Kopi TIMES

Disharmoni Komunikasi Krisis

Senin, 06 April 2020 - 23:37 | 98.78k
Disharmoni Komunikasi Krisis
Sugeng Winarno.
Editor: Yatimul Ainun

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Komunikasi krisis penanganan wabah Corona (Covid-19) dikeluhkan sejumlah pihak. Komunikasi krisis yang dilakukan antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah berjalan tak harmonis. Terjadi simpang siur dalam penerapan sejumlah kebijakan dalam penanganan wabah virus yang meresahkan ini. Telah terjadi disharmonisasi komunikasi krisis antara sejumlah pihak yang berwenang dalam penanganan pandemi Corona ini.

​Pemerintah pusat telah mengeluarkan sejumlah pedoman atau protokol dalam penanganan persebaran wabah ini. Namun dalam pelaksanaanya, sejumlah daerah seperti menafsirkan sendiri-sendiri dan ada kebijakan yang diambil berseberangan dengan pemerintah pusat. Ada kemungkinan pesan komunikasi yang tak jelas hingga menimbulkan multi tafsir ketika kebijakan pusat itu sampai di daerah.

​Keputusan untuk mengambil tindakan penutupan kawasan, penerapan menjaga jarak sosial dan fisik (social dan physical distancing) di sejumlah daerah juga diterapkan berbeda-beda. Dalam sebuah kesempatan, Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa keputusan untuk penutupan daerah, pelarangan mudik, dalam sejumlah kebijakan penting lainnya harus diambil oleh pemerintah pusat.

​Keputusan pelarangan mudik oleh pemerintah pusat ternyata juga tak seratus persen dilaksanakan oleh beberapa pemerintah daerah. Pilihannya memang sulit. Tak banyak alternatif yang bisa diambil menghadapi para pemudik yang memang sudah tidak mampu bertahan di ibukota sehingga harus pulang ke kampung halamannya. Keputusan yang dibuat pemerintah pusat tak jarang dalam aplikasinya sulit dilaksanakan.
 
Orkestrasi yang Gaduh
​Orkestrasi komunikasi yang terjadi di Istana juga terdengar gaduh. Sejumlah kebijakan presiden ada yang tak senada dengan instruksi beberapa menterinya. Bahkan ada yang cenderung berseberangan. Orkestrasi terdengar kurang harmonis. Pihak penyampai pesan (komunikator) suaranya tak sama. Yang jadi komunikatornya juga banyak. Pesan komunikasi keluar dari sumber pesan yang berbeda-beda.

​Orkestrasi komunikasi yang dipimpin Jokowi jadi tak harmonis. Lihat saja ketika Mensesneg Pratikno harus merevisi ucapan Jubir Presiden Fadjroel Rachman soal larangan mudik. Juga Menkopolhukam Mahfud MD yang mengklarifikasi ucapan Menkumham Yasonna Laoly soal napi koruptor. Hingga ancaman Jubir Luhut Binsar Pandjaitan di Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi terhadap kritik keras Said Didu pada sebuah kanal Youtube.

​Situasi ini bisa menjadi preseden buruk. Masyarakat akan bisa menilai bahwa pemerintah tak kompak. Di saat krisis seperti sekarang ini idealnya semua pihak harus tampil kompak. Tak semestinya sejumlah menteri harus saling bantah di media. Ini menandakan komunikasi krisis pemerintah tak harmonis. Telah terjadi disharmoni dalam komunikasi krisis pemerintah. Bahkan komunikasi krisis bisa berpotensi menjadi krisis komunikasi.

​Kegaduhan komunikasi istana juga diperparah dengan komunikasi yang timbul banyak gangguan (noise) antara pemerintah pusat dengan daerah. Sejumlah pesan komunikasi dari pusat tak diterjemahkan seragam di daerah. Padahal protokol penanganan wabah Covid-19 ini sudah jelas soal mana yang harus menjadi kewenangan pimpinan pada level pusat dan mana pula yang menjadi domain kepala daerah.

​Keputusan terbaru pemerintah melalui Menteri Kesehatan tentang Darurat Kesehatan Masyarakat dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) misalnya. Kebijakan ini juga menimbulkan kegaduhan karena prosedur atau birokrasi penerapan PP ini yang dinilai birokratif dan rumit. Padahal situasi krisis saat ini membutuhkan kerja cepat dan tepat.

Noise Medsos
​Situasi komunikasi krisis yang buruk yang telah dilakukan pemerintah juga dikacaukan oleh banyaknya gangguan komunikasi (noise) yang muncul lewat beragam platform media sosial (medsos) dan media pertemanan seperti WhatsApp (WA). Beragam informasi tandingan yang belum teruji kebenarannya bermunculan di medsos dan WA yang melemahkan pesan komunikasi pemerintah.

​Para pembuat dan penyebar konten kebohongan seakan tak kehabisan amunisi untuk selalu memproduksi dan menebar aneka hoaks. Masifnya hoaks tentang virus Corona menjadikan situasi semakin panik. Tak sedikit informasi palsu dan abal-abal beredar cepat dan luas di medsos.

arahnya, tak semua orang mampu mengidentifikasi mana informasi yang bohong dan mana pula yang layak dipercaya.

​Seperti ada sejumlah pihak yang sengaja ingin mengacaukan suasana dengan membuat beragam narasi miring yang melemahkan upaya penanganan wabah Corona ini. Tak sedikit orang muncul secara anonim di medsos dengan mengunggah dan memviralkan beragam pesan yang bernada negatif dan berpotensi ciptakan kepanikan masyarakat.

​Beragam informasi palsu semakin mengacaukan suasana dan menjadi noise dalam proses komunikasi pemerintah. Gangguan komunikasinya terlampau besar, sehingga komunikasi yang dilakukan pemerintah berjalan tak harmonis. Ibarat suara dan irama yang muncul dalam sebuah orkestrasi musik, telah muncul suara tak karuan dan tak enak didengar. Suasana ini tentu bisa menjadikan situasi sakit bisa menjadi semakin parah.

​Realitas ketimpangan antara pusat dengan daerah juga menjadi persoalan dalam menciptakan harmoni dalam penanganan Covid-19 ini. Kondisi ini menciptakan komunikasi terpadu dari pusat yang belum maksimal diterjemahkan dan diimplementasikan di daerah. Soal kualitas sumber daya serta infrastruktur pendukung dalam penanganan Covid-19 yang dinilai sangat tidak merata juga memicu timbulnya disharmoni.

​Tak bijak kalau dalam situasi krisis seperti saat ini kita saling menyalahkan. Semua pihak hendaknya mampu menghindari dishoarmoni komunikasi yang terjadi. Komunikasi yang tak harmonis hanya akan menciptakan kekacauan di tengah situasi wabah yang telah bikin kacau. Inilah saatnya semua harus satu suara, satu semangat, spirit kebersamaan dan gotong royong demi melawan wabah virus Corona agar cepat sirna. Mari kita semua ikut ciptakan ketenangan, tak melakukan komunikasi yang justru berpotensi ciptakan kegaduhan. (*)

 

Oleh: Sugeng Winarno, Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.



Publisher : Rizal Dani

EKORAN

TERBARU

  • Mumpung Weekend, Kreasi Bikin Masker Tiedye Sendiri Yuk
    Mumpung Weekend, Kreasi Bikin Masker Tiedye Sendiri Yuk
    23/01/2021 - 02:22
  • Hati-Hati 5 Jenis Makanan ini Bisa Turunkan Imun
    Hati-Hati 5 Jenis Makanan ini Bisa Turunkan Imun
    23/01/2021 - 01:20
  • Menikmati Rumah Buni, Kafe Gaya Klasik di Ciamis
    Menikmati Rumah Buni, Kafe Gaya Klasik di Ciamis
    23/01/2021 - 00:37
  • Donat Alanuts Hotel Alana Angkat Kearifan Lokal
    Donat Alanuts Hotel Alana Angkat Kearifan Lokal
    22/01/2021 - 23:25
  • 4 Dampak Sekolah Online bagi Siswa
    4 Dampak Sekolah Online bagi Siswa
    22/01/2021 - 23:19
  • Mahasiswa Kedokteran Unusa Bongkar Sisi Lain Prancis di Buku It's Not Just Eiffel
    Mahasiswa Kedokteran Unusa Bongkar Sisi Lain Prancis di Buku It's Not Just Eiffel
    22/01/2021 - 23:12
  • dr Fanny: 6 Signs Your Body Needs Immune Booster
    dr Fanny: 6 Signs Your Body Needs Immune Booster
    22/01/2021 - 23:05
  • 37 Pejabat Administrasi Pemprov Maluku Utara Dilantik, Sespri Sekda Jabat Biro PKKP Malut
    37 Pejabat Administrasi Pemprov Maluku Utara Dilantik, Sespri Sekda Jabat Biro PKKP Malut
    22/01/2021 - 22:58
  • Ketua Komisi III DPRD Malut Minta Penyesuaian Tarif Angkutan Ferry Ditunda
    Ketua Komisi III DPRD Malut Minta Penyesuaian Tarif Angkutan Ferry Ditunda
    22/01/2021 - 22:51
  • Petisi Tolak Galon Air Sekali Pakai Capai 27 Ribu Orang
    Petisi Tolak Galon Air Sekali Pakai Capai 27 Ribu Orang
    22/01/2021 - 22:47

TIMES TV

Menko Airlangga Hartarto: Patuhi 3M Saat Liburan Natal dan Tahun Baru

Menko Airlangga Hartarto: Patuhi 3M Saat Liburan Natal dan Tahun Baru

15/12/2020 - 15:25

Teaser Terbaru Wonder Women 1984 Makin Seru

Teaser Terbaru Wonder Women 1984 Makin Seru
Ayo Kunjungi Pameran Virtual Hari Bakti PU ke-75

Ayo Kunjungi Pameran Virtual Hari Bakti PU ke-75
Meluaskan Manfaat

Meluaskan Manfaat
Panglima TNI: Yang Mengganggu NKRI Berhadapan dengan TNI

Panglima TNI: Yang Mengganggu NKRI Berhadapan dengan TNI

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Wakil Presiden RI Paparkan Transformasi Wakaf Indonesia Produktif
    Wakil Presiden RI Paparkan Transformasi Wakaf Indonesia Produktif
    22/01/2021 - 12:05
  • Vaksin Sinovac: Untuk Indonesia sehat
    Vaksin Sinovac: Untuk Indonesia sehat
    21/01/2021 - 20:32
  • Perlunya Pelayanan Publik Digital Di Masa Pandemi Covid-19
    Perlunya Pelayanan Publik Digital Di Masa Pandemi Covid-19
    21/01/2021 - 19:30
  • Kuasa Kekerabatan dalam Pilkada 2020
    Kuasa Kekerabatan dalam Pilkada 2020
    21/01/2021 - 17:24
  • Bocornya di Atap, Mereka Sibuk Membersihkan Lantai
    Bocornya di Atap, Mereka Sibuk Membersihkan Lantai
    21/01/2021 - 13:34
  • Pendidikan Era Paradigma Baru
    Pendidikan Era Paradigma Baru
    21/01/2021 - 13:20
  • Berbuat Baiklah dan Tidak Merusak
    Berbuat Baiklah dan Tidak Merusak
    21/01/2021 - 02:30
  • Selamatkan Usia Produktif
    Selamatkan Usia Produktif
    20/01/2021 - 21:34

KULINER

  • Hati-Hati 5 Jenis Makanan ini Bisa Turunkan Imun
    Hati-Hati 5 Jenis Makanan ini Bisa Turunkan Imun
    23/01/2021 - 01:20
  • Donat Alanuts Hotel Alana Angkat Kearifan Lokal
    Donat Alanuts Hotel Alana Angkat Kearifan Lokal
    22/01/2021 - 23:25
  • Nasi Padang Rempah Hotel Aston Sidoarjo, Cocok Bantu Jaga Imunitas Tubuh di Musim Hujan
    Nasi Padang Rempah Hotel Aston Sidoarjo, Cocok Bantu Jaga Imunitas Tubuh di Musim Hujan
    22/01/2021 - 17:03
  • Berawal dari Acara Pramuka, Kacang Telur Brawijaya jadi Legenda
    Berawal dari Acara Pramuka, Kacang Telur Brawijaya jadi Legenda
    22/01/2021 - 10:45
  • Makanan Tradisional Indonesia Berbahan Pisang, Mana Favorit Anda? 
    Makanan Tradisional Indonesia Berbahan Pisang, Mana Favorit Anda? 
    22/01/2021 - 03:15
  • Neraka Dunia Buatan Mike Tyson untuk Korban Kecanduan Seksnya
    Neraka Dunia Buatan Mike Tyson untuk Korban Kecanduan Seksnya
    23/01/2021 - 00:00
  • Barcelona Mencekam, 1 Kaki Pijak Jurang Kebangkrutan
    Barcelona Mencekam, 1 Kaki Pijak Jurang Kebangkrutan
    23/01/2021 - 01:00
  • Sanksi Muryanto, Rektor USU: Tanggungjawab Saya ‎Dunia dan Akhirat
    Sanksi Muryanto, Rektor USU: Tanggungjawab Saya ‎Dunia dan Akhirat
    23/01/2021 - 00:34
  • Skandal Olahraga, Kevin-Prince Boateng Hiperseks Sampai Sering Cedera
    Skandal Olahraga, Kevin-Prince Boateng Hiperseks Sampai Sering Cedera
    23/01/2021 - 00:02
  • Keganasan Ibrahimovic Bikin Bomber Gagal Madrid Takut ke AC Milan
    Keganasan Ibrahimovic Bikin Bomber Gagal Madrid Takut ke AC Milan
    23/01/2021 - 00:12