Kopi TIMES

Hikmah Covid-19 dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila

Senin, 01 Juni 2020 - 14:24 | 16.44k
Hikmah Covid-19 dalam Peringatan Hari Lahir Pancasila
Muhammad Rafly Setiawan, Pengurus Cabang PMII Kota Palopo. (Grafis: TIMES Indonesia)
Editor: Faizal R Arief

TIMESINDONESIA, PALOPO – Wabah Covid-19 memang belum pergi, namun terselip hikmah esensial untuk memulihkan kembali kehidupan yang majemuk, dan tentu diselaraskan dengan nilai-nilai Pancasila. Sehingga dapat diminimalisir konflik-konflik horizontal antar warga negara. Yah, tahun-tahun sebelumnya, amat terasa kerenggangan dalam bingkai heterogenitas.

Kali ini penulis  mengulas sedikit hikmah dari effect pandemi Covid-19. Pelacakan implisit dari lahirnya Pancasila, sampai dengan mendudukkan pelbagai kepentingan yang tentu mengakui bahwa Pancasila sebagai ideologi mutlak Negara Indonesia.

Dalam catatan sejarah bangsa ini, tanggal 1 Juni tahun 1945 merupakan awal dari asas tunggal Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berawal dari sidang BPUPKI, yang membentuk panitia kesembilan yang menjadi penanggung jawab sebagai ketua dalam kepanitiaan tersebut adalah Ir. Soekarno, yang belakangan merupakan Presiden pertama Republik Indonesia.

Pasang surut pengusungan ideologi Pancasila, sebenarnya terjadi berapa kali perubahan. Namun saat pembacaan resminya dalam sidang BPUPKI, Ir. Soekarno memperjelas ketika kelima asas itu dikerucutkan menjadi satu poin (eka-sila), maka secara konstruktif dapat diketahui kolektif kultural masyarakat Indonesia, yaitu 'gotong royong'.

Sepanjang rezim Orde Lama dengan sistem demokrasi terpimpin, ideologi Pancasila hanya sebatas pemandu jalan bagi kepemimpinan Bung Karno untuk menstimulasikan beragam kepentingan di dalamnya. Maka saat itu, nilai-nilai Pancasila tidak terintegrasi dengan baik bagi kehidupan sosial-kemasyarakatan. Eliminasi nilai tersebut semakin kuat, lantaran carut marutnya politik dalam negeri, maupun ketidakakuran hubungan diplomatis Bung Karno dengan negara-negara tetangga (dan negara adidaya).

Meski demikian, mula-mula yang menggusung ideologi Negara Indonesia, akhirnya terdepak dari tampuk kekuasaan. Transisi kepemimpinan Bung Karno, beralih ke Soeharto yang dalam style kepemimpinannya totalitarianisme (akrab di telinga dengan rezim Orde Baru). Bahkan, dengan pseudo-political Soeharto, dapat menggembosi nilai Pancasila yang sampai saat ini, amat samar sekali pengaplikasiannya.

Rezim orde baru, yang kebijakannya manipulatif, yakni 'Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (akrab disingkat P4)'. Walau dikeluarkannya ketetapan dari MPR no. II/MPR/1978 tentang Ekaprasetia Pancakarsa, namun secara praktis tidak pernah terimplementasikan selama 32 tahun lamanya kepemimpinan Soeharto. Sebab, sudah hal yang lumrah diketahui, bahwa pengaburan nilai Pancasila itu berasal dari style-leadership dari Pak Harto.

Memasuki era reformasi, semakin gamblangnya untuk mengembalikan hakekat dari kelima asas yang terdapat dalam ideologi tunggal Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meski beberapa kali pergantian Presiden, mulai dari B.J. Habibie sampai saat ini yakni Ir. Joko Widodo, negara ini nampaknya selalu berjibaku tentang, bagaimana efektifitas dan efisiensi dalam menerapkan kelima sila itu bagi seluruh warga negara pada kehidupan berbangsa dan bernegara.

Selama kurun waktu satu dekade belakangan ini, begitu kontras konflik antar warga negara, khususnya dalam politisasi SARA. Pada setiap momentum politik negara ini, kian meningkat tajam gerakan reaksioner yang memecah persatuan bangsa ini. Bahkan saking meresahkannya, ingin mengganti ideologi tunggal bangsa Indonesia.

Kita munafik kalau fakta sosial ini hanya sebatas issue saja, karena sangat gamblang beragam pemberitaan faktual dan autentik bahwa, begitu alotnya polemik negara Indonesia di tahun 2019 yang puncaknya terjadi saat Pemilu. Terdapat jurang pembatas secara interaktif dalam mencerai-beraikan masyarakat. Namun itu dapat dilakukan, seiring dengan revitalisasi dan proses rekonsialisasi seluruh warga negara yang sudah barang tentu, mengakui ideologi Pancasila.

Kendati demikian, potensi konflik sekarang ini mulai mereda dengan munculnya pandemi global. Tapi kita jangan terlalu lelap terjebak pada euforia ini, karena pasti selalu saja ada oknum yang berusaha untuk memanfaatkan setiap kesempatan agar terjadi ketercerai-beraian kehidupan sosial, berbangsa, dan bernegara.

Beberapa kebijakan pemerintah amat terbukti dalam meredakan issue ekstrimisme. Bahkan kebijakan terkini soal 'New Normal', mestinya senantiasa meningkatkan nasionalisme yang tetap berpadu pada implementasi nilai-nilai Pancasila. Ini penting dilakukan, agar para pemicu konflik dapat diminalisir. Dan memungkinkan untuk menetralisir kembali pemikiran para penyantol ideologi transnasional, sehingga mengakui ideologi Pancasila sebagai asas tunggal negeri ini.

Mengambil petuah dari Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy'ari (salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama), 'Hubbul Wathon Minal Iman', bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari iman. Jadi, sangatlah diharapkan bahwa, seluruh warga negara dapat mengejewantahkan bentuk kecintaannya terhadap Indonesia dengan implementatif kelima sila yang tercantum dalam ideologi negara ini.

Amat penting setiap kalangan untuk memupuk rasa cintanya dengan kasih sayang, meskipun berbeda latar belakang sosialnya, namun tetap saling memandang sesama manusia tanpa ada perbedaan hak dan kewajiban. Hikmah wabah Covid-19, dapat menenggelamkan gerakan ekstrimitas yang santer terasa beberapa waktu belakangan.

Semoga dengan momentum kali ini, tidak berlarut dalam seremonial semata, melainkan termanifestasi nilai-nilai Pancasila bagi setiap warga negara Indonesia. Sudah barang tentu, predikat Pancasila sebagai ideologi futuristik, dapat menjadi percontohan bagi seluruh negara yang ada di dunia ini.

Selamat hari kelahiran Pancasila yang ke-75 tahun. Semoga jadi titik balik kemajuan bangsa Indonesia. (*)

***

*)Oleh: Muhammad Rafly Setiawan, Pengurus Cabang PMII Kota Palopo.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.



Publisher : Sofyan Saqi Futaki
KOMENTAR

EKORAN

TERBARU

  • Paul May, Your Most Comfortable Shoes Anywhere You Go
    Paul May, Your Most Comfortable Shoes Anywhere You Go
    12/07/2020 - 04:02
  • The ONE Legian Bali Has Been Back on Business
    The ONE Legian Bali Has Been Back on Business
    12/07/2020 - 03:27
  • Boost Your Immune with Aston Hotel Sidoarjo
    Boost Your Immune with Aston Hotel Sidoarjo
    12/07/2020 - 02:32
  • Google Maps Added the New Traffic Light Indicator Feature
    Google Maps Added the New Traffic Light Indicator Feature
    12/07/2020 - 01:12
  • Warung Kopi Kebul Kenteng Sajikan Menu Sehat Tadisional
    Warung Kopi Kebul Kenteng Sajikan Menu Sehat Tadisional
    12/07/2020 - 00:27
  • Kementerian PUPR RI Lanjutkan Penataan Puncak Waringin di KSPN Labuan Bajo
    Kementerian PUPR RI Lanjutkan Penataan Puncak Waringin di KSPN Labuan Bajo
    11/07/2020 - 23:53
  • Sebelum Dinikahi Rey Mbayang, Begini Perjalanan Asmara Dinda Hauw
    Sebelum Dinikahi Rey Mbayang, Begini Perjalanan Asmara Dinda Hauw
    11/07/2020 - 23:46
  • Obyek Wisata di Piyungan Bantul Gelar Uji Coba Terbatas
    Obyek Wisata di Piyungan Bantul Gelar Uji Coba Terbatas
    11/07/2020 - 23:34
  • Kegigihan Milenial Kota Kediri Merintis Bisnis Cokelat Bubuk, Omzet Capai Rp15 Juta
    Kegigihan Milenial Kota Kediri Merintis Bisnis Cokelat Bubuk, Omzet Capai Rp15 Juta
    11/07/2020 - 23:27
  • Diunduh 576,7 Juta Pengguna, Pokemon Go Raup Rp 52 Triliun
    Diunduh 576,7 Juta Pengguna, Pokemon Go Raup Rp 52 Triliun
    11/07/2020 - 23:19

TIMES TV

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

30/06/2020 - 20:22

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?
Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil

Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil
Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang

Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang
Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • RUU HIP Asas Kepentingan?
    RUU HIP Asas Kepentingan?
    11/07/2020 - 16:33
  • Tren Hijrah: Konstruksi Baru Identitas Muslim Milenial Urban Indonesia
    Tren Hijrah: Konstruksi Baru Identitas Muslim Milenial Urban Indonesia
    11/07/2020 - 15:37
  • Alat Penghancur Virus Corona di Air, Udara, dan Lingkungan
    Alat Penghancur Virus Corona di Air, Udara, dan Lingkungan
    11/07/2020 - 14:22
  • Dilema Jabatan Wakil Kepala Daerah
    Dilema Jabatan Wakil Kepala Daerah
    11/07/2020 - 13:34
  • Dangdut Koplo dan Dominasi Penguasa Industri Musik
    Dangdut Koplo dan Dominasi Penguasa Industri Musik
    11/07/2020 - 12:25
  • Menguji, Kontra-Persepsi Konsep Merdeka Belajar di Tengah Pandemi
    Menguji, Kontra-Persepsi Konsep Merdeka Belajar di Tengah Pandemi
    11/07/2020 - 02:17
  • Penangkapan Maria Pauline Lumowa, Gebrakan atau Pengalihan Isu?
    Penangkapan Maria Pauline Lumowa, Gebrakan atau Pengalihan Isu?
    10/07/2020 - 15:18
  • Kerja Sama Singapura dan Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19
    Kerja Sama Singapura dan Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19
    10/07/2020 - 14:35
  • Hasil Liga Italia: Lazio Kalah Lagi! Tumbang 2-1 di Tangan Sassuolo
    Hasil Liga Italia: Lazio Kalah Lagi! Tumbang 2-1 di Tangan Sassuolo
    12/07/2020 - 04:28
  • Hasil Liga Inggris: Chelsea Tumbang 0-3 di Markas Sheffield United
    Hasil Liga Inggris: Chelsea Tumbang 0-3 di Markas Sheffield United
    12/07/2020 - 04:12
  • Kymco X-Town dan Kymco Downtown Bakal Saling Bersaing?
    Kymco X-Town dan Kymco Downtown Bakal Saling Bersaing?
    12/07/2020 - 03:10
  • Honda Masih Tunggu Waktu Keluarkan Mobil Baru?
    Honda Masih Tunggu Waktu Keluarkan Mobil Baru?
    12/07/2020 - 01:02
  • Kymco GP 125 Tanpa Spakbor Depan, Ini Penjelasannya
    Kymco GP 125 Tanpa Spakbor Depan, Ini Penjelasannya
    12/07/2020 - 00:15
  • Dicemarkan, Sultan Pontianak Resmi Laporkan Abu Janda ke Polisi
    Dicemarkan, Sultan Pontianak Resmi Laporkan Abu Janda ke Polisi
    12/07/2020 - 01:22
  • Chelsea Kena Bantai Tim Promosi, MU yang Untung
    Chelsea Kena Bantai Tim Promosi, MU yang Untung
    12/07/2020 - 01:24
  • Remehkan Pukulan Tyson, Nasib Artis Konyol Ini Berakhir Tragis
    Remehkan Pukulan Tyson, Nasib Artis Konyol Ini Berakhir Tragis
    12/07/2020 - 00:02
  • Lazio Tersandung Lagi, Juventus Makin Nyaman
    Lazio Tersandung Lagi, Juventus Makin Nyaman
    12/07/2020 - 00:19
  • Momen Mesra si Seksi Georgina dengan Anak-anak Ronaldo
    Momen Mesra si Seksi Georgina dengan Anak-anak Ronaldo
    12/07/2020 - 00:04