Kopi TIMES

Kecemasan Sosial Selama Pandemi Covid-19

Jumat, 05 Juni 2020 - 15:03 | 15.52k
Kecemasan Sosial Selama Pandemi Covid-19
Rochmat Wahab adalah mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, pengurus PWNU DIY, Pengurus ICMI, dan Dewan Pakar Psycho Education Centre (PEC)
Editor: Faizal R Arief

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Kehadiran Covid-19 yang tiba-tiba menjangkau ke seluruh dataran dunia sangat mengejutkan manusia seantero dunia. Karena yang diserang itu tidak pandang bulu, apapun status negaranya. Termasuk negara maju pun, bahkan negara yang memiliki teknologi medis terbaik sedunia pun terdampak.

Hingga kini tanggal 1 Juni 2020 ada 2013 negara terdampak, terdapat 6.340.273 juta yang positif terkena virus Covid-19, yang sembuh 2.885.923 orang dan korban wafat sebanyak 376.219 orang atau 5,93 %. Indonesia ada 26.940 kasus, yang sembuh 7.637 orang, dan yang wafat 1.641 atau 6,09 %. Penambahan kasus yang terus menerus terutama di Indonesia inilah yang membuat kecemasan sosial terus meningkat. Walau adanya gagasan akan dimulai kebijakan New Normal,

sementara itu di tengah-tengah masyarakat kondisi dan situasinya belum established benar.

Orang-orang yang hidupnya dihidapi kecemasan sosial cenderung memiliki ketakutan terhadap perlakuan yang memalukan, penghinaan, dan penolakan dari orang-orang lain. Kondisi ini bisa mengarahkan mereka untuk menolak situasi sosial yang ada. Kita sebaiknya bisa membantu orang-orang yang cemas dalam waktu-waktu  yang sulit ini, bukan malahan tambah membebani. Selama masa pandemi, orang-orang didorong untuk mengambil jarak secara fisik dengan orang-orang yang ada di sekitar rumah.

Pengambilan jarak secara fisik bisa membebaskan diri dari orang-orang yang memiliki kecemasan sosial, tetapi  kurangnya interaksi dapat juga memelihara kecemasan sosial. Dengan begitu, bagaimanapun pembatasan jarak secara fisik dapat mempengaruhi kecamatan sosial. Jessica Caporuscio (2020) menjelaskan bahwa “Orang-orang yang memiliki kecemasan sosial sering menolak berinteraksi dengan orang-orang lain, karena ada rasa takut. Physical distancing cenderung mendorong banyak orang untuk menolak sosialisasi, yang mungkin hanya bisa terjadi  pembebasan sesaat”.  Namun, menolak interaksi sosial justru bisa memelihara kecemasan sosial. Salah satu tindakan umum untuk orang-orang yang memiliki kecemasan sosial adalah Terapi Perilaku Kognitif (Cognitive Behavioral Therapi = CBT), yang meliputi penyingkapan situasi sosial secara bertahap. Suatu penyingkapan pada diri orang-orang yang mengalami kecemasan sosial untuk menantang pikiran dan keyakinan yang menyebabkan adanya rasa takut. Selanjutnya dilakukan secara berangsur angsur hingga kecemasan sosial berkurang secara terus menerus sampai terjadi recovery total.

Pandemi juga bisa menciptakan sumber stress yang rapat mempengaruhi setiap orang, yang meliputì (1) khawatir tentang kesehatan dan keamanan, (2) galau mencari makanan dan kebutuhan lainnya, (3) ketegangan/problem finansial, (4) merasa terisolasi dan kesepian, dan (5) selalu berkeinginen update info tentang pandemi Covid-19.

Kecemasan sosial tidak boleh dibiarkan secara berkepanjangan. Karena menurut banyak dokter bahwa jika kecemasan yang terjadi secara terus menerus hingga menjangkau 6 bulan dan seterusnya, maka kecemasan sosial akan semakin berat, cenderung menunjukkan gejaka baru yang ditandai dengan pobia sosial, diantaranya : (1) bicara sangat pelan, (2) memberikan jawaban terhadap setiap pertanyaan secara minimal, (3) menolak kontak mata, dan (4) merasa cemas untuk berkomunikasi dengan telpon atau video call. Intinya bahwa mereka sangat berhati-hati dalam berinteraksi, sehingga cenderung perilakunya menjadi lebih autistik.

Physical distancing memang sangat potensial menjadikan orang semakin intens kurang interaksi. Semakin lama bisa menjadikan kecemasan sosial. Agar supaya kecemasan sosial tidak semakin berat, maka segera bisa dikompensasi dengan komunikasi virtual, baik melalui tertulis maupun media tiga dimensi, video conference atau Zoom meeting. Cara ini bisa memberikan kesempatan lebih terbuka untuk bicara dan berekspresi. Bicara dengan muatan formal akademik, maupun bicara informal yang nonakademik dengan ekspresikan perasaan dengan lebih bebas. Dengan demikian diharapkan kecemasan sosialnya bisa berkurang, optimalnya kecemasan sosialnya bisa menghilang.

Di samping dampak Pandemi Covid-19 terhadap kecemasan sosial, yang juga perlu perhatian adalah menjaga kesehatan mental. Beberapa upaya yang bisa dilakukan, di antaranya:  (1) membatasi menonton dan membaca berita, (2) mengikuti dan menjalani kegiatan rutin harian, (3) memelihara gaya hidup yang sehat, (4) menjaga dengan tertib dalam menkonsumsi obat, (5) menerapkan terapi perilaku kognitif, dan (6) menggunakan strategi psikologis lainnya.

Akhirnya kita menyadari bahwa antara aspek fisik dan psikologis dalam tubuh kita, tidak bisa diabaikan. Walaupun semula Pandemi Covid-19 itu urusan medis yang terkait dengan potologi fisik, dalam waktu yang sama juga berpengaruh terhadap gangguan psikologis. Salah satunya adalah kecemasan sosial sebagai akibat langsung atau tidak langsung dari munculnya Physical Distancing. Persoalan ini akan lebih parah dampaknta jika tidak disikapi dengan penerimaan yang baik dan solusi dengan baik, utamanya pemanfaat komunikasi virtual yang bisa mengkompensasi kelemahan yang menempel pada physical distancing. Di samping ada upaya memanfatkan dialog langsung untuk mentransferkan nilai-nilai penting yang tidak bisa diwakili oleh komunikasi yang bersifat formal dan akademik. (*)

***

*) Penulis Aldalah Rochmat Wahab adalah mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, pengurus PWNU DIY, Pengurus ICMI, dan Dewan Pakar Psycho Education Centre (PEC)

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.



Publisher : Sofyan Saqi Futaki
KOMENTAR

EKORAN

TERBARU

  • Pack Your Bag and Visit Ijen Crater Banyuwangi
    Pack Your Bag and Visit Ijen Crater Banyuwangi
    14/07/2020 - 06:09
  • Pasta Madura, a Dark Spaghetti with Spicy Shrimp ala Regantris Hotel Surabaya
    Pasta Madura, a Dark Spaghetti with Spicy Shrimp ala Regantris Hotel Surabaya
    14/07/2020 - 05:05
  • Get an Amazing Buffet Style Dinning at Grand Dafam Surabaya
    Get an Amazing Buffet Style Dinning at Grand Dafam Surabaya
    14/07/2020 - 04:04
  • Toba Caldera Finally Acknowledged as Unesco Global Geopark
    Toba Caldera Finally Acknowledged as Unesco Global Geopark
    14/07/2020 - 03:21
  • Hilangkan Jerawat Membandel Pakai Kulit Semangka
    Hilangkan Jerawat Membandel Pakai Kulit Semangka
    14/07/2020 - 02:22
  • Take a Glance at The Beautiful Ambience of Majalengka at Night
    Take a Glance at The Beautiful Ambience of Majalengka at Night
    14/07/2020 - 01:06
  • Sanksi Dicabut, Manchester City Bisa Bermain di Liga Champion Eropa
    Sanksi Dicabut, Manchester City Bisa Bermain di Liga Champion Eropa
    14/07/2020 - 00:06
  • Demi Kepercayaan Publik, Kemenparekraf: Pengusaha Hotel Harus Terapkan Protokol Kesehatan
    Demi Kepercayaan Publik, Kemenparekraf: Pengusaha Hotel Harus Terapkan Protokol Kesehatan
    13/07/2020 - 23:55
  • Surat Kesiapan Baru Masuk, Pemkot Bandung Percepat Aktivasi Ojol Angkut Penumpang
    Surat Kesiapan Baru Masuk, Pemkot Bandung Percepat Aktivasi Ojol Angkut Penumpang
    13/07/2020 - 23:48
  • Cerita Ria Sonia, Bocah Penderita Bocor Ginjal di Majalengka Datangi Polsek Minta Bantuan
    Cerita Ria Sonia, Bocah Penderita Bocor Ginjal di Majalengka Datangi Polsek Minta Bantuan
    13/07/2020 - 23:43

TIMES TV

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

30/06/2020 - 20:22

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?
Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil

Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil
Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang

Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang
Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Perjuangan Erdogan Membebaskan Hagia Sophia
    Perjuangan Erdogan Membebaskan Hagia Sophia
    13/07/2020 - 23:29
  • Peran Strategis Bank Indonesia Era Pandemi
    Peran Strategis Bank Indonesia Era Pandemi
    13/07/2020 - 22:00
  • Spirit Kuliah Daring
    Spirit Kuliah Daring
    13/07/2020 - 21:03
  • Mengusut Kembali Visi Pendidikan Negeri
    Mengusut Kembali Visi Pendidikan Negeri
    13/07/2020 - 20:15
  • Krisis Isu Rasisme di Amerika Serikat
    Krisis Isu Rasisme di Amerika Serikat
    13/07/2020 - 19:38
  • Tiga Paslon Pilkada Tangsel, Ini Peta Kekuatannya
    Tiga Paslon Pilkada Tangsel, Ini Peta Kekuatannya
    13/07/2020 - 17:12
  • Pilkada 2020 dan Momentum Lahirnya Pemimpin Dengan Gaya Baru
    Pilkada 2020 dan Momentum Lahirnya Pemimpin Dengan Gaya Baru
    13/07/2020 - 16:11
  • Membangun Peradaban Meritokrasi di Era Bonus Demografi
    Membangun Peradaban Meritokrasi di Era Bonus Demografi
    13/07/2020 - 15:50
  • IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan Seiring Menguatnya Nilai Tukar Rupiah
    IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan Seiring Menguatnya Nilai Tukar Rupiah
    14/07/2020 - 07:55
  • Ditinggal Mudik, Penghuni Syok Rumah Kontrakannya Penuh Belatung
    Ditinggal Mudik, Penghuni Syok Rumah Kontrakannya Penuh Belatung
    14/07/2020 - 07:52
  • Tagihan Listriknya Lebih dari Rp 37 Juta, Celine Evangelista: Masih Normal
    Tagihan Listriknya Lebih dari Rp 37 Juta, Celine Evangelista: Masih Normal
    14/07/2020 - 07:51
  • Perpanjang Masa Berlaku SIM, Ini Daftar Lokasi SIMLing DKI Jakarta
    Perpanjang Masa Berlaku SIM, Ini Daftar Lokasi SIMLing DKI Jakarta
    14/07/2020 - 07:50
  • Cara Mengaktifkan Video dan Suara Pada Zoom
    Cara Mengaktifkan Video dan Suara Pada Zoom
    14/07/2020 - 07:48
  • Nasib Karier Militer SBY, Jenderal TNI Tercerdas Tanpa Bintang 4
    Nasib Karier Militer SBY, Jenderal TNI Tercerdas Tanpa Bintang 4
    14/07/2020 - 07:02
  • Petaka di Menit Akhir, Manchester United Gagal Tembus 3 Besar
    Petaka di Menit Akhir, Manchester United Gagal Tembus 3 Besar
    14/07/2020 - 04:00
  • Real Madrid Menang Lagi, Peluang Juara LaLiga Makin Terbuka
    Real Madrid Menang Lagi, Peluang Juara LaLiga Makin Terbuka
    14/07/2020 - 04:56
  • Nasi Padang Jadi Sumber Penularan Corona, Cek Faktanya
    Nasi Padang Jadi Sumber Penularan Corona, Cek Faktanya
    14/07/2020 - 06:00
  • Eksekusi Mati di AS Pertama Kalinya dalam 17 Tahun, Siapa Terhukumnya
    Eksekusi Mati di AS Pertama Kalinya dalam 17 Tahun, Siapa Terhukumnya
    14/07/2020 - 01:12