Kopi TIMES

Melawan Predator Seks di Sekolah

Jumat, 27 Maret 2020 - 12:48 | 29.01k
Melawan Predator Seks di Sekolah
Kurniawan Adi Santoso, S.Pd, Guru SDN Sidorejo, Kabupaten Sidoarjo.
Editor: Yatimul Ainun

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Kekerasan seksual terhadap anak masih terus terjadi. Kabar mutakhir, seorang kepala sekolah SMA di Dompu, Nusa Tenggara Barat, dilaporkan kepada polisi karena telah melakukan pelecehan terhadap siswinya. Masih hangat pula dalam ingatan kita, di awal tahun ini terjadi kasus pelecehan seksual terhadap anak di lingkungan sekolah di salah satu SD di Sleman dengan korban sebanyak dua belas orang anak.

Kekerasan seksual terhadap anak adalah segala bentuk tindakan yang dapat menimbulkan trauma bagi korban, terutama anak-anak, seperti meminta atau menekan anak untuk melakukan aktivitas seksual, menampilkan pornografi kepada anak, berhubungan seksual dengan anak, dan menggunakan anak untuk memproduksi pornografi anak (Martin et al, 1993).

Menurut Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sepanjang tahun 2019, kasus kekerasaan seksual pada anak di sekolah berjumlah 21 kasus dengan korban sebanyak 123 anak. Dari 21 kasus tersebut, 13 kasus atau sebanyak 62 persen terjadi di jenjang SD, 5 kasus atau 24 persen di jenjang SMP/sederajat dan 3 kasus atau 14 persen di jenjang SMA.

Kita sadar bila angka-angka tersebut sejatinya merupakan realitas gunung es. Artinya, yang tidak terlaporkan, jauh lebih banyak. Pasalnya, meski dalam bayangan kekerasan, anak (korban) acap di bawah ancaman sehingga takut mengadu, ketergantungan ekonomi terhadap pelaku, menutup aib keluarga dan sejenisnya membuat kasus-kasus kekerasan seksual kemudian tidak terungkap.

Kepedulian Semua Pihak

Maka dari itu, diperlukan adalah upaya pemutusan mata rantai kekerasan seksual yang ada. Perlu ada kepedulian yang lebih dari semua pihak serta memahami bila kekerasan seksual terhadap anak bisa di sekolah. Pelakunya bisa guru, staf, bahkan kepala sekolah. Fakta ini kian menunjukkan seakan tidak ada lagi tempat yang aman bagi anak.

Laju angka kekerasan seksual terhadap anak yang begitu tinggi menandakan ekosistem untuk mencegah dan merespons kasus kekerasan seksual tidak bekerja secara optimal. Ini karena lemahnya komitmen pemerintah dalam melindungi anak meski undang-undangnya sudah tegas ancaman pidananya. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat efek jera kepada terpidana kekerasan seksual terhadap anak dengan tidak memberikan hak-hak narapidana, seperti remisi, pembebasan bersyarat, dan grasi. Ini dengan pertimbangan bahwa pelaku memiliki potensi mengulangi kembali perbuatannya di kemudian hari.

Begitu juga dengan regulasi yang mengatur penanganan kasus kekerasan seksual di sekolah: Permendikbud Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Belum banyak sekolah yang menindaklanjuti dengan membentuk tim pencegahan dan penanganan kekerasan yang terdiri dari guru, kepala sekolah, dan perwakilan orangtua murid sesuai amanat peraturan tersebut. Belum lagi ketika sekolah harus membuat Prosedur Operasi Standar (POS) pencegahan, pelaporan hingga pemulihan korban kekerasan.

Pemerintah melalui dinas pendidikan seharusnya mengontrol peraturan ini sampai tingkat satuan pendidikan. Dinas pendidikan dan pengelola sekolah harus mampu bekerja sama memberi jaminan kenyamanan dan rasa aman bagi murid saat belajar di sekolah. Warga sekolah harus bebas dari ancaman, perundungan, pelecehan maupun kekerasan seksual.

Seorang murid berada di sekolah selama 6-9 jam setiap hari. Itu merupakan waktu panjang yang memungkinkan berbagai hal bisa terjadi. Maka orangtua murid sebagai konsumen berhak menanyakan sejauhmana strategi sekolah mencegah terjadinya kekerasan seksual terhadap anaknya.

Selain menjadi tempat belajar yang aman dan nyaman, ruang-ruang kelas seharusnya juga menjadi tempat menimba pengetahuan yang benar dan valid. Interaksi guru dan murid selayaknya mampu membangun kebenaran pengetahuan. Para akademisi cilik ini dilatih untuk memilih dan memilah kebenaran faktual.

Ironisnya, seringkali sekolah menempatkan diri sebagai komunitas yang memiliki jarak dengan realitas keseharian. Teori-teori pengetahuan disampaikan apa adanya tanpa dikaitkan dengan situasi dunia nyata saat ini. Banyaknya mitos atau hoaks tentang seksualitas tidak pernah diluruskan dan dibangun kontranarasi di dalam pembelajaran.

Kita masih ingat berita viral di kalangan remaja beberapa tahun lalu perihal sebuah kisah di suatu pesta akhir pekan yang menjadi tragedi ketika seorang pria ejakulasi di dalam kolam renang umum. Akibatnya enam belas gadis yang berada di kolam renang menjadi hamil. Hoaks usang tapi masih sering dianggap kebenaran bagi murid di saat ini.

Sekolah sebaiknya juga mampu menciptakan kurikulum pendidikan seks sebagai muatan khusus maupun terintegrasi dalam berbagai mata pelajaran. Permasalahan yang sering muncul adalah anggapan bahwa membicarakan seksualitas adalah hal yang tabu bahkan mengerikan. Kita masih terjebak bahwa seksualitas hanya berkaitan dengan hubungan seks antara laki-laki dan perempuan. Kita lupa bahwa mempelajari tentang fungsi dan higienitas organ reproduksi juga merupakan ranah pendidikan seks bagi anak-anak setingkat sekolah dasar.

Peran dari orangtua juga diperlukan dalam mengenalkan pendidikan seks sejak dini. Anak balita pun seharusnya mendapat pendidikan seks dengan materi terbatas. Misalnya, guru mengenalkan fungsi mulut selain untuk makan, minum, dan berbicara, bisa juga untuk mencium. Bukan mencium bibir orang lain, tapi mencium pipi ayah dan ibu sebagai tanda rasa sayang. Dari hal sederhana ini, anak bisa diajarkan bahwa mencium atau dicium orang lain bukanlah hal yang pantas.

Pun menerapkan pendidikan pengenalan organ tubuh kepada anak di usia dini agar mereka tahu organ tubuhnya yang boleh/tidak boleh dilihat atau disentuh orang lain dan cara terhindar dari kekerasan seksual. Ini termasuk mendidik anak untuk "melawan" bila mengalami kekerasan. Harapannya, anak akan menghindar ketika ia mendapat perlakuan asusila dari predator seks.

***

*) Penulis adalah Kurniawan Adi Santoso, S.Pd, Guru SDN Sidorejo, Kabupaten Sidoarjo.

*) Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.



Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
KOMENTAR

EKORAN

TERBARU

  • Awas, Risiko Penyakit Kronis Akibat Kurang Gerak
    Awas, Risiko Penyakit Kronis Akibat Kurang Gerak
    05/06/2020 - 10:57
  • BNPB: Ratusan Rumah Rusak Pascagempa M6,8 Maluku Utara
    BNPB: Ratusan Rumah Rusak Pascagempa M6,8 Maluku Utara
    05/06/2020 - 10:42
  • James Hoesterey: Saya Harus Luruskan Kesalahpahaman Tentang Islam di Amerika
    James Hoesterey: Saya Harus Luruskan Kesalahpahaman Tentang Islam di Amerika
    05/06/2020 - 10:35
  • 6 Orang Pengunjung Warkop di Malang Reaktif Usai Rapid Test
    6 Orang Pengunjung Warkop di Malang Reaktif Usai Rapid Test
    05/06/2020 - 10:24
  • Pengetahuan Menjadi Kunci Terwujudnya Disiplin New Normal
    Pengetahuan Menjadi Kunci Terwujudnya Disiplin New Normal
    05/06/2020 - 10:10
  • Pemerintah Pastikan Pilkada Serentak 2020 Tetap Digelar 9 Desember
    Pemerintah Pastikan Pilkada Serentak 2020 Tetap Digelar 9 Desember
    05/06/2020 - 10:04
  • Pengguna Jasa Penyeberangan dari Banyuwangi ke Bali Jalani Rapid Test
    Pengguna Jasa Penyeberangan dari Banyuwangi ke Bali Jalani Rapid Test
    05/06/2020 - 09:56
  • 41 Napi Gembong Narkoba Dipindahkan ke Nusakambangan
    41 Napi Gembong Narkoba Dipindahkan ke Nusakambangan
    05/06/2020 - 09:43
  • New Normal, Kapendam Brawijaya: Face Shield Wajib di Pasar Tradisional
    New Normal, Kapendam Brawijaya: Face Shield Wajib di Pasar Tradisional
    05/06/2020 - 09:41
  • Gagalnya Manajemen Komunikasi Krisis Pengaruhi Kepercayaan Publik
    Gagalnya Manajemen Komunikasi Krisis Pengaruhi Kepercayaan Publik
    05/06/2020 - 09:36

TIMES TV

Sehari, Kapolresta Malang Kota Resmikan Empat Kampung Tangguh

Sehari, Kapolresta Malang Kota Resmikan Empat Kampung Tangguh

20/05/2020 - 21:40

Kemenparekraf RI: Kampung Tangguh Siap Digaungkan di Nasional

Kemenparekraf RI: Kampung Tangguh Siap Digaungkan di Nasional
Gubernur Jatim Kunjungi Kampung Tangguh Narubuk Sukun Kota Malang

Gubernur Jatim Kunjungi Kampung Tangguh Narubuk Sukun Kota Malang
GM FKPPI Bantu Beras 2 Ton, Minyak dan Gula Untuk MBLC

GM FKPPI Bantu Beras 2 Ton, Minyak dan Gula Untuk MBLC
Alumni Sanmar-86 Malang Bantu 40 Paket Sembako Untuk MBLC

Alumni Sanmar-86 Malang Bantu 40 Paket Sembako Untuk MBLC

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Pengetahuan Menjadi Kunci Terwujudnya Disiplin New Normal
    Pengetahuan Menjadi Kunci Terwujudnya Disiplin New Normal
    05/06/2020 - 10:10
  • Gagalnya Manajemen Komunikasi Krisis Pengaruhi Kepercayaan Publik
    Gagalnya Manajemen Komunikasi Krisis Pengaruhi Kepercayaan Publik
    05/06/2020 - 09:36
  • Tatanan Normal Baru, Sebuah Peluang untuk Ketahanan Pangan
    Tatanan Normal Baru, Sebuah Peluang untuk Ketahanan Pangan
    05/06/2020 - 08:12
  • Tatanan Normal Baru, Sebuah Peluang Baru Pendidikan Tinggi Swasta
    Tatanan Normal Baru, Sebuah Peluang Baru Pendidikan Tinggi Swasta
    05/06/2020 - 01:17
  • Racism is American’s Original Sin
    Racism is American’s Original Sin
    04/06/2020 - 21:18
  • Rasisme Itu Dosa Asal Amerika
    Rasisme Itu Dosa Asal Amerika
    04/06/2020 - 14:44
  • Sila Ketiga Pancasila Kunci Keberhasilan New Normal
    Sila Ketiga Pancasila Kunci Keberhasilan New Normal
    04/06/2020 - 10:58
  • Rezim di Ujung 'Pedang'
    Rezim di Ujung 'Pedang'
    04/06/2020 - 09:55
  • Ikut Rapid Test, 11 dari Ratusan ASN di Sleman Reaktif
    Ikut Rapid Test, 11 dari Ratusan ASN di Sleman Reaktif
    05/06/2020 - 11:05
  • Ngeri Banget, Ini yang Terjadi Pada Mata Anak Jika Sering Main Gadget
    Ngeri Banget, Ini yang Terjadi Pada Mata Anak Jika Sering Main Gadget
    05/06/2020 - 11:05
  • Alasan Mengapa Gerhana Bulan Penumbra 6 Juni Disebut Bulan Stroberi
    Alasan Mengapa Gerhana Bulan Penumbra 6 Juni Disebut Bulan Stroberi
    05/06/2020 - 11:05
  • Sempat Viral, Perampok Bersenjata Api di Indomaret Taman Sari Tertangkap
    Sempat Viral, Perampok Bersenjata Api di Indomaret Taman Sari Tertangkap
    05/06/2020 - 11:04
  • Baru Masuk Masa PSBB Transisi, Banyak Warga Masih Abaikan Jaga Jarak!
    Baru Masuk Masa PSBB Transisi, Banyak Warga Masih Abaikan Jaga Jarak!
    05/06/2020 - 11:04
  • Jokowi Pusing Tangani Corona, Ma'ruf Amin 'Hilang Ditelan Bumi'
    Jokowi Pusing Tangani Corona, Ma'ruf Amin 'Hilang Ditelan Bumi'
    05/06/2020 - 06:06
  • Kabar Gembira, Ditemukan Vaksin yang Terbukti Ampuh Lawan Virus Corona
    Kabar Gembira, Ditemukan Vaksin yang Terbukti Ampuh Lawan Virus Corona
    05/06/2020 - 02:55
  • Fatwa MUI Tentang Salat Jumat dan Berjemaah
    Fatwa MUI Tentang Salat Jumat dan Berjemaah
    05/06/2020 - 05:30
  • Viral Gadis Kecil Pertaruhkan Nyawa Ibunya Malah Tertawa
    Viral Gadis Kecil Pertaruhkan Nyawa Ibunya Malah Tertawa
    05/06/2020 - 07:01
  • Indonesia Menuju Tatanan Baru, Fahri Hamzah: Apa Kabar Sunda Empire
    Indonesia Menuju Tatanan Baru, Fahri Hamzah: Apa Kabar Sunda Empire
    05/06/2020 - 06:30