Kopi TIMES

Sebuah Post Test untuk Indonesia

Jumat, 27 Maret 2020 - 07:50 | 30.99k
Sebuah Post Test untuk Indonesia
Galan Rezki Waskita, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.
Editor: Yatimul Ainun

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Sebuah produk, alat, dan bahkan manusia untuk diukur kelayakannya memerlukan standar. Mari kita tarik pada beberapa contoh. Makanan untuk memiliki hak edar masal dalam masyarakat harus memiliki sertifikat halal. Untuk bekerja pada sebuah perusahaan, seseorang umumnya harus melakukan interview dengan HRD. Kendaraan juga diwajibkan mengikuti uji emisi sebelum digunakan. Demikian pula di beberapa bidang lainnya, standar akan selalu dibutuhkan. Mungkin benar bahwa ukuran tersebut tidak menjamin kualitas, tapi bersandar adalah cara untuk berkalkulasi dan memperoleh akurasi.

Indonesia untuk dikatakan memiliki kesejahteraan sosial dan ekonomi juga memerlukan standarisasi. Word Bank menetapkan sebuah negara disebut maju apabila memiliki pendapatan perkapita minimum US$ 11,906 per tahunnya. Namun logika usaha dengan bertumpu pada eksploitasi alam tidak dijadikan kriteria untuk menyandang label tersebut.

Artinya negara memerlukan prospek industrialisasi yang beragam serta perdagaangan jasa. Terlepas dari tuntutan tersebut, mungkin sebaiknya beberapa persoalan yang telah dahulu ada dapat disikapi dengan cepat dan bijak. Tembok tidak akan berdiri kokoh karena kita mengabaikan pondasi. Anda bahkan tidak bisa menegenakan almamater jika belum menuntuskan sekolah dasar.

Mari kita runtutkan koherensi dari pemikiran Marshall McLuhan terhadap beberapa post test di bangsa ini. Dalam teori Global Village, McLuhan menganalogikan bumi sebagai desa yang luas dengan prinsip gerakan maya. Ia menyatakan bahwa ada penyusutan dan perkembangan budaya dalam waktu yang bersamaan. Secara sederhana, teori ini memungkinkan untuk ditemukannya problem solving yang pernah dilakukan pada kasus yang sama di negara yang berbeda. Untuk itulah dalam pemerintahan diterapkan sistem studi banding pra pembentukan kebijakan.

Pada kenyataannya, sejak 1965 hingga pasca reformasi, terdapat banyak kasus yang terus tumbuh dan tidak terselesaikan. Konflik internal kenegaraan sudah menjadi penyakit sejak zaman raja-raja. Dengan Global Village, berikan hukuman mati para koruptor sebagaimana China memberlakukannya. Terapkan pendidikan formal lebih sedikit dibandingkan aktualisasi diri seperti Vinlandia.

Angkat budaya sebagaimana India dan Korea melakukannya. Gusti Kanjeng Ratu Hayu, putri Sri Sultan Hamengkubowono X juga pernah mengatakan bahwa moderen bukan berarti menjadi western. Sayangnya kita menemukan jawaban soal-soal, tetapi belum mampu untuk menulis. Hasilnya, kertas ujian masihlah kosong atau terisi dengan sebatas coretan.

Pada kasus yang berbeda, terhitung sejak dua bulan lalu pandemi Covid-19 mewabah Indonesia. Penyakit tersebut hanya salah satu dari persoalan pada post test yang perlu dijawab. Namun demikian, bahkan untuk kondisi ini, berlaku kooperatif seolah begitu mahalnya. Penertiban oleh kepolisian menjadi bahan ejekan, karena setiap kebijakan menjadi lahan olokan. Mahasiwa memilih kongkow sementara aktor politik sibuk saling kritik.

Masing-masing individu kemudian membangun hukum sendiri. Lawrence M. Friedmen, Profesor Hukum Amerika menyebutkan salah satu unsur hukum adalah Legal Culture. Dengan kata lain, hukum berjalan sebagaimana budaya berjalan. Di Indonesia, kita terjebak pada kultur hukum yang meniadakan kewibawaan hukum itu sendiri.

Sesekali kita perlu belajar dari pendemo. Massa aksi terlihat kokoh karena berada pada satu visi dan komando. Persamaan pandangan tersebut adalah psikologi massa yang lahir atas kesatuan rasa. Tapi pertentangan pikiran tetap adalah bagian dari kewajaran. Mari melihat bagaimana seorang bijaksana bertindak. Abraham Lincoln mengungkapkan kemarahan pada lawan politiknya melalui surat yang tidak pernah dikirimkan.

Tentu bukan karena takut, tapi Lincoln memikirkan dampak kedepan tulisan-tulisannya. Ia menitipkan amarahnya pada secarik kertas yang akhirnya ia simpan. Maka dari itu, kita dapat menarik kesimpulan bahwa mencari kesepahaman adalah kedewasaan. Pada prinsipnya, bahkan kritik sekalipun akan menuntut moral etik.

Indonesia tengah berhadapan dengan lembar ujian nasional, yang mebuat kita belajar sepanjang tahun. Hanya saja kelulusan tidak ditentukan dua kali 45 menit. Semua tergantung apakah sosiodrama ini mau dihentikan atau tidak. Global village memperkenankan siapapun menyontek meski memang lebih mulia bergagasan.

Pancasila sekalipun lebih dulu dikenal sebagai gagasan sebelum ideologi. Tapi haruslah diingat bahwa ada perut yang keroncongan karena lapar. Ada jiwa yang melayang karena tidak mampu membeli obat. Atau bahkan ada tubuh yang terbaring dipinggir sungai menuntut rumah yang layak. Semakin lama kita mengisi lembar kertas, semakin marak persoalan berikutnya menuntut. Beruntungnya, Indonesia akan selalu punya kesempatan untuk lulus.

***

*) Penulis adalah Galan Rezki Waskita, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

*) Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.


Opini Post Test HRD
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
KOMENTAR

EKORAN

Kawal Informasi Seputar COVID-19 Secara Tepat dan Akurat

Ini merupakan sumber informasi inisiatif sukarela warganet Indonesia pro-data, terdiri dari praktisi kesehatan, akademisi, profesional & pemerintah.

Jumlah Kasus di Indonesia Saat Ini

2,738

+247 Positif

204

+12 Sembuh

221

+12 Meninggal
Statistik Kasus COVID-19 di Indonesia
Last update: Selasa, 07 April 2020 - 16:20 Sumber: kawalcorona.com
Honda HRV

TIMES TV

Ketua DPRD Kota Malang Sumbang dan Apresiasi MBLC

Ketua DPRD Kota Malang Sumbang dan Apresiasi MBLC

23/03/2020 - 20:12

Pembuatan Sarcovid, Karya Anak Bangsa Untuk Negeri Pertiwi

Pembuatan Sarcovid, Karya Anak Bangsa Untuk Negeri Pertiwi
Wisma Atlet di Kemayoran Sudah Bisa Dioperasian sebagai RS Darurat Penanganan Covid-19

Wisma Atlet di Kemayoran Sudah Bisa Dioperasian sebagai RS Darurat Penanganan Covid-19
Satu Jam Mengenal Pemikiran Didik Gatot Subroto

Satu Jam Mengenal Pemikiran Didik Gatot Subroto
Jokowi Bagi Tips Cegah Virus Corona

Jokowi Bagi Tips Cegah Virus Corona

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Takwil Nabi Yusuf, Covid-19 dan Nasib Rakyat
    Takwil Nabi Yusuf, Covid-19 dan Nasib Rakyat
    07/04/2020 - 22:20
  • Memaafkan “Wong Cilik”
    Memaafkan “Wong Cilik”
    07/04/2020 - 13:57
  • Membangun Negara Futuristik
    Membangun Negara Futuristik
    07/04/2020 - 13:29
  • Stay at Home: Tak Ada Waktu Libur dalam Berliterasi
    Stay at Home: Tak Ada Waktu Libur dalam Berliterasi
    07/04/2020 - 13:20
  • Merawat (Literasi) Budaya
    Merawat (Literasi) Budaya
    07/04/2020 - 13:12
  • Covid-19 dan Skenario Terburuk Pilkada Serentak 2020
    Covid-19 dan Skenario Terburuk Pilkada Serentak 2020
    07/04/2020 - 08:36
  • Belajar Banyak dari Virus Corona
    Belajar Banyak dari Virus Corona
    07/04/2020 - 06:16
  • Covid-19, Subsidi untuk Pekerja Harian
    Covid-19, Subsidi untuk Pekerja Harian
    07/04/2020 - 05:22
  • Sehari Sebelum PSBB, Warga di Jakarta Dapat Sembako dari Pemprov DKI
    Sehari Sebelum PSBB, Warga di Jakarta Dapat Sembako dari Pemprov DKI
    07/04/2020 - 23:39
  • Hasil Kajiannya Dituding 'Pesanan', BMKG: Kami Ini Bukan Politikus
    Hasil Kajiannya Dituding 'Pesanan', BMKG: Kami Ini Bukan Politikus
    07/04/2020 - 23:25
  • Gubernur Ridwan Kamil Usulkan Bogor, Depok, Bekasi Gabung PSBB DKI Jakarta
    Gubernur Ridwan Kamil Usulkan Bogor, Depok, Bekasi Gabung PSBB DKI Jakarta
    07/04/2020 - 23:05
  • Jersey Barito Putera Rilisan 1997 Dilelang, Laku Rp 2,3 Juta
    Jersey Barito Putera Rilisan 1997 Dilelang, Laku Rp 2,3 Juta
    07/04/2020 - 23:00
  • Delapan Sektor Usaha yang Boleh Selama PSBB: Dari Kesehatan hingga SPBU
    Delapan Sektor Usaha yang Boleh Selama PSBB: Dari Kesehatan hingga SPBU
    07/04/2020 - 22:54
  • Dinyatakan Sembuh dari COVID-19, 51 Pasien Dites dan Kembali Positif
    Dinyatakan Sembuh dari COVID-19, 51 Pasien Dites dan Kembali Positif
    07/04/2020 - 12:51
  • Aksi Gila Anak Mayweather, Tusukkan Pisau ke Selingkuhan Tunangannya
    Aksi Gila Anak Mayweather, Tusukkan Pisau ke Selingkuhan Tunangannya
    07/04/2020 - 10:57
  • Selain Batuk dan Demam, Ini 3 Gejala COVID-19 yang Tak Boleh Diabaikan
    Selain Batuk dan Demam, Ini 3 Gejala COVID-19 yang Tak Boleh Diabaikan
    07/04/2020 - 15:26
  • Jakarta Resmi Terapkan Pembatasan Sosial Skala Besar
    Jakarta Resmi Terapkan Pembatasan Sosial Skala Besar
    07/04/2020 - 13:01
  • Ajudan Jokowi Sabet Titel Pasukan Elite Milter AS di Tengah Wabah
    Ajudan Jokowi Sabet Titel Pasukan Elite Milter AS di Tengah Wabah
    07/04/2020 - 06:26