Kopi TIMES

Kiai Tolchah Hasan, James A Bank dan Amerika Serikat

Rabu, 03 Juni 2020 - 16:32 | 24.21k
Kiai Tolchah Hasan, James A Bank dan Amerika Serikat
W Eka Wahyudi, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Lamongan (Unisla) dan Alumni S3 Pendidikan Agama Islam (PAI) Multikultural Universitas Islam Malang (Unisma) Malang.

TIMESINDONESIA, LAMONGAN – Para pengkaji pendidikan multikultural pasti tak asing dengan nama James A Bank. Seorang akademisi cum peneliti dari University of Washington ini jamak dibaptis sebagai “Bapak Pendidikan Multikultural”.

Usahanya yang diklaim sebagai orang pertama dalam menteoritisasikan konsep pendidikan multikultural, turut mentahbiskan ia sebagai “nabinya” pada peneliti multikulturalisme.

Sabda-sabda akademiknya sering menghiasi buku-buku dan jurnal mengenai tema ini. Hampir tidak kita dapati satu literatur kajian tentang pendidikan multikultural yang absen mengutip pemikiran Bank ini.

Sebagaimana kita ketahui dalam salah satu karyanya yang bertajuk “Multicultural Education: Issues and Perspective” dengan jujur ia akui bahwa musabab dicetuskannya pendidikan multikultural akibat dari munculnya gerakan hak sipil (civil right movement) pada tahun 1960-an.

Selama dekade ini, orang-orang Afro-Amerika (orang keturunan Afrika yang menjadi warga Negara Amerika) mulai menuntut hak-haknya di ruang publik agar sejajar dengan warga Amerika (kulit putih). Tujuan utama dari gerakan ini adalah untuk menghilangkan diskriminasi dalam akomodasi publik, perumahan, pekerjaan, dan pendidikan. Namun, setelah 60 tahun berlalu, apakah negeri Paman Sam itu terbebas dari diskriminasi etnis? Jawabannya, sama sekali tidak.

Bahkan secara tegas ia menyatakan bahwa “Multicultural education is opposed to the Western tradition”. Dalam “proyek” pendidikan multikulturalnya, ia tak menghendaki anti-Barat, namun “hanya menentang” tradisi Barat yang cenderung superior, menganggap etnis lain sebagai kasta yang harus ada di bawah ketiaknya.

Maka tak heran, jika salah satu dimensi penting dalam pendidikan Multikultural yang ia konsepsikan adalah pengurangan prasangka peyoratif (prejudice reduction) terhadap ras/etnik tertentu. Dengan makna lain, pendidikan multikultural diarahkan pada kesamaan derajat, dan meruntuhkan sentimen rasial. Namun, apakah proyek ini mampu mengubah wajah Amerika, atau meminjam istilah Bank, menghapus tradisi Barat (western tradition)?

Lagi-lagi jawabannya adalah TIDAK.

Sependek pengamatan saya, apa yang terjadi saat ini di USA adalah bom waktu dari kegagalan “sebagian?” masyarakat Amerika, atau paradigma kaum elitnya dalam memandang warga negara lain. Tindakan polisi Minneapolis, Derek Chauvin, yang menindih dengan lutut leher petugas keamanan berkulit hitam George Floyd yang menyebabkan sulit bernafas dan meninggal dunia beberapa waktu lalu hanya sebuah trigger, pemicu.

Diakui atau tidak, pada batas tertentu, terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS yang dalam serangkaian kampanyenya sering melontarkan ujaran-ujaran berlumur sentimen rasial juga mengandaikan bahwa masyarakat Amerika mendambakan pemimpin yang mampu mengembalikan supremasi kasta kulit putih.

Ditambah lagi serangkain kasus-kasus, misalnya, laporan wartawan National Geographic Indonesia, Rahmad Azhar Hutomo awal tahun 2019, merekam jumlah pengendara berkulit hitam yang diminta untuk meminggirkan kendaraan oleh polisi, melampaui pengendara kulit putih.

Proporsi yang tidak seimbang dari perkiraan 20 juta penyetopan di jalan yang dilakukan polisi di AS setiap tahun, mayoritas yang dipermasalahkan adalah warga kulit hitam. Pengemudi berkulit hitam dan Hispanik (keturunan Spanyol) lebih sering digeledah dibandingkan orang kulit putih, walaupun mereka belum tentu membawa barang terlarang.

Kasus-kasus semacam ini mengindikasikan masih  kuatnya perasaan superior warga kulit putih. Ini diperkuat satu peristiwa pada tanggal 11 sampai 12 Agustus 2017 lalu, terjadi pawai supremasi kulit putih Amerika di Charlottesville, Virginia yang kembali membangkitkan konflik lama dan abadi rasialisme di Negeri Paman Sam.

Dalam aksi yang disebut Unite the Right (Satukan Kelompok Kanan), dikoordinasikan oleh kaum ultra-kanan Amerika yang terdiri dari White Supremacist (supremasi kulit putih), White Nationalist (nasionalis kulit putih), Neo-Confederate, Neo-Nazi, dan Militia Movements. Di kawasan Charlottesville, pawai tersebut sering dikenal sebagai A12 yang memiliki tujuan penyatuan gerakan nasionalis kulit putih Amerika Serikat.

Kaum yang disebut sebagai kelompok Ultra-kanan ini juga memandang perbaikan kondisi politik, ekonomi, dan sosial warga minoritas sebagai sinyal bahaya, dan tidak segan-segan menggunakan kekerasan untuk melawan fenomena tersebut. Pada tahun 2015, Dylan Dylann Roof, seorang warga kulit putih melakukan aksi teror di Gereja Afrika-Amerika di Charleston dan membunuh sembilan jemaat kulit hitam. Warga lokal percaya bahwa penembakan itu dipicu oleh rasisme. Pawai berdarah di Charlottesville dan kasus di Charleston adalah bukan konflik rasial pertama di AS dan terbukti bukan menjadi yang terakhir.

Apa yang ingin saya sampaikan pada tulisan kali ini?

Bahwa untuk mengaji multikulturalisme tidak usah pergi jauh-jauh ke benua lain. Saya tidak bermaksud dalam posisi menghadap-hadapkan antara kontribusi James A Bank dengan Kiai Tolchah Hasan. Bagaimanapun dalam bidang akademik, Bank berjasa secara teoritik, namun masih menyisakan praktik yang “hanya menawarkan” aroma surga sebagaimana karya-karya akademiknya.

Lalu bagaimana dengan Kiai Tolchah Hasan. Bisa dibilang, beliau adalah sosok Kiai yang berintegritas. Ilmunya diamalkan, teorinya dipraktikkan. Tokoh yang diutus secara khusus oleh Gus Dur dan berjasa dalam melakukan investigasi dan rekonsiliasi konflik di Ambon pada tahun 2000-an. Pemikirannya tentang multikulturalisme sangat sederhana: kesanggupan untuk hidup bersama dengan “orang lain”.

Jika Bank mengenalkan konsep dimensi pendidikan Multikultural, maka Kiai Tolchah mengenalkan apa yang disebut sebagai akar (root) multikulturalisme. Pemilihan kata “akar” sebenarnya bukan hal yang sederhana, bukan sekedar pondasi, tapi akar. Yang hidup, dinamis dan terus menghujam ke bawah agar semakin kuat dan kokoh apa yang ada diatasnya. Adapun akar multikulturalisme bagi Kiai Tolchah adalah: inklusifisme (toleran), moderatisme (tawasuth), harmoni (tawazun) dan konstributif-komunikatif (ta’awun-tasyawur).

Dengan makna lain, kesanggupan dan kemampuan untuk hidup bersama liyan (the others): lintas etnis, iman dan kebudayaan mustahil bisa terwujud tanpa kokohnya akar multikulturalisme terlebih dahulu. Sehingga, Kiai Tolchah pernah melakukan sebuah kritik, bahwa pendidikan multikulturalisme seringkali berjalan secara spekulatif, karena salah kamar. Ia hanya diproyeksikan sebagai “asupan intelektual”, bukan diarahkan pada pengalaman empiris.

Pengalaman Kiai Tolchah yang akrab dengan khazanah keilmuan Islam serta ditambah pengalaman empiris-akademis sebagai orang Indonesia yang multikultural, sangat absah menjadikan beliau sebagai Bapak Pendidikan Islam Multikultural.

Beliau tidak sekedar mengkonseptualisasikan apa itu multicultural education, melalui karya akademiknya, namun juga terjun langsung ke daerah konflik, membangun jembatan perdamaian serta “melembagakan”nya dalam sebuah institusi pendidikan tinggi Islam. Melihat realitas ini, dengan meminjam tradisi ilmu hadits, Kiai Tolchah memenuhi kriteria tsiqoh, dapat dipercaya, sebagai rujukan Pendidikan Islam Multikultural.

Sehingga tidak berlebihan jika Amerika Serikat perlu ngaji pemikiran Kiai Tolchah, perlu menjadikan Indonesia dengan para ulama, kiai dan tokoh-tokohnya sebagai kaca benggala untuk menyudahi konflik rasial dan diskriminasi etnik yang tak berkesudahan. Bahkan tak hanya Amerika, tapi juga dunia. Tengoklah Indonesia, Kiai dan pesantrennya.

Unisma misalnya, yang dikenal sebagai kampus multikultural, dengan konsentrasi program Doktoral PAI Multikultural, adalah kristalisasi pemikiran Kiai Tolchah yang ingin merangkum semangat ke-Islaman dan ke-Indonesiaan.

Melalui institusi ini, Kiai Tolchah seakan bercita-cita untuk menguatkan “kuda-kuda epistemologi" generasi sesudahnya, untuk merawat keragaman Indonesia, dengan keilmuan dan juga pengalaman sekaligus, kita tak perlu lagi belajar tentang “hidup bersama” di negara lain, yang justru tidak menampakkan keberhasilannya mengelolah perbedaan.

Dalam konteks mengelola multikulturalitas, Indonesia wajib dijadikan sebagai kiblat dunia karena konsepsinya Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila, yang -dalam istilah Kiai Tolchah- menjadi perangkat nilai yang mampu menyatukan semua elemen masyarakat Indonesia yang multi etnis, multi agama. Kalau boleh berseloroh, kita bahkan secara natural sudah dibekali oleh Tuhan fisik yang moderat, pertengahan: tidak hitam, pun juga tidak putih. Apalagi dikuatkan dengan modal sosial kita: Pancasila, maka tak ada pilihan lain, bahwa Indonesia adalah mercusuar peradaban dunia. (*)

***

*)Oleh: W Eka Wahyudi, Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Islam Lamongan (Unisla) dan Alumni S3 Pendidikan Agama Islam (PAI) Multikultural Universitas Islam Malang (Unisma), Malang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id



Publisher : Rochmat Shobirin
KOMENTAR

EKORAN

TERBARU

  • Siap-Siap ! Masyarakat Kabupaten Cirebon Tidak Gunakan Masker Kena Denda 150 Ribu
    Siap-Siap ! Masyarakat Kabupaten Cirebon Tidak Gunakan Masker Kena Denda 150 Ribu
    15/07/2020 - 18:24
  • BK DPRD Kota Cirebon Segera Tindaklanjuti Polemik Penghapusan Kata 'Khilafah'
    BK DPRD Kota Cirebon Segera Tindaklanjuti Polemik Penghapusan Kata 'Khilafah'
    15/07/2020 - 18:23
  • Pinjam Ponsel Babinkamtibmas, Kapolda Jatim Video Call dengan Pasien Covid-19
    Pinjam Ponsel Babinkamtibmas, Kapolda Jatim Video Call dengan Pasien Covid-19
    15/07/2020 - 18:17
  • Korps Wanita dan PNS Lantamal VIII Manado Berbagi Sayuran kepada Warga
    Korps Wanita dan PNS Lantamal VIII Manado Berbagi Sayuran kepada Warga
    15/07/2020 - 18:11
  • Yuk Rasakan Sensasi Melayang Ekstrem di Ngebel Adventure Park Ponorogo
    Yuk Rasakan Sensasi Melayang Ekstrem di Ngebel Adventure Park Ponorogo
    15/07/2020 - 18:05
  • Pemkab Pamekasan Bertekad Pertahankan WTP
    Pemkab Pamekasan Bertekad Pertahankan WTP
    15/07/2020 - 18:00
  • HBA Ke-60, Kejari Banyumas Gelar Baksos
    HBA Ke-60, Kejari Banyumas Gelar Baksos
    15/07/2020 - 17:55
  • Razia Bekas Lokalisasi, Petugas Gabungan di Kabupaten Malang Amankan 7 PSK
    Razia Bekas Lokalisasi, Petugas Gabungan di Kabupaten Malang Amankan 7 PSK
    15/07/2020 - 17:49
  • Panen Perdana Varietas HMS 400, Bupati Salwa Harap Desa Berinovasi di Bidang Pangan
    Panen Perdana Varietas HMS 400, Bupati Salwa Harap Desa Berinovasi di Bidang Pangan
    15/07/2020 - 17:43
  • Galang Dana, Paguyuban PKH Kabupaten Probolinggo Bantu Anak Gagal Ginjal
    Galang Dana, Paguyuban PKH Kabupaten Probolinggo Bantu Anak Gagal Ginjal
    15/07/2020 - 17:38

TIMES TV

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

30/06/2020 - 20:22

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?
Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil

Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil
Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang

Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang
Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Pembelajaran Daring di Era New Normal
    Pembelajaran Daring di Era New Normal
    15/07/2020 - 16:21
  • Pergeseran Nilai dan Fungsi Masker
    Pergeseran Nilai dan Fungsi Masker
    15/07/2020 - 15:37
  • Maraknya Hoaks di media Sosial serta Antisipasinya
    Maraknya Hoaks di media Sosial serta Antisipasinya
    15/07/2020 - 12:28
  • Rumah Belajar, Mimpi Membangkitkan Teknologi untuk Nyala Api Pendidikan Indonesia
    Rumah Belajar, Mimpi Membangkitkan Teknologi untuk Nyala Api Pendidikan Indonesia
    15/07/2020 - 09:34
  • Imam Shamsi Ali: Sikapi Hagia Sofia dengan Bijak
    Imam Shamsi Ali: Sikapi Hagia Sofia dengan Bijak
    15/07/2020 - 08:21
  • Heutagogi: Pedagogi Baru di Era Normal Baru
    Heutagogi: Pedagogi Baru di Era Normal Baru
    14/07/2020 - 20:40
  • Covid-19, Tragedy of The Commons, dan Tindakan Kolektif
    Covid-19, Tragedy of The Commons, dan Tindakan Kolektif
    14/07/2020 - 16:07
  • Pemberdayaan Ibu dalam Praktik MP-ASI Sebagai Kunci Penanggulangan Stunting
    Pemberdayaan Ibu dalam Praktik MP-ASI Sebagai Kunci Penanggulangan Stunting
    14/07/2020 - 15:00
  • Lamar Aurel Hermansyah, Atta Halilintar Tak Beritahu Keluarga
    Lamar Aurel Hermansyah, Atta Halilintar Tak Beritahu Keluarga
    15/07/2020 - 18:31
  • Suzuki India Belum Pasti Produksi Jimny Secara Lokal?
    Suzuki India Belum Pasti Produksi Jimny Secara Lokal?
    15/07/2020 - 18:30
  • Masuki Tahun Ajaran Baru, SD Negeri 1 Palbapang Cuma Dapat 4 Murid
    Masuki Tahun Ajaran Baru, SD Negeri 1 Palbapang Cuma Dapat 4 Murid
    15/07/2020 - 18:29
  • Wantim MUI Minta DPR RI Cabut RUU HIP dari Prolegnas
    Wantim MUI Minta DPR RI Cabut RUU HIP dari Prolegnas
    15/07/2020 - 18:22
  • Pemusnahan Ladang Ganja di Aceh
    Pemusnahan Ladang Ganja di Aceh
    15/07/2020 - 18:22
  • Kisah Letjen Kentot, Perwira TNI Ajudan Setia Jenderal Soeharto
    Kisah Letjen Kentot, Perwira TNI Ajudan Setia Jenderal Soeharto
    15/07/2020 - 05:02
  • Ternyata, Tarif Hana Hanifah Setara Gaji Ronaldo 1 Jam di Juventus
    Ternyata, Tarif Hana Hanifah Setara Gaji Ronaldo 1 Jam di Juventus
    15/07/2020 - 05:18
  • Inggris Akhirnya Bersekutu Sama Amerika Keroyok China di Indo-Pasifik
    Inggris Akhirnya Bersekutu Sama Amerika Keroyok China di Indo-Pasifik
    15/07/2020 - 07:04
  • Terkuak, Hana Hanifah Gunakan Dokumen Palsu Saat Jalani Prostitusi
    Terkuak, Hana Hanifah Gunakan Dokumen Palsu Saat Jalani Prostitusi
    15/07/2020 - 07:25
  • Meriam Canggih Paskhas TNI AU Tembak Pesawat Pembom Musuh di Makassar
    Meriam Canggih Paskhas TNI AU Tembak Pesawat Pembom Musuh di Makassar
    15/07/2020 - 11:02