Kopi TIMES

Rasisme Itu Dosa Asal Amerika

Kamis, 04 Juni 2020 - 14:44 | 18.37k
Rasisme Itu Dosa Asal Amerika
Imam Shamsi Ali. (FOTO: Istimewa)
Pewarta: | Editor: Khodijah Siti

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Akhir-akhir ini, sebagaimana yang saya (Imam Shamsi Ali) lihat, Amerika sedang memanas. Di sekitar 30 kota di 50 negara bagian terjadi kekisruhan-kekisruhan, bahkan kerusuhan, kekerasan dan penjarahan. Bahkan di sekitar Gedung Putih sendiri, memaksa Presiden dan keluarganya sempat disembunyikan di sebuah bunker, di bawah gedung kediaman Presiden US itu.

Kekisruhan, kekerasan dan bahkan penjarahan dan pembakaran itu dipicu oleh kematian seorang warga berkulit hitam (Afro) bernama George Floyd di kota Minneapolis di negara bagian Minnesota oleh aparat Kepolisian di kota itu.

Kematian George Floyd dan banyak yang lain sebelumnya mengakibatkan protes yang terjadi di berbagai kota di Amerika sesungguhnya adalah kobaran bara api dalam sekam yang telah lama tersembunyi oleh kepura-puraan di Amerika.

Permasalahan ras (rasisme), ketidak adilan (injustice) dan perlakuan diskriminatif (discrimination) terhadap minoritas merupakan sejarah panjang dan bersifat historis di negara ini.

Bahkan mungkin tidak berlebihan jika saya mengistilahkan prilaku rasis sebagian orang di negara ini bagaikan “dosa asal” (original sin) di negeri ini.

Tentu semua masih ingat bahwa penduduk asli Amerika (native Americans) itu adalah mereka yang kita kenal dengan “Indian American”. Mereka inilah sesungguhnya berhak mengklaim sebagai pribumi di Amerika.

Tapi dalam sejarahnya kendati mereka menerima kedatangan immigran warga putih (European immigrant) dari daratan Eropa, belakangan justeru dimarjinalkan bahkan lebih jauh terjadi pemusnahan secara sistimatis dan sistemik.

Setelah immigrant Eropa itu menguat (established), kaum native Indian kemudian dari masa ke masa diperlakukan secara buruk dan tidak berkeadilan. Bahkan lambat laun mereka semakin termarjinalkan dan ternihilisasi. Mereka umumnya diberikan kesempatan hidup di daerah-daerah perkampungan dan pegunungan yang tidak mendapat perhatian pembangunan negara.

Berbicara mengenai realita kehidupan Native American ini mengingatkan kita kepada pepàtah Indonesia klasik yang populer: “susu dibalas air tuba”. Kebaikan dan penerimaan pribumi Amerika dibalas dengan prilaku jahat dan rasis dari kalangan immigran Eropa.

Prilaku buruk kepada non White di negeri ini berlanjut dengan “mistreatment” oleh penduduk Putin (White American) kepada warga hitam (Afro) yang dibawa oleh mereka sebagai budak-budak dari negara-negara jajahan mereka di Afrika.

Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa banyak di antara mereka (budak-budak) itu, bahkan mayoritasnya, adalah orang-orang yang beragama Islam. Hal ini semakin tersingkap dengan perlahan-lahan seiring banyaknya Afro American yang memeluk agama Islam di kemudian hari.

Perlakuan kepada warga hitam ini menjadi catatan sejarah negeri ini, yang pastinya tidak diingkari oleh siapapun. Barangkali bukti yang paling nyata adalah bangkitnya warga Afro melakukan perlawanan di bawah kepemimpinan Martin Luther King Jr, Malcom X, dan lain-lain di tahun 60-an.

Diskriminasi ras berlanjut kemudian kepada bangsa Asia, khususnya Komunitas Jepang yang ditempatkan di kamp-kamp konsentrasi. Mereka seolah menjadi agen-agen musuh Amerika pasca Perang Dunia kedua.

Demikian seterusnya prilaku rasis dan diskriminatif ini berlanjut kepada warga Hispanic atau warga Latin yang datang dari negara-negara jiran di bagian selatan Amerika (South America).

Warga Mexico dan Colombia, bahkan warga negara bagian Puerto Rico yang dominannya berbahasa Spanyol juga mengalami prilaku rasis dan diskriminatif dari masa ke masa, hingga saat ini.

Belakangan prilaku diskriminatif dan sentimen anti Islam dan Muslim juga semakin menampakkan diri. Walaupun Islamophobia adalah catatan sejarah panjang di Amerika, kejadian 9/11 menjadi puncak dari semuanya.

Prilaku buruk kepada Komunitas Muslim semakin menjadi-jadi sejak terpilihnya pemerintahan Amerika saat ini. Di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump “mistreatment” warga minoritas termasuk warga Muslim semakin meluas.

Seringkali saya katakan di masa lalu Sebelum pemerintahan Donald Trump Islamophobia itu ada di pinggir-pinggir jalan. Saat ini justeru keluar dari White House dengan kebijakan yang terasa meminggirkan kaum minoritas.

Bagi kami warga Muslim, keputusan Donald Trump untuk melarang Islam masuk Amerika adalah kebijakan diskriminatif dan rasis kepada warga tertentu karena agama. Yang pastinya disadari oleh warga Amerika sebagai kebijakan yang tidak sejalan dengan Konstitusi maupun nilai-nilai mulia bangsa ini.

Musuh bersama bangsa Amerika

Menyikapi realita buruk dalam Perjalanan bangsa ini tentu menyadarkan semua pihak di Amerika bahwa “tendensi” bahkan realita itu harusnya menjadi musuh bersama untuk diperangi dan diselesaikan. Jika tidak, khawatirnya ini akan menjadi “trade mark” Kebangsaan yang memalukan.

Sesungguhnya hal ini bukan penyakit ras dan etnis tertentu dari manusia. Tapi lebih kepada penyakit mental manusia yang lupa diri dan ciptaan. Sebuah perasaan lebih (superioritas) karena warna kulit, ras dan etnisitas. Realitanya ini adalah penyakit pertama dalam sejarah makhluk Tuhan (baca sejarah Iblis).

Karenanya kita jangan melihat rasisme ini sebagai penyakit orang putih. Walau kenyataannya sejak masa imperialisme dan kolonialisme, kaum putihlah (Eropa) yang memang mendominasi prilaku Iblis ini. Hal itu karena mereka buta nurani karena keangkuhan dan transgresi yang mereka lakukan ke negara-negara non Putih, khususnya di Asia dan Afrika.

Maka kematian George Floyd dan banyak lagi warga hitam Amerika sebelumnya harusnya menyadarkan bangsa ini untuk bangkit dan melakukan “self correction” (perbaikan diri). Bahwa prilaku rasisme itu adalah musuh bersama bangsa ini dan harus diperangi secara kolektif.

Dari Pimpinan dan Komunitas agama-agama, para pendidik dan institusi-pendidikan, para seniman dan Komunitas Hollywood, hingga para bisnisman dan pelaku pasar, semua memiliki tanggung jawab Yang sama untuk memerangi prilaku rasisme ini.

Tentu tanggung jawab terbesar ada pada penanggung jawab pemerintahan. Mereka adalah pengendali negara sekaligus punya otoritas, baik moral maupun konstitutional untuk melakukan perbaikan-perbaikan secara sistemik untuk memerangi rasisme ini.

Yang menjadi masalah adalah ketika mereka yang berada di posisi kekuasaan justru memiliki kecendrungan yang sama. Sehingga kerap kali ketika terjadi prilaku rasis dalam masyarakat justru mendapat dukungan kekuasaan, baik langsung atau tidak langsung.

Ketika kaum minoritas bangkit melawan ketidak adilan, mereka dicaci dengan sumpah serapah. Dituduh bandit-bandit atau penjahat-penjahat (thugs), bahkan teroris.

Tapi ketika White Supremasi membantai warga minoritas, di antaranya warga Muslim, Yahudi dan warga Afro American yang paling banyak menjadi korban dalam tahun-tahun terakhir, kerap disikapi setengah hati. Bahkan tidak jarang mendapat pembelaan dari kekuasaan itu.

Saya tidak mendukung penjarahan dan prilaku melanggar hukum apapun bentuknya. Tapi terkadang saya harus memahami ekspresi kemarahan itu sebagai suara-suara perlawanan yang tidak terdengarkan (unheard) kepada rasisme dan ketidak adilan. Selama rasisme dan ketidak adilan dipelihara, apalagi oleh kekuasaan (sistem) maka perlawanan akan tetap berlanjut.

Where there is no justice, there is no peace!

Bahwa di mana saja ada ketidak adilan akan tumbuh resistensi perlawanan. Yang tentu pada akhirnya akan menumbuhkan rasa ketidak amanan di masyarakat.

Dan dalam suasana seperti ini diperlukan kepemimpinan (leadership) di tengah masyarakat. Bukan sekedar menampilkan kekuasaan yang nampak seperti arogan kepada rakyat yang termarjinalkan. Semoga!

New York City, 3 Juni 2020

* Akhir-akhir ini Amerika sedang memanas. Di sekitar 30 kota di 50 negara bagian terjadi kekisruhan-kekisruhan, bahkan kerusuhan, kekerasan dan penjarahan. Bahkan di sekitar Gedung Putih sendiri, memaksa Presiden dan keluarganya sempat disembunyikan di sebuah bunker, di bawah gedung kediaman Presiden US itu.

Kekisruhan, kekerasan dan bahkan penjarahan dan pembakaran itu dipicu oleh kematian seorang warga berkulit hitam (Afro) bernama George Floyd di kota Minneapolis di negara bagian Minnesota oleh aparat Kepolisian di kota itu.

Kematian George Floyd dan banyak yang lain sebelumnya mengakibatkan protes yang terjadi di berbagai kota di Amerika sesungguhnya adalah kobaran bara api dalam sekam yang telah lama tersembunyi oleh kepura-puraan di Amerika.

Permasalahan ras (rasisme), ketidak adilan (injustice) dan perlakuan diskriminatif (discrimination) terhadap minoritas merupakan sejarah panjang dan bersifat historis di negara ini.

Bahkan mungkin tidak berlebihan jika saya mengistilahkan prilaku rasis sebagian orang di negara ini bagaikan “dosa asal” (original sin) di negeri ini.

Tentu semua masih ingat bahwa penduduk asli Amerika (native Americans) itu adalah mereka yang kita kenal dengan “Indian American”. Mereka inilah sesungguhnya berhak mengklaim sebagai pribumi di Amerika.

Tapi dalam sejarahnya kendati mereka menerima kedatangan immigran warga putih (European immigrant) dari daratan Eropa, belakangan justeru dimarjinalkan bahkan lebih jauh terjadi pemusnahan secara sistimatis dan sistemik.

Setelah immigrant Eropa itu menguat (established), kaum native Indian kemudian dari masa ke masa diperlakukan secara buruk dan tidak berkeadilan. Bahkan lambat laun mereka semakin termarjinalkan dan ternihilisasi. Mereka umumnya diberikan kesempatan hidup di daerah-daerah perkampungan dan pegunungan yang tidak mendapat perhatian pembangunan negara.

Berbicara mengenai realita kehidupan Native American ini mengingatkan kita kepada pepàtah Indonesia klasik yang populer: “susu dibalas air tuba”. Kebaikan dan penerimaan pribumi Amerika dibalas dengan prilaku jahat dan rasis dari kalangan immigran Eropa.

Prilaku buruk kepada non White di negeri ini berlanjut dengan “mistreatment” oleh penduduk Putin (White American) kepada warga hitam (Afro) yang dibawa oleh mereka sebagai budak-budak dari negara-negara jajahan mereka di Afrika.

Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa banyak di antara mereka (budak-budak) itu, bahkan mayoritasnya, adalah orang-orang yang beragama Islam. Hal ini semakin tersingkap dengan perlahan-lahan seiring banyaknya Afro American yang memeluk agama Islam di kemudian hari.

Perlakuan kepada warga hitam ini menjadi catatan sejarah negeri ini, yang pastinya tidak diingkari oleh siapapun. Barangkali bukti yang paling nyata adalah bangkitnya warga Afro melakukan perlawanan di bawah kepemimpinan Martin Luther King Jr, Malcom X, dan lain-lain di tahun 60-an.

Diskriminasi ras berlanjut kemudian kepada bangsa Asia, khususnya Komunitas Jepang yang ditempatkan di kamp-kamp konsentrasi. Mereka seolah menjadi agen-agen musuh Amerika pasca Perang Dunia kedua.

Demikian seterusnya prilaku rasis dan diskriminatif ini berlanjut kepada warga Hispanic atau warga Latin yang datang dari negara-negara jiran di bagian selatan Amerika (South America).

Warga Mexico dan Colombia, bahkan warga negara bagian Puerto Rico yang dominannya berbahasa Spanyol juga mengalami prilaku rasis dan diskriminatif dari masa ke masa, hingga saat ini.

Belakangan prilaku diskriminatif dan sentimen anti Islam dan Muslim juga semakin menampakkan diri. Walaupun Islamophobia adalah catatan sejarah panjang di Amerika, kejadian 9/11 menjadi puncak dari semuanya.

Prilaku buruk kepada Komunitas Muslim semakin menjadi-jadi sejak terpilihnya pemerintahan Amerika saat ini. Di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump “mistreatment” warga minoritas termasuk warga Muslim semakin meluas.

Seringkali saya katakan di masa lalu Sebelum pemerintahan Donald Trump Islamophobia itu ada di pinggir-pinggir jalan. Saat ini justeru keluar dari White House dengan kebijakan yang terasa meminggirkan kaum minoritas.

Bagi kami warga Muslim, keputusan Donald Trump untuk melarang Islam masuk Amerika adalah kebijakan diskriminatif dan rasis kepada warga tertentu karena agama. Yang pastinya disadari oleh warga Amerika sebagai kebijakan yang tidak sejalan dengan Konstitusi maupun nilai-nilai mulia bangsa ini.

Musuh bersama bangsa Amerika

Menyikapi realita buruk dalam Perjalanan bangsa ini tentu menyadarkan semua pihak di Amerika bahwa “tendensi” bahkan realita itu harusnya menjadi musuh bersama untuk diperangi dan diselesaikan. Jika tidak, khawatirnya ini akan menjadi “trade mark” Kebangsaan yang memalukan.

Sesungguhnya hal ini bukan penyakit ras dan etnis tertentu dari manusia. Tapi lebih kepada penyakit mental manusia yang lupa diri dan ciptaan. Sebuah perasaan lebih (superioritas) karena warna kulit, ras dan etnisitas. Realitanya ini adalah penyakit pertama dalam sejarah makhluk Tuhan (baca sejarah Iblis).

Karenanya kita jangan melihat rasisme ini sebagai penyakit orang putih. Walau kenyataannya sejak masa imperialisme dan kolonialisme, kaum putihlah (Eropa) yang memang mendominasi prilaku Iblis ini. Hal itu karena mereka buta nurani karena keangkuhan dan transgresi yang mereka lakukan ke negara-negara non Putih, khususnya di Asia dan Afrika.

Maka kematian George Floyd dan banyak lagi warga hitam Amerika sebelumnya harusnya menyadarkan bangsa ini untuk bangkit dan melakukan “self correction” (perbaikan diri). Bahwa prilaku rasisme itu adalah musuh bersama bangsa ini dan harus diperangi secara kolektif.

Dari Pimpinan dan Komunitas agama-agama, para pendidik dan institusi-pendidikan, para seniman dan Komunitas Hollywood, hingga para bisnisman dan pelaku pasar, semua memiliki tanggung jawab Yang sama untuk memerangi prilaku rasisme ini.

Tentu tanggung jawab terbesar ada pada penanggung jawab pemerintahan. Mereka adalah pengendali negara sekaligus punya otoritas, baik moral maupun konstitutional untuk melakukan perbaikan-perbaikan secara sistemik untuk memerangi rasisme ini.

Yang menjadi masalah adalah ketika mereka yang berada di posisi kekuasaan justru memiliki kecendrungan yang sama. Sehingga kerap kali ketika terjadi prilaku rasis dalam masyarakat justru mendapat dukungan kekuasaan, baik langsung atau tidak langsung.

Ketika kaum minoritas bangkit melawan ketidak adilan, mereka dicaci dengan sumpah serapah. Dituduh bandit-bandit atau penjahat-penjahat (thugs), bahkan teroris.

Tapi ketika White Supremasi membantai warga minoritas, di antaranya warga Muslim, Yahudi dan warga Afro American yang paling banyak menjadi korban dalam tahun-tahun terakhir, kerap disikapi setengah hati. Bahkan tidak jarang mendapat pembelaan dari kekuasaan itu.

Saya tidak mendukung penjarahan dan prilaku melanggar hukum apapun bentuknya. Tapi terkadang saya harus memahami ekspresi kemarahan itu sebagai suara-suara perlawanan yang tidak terdengarkan (unheard) kepada rasisme dan ketidak adilan. Selama rasisme dan ketidak adilan dipelihara, apalagi oleh kekuasaan (sistem) maka perlawanan akan tetap berlanjut.

Where there is no justice, there is no peace!

Bahwa di mana saja ada ketidak adilan akan tumbuh resistensi perlawanan. Yang tentu pada akhirnya akan menumbuhkan rasa ketidak amanan di masyarakat.

Dan dalam suasana seperti ini diperlukan kepemimpinan (leadership) di tengah masyarakat Amerika. Bukan sekedar menampilkan kekuasaan yang nampak seperti arogan kepada rakyat yang termarjinalkan. Semoga!

New York City, 3 Juni 2020

* Shamsi Ali Imam/Direktur Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundaiton/Direktur Jamaica Muslim Center & Presiden Nusantara Foundaiton (*)



Publisher : Sofyan Saqi Futaki
KOMENTAR

EKORAN

TERBARU

  • Toba Caldera Finally Acknowledged as Unesco Global Geopark
    Toba Caldera Finally Acknowledged as Unesco Global Geopark
    14/07/2020 - 03:21
  • Hilangkan Jerawat Membandel Pakai Kulit Semangka
    Hilangkan Jerawat Membandel Pakai Kulit Semangka
    14/07/2020 - 02:22
  • Take a Glance at The Beautiful Ambience of Majalengka at Night
    Take a Glance at The Beautiful Ambience of Majalengka at Night
    14/07/2020 - 01:06
  • Sanksi Dicabut, Manchester City Bisa Bermain di Liga Champion Eropa
    Sanksi Dicabut, Manchester City Bisa Bermain di Liga Champion Eropa
    14/07/2020 - 00:06
  • Demi Kepercayaan Publik, Kemenparekraf: Pengusaha Hotel Harus Terapkan Protokol Kesehatan
    Demi Kepercayaan Publik, Kemenparekraf: Pengusaha Hotel Harus Terapkan Protokol Kesehatan
    13/07/2020 - 23:55
  • Surat Kesiapan Baru Masuk, Pemkot Bandung Percepat Aktivasi Ojol Angkut Penumpang
    Surat Kesiapan Baru Masuk, Pemkot Bandung Percepat Aktivasi Ojol Angkut Penumpang
    13/07/2020 - 23:48
  • Cerita Ria Sonia, Bocah Penderita Bocor Ginjal di Majalengka Datangi Polsek Minta Bantuan
    Cerita Ria Sonia, Bocah Penderita Bocor Ginjal di Majalengka Datangi Polsek Minta Bantuan
    13/07/2020 - 23:43
  • Kapolres Ngawi Ajak Perguruan Silat Jaga Situasi Kondusif Jelang Muharam
    Kapolres Ngawi Ajak Perguruan Silat Jaga Situasi Kondusif Jelang Muharam
    13/07/2020 - 23:36
  • Perjuangan Erdogan Membebaskan Hagia Sophia
    Perjuangan Erdogan Membebaskan Hagia Sophia
    13/07/2020 - 23:29
  • Jusuf Kalla: Covid-19 Peluang untuk Kemandirian Bangsa
    Jusuf Kalla: Covid-19 Peluang untuk Kemandirian Bangsa
    13/07/2020 - 23:18

TIMES TV

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

30/06/2020 - 20:22

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?
Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil

Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil
Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang

Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang
Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Perjuangan Erdogan Membebaskan Hagia Sophia
    Perjuangan Erdogan Membebaskan Hagia Sophia
    13/07/2020 - 23:29
  • Peran Strategis Bank Indonesia Era Pandemi
    Peran Strategis Bank Indonesia Era Pandemi
    13/07/2020 - 22:00
  • Spirit Kuliah Daring
    Spirit Kuliah Daring
    13/07/2020 - 21:03
  • Mengusut Kembali Visi Pendidikan Negeri
    Mengusut Kembali Visi Pendidikan Negeri
    13/07/2020 - 20:15
  • Krisis Isu Rasisme di Amerika Serikat
    Krisis Isu Rasisme di Amerika Serikat
    13/07/2020 - 19:38
  • Tiga Paslon Pilkada Tangsel, Ini Peta Kekuatannya
    Tiga Paslon Pilkada Tangsel, Ini Peta Kekuatannya
    13/07/2020 - 17:12
  • Pilkada 2020 dan Momentum Lahirnya Pemimpin Dengan Gaya Baru
    Pilkada 2020 dan Momentum Lahirnya Pemimpin Dengan Gaya Baru
    13/07/2020 - 16:11
  • Membangun Peradaban Meritokrasi di Era Bonus Demografi
    Membangun Peradaban Meritokrasi di Era Bonus Demografi
    13/07/2020 - 15:50
  • UU SKN Direvisi, Prestasi Cabor Diharapkan Meningkat Secara Merata
    UU SKN Direvisi, Prestasi Cabor Diharapkan Meningkat Secara Merata
    14/07/2020 - 03:00
  • Antisipasi Erupsi Saat Pandemi, BPBD Sleman Terapkan Ini di Pengungsian
    Antisipasi Erupsi Saat Pandemi, BPBD Sleman Terapkan Ini di Pengungsian
    14/07/2020 - 02:50
  • Biaya Perawatan Kendaraan Dinas Bupati dan Wabup Pandeglang Jadi Temuan BPK
    Biaya Perawatan Kendaraan Dinas Bupati dan Wabup Pandeglang Jadi Temuan BPK
    14/07/2020 - 02:45
  • Bidik Tiket Liga Champions, Lampard: Kami Tak Pernah Berharap pada City
    Bidik Tiket Liga Champions, Lampard: Kami Tak Pernah Berharap pada City
    14/07/2020 - 02:24
  • Koalisi Sudah Gemuk, Irna Incar Gerindra dan Nasdem di Pilkada Pandeglang
    Koalisi Sudah Gemuk, Irna Incar Gerindra dan Nasdem di Pilkada Pandeglang
    14/07/2020 - 02:05
  • Oral Seks Ala Burung, Bikin Pasangan Ketagihan
    Oral Seks Ala Burung, Bikin Pasangan Ketagihan
    14/07/2020 - 00:02
  • Eksekusi Mati di AS Pertama Kalinya dalam 17 Tahun, Siapa Terhukumnya
    Eksekusi Mati di AS Pertama Kalinya dalam 17 Tahun, Siapa Terhukumnya
    14/07/2020 - 01:12
  • Gawang MU Kebobolan Akibat Blunder Fatal Paul Pogba
    Gawang MU Kebobolan Akibat Blunder Fatal Paul Pogba
    14/07/2020 - 02:41
  • Hana Hanifah Diciduk Polisi, Kuasa Hukumnya Bergegas ke Medan
    Hana Hanifah Diciduk Polisi, Kuasa Hukumnya Bergegas ke Medan
    14/07/2020 - 01:30
  • Polisi Ungkap Satu per Satu Peran Dua Pria yang Bersama Artis HH
    Polisi Ungkap Satu per Satu Peran Dua Pria yang Bersama Artis HH
    14/07/2020 - 01:59