai Plat Merah Ditangkap karena Pakai Sabu
    Pilot Maskapai Plat Merah Ditangkap karena Pakai Sabu
    10/07/2020 - 19:38
  • Konser Betrand Peto Digelar Tanpa Penonton
    Konser Betrand Peto Digelar Tanpa Penonton
    10/07/2020 - 19:33
  • Mayat Pria di Pinggir Tol ternyata Editor Metro TV
    Mayat Pria di Pinggir Tol ternyata Editor Metro TV
    10/07/2020 - 16:05
  • Jokowi: Positif Tembus 2.657, Lampu Merah Buat Kita
    Jokowi: Positif Tembus 2.657, Lampu Merah Buat Kita
    10/07/2020 - 12:17
  • Ternyata TNI Raksasa Kapal Perang Korvet Ketiga Dunia, Amerika Kalah
    Ternyata TNI Raksasa Kapal Perang Korvet Ketiga Dunia, Amerika Kalah
    10/07/2020 - 13:31
  • Lebih Ganas dari Corona, Virus Ini Bikin Manusia Jadi Zombie
    Lebih Ganas dari Corona, Virus Ini Bikin Manusia Jadi Zombie
    10/07/2020 - 08:30
  • Duta Antinarkoba Ditangkap Lagi Pesta Sabu
    Duta Antinarkoba Ditangkap Lagi Pesta Sabu
    10/07/2020 - 11:35