Kopi TIMES

Kejahatan Bank Indonesia Selama Pandemi, Benarkah?

Senin, 29 Juni 2020 - 20:00 | 12.22k
Kejahatan Bank Indonesia Selama Pandemi, Benarkah?
Yusril Atmayudha, Mahasiswa D III Kebendaharaan Negara PKN STAN.
Editor: Faizal R Arief

TIMESINDONESIA, JAKARTA – PSBB sudah tidak lagi digalakkan, sekarang adalah era-nya new normal. Dengan semakin menaiknya angka kasus positif, pemerintah lebih memutuskan untuk membuka kembali perekonomian. Kebijakan ini diambil bukan karena pemerintah tidak lagi sayang pada rakyatnya, tapi karena pemerintah tidak sanggup lagi menanggung biaya kehidupan masyarakat.

Pemerintah membuka kembali aktivitas perekonomian karena bukan hanya masyarakat saja yang terdampak. Realisasi penerimaan negara oleh pemerintah juga ikut terdampak.  Penerimaan perpajakan dan juga penerimaan negara bukan pajak (PNBP) secara berutan diprediksi mengalami penurunan sebesar 5,4 persen dan 26,5 persen. Kekurangan Penerimaan negara ini akan menyebabkan peran Bank Indonesia sangat diandalkan oleh pemerintah.

Pada bulan Mei, mantan Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, memberikan pernyataan yang membuat warga Indonesia heboh. Gita mengusulkan untuk mencetak uang sebesar Rp 4000 triliun. Uang tersebut diberikan pada pemerintah untuk kemudian langsung disalurkan kepada masyarakat yang kurang mampu serta kepada UMKM yang terdampak. Sehingga menurutnya, uang yang dicetak hanya digunakan untuk membeli kebutuhan, bukan meningkatkan gaya hidup. Usulan dari Gita ini menuai pro-kontra di masyarakat Indonesia.

Berita selanjutnya mengenai tawaran Pemerintah kepada Bank Sentral atau Bank Indonesia untuk membeli SBN dengan zero coupun atau suku bunga 0%. Menurut Said, salah satu anggota banggar DPR, seharusnya BI mau burden sharing (menanggung beban bersama) dengan pemerintah. Dengan dibelinya surat berharga negara dengan suku bunga dianggap hanya menambah beban negara karena harus membayar bunga Rp 400 triliun kepada bumi pertiwinya sendiri. Banyak pejabat yang juga sependapat bahwa usulan Said tersebut ada benarnya. Bahkan dalam berbagai media, BI dianggap sebagai penambah beban negara di era pandemi.

Muncullah pertanyaan “Apakah BI sekejam itu kepada rakyat Indonesia karena tidak ingin mencetak uang kemudian menggelontorkan uangnya kepada masyarakat dan/ atau membeli SBN zero coupon?”

Dalam tulisan ini, penulis ingin memberikan pandangan baru kepada masyarakat akan perspektif yang diambil Bank Indonesia dalam menghadapi pandemi berujung krisis.

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kita harus mengetahui terlebih dahulu mengenai hubungan BI dan pemerintah. Menurut website Bank Indonesia, Pemerintah dan BI memiliki hubungan keuangan dalam membiayai defisit APBN melalui pembelian surat hutang negara. Dalam undang-undang dijelaskan bahwa BI adalah Bank yang Independen dalam artian berhak dan wajib menolak segala intervensi dari pihak manapun. Meskipun independen, BI dengan pemerintah tetap memerlukan koordinasi dan konsultasi mengenai kebijakannya karena keduanya dalam satu ruang lingkup perekonomian Indonesia. Pemerintah dapat meminta pendapat dan juga masukan mengenai kebijakan yang akan dilakukan pemerintah kepada BI. Pemerintah juga dapat menghadiri Rapat Dewan Gubernur Bank tetapi tanpa hak suara.

Kemudian kita harus melihat kebijakan yang dapat dilakukan oleh Bank Indonesia. Bank Indonesia dapat melakukan kebijakan moneter dalam dua hal, yaitu kebijakan ekspansif (monetary expansive policy) untuk memberikan stimulus terhadap turunnya pertumbuhan ekonomi agar kembali meningkat dan juga kebijakan moneter kontraktif (monetary contractive policy) dengan tujuan supaya mengurangi jumlah uang beredar. Contoh dari kebijakan ekspansif adalah membeli surat berharga pemerintah, menurunkan suku bunga, dan menurunkan persyaratan pencadangan oleh bank. Contoh dari kebijakan kontraktif adalah menjual surat berharga pemerintah, menaikkan suku bunga, dan menaikkan persyaratan pencadangan oleh bank. 

“Bukankah perekonomian sedang turun sehingga kebijakan membeli SBN dan mencetak uang kemudian menggelontorkannya sudah tepat?”
Mencetak uang kemudian menggelontorkannya memiliki resiko yang sangat tinggi, yaitu inflasi. Bayangkan saja, ketika kamu tidak punya uang sama sekali kemudian tiba-tiba mendapat uang begitu saja dari BI. Orang-orang akan membeli barang bersamaan padahal barang hanya terbatas. Dalam pasar, semakin sedikit barang yang ditawarkan akan semakin tinggi harganya. Harga barang akan melambung tinggi tidak terkendali, masyarakat yang sebelumnya memilki uang akan tetap tidak bisa membeli kebutuhannya karena daya beli yang dimiliki juga kurang.

“Lalu, bagaimana jika membeli Surat Berharga Negara atau SBN dengan zero coupon?”

Bank Indonesia dapat membeli SBN dengan mencetak uang maupun menggunakan uang yang disimpan. Kemudian uang untuk membeli SBN ini akan dipakai oleh negara untuk membiayai belanja negara akibat defisit pandemi covid-19. Apalagi terdapat undang-undang baru mengenai perluasan wewenang BI untuk membeli SBN dari pasar primer. Uang yang tadi dibelanjakan oleh negara akan sampai pada masyarakat dan hasilnya adalah jumlah uang beredar meningkat atau inflasi.

“Kenapa Bank Indonesia tidak segera membantu Pemerintah?””

Bank Indonesia sedang dan telah membantu Pemerintah dengan hanya akan membeli surat utang negara senilai 150 Triliun sesuai dengan nota kesepemahaman dengan kemenkeu. BI juga membeli dengan syarat yield atau imbal hasil SBN yang diserap bank sentral tidak boleh lebih rendah dari biaya operasi moneter dan harus tradeable.

“Kenapa tidak membeli sebanyak-banyaknya tanpa batas dan bunga?”

Skema zero coupon yang diusulkan tersebut memilki banyak keterbatasan akan kebijakan moneter yang prudent. Skema tersebut sama dengan zaman Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) dulu, hanya mengulangi sejarah. BI menilai skema ini tidak efektif karena dapat menyebabkan inflasi yang tidak dapat dikontrol. Jumlah uang beredar saat itu sangat tinggi karena BI tidak bisa menjual kembali surat berharga negara yang tidak memiliki nilai kupon. 

Skema yang dilakukan oleh BI saat ini adalah Quantitive Easing atau disingkat dengan QE. Prinsipnya, bunga yang diberikan oleh Pemerintah harus sesuai atau di atas harga pasar. Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah krisis moneter di masa depan di mana ketika krisis sekarang telah selesai, Bank Indonesia dapat menjual kembali surat berharga negara. Uang yang beredar tadi dapat disedot kembali oleh Bank Indonesia untuk mengontrol lajunya inflasi. 

Kesimpulannya kebijakan membeli zero coupon dan mencetak uang kemudian membagi-bagikannya hanyalah mengatasi masalah pemerintah sesaat. Masalah yang baru akan timbul apabila Bank Indonesia tidak bisa mengontrol jumlah uang beredar dengan kebijakan moneternya. Jika hal itu terjadi, kebijakan fiskal pemerintah akan sia-sia dan akan terjadi krisis yang lebih parah berkepanjangan.

Saran penulis kepada Bank Indonesia agar tetap independen terhadap kebijakan prudent yang dijalankan. Menolak untuk membeli zero coupon dan tetap menjalankan skema quantitative easing. Cap menjadi beban pada negeri sendiri akan jauh lebih baik daripada penderitaan masyarakat di masa depan.

Kembali pada pertanyaan pertama, apakah Bank Indonesia jahat? BI ibaratnya seperti Ibu yang sayang anaknya dengan memberikan kebijakan ‘pahit’ untuk masyarakat saat ini, namun baik untuk masa depan jangka panjang Indonesia.

Terimakasih Bank Indonesia.

***

*) Oleh: Yusril Atmayudha, Mahasiswa D III Kebendaharaan Negara PKN STAN.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.



Publisher : Rizal Dani
KOMENTAR

EKORAN

TERBARU

  • This is How Matos Cafeteria Look After New Normal
    This is How Matos Cafeteria Look After New Normal
    04/07/2020 - 06:11
  • Nasi Jinggo, Another Balinese Fast Food with Extraordinary Taste
    Nasi Jinggo, Another Balinese Fast Food with Extraordinary Taste
    04/07/2020 - 05:21
  • Bahan Alami Ini Ampuh Kecilkan Pori-Pori Wajah
    Bahan Alami Ini Ampuh Kecilkan Pori-Pori Wajah
    04/07/2020 - 04:09
  • Have a Good Antioxidant in Your Body with Immune Booster of Miracle Aesthetic Clinic
    Have a Good Antioxidant in Your Body with Immune Booster of Miracle Aesthetic Clinic
    04/07/2020 - 03:30
  • Vengoz, All Time Shirt That Suit for Any Occasion
    Vengoz, All Time Shirt That Suit for Any Occasion
    04/07/2020 - 02:28
  • Fill Your Passion of Bonsai by Visiting Kampung Bonsai Central Java
    Fill Your Passion of Bonsai by Visiting Kampung Bonsai Central Java
    04/07/2020 - 01:23
  • Bromo Strawberry Agrotourism Trying to Get Back on the Track
    Bromo Strawberry Agrotourism Trying to Get Back on the Track
    04/07/2020 - 00:25
  • Ketua DPRD Kota Madiun, Kapolresta, Dandim Terjun Langsung ke Pusat Keramaian
    Ketua DPRD Kota Madiun, Kapolresta, Dandim Terjun Langsung ke Pusat Keramaian
    03/07/2020 - 23:32
  • Staf Khusus Presiden RI Beri Bantuan APD ke Pesantren Nurut Taqwa
    Staf Khusus Presiden RI Beri Bantuan APD ke Pesantren Nurut Taqwa
    03/07/2020 - 23:17
  • Mentan RI dan Menteri PUPR Bahas Program Food Estate Provinsi Kalteng
    Mentan RI dan Menteri PUPR Bahas Program Food Estate Provinsi Kalteng
    03/07/2020 - 23:05

TIMES TV

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

30/06/2020 - 20:22

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?
Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil

Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil
Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang

Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang
Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • KH. Ja’far Shodiq Syuhud, In Memoriam
    KH. Ja’far Shodiq Syuhud, In Memoriam
    03/07/2020 - 17:09
  • Juni 2020, Bulan Kelabu Bagi PWNU Jatim
    Juni 2020, Bulan Kelabu Bagi PWNU Jatim
    03/07/2020 - 10:01
  • Belajar di Era Covid-19, Mahasiswa Baru Harus Menjemput Bola
    Belajar di Era Covid-19, Mahasiswa Baru Harus Menjemput Bola
    03/07/2020 - 09:18
  • Tafsir Sastra Ramayana (1) Mahkota Kearifan Guru
    Tafsir Sastra Ramayana (1) Mahkota Kearifan Guru
    03/07/2020 - 07:50
  • Reshuffle Kabinet: Antara Letupan Politik vs Letupan Kinerja
    Reshuffle Kabinet: Antara Letupan Politik vs Letupan Kinerja
    03/07/2020 - 01:19
  • Politik Simbol, Politik Banal?
    Politik Simbol, Politik Banal?
    02/07/2020 - 17:01
  • Bukan Dramaturgi Marah Jokowi
    Bukan Dramaturgi Marah Jokowi
    02/07/2020 - 15:11
  • Manajemen Krisis New Normal
    Manajemen Krisis New Normal
    02/07/2020 - 12:30
  • Diam-diam, Begini Cara Baca Chat WhatsApp Tanpa Notifikasi Read
    Diam-diam, Begini Cara Baca Chat WhatsApp Tanpa Notifikasi Read
    04/07/2020 - 07:00
  • Bandara Lebanon Dibuka Kembali untuk Wisatawan
    Bandara Lebanon Dibuka Kembali untuk Wisatawan
    04/07/2020 - 07:00
  • Melly Goeslaw Menduga Lagu
    Melly Goeslaw Menduga Lagu "Bagaikan Langit" Viral Karena TikTok
    04/07/2020 - 07:00
  • Penyandang Disabilitas Laring Sulit Dapat Masker Leher di Tengah Pandemi
    Penyandang Disabilitas Laring Sulit Dapat Masker Leher di Tengah Pandemi
    04/07/2020 - 06:50
  • Sempat Dikucilkan, Warga Karakan Godean Sujud Syukur Usai Negatif COVID-19
    Sempat Dikucilkan, Warga Karakan Godean Sujud Syukur Usai Negatif COVID-19
    04/07/2020 - 06:40
  • 5 Potret Seksi Kekasih Tammy Abraham, Lebih Hot dari Cewek Bekasi Itu
    5 Potret Seksi Kekasih Tammy Abraham, Lebih Hot dari Cewek Bekasi Itu
    04/07/2020 - 01:25
  • Kronologi Mengerikan Meninggalnya Ayah Khabib Karena COVID-19
    Kronologi Mengerikan Meninggalnya Ayah Khabib Karena COVID-19
    04/07/2020 - 00:30
  • Move On dari Cewek Bekasi, Tammy Abraham Punya Pacar Cantik dan Seksi
    Move On dari Cewek Bekasi, Tammy Abraham Punya Pacar Cantik dan Seksi
    04/07/2020 - 00:04
  • Merinding, Firasat Khabib Jelang Ayahnya Dijemput Malaikat Maut
    Merinding, Firasat Khabib Jelang Ayahnya Dijemput Malaikat Maut
    04/07/2020 - 02:21
  • Dinyatakan Hilang, Jayadi Ternyata Bertahan Hidup di Tengah Laut
    Dinyatakan Hilang, Jayadi Ternyata Bertahan Hidup di Tengah Laut
    04/07/2020 - 01:22