Kopi TIMES

Perlunya Resolusi Baru untuk Sukseskan Penanggulangan Covid-19

Jumat, 29 Mei 2020 - 09:02 | 18.24k
Perlunya Resolusi Baru untuk Sukseskan Penanggulangan Covid-19
Prof Dr H Hamam Hadi MS Sc D, Rektor Universitas Alma Ata sekaligus Direktur Alma Ata Center for Global Health.

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Setelah sebulan berpuasa Ramadhan, kini memasuki bulan Syawal 1441 H atau sering disebut bulan peningkatan. Dengan modal bersih dari dosa yang langsung berhubungan dengan Allah SWT (Hablun Minalloh), dan bersih dari dosa antar sesama manusia (Hablun minannas) karena sudah saling memaafkan, maka, kita diharapkan bisa terus meningkat ketaqwaan kepada Allah SWT. Caranya dengan meningkatkan amal baik untuk sesama manusia. Dan meningkat pula prestasi dan kinerja kita baik secara individu ataupun secara bersama-sama dalam suatu kelompok masyarakat/ institusi bahkan dalam berbangsa dan bernegara.

Bulan Syawwal adalah waktu yang tepat bagi kita untuk membangun “Resolusi Baru”. Termasuk bagi bangsa Indonesia adalah momentum yang tepat untuk memperbaiki dan meningkatkan kinerja kita menjadi lebih baik dan lebih berprestasi.

Khusus dalam menanggulangi Covid-19. Bisa dikatakan bangsa Indonesia belum berhasil. Sampai saat ini, trend Covid-19 secara keseluruhan di Indonesia masih meningkat. Trend Covid-19 di Jabodetabek stagnan sejak awal Mei dan di Surabaya Raya justru melambung. Jika kinerja PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) tidak segera diperbaiki saat-saat ini. Maka, kesempatan untuk bisa menanggulangi Covid-19 dengan baik semakin kecil.

Jika gagal memperbaiki PSBB maka dampak negatifnya akan semakin luas. Krisis multi dimensi lebih sulit dibendung. Tidak hanya krisis kesehatan dan ekonomi seperti yang sudah kita rasakan saat ini. Tetapi, bisa cepat meluas pada krisis sosial politik, sesuatu yang tidak kita harapkan.

Resolusi baru akan mempunyai power atau kekuatan yang tinggi jika dibangun dengan fondasi kejujuran, jujur dalam melihat kekurangan kita selama ini. Tidak ada yang ditutup-tutupi dan tidak pula ada yang disembunyikan. Dengan menutup-nutupi atau menyembunyikan bisa berarti kita tidak mengakui dan menghindar dari kekurangan kita selama ini yang bisa jadi sebenarnya sumber tidak efektifnya PSBB selama ini. Evaluasi secara menyeluruh harus dilakukan terlebih dahulu terutama evaluasi terhadap data Covid-19 yang manjadi pijakan utama upaya perbaikan kebijakan.

Belajar dari riwayat sukses (success story) dari beberapa Negara. Baik negara besar seperti China ataupun negara kecil-menengah seperti Selandia Baru, Taiwan, Vietnam, Korea Selatan dan tetangga kita Malaysia, yang sukses dalam pengendalian Covid-19. Apapun caranya yang di pakai, lock down, rapid test atau apapun namanya, ada tiga fundamental yang harus dipenuhi sebagai syarat sukses.

Fundamental pertama adalah keseriusan. Pemerintah khususnya perlu memperbaiki fundamental keseriusan ini yang masih banyak kekurangan. Masih kurang cepatnya rapid test (RT PCR), masih kurangnya APD, masih kurangnya pengakuan dan penghargaan terhadap tenaga medis, paramedis, dan pejuang garda depan lainnya adalah sebagian diantaranya. Fundamental kedua adalah kedisiplinan. Menurut hemat saya nilai kedisiplinan dalam pelaksanaan PSBB selama ini lebih buruk dibandingkan nilai keseriusan.

Jika fundamental keseriusan masih kurang, maka fundamental kedisiplinan masih lebih buruk lagi. Baik pemerintah maupun masyarakat sama-sama kurang disiplin. Ini bisa dilihat dari banyaknya aturan yang tumpang tindih, ego sektoral yang tampak, kebijakan pusat yang kerap kali membingungkan pemerintah daerah, kebijakan yang kurang konsisten adalah diantaranya.

Selain itu, kedisiplinan masyarakat Indonesia juga sangat rendah terutama dalam 2-3 minggu terakhir ini. Kesadaran masyarakat untuk tinggal dirumah, tidak berkerumun, dan selalu pakai masker jika keluar rumah seolah sudah luntur sedangkan kesadaran untuk tidak mudik sudah tidak terkendalikan. Ini semua menunjukkan bahwa kedisiplinan kita sebagai bangsa masih sangat rendah dibandingkan bangsa-bangsa lain yang sukses mengendalikan Covid-19. Fundamental ketiga adalah ketegasan.

Berlaku tegas dalam menegakkan aturan PSBB dan aturan lainnya yang terkait adalah tugas pemerintah dan aparatnya dari pusat sampai tingkat RT. Khususnya di Indonesia, tampaknya aturan sebaik apapun tidak bisa berjalan dengan baik jika tidak diiringi dengan tingkat ketegasan yang tinggi dalam menegakkan aturan. Sayangnya selama ini kita sulit membuktikan adanya ketegasan yang dijalankan secara konsisten selama pelaksanaan PSBB.

Tidak heran jika hal ini menumbuh-suburkan ketidak-disiplinan dalam berbagai bentuk. Sehingga, tidak sedikit masyarakat justru berpersepsi bahwa PSBB di Indonesia adalah PSBB bohong-bohongan. PSBB basa-basi dan sebagainya. Kita bisa melihat bahwa China, Vietnam dan Malaysia berhasil. Sebab, mereka ada keseriusan dan kedisiplinan yang memadai. Kebijakan dikawal dengan ketegasan yang tinggi dalam pengendalian Covid-19.

Sementara Taiwan, Korea Selatan, dan Selandia Baru bisa berhasil. Itu karena adanya keseriusan dan kedisiplinan masyarakat yang sangat tinggi tanpa membutuhkan ketegasan yang berlebihan tetapi cukup memadai. Agar PSBB di Indonesia bisa lebih efektif dan mampu menekan laju Covid-19 sampai pada level aman terkendali dalam waktu kurang dari satu-setengah bulan seperti negara-negara yang telah sukses, maka ketiga fundamental sukses harus segera diperbaiki melalui resolusi baru dengan memanfaatkan momentum bulan Syawal ini. Semoga Indonesia sukses, maju dan jaya. (*)

*) Penulis adalah Prof Dr H Hamam Hadi MS Sc D, Rektor Universitas Alma Ata sekaligus Direktur Alma Ata Center for Global Health.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

***

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.



Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
KOMENTAR

EKORAN

TERBARU

  • Akibat Kasus Joget Tiktok, Kadisparpora Bondowoso Dicopot Jabatannya
    Akibat Kasus Joget Tiktok, Kadisparpora Bondowoso Dicopot Jabatannya
    15/07/2020 - 18:35
  • Ingin Nikmati Kopi dan Senja? Nongkrong saja di Rooftop Traffic OR
    Ingin Nikmati Kopi dan Senja? Nongkrong saja di Rooftop Traffic OR
    15/07/2020 - 18:30
  • Siap-Siap ! Masyarakat Kabupaten Cirebon Tidak Gunakan Masker Kena Denda 150 Ribu
    Siap-Siap ! Masyarakat Kabupaten Cirebon Tidak Gunakan Masker Kena Denda 150 Ribu
    15/07/2020 - 18:24
  • BK DPRD Kota Cirebon Segera Tindaklanjuti Polemik Penghapusan Kata 'Khilafah'
    BK DPRD Kota Cirebon Segera Tindaklanjuti Polemik Penghapusan Kata 'Khilafah'
    15/07/2020 - 18:23
  • Pinjam Ponsel Babinkamtibmas, Kapolda Jatim Video Call dengan Pasien Covid-19
    Pinjam Ponsel Babinkamtibmas, Kapolda Jatim Video Call dengan Pasien Covid-19
    15/07/2020 - 18:17
  • Korps Wanita dan PNS Lantamal VIII Manado Berbagi Sayuran kepada Warga
    Korps Wanita dan PNS Lantamal VIII Manado Berbagi Sayuran kepada Warga
    15/07/2020 - 18:11
  • Yuk Rasakan Sensasi Melayang Ekstrem di Ngebel Adventure Park Ponorogo
    Yuk Rasakan Sensasi Melayang Ekstrem di Ngebel Adventure Park Ponorogo
    15/07/2020 - 18:05
  • Pemkab Pamekasan Bertekad Pertahankan WTP
    Pemkab Pamekasan Bertekad Pertahankan WTP
    15/07/2020 - 18:00
  • HBA Ke-60, Kejari Banyumas Gelar Baksos
    HBA Ke-60, Kejari Banyumas Gelar Baksos
    15/07/2020 - 17:55
  • Razia Bekas Lokalisasi, Petugas Gabungan di Kabupaten Malang Amankan 7 PSK
    Razia Bekas Lokalisasi, Petugas Gabungan di Kabupaten Malang Amankan 7 PSK
    15/07/2020 - 17:49

TIMES TV

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

30/06/2020 - 20:22

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?
Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil

Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil
Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang

Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang
Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Pembelajaran Daring di Era New Normal
    Pembelajaran Daring di Era New Normal
    15/07/2020 - 16:21
  • Pergeseran Nilai dan Fungsi Masker
    Pergeseran Nilai dan Fungsi Masker
    15/07/2020 - 15:37
  • Maraknya Hoaks di media Sosial serta Antisipasinya
    Maraknya Hoaks di media Sosial serta Antisipasinya
    15/07/2020 - 12:28
  • Rumah Belajar, Mimpi Membangkitkan Teknologi untuk Nyala Api Pendidikan Indonesia
    Rumah Belajar, Mimpi Membangkitkan Teknologi untuk Nyala Api Pendidikan Indonesia
    15/07/2020 - 09:34
  • Imam Shamsi Ali: Sikapi Hagia Sofia dengan Bijak
    Imam Shamsi Ali: Sikapi Hagia Sofia dengan Bijak
    15/07/2020 - 08:21
  • Heutagogi: Pedagogi Baru di Era Normal Baru
    Heutagogi: Pedagogi Baru di Era Normal Baru
    14/07/2020 - 20:40
  • Covid-19, Tragedy of The Commons, dan Tindakan Kolektif
    Covid-19, Tragedy of The Commons, dan Tindakan Kolektif
    14/07/2020 - 16:07
  • Pemberdayaan Ibu dalam Praktik MP-ASI Sebagai Kunci Penanggulangan Stunting
    Pemberdayaan Ibu dalam Praktik MP-ASI Sebagai Kunci Penanggulangan Stunting
    14/07/2020 - 15:00
  • Bejat! Ditinggal Istri Belanja, Ayah Tega Cabuli Anak Kandung
    Bejat! Ditinggal Istri Belanja, Ayah Tega Cabuli Anak Kandung
    15/07/2020 - 18:53
  • Anak Nikita Mirzani dan Dipo Latief Diadopsi Fitri Salhuteru
    Anak Nikita Mirzani dan Dipo Latief Diadopsi Fitri Salhuteru
    15/07/2020 - 18:51
  • Iran Eksekusi Mati Mata-Mata CIA
    Iran Eksekusi Mati Mata-Mata CIA
    15/07/2020 - 18:50
  • Kecanduan Game saat Pandemi Covid-19, Bocah Ini Terserang Stroke
    Kecanduan Game saat Pandemi Covid-19, Bocah Ini Terserang Stroke
    15/07/2020 - 18:50
  • Berhenti Minum Miras 3 Tahun, Pria Ini Mabuk usai Pakai Hand Sanitizer
    Berhenti Minum Miras 3 Tahun, Pria Ini Mabuk usai Pakai Hand Sanitizer
    15/07/2020 - 18:50
  • Kisah Letjen Kentot, Perwira TNI Ajudan Setia Jenderal Soeharto
    Kisah Letjen Kentot, Perwira TNI Ajudan Setia Jenderal Soeharto
    15/07/2020 - 05:02
  • Ternyata, Tarif Hana Hanifah Setara Gaji Ronaldo 1 Jam di Juventus
    Ternyata, Tarif Hana Hanifah Setara Gaji Ronaldo 1 Jam di Juventus
    15/07/2020 - 05:18
  • Inggris Akhirnya Bersekutu Sama Amerika Keroyok China di Indo-Pasifik
    Inggris Akhirnya Bersekutu Sama Amerika Keroyok China di Indo-Pasifik
    15/07/2020 - 07:04
  • Terkuak, Hana Hanifah Gunakan Dokumen Palsu Saat Jalani Prostitusi
    Terkuak, Hana Hanifah Gunakan Dokumen Palsu Saat Jalani Prostitusi
    15/07/2020 - 07:25
  • Meriam Canggih Paskhas TNI AU Tembak Pesawat Pembom Musuh di Makassar
    Meriam Canggih Paskhas TNI AU Tembak Pesawat Pembom Musuh di Makassar
    15/07/2020 - 11:02