Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Politik Hukum Berbasis Keadilan Gender

Kamis, 02 April 2020 - 13:10 | 17.29k
Politik Hukum Berbasis Keadilan Gender
Ana Rokhmatussa’diyah, Doktor Ilmu Hukum, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Malang (UNISMA), Penulis Buku, Ketua Pokja 1 TP PKK Kota Malang.
FOKUS

Universitas Islam Malang

Pewarta: | Editor: AJP-5 Editor Team

TIMESINDONESIA, MALANG – Produk hukum yang dimiliki bangsa Indonesia masihlah produk hukum yang condong memberikan hak privilitas atau keistimewaan pada kaum Adam dibandingkan yang membela dan melindungi hak-hak perempuan. Politik pembaruan hukumnya belum benar-benar memberikan keadilan gender.

Perempuan masihlah diposisikan sebagai warga klas dua (underprifillege) yang hanya “melengkapi” peran-peran yang dimainkan lelaki. Ironisnya lagi, kondisi buruk yang menimpa perempuan dianggap sebagai konsekuensi logis yang harus diterima sebagai “ongkos” dari realitas perilaku lelaki yang dianggap punya otoritas lebih istimewa.

Ketika kasus kekerasan seksual (sexual violence) masih sering menjadi “noktah” yang memposisikan Indonesia sebagai negara yang miskin kepedulian atau vakum komitmen terhadap problem moral dan kemanusiaan yang menimpa perempuan, kembali posisi hukum ikut dipersalahkan sebagai biang keladi yang harus bertanggungjawab. Hukum dinilai masih sebagai salah satu akar masalah yang mengakibatkan perempuan menjadi rentan, rawan, dan gampang dijadikan obyek yang “didehumanisasikan”.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kalau produk hukumnya kuat,  barangkali penyakit sosial (social desease) semacam perdagangan perempuan di dalam negeri maupun ke mancanegara tidak akan sampai menjadi kejahatan laten. Citra kita sebagai bangsa kuli, bangsa budak, atau bangsa yang gampang “dibeli”, tidaklah akan sampai melekat demikian lekat jika saja produk hukum yang ada ini benar-benar dapat dijadikan sandaran utama bagi pencari keadilan.

Sayangnya, karena produk hukumnya sendiri tidak responsip terhadap perempuan yang menjadi korban atau minim dimensi represipnya terhadap pelaku, akhirnya bersemailah dan “gentayanganlah” pebisnis-pebisnis ke berbagai pelosok desa atau daerah untuk mencari dan menjinakkan, serta memperdagangkannya kepada cukong-cukong yang mau membelinya. Di sinilah kemudian, citra diri bangsa yang terepresentasi pada diri perempuan menjadi buruk akibat kuatnya publisitas yang menyebutkan, bahwa perempuan Indonesia itu gampang dijinakkan, dibeli, diperbudak, dan dijadikan obyek keterjajahan secara berlapis-lapis, yang kondisi ini diantaranya berasal dari belum seriusnya politik pembaruan hokum berbasis keadilan untuk perempuan.

Sebagai negara hukum, tentu saja problem awal yang harus diketengahkan atau digugat adalah dimensi normatifnya. Ketika aparat peradilan kesulitan menjaring dan menerapkan norma hukum yang bercorak pemberatan kepada pelaku, adalah logis jika publik menggugat, apakah hukum kita memang sedang “kurang sehat” atau dibikin kehilangan keberdayaan (empowerless) untuk menghormati perempuan?

Hukuman bercorak pemberatan sangatlah dibutuhkan, mengingat kejahatan serius seperti kekerasan seksual, sewa rahim, bisnis organ tubuh anak perempuan, perdagangan perempuan merupakan kejahatan bersifat luar biasa (exstra ordinary crime), karena apa yang diperbuat oleh pelakunya sudah tidak lagi memandang harga diri bangsa, kehilangan jiwa nasionalismenya, dan menghalalkan perilaku ketidakadaban hanya demi memburu keuntungan ekonomi atau kepentingan eksklusif lainnya.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Para pelaku kejahatan serius itu bisa dicegah keberaniannya mencari mangsa dan diretas hubungannya dengan sindikasi komoditasi kriminalistik perempuan jika sejak dini ada norma hukum berbasis keadilan gender yang secara de jure maupun de facto yang menjaringnya. Kelemahan norma yuridis atau tidak responsipnya produk hukum adalah awal bencana yang akan membuka kran lebar bagi terjadinya tragedi keadilan yang menempatkan perempuan sebagai obyeknya.

Selama ini, perempuan yang menjadi korban kejahatan serius itu tidak bisa menuntut banyak kepada aparat penegak hukum, karena produk yang sudah ada memang tidak mengatur secara tegas, pasti, dan memihak keadilan untuk perempuan. Beberapa produk yuridis yang selama ini dijadikan senjata utama oleh aparat berwajib dalam menangani kasus kejahatan serius untuk perempuan, masihlah menjadi produk hukum yang mencantumkan di beberapa aspeknya tidak secara tegas mengatur rumusan perilaku yang merugikan perempuan.

Hak-hak perempuan yang menjadi korban kejahatan serius seharusnya diakomodasi dalam politik pembaharuan hukum seperti hak mendapatkan rehabilitasi, hak kompensasi secara material, hak dibebaskan dari ketakutan, hak perlindungan keselamatan jiwa dan raga dalam memberian kesaksian, dan hak untuk secepatnya mendapatkan perawatan medis (seperti hak penyembuhan luka-luka dan pencegahan dari kehamilan).

Proses hukum yang cepat dan tepat serta memberatkan pelaku, dan di sisi lain aspiratif-responsip terhadap perempuan yang menjadi korban adalah proses hukum yang akan menjadi rambu-rambu yang tidak gampang dilalui dan dilecehkan oleh pelaku, sementara kepada korban, proses demikian terbilang menyuarakan keadilan gender. Dari keadilan yang berhasil disuarakan ini, keadaban hidup bermasyarakat akan dijauhkan dari balutan kerawanan. Kondisi ini butuh langkah serius berelasi dengan politik pembaruan hokum berbasis keadilan gender.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Ana Rokhmatussa’diyah, Doktor Ilmu Hukum, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Malang (UNISMA), Penulis Buku, Ketua Pokja 1 TP PKK Kota Malang.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id



Publisher : Rochmat Shobirin
KOMENTAR

EKORAN

TERBARU

  • James Hoesterey, An Anthropologist Who Fell in Love to Islam in Indonesia
    James Hoesterey, An Anthropologist Who Fell in Love to Islam in Indonesia
    06/06/2020 - 01:12
  • Kalahkan Lady Gaga Hingga Metallica, BTS Masuk 50 Seleb Terkaya di Dunia
    Kalahkan Lady Gaga Hingga Metallica, BTS Masuk 50 Seleb Terkaya di Dunia
    06/06/2020 - 00:23
  • Pasien Covid-19 Capai 55 Orang, Polres Bangkalan Semprotkan 18 Ribu Ton Disinfektan
    Pasien Covid-19 Capai 55 Orang, Polres Bangkalan Semprotkan 18 Ribu Ton Disinfektan
    05/06/2020 - 23:39
  • Didukung TIMES Indonesia, Aksi Sosial Jogjacatt, Peduli dan Berbagi Merambah Sleman
    Didukung TIMES Indonesia, Aksi Sosial Jogjacatt, Peduli dan Berbagi Merambah Sleman
    05/06/2020 - 23:30
  • S2 Biologi UIN Malang Prakarsai Webinar Nasional Pandangan Al-Quran di Era Normal
    S2 Biologi UIN Malang Prakarsai Webinar Nasional Pandangan Al-Quran di Era Normal
    05/06/2020 - 23:21
  • 5 Strategi Ini  Wajib Dipahami Pebisnis Kuliner Hadapi New Normal
    5 Strategi Ini Wajib Dipahami Pebisnis Kuliner Hadapi New Normal
    05/06/2020 - 23:09
  • Ini Syarat Pemkab Sleman Keluarkan Rekomendasi Tempat Ibadah Aman Covid- 19
    Ini Syarat Pemkab Sleman Keluarkan Rekomendasi Tempat Ibadah Aman Covid- 19
    05/06/2020 - 23:01
  • Lumbung Pangan Kampung Tangguh Tawangrejo Madiun Terima Donasi Logistik
    Lumbung Pangan Kampung Tangguh Tawangrejo Madiun Terima Donasi Logistik
    05/06/2020 - 22:53
  • Ketua Ansor Ponorogo Instruksikan Kader Gotong Royong Songsong New Normal
    Ketua Ansor Ponorogo Instruksikan Kader Gotong Royong Songsong New Normal
    05/06/2020 - 22:39
  • Update Covid-19 Kota Bontang: Ada Tambahan 9 OTG
    Update Covid-19 Kota Bontang: Ada Tambahan 9 OTG
    05/06/2020 - 22:27

TIMES TV

Sehari, Kapolresta Malang Kota Resmikan Empat Kampung Tangguh

Sehari, Kapolresta Malang Kota Resmikan Empat Kampung Tangguh

20/05/2020 - 21:40

Kemenparekraf RI: Kampung Tangguh Siap Digaungkan di Nasional

Kemenparekraf RI: Kampung Tangguh Siap Digaungkan di Nasional
Gubernur Jatim Kunjungi Kampung Tangguh Narubuk Sukun Kota Malang

Gubernur Jatim Kunjungi Kampung Tangguh Narubuk Sukun Kota Malang
GM FKPPI Bantu Beras 2 Ton, Minyak dan Gula Untuk MBLC

GM FKPPI Bantu Beras 2 Ton, Minyak dan Gula Untuk MBLC
Alumni Sanmar-86 Malang Bantu 40 Paket Sembako Untuk MBLC

Alumni Sanmar-86 Malang Bantu 40 Paket Sembako Untuk MBLC

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Kecemasan Sosial Selama Pandemi Covid-19
    Kecemasan Sosial Selama Pandemi Covid-19
    05/06/2020 - 15:03
  • Masyarakat Tangguh di Tengah Pandemi
    Masyarakat Tangguh di Tengah Pandemi
    05/06/2020 - 14:00
  • Peran Media Massa Dalam Mewujudkan Era
    Peran Media Massa Dalam Mewujudkan Era "New Normal"
    05/06/2020 - 13:12
  • Jadikan Ibadah Wajib Layaknya Tamu, Bukan Keluarga
    Jadikan Ibadah Wajib Layaknya Tamu, Bukan Keluarga
    05/06/2020 - 12:09
  • Agama dan Berpikir Sehat
    Agama dan Berpikir Sehat
    05/06/2020 - 11:00
  • Pengetahuan Menjadi Kunci Terwujudnya Disiplin New Normal
    Pengetahuan Menjadi Kunci Terwujudnya Disiplin New Normal
    05/06/2020 - 10:10
  • Gagalnya Manajemen Komunikasi Krisis Pengaruhi Kepercayaan Publik
    Gagalnya Manajemen Komunikasi Krisis Pengaruhi Kepercayaan Publik
    05/06/2020 - 09:36
  • Tatanan Normal Baru, Sebuah Peluang untuk Ketahanan Pangan
    Tatanan Normal Baru, Sebuah Peluang untuk Ketahanan Pangan
    05/06/2020 - 08:12
  • Ini Persiapan yang Dilakukan Bandara YIA Sambut New Normal
    Ini Persiapan yang Dilakukan Bandara YIA Sambut New Normal
    06/06/2020 - 01:18
  • Pemain Timnas U-19 Wajib Kirim Foto Menu Makanan ke Shin Tae-yong
    Pemain Timnas U-19 Wajib Kirim Foto Menu Makanan ke Shin Tae-yong
    06/06/2020 - 01:05
  • 7 Tapol Papua Dituntut Belasan Tahun Bui, Salah Satunya Ketua BEM Uncen
    7 Tapol Papua Dituntut Belasan Tahun Bui, Salah Satunya Ketua BEM Uncen
    06/06/2020 - 00:33
  • Samsung Indonesia Akan Batasi Pelanggan di Toko, Wajibkan Masker
    Samsung Indonesia Akan Batasi Pelanggan di Toko, Wajibkan Masker
    06/06/2020 - 00:05
  • Persiraja Keberatan Liga 1 2020 Terpusat di Pulau Jawa
    Persiraja Keberatan Liga 1 2020 Terpusat di Pulau Jawa
    05/06/2020 - 23:42
  • RI Dapat Pujian dari Bank Dunia Soal Anggaran Penanganan COVID-19
    RI Dapat Pujian dari Bank Dunia Soal Anggaran Penanganan COVID-19
    06/06/2020 - 00:12
  • Dukung Lazio, Model Ini Nekat Foto Tanpa Busana
    Dukung Lazio, Model Ini Nekat Foto Tanpa Busana
    06/06/2020 - 00:02
  • Hari Lahir Soekarno Disambut Strawberry Moon hingga Asteroid Raksasa
    Hari Lahir Soekarno Disambut Strawberry Moon hingga Asteroid Raksasa
    06/06/2020 - 00:01
  • LaLiga Kembali Bergulir, Apa Harapan Andres Iniesta untuk Barcelona?
    LaLiga Kembali Bergulir, Apa Harapan Andres Iniesta untuk Barcelona?
    06/06/2020 - 00:10
  • Prajurit TNI Tak Bisa Naik Pangkat Kalau Fisiknya Lembek
    Prajurit TNI Tak Bisa Naik Pangkat Kalau Fisiknya Lembek
    06/06/2020 - 00:06