Kopi TIMES

Kenapa Amerika Serikat Cabut Indonesia dari Daftar Negara Berkembang?

Selasa, 25 Februari 2020 - 15:04 | 177.86k
Kenapa Amerika Serikat Cabut Indonesia dari Daftar Negara Berkembang?
Misbahul Ilham, Mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Jember. (Grafis: TIMES Indonesia)
Editor: Irfan Anshori

TIMESINDONESIA, JEMBER – Penghapusan daftar negara-negara berkembang oleh The United States Trade Representative sontak menjadi isu menarik di kancah Internasional.  Indonesia sebagai salah satu anggota WTO (World Trade Organization) dan G-20 (Kelompok 20 ekonomi utama) dengan perekonomian besar di dunia juga menjadi salah satu pertimbangan AS mengkategorikan Indonesia sebagai negara maju. Landasan AS menerbitkan memorendum penghapusan tersebut dikarenakan adanya sistem dikotomi yang diterapkan WTO dalam perdangangan Internasional.

Negara maju seperti halnya Amerika akan dikenai tarif lebih tinggi dari pada negara  yang berstatus sebagai negara berkembang.  Amerika Serikat secara tegas mengeluarkan beberapa negara dari daftar negara berkembang. Negara-negara yang dikeluarkan dalam daftar adalah Brazil, Indonesia, Hongkong, South Africa dan Argentina. 

Jika Indonesia dihapus dari daftar negara berkembang, maka tidak akan mendapatkan perlakuan diferensial khusus dalam perdagangan internasional. Secara tidak langsung, AS menilai bahwa Indonesia tidak lagi memenuhi syarat untuk menerima perlakuan diferensial khusus dari subsidi WTO.

Kebijakan AS ini sangat berasalan, sebab kebijakan yang dibuat oleh WTO untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan standar hidup dengan aturan perdagangan internasional berdasarkan prinsip-prinsip transparansi, keterbukaan dan kepastian. 

Sejarah mencatat bahwa gelombang ekonomi telah meningkat sejak awal WTO dibentuk pada tahun 1995. AS menilai bahwa WTO terus bertumpu pada dikotomi usang yang membedakan negara maju dan negara berkembang. Kritik AS terhadap sistem ini karena beberapa negara yang dikategorikan sebagai negara berkembang dapat memanfaatkan privilege khusus sebagai negara berkembang.

AS mencontohkan misalnya, 7 dari 10 ekonomi terkaya di dunia yang diukur dengan Produk Domestik Bruto per kapita berdasarkan paritas daya beli seperti, Brunei, Hongkong, Kuwait, Makau, Qatar, Singapura dan Unit Emirat Arab mengklaim status sebagai negara berkembang. Demikian, Meksiko, Korea Selatan, Turki yang merupakan anggota G-20 juga mengkaliam sama demikian.

Klaim negara-negara terkaya sebagai negara berkembang, negara tersebut tidak hanya merugikan negara-negara maju lainnya, tetapi juga akan merugikan negara yang benar-benar membutuhkan perlakuan khusus dan berbeda.

Tegas, Amerika sangat mengkhawatirkan apabila mengabaikan kepatuhan terhadap aturan WTO, maka kemungkinan di masa depan aturan apapun yang dibuat akan dilanggar, Oleh karenanya Amerika Serikat mengharapkan adanya perubahan dalam tubuh WTO. Mengubah pendekatan WTO ke fleksibilitas terkait dengan status negara berkembang serta mengakhiri manfaat perdagangan yang tidak adil.

Penjelasan diatas sudah sangat jelas mengapa Amerika merasa diperlakukan tidak adil sebagai negara maju. Sejauh ini yang menjadi pertanyaan adalah, apakah Indonesia secara indikator memenuhi dan siap menjadi negara maju.

Parameter yang digunakan adalah melihat GNP (Gross National Product) dengan cara membagi antara jumlah keseluruhan pendapatan negara pertahun dengan jumlah seluruh penduduk negara tersebut. Sebagai contoh, apabila hasil baginya lebih dari 10.000 dolar AS , maka dikategorikan sebagai negara maju. Kedua, struktur mata pencaharian, Jika prosentase angkatan kerja pada sektor jasa lebih besar, maka negara tersebut dikelompokkan sebagai negara maju. 

Ketiga, produktivitas per tenaga kerja, Apabila produktivitas perangkatan kerja tinggi maka tergolong sebagai negara maju. Keempat, penggunaan energi per orang, jikat tingkat penggunaan tenaga listrik dan bentuk energi lainnya tinggi maka perkembangan nasionalnya juga tinggi dan dikelompokkan sebagai negara maju meskipun tidak mutlak. Kelima,  fasilitas transportasi dan komunikasi, cara ini digunakan untuk menentukan perkapita dari pengukuran jalan raya, kereta api dan transportasi lainnya. Jika indeks yang ditimbulkan tinggi maka negara tersebut mengalami peningkatan. 

Keenam, penggunaan metal yang telah diolah. Hal ini ditentukan oleh jumlah bahan yang diolah seperti besi baha dan lain-lain. Ketujuh, penduduk melek huruf, tingkat penggunaan kalori perorang, prosentase pendapatan keluarga yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, jika tinggi maka akan ada perbaikan tingkat pertumbuhan sumber daya manusia di negara maju.

Demikian indikator untuk menentukan dan menggolongkan bahwa suatu negara dapat dikategorikan sebagai negara maju. Jadi, apakah Indonesia sudah termasuk kategori negara maju ? dan siapkah Indonesia bersaing diantara negara adidaya. (*)

***

*) Penulis: Misbahul Ilham, Mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Jember. 

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.


Oipni Misbahul Ilham indonesia negara berkembang Mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Jember.
Publisher : Sofyan Saqi Futaki
Sumber : TIMES Jember
KOMENTAR

EKORAN

Kawal Informasi Seputar COVID-19 Secara Tepat dan Akurat

Ini merupakan sumber informasi inisiatif sukarela warganet Indonesia pro-data, terdiri dari praktisi kesehatan, akademisi, profesional & pemerintah.

Jumlah Kasus di Indonesia Saat Ini

2,491

+218 Positif

192

+28 Sembuh

209

+11 Meninggal
Statistik Kasus COVID-19 di Indonesia
Last update: Senin, 06 April 2020 - 15:50 Sumber: kawalcorona.com
Honda HRV

TIMES TV

Ketua DPRD Kota Malang Sumbang dan Apresiasi MBLC

Ketua DPRD Kota Malang Sumbang dan Apresiasi MBLC

23/03/2020 - 20:12

Pembuatan Sarcovid, Karya Anak Bangsa Untuk Negeri Pertiwi

Pembuatan Sarcovid, Karya Anak Bangsa Untuk Negeri Pertiwi
Wisma Atlet di Kemayoran Sudah Bisa Dioperasian sebagai RS Darurat Penanganan Covid-19

Wisma Atlet di Kemayoran Sudah Bisa Dioperasian sebagai RS Darurat Penanganan Covid-19
Satu Jam Mengenal Pemikiran Didik Gatot Subroto

Satu Jam Mengenal Pemikiran Didik Gatot Subroto
Jokowi Bagi Tips Cegah Virus Corona

Jokowi Bagi Tips Cegah Virus Corona

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Hitam Putih Covid-19
    Hitam Putih Covid-19
    06/04/2020 - 14:34
  • Ijen dan Bencana yang Tak Boleh Dilupakan
    Ijen dan Bencana yang Tak Boleh Dilupakan
    06/04/2020 - 13:40
  • Nasib Tenaga Medis Perempuan Terhadap COVID-19
    Nasib Tenaga Medis Perempuan Terhadap COVID-19
    06/04/2020 - 12:27
  • Karantina Lokal, Bukti Bagusnya Pengetahuan Masyarakat
    Karantina Lokal, Bukti Bagusnya Pengetahuan Masyarakat
    06/04/2020 - 10:45
  • Mewaspadai Korupsi Bencana Covid-19
    Mewaspadai Korupsi Bencana Covid-19
    06/04/2020 - 09:28
  • Covid-19 Mengintai Kesejahteraan Masyarakat Indonesia
    Covid-19 Mengintai Kesejahteraan Masyarakat Indonesia
    06/04/2020 - 04:28
  • Meninjau Kebijakan Pembebasan Narapidana dengan Alasan Corona
    Meninjau Kebijakan Pembebasan Narapidana dengan Alasan Corona
    05/04/2020 - 14:31
  • Covid-19 Merajalela, di Mana Peran Negara?
    Covid-19 Merajalela, di Mana Peran Negara?
    05/04/2020 - 13:19
  • Pelatnas Libur, PBSI Jaga VO2 Max Hendra Setiawan Cs
    Pelatnas Libur, PBSI Jaga VO2 Max Hendra Setiawan Cs
    06/04/2020 - 15:49
  • Dukungan untuk Perjuangan Tim Medis yang Melawan Corona Lewat Mural
    Dukungan untuk Perjuangan Tim Medis yang Melawan Corona Lewat Mural
    06/04/2020 - 15:48
  • Covid-19 Ganggu Psikologis, Pemerintah Diminta Bangun Narasi Positif
    Covid-19 Ganggu Psikologis, Pemerintah Diminta Bangun Narasi Positif
    06/04/2020 - 15:47
  • Warga Indonesia di AS Pakai Topeng Rangda sebagai Ganti Masker Corona
    Warga Indonesia di AS Pakai Topeng Rangda sebagai Ganti Masker Corona
    06/04/2020 - 15:42
  • Wow, Biaya Endorse Zaskia Adya Mecca Capai Rp 30 Juta
    Wow, Biaya Endorse Zaskia Adya Mecca Capai Rp 30 Juta
    06/04/2020 - 15:41
  • Kota Terhoror COVID-19: Mayat Tak Cuma di Jalanan, Dalam Rumah Banyak
    Kota Terhoror COVID-19: Mayat Tak Cuma di Jalanan, Dalam Rumah Banyak
    06/04/2020 - 00:41
  • Negara yang Dibenci Amerika Sukses Ciptakan Alat Deteksi COVID-19
    Negara yang Dibenci Amerika Sukses Ciptakan Alat Deteksi COVID-19
    06/04/2020 - 06:10
  • 3.500 Mobil Hangus Terbakar di Lahan Parkir Dekat Bandara
    3.500 Mobil Hangus Terbakar di Lahan Parkir Dekat Bandara
    06/04/2020 - 03:44
  • Pesan Pilu Mayat COVID-19 di Jalanan Kota Terhoror Dunia
    Pesan Pilu Mayat COVID-19 di Jalanan Kota Terhoror Dunia
    06/04/2020 - 05:08
  • Tangisan Saat Jenazah dr Ketty Perawat Menhub Dibawa Pulang
    Tangisan Saat Jenazah dr Ketty Perawat Menhub Dibawa Pulang
    06/04/2020 - 12:00