Kopi TIMES

Pertumbuhan Ekonomi Mentok, Prestasi atau Halusinasi?

Kamis, 20 Februari 2020 - 02:40 | 46.94k
Pertumbuhan Ekonomi Mentok, Prestasi atau Halusinasi?
Henyk Nur Widaryanti S. Si., M. Si., Dosen Universitas Soerjo Ngawi.

TIMESINDONESIA, NGAWI – Apa perasaan Anda jika dibilang kufur nikmat? Marah? Diam? Atau tidak terima? Siapa yang mau dibilang kufur nikmat? Pasti tak ada kan? Pernyataan ini sempat naik ke permukaan, saat Pak Jokowi memberi pernyataan mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stagnan di 5%. Sebagaimana dilansir di detikfinance (9/2/20), Presiden Jokowi menilai pertumbuhan ekonomi 5,02% perlu disyukuri, jangan kufur nikmat.

Seperti yang telah dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi tercatat 5,02% sepanjang 2019, lebih rendah dibandingkan 2018 sebesar 5,17%. Bahkan Indonesia belum pernah meraih prestasi dengan pertumbuhan ekonomi 6%. 

Berdasarkan data Bank Dunia dan ADB, mereka mampu tumbuh di atas 6 persen pada 2019, yakni Vietnam 6,97 persen, Kamboja 7 persen, Filipina 6,5 persen, Myanmar 6,6 persen, dan Laos 6,5 persen. Hal ini memperlihatkan kondisi ekonomi yang lesu bagi Indonesia.

Sebab musabab pertumbuhan ekonomi loyo

Menurut Direktur Eksekutif Riset Core Indonesia, Piter Abdullah saat dihubungi detikcom (9/2/2020), penyebab utama dari keloyoan ini adalah adanya pertumbuhan konsumsi yang melambat. Di triwulan IV tahun ini sekitar 4,97%. Padahal sebelumnya 5,06%. 

Ada dua hal yang menyebabkan ini terjadi. Pertama, dikalangan menengah ke bawah terjadi penurunan daya beli masyarakat. Naiknya barang-barang kebutuhan pokok, dikuranginya subsidi, banyaknya kejadian PHK, hingga beban pajak yang meningkat membuat beban biaya kehidupan semakin berat. Alhasil mereka lebih memilih mendahulukan kebutuhan pokok dan meminimalisir pembelian. 

Aspek kedua dari sisi orang-orang kaya. Saat ini mereka cenderung menekan dan menahan pembelian. Sehingga konsumsi rumah tangga secara menyeluruh mengalami penurunan. 

Selain masalah konsumsi, adanya penurunan di bidang investasi juga menambah derita pertumbuhan ekonomi. Menurut BPS mencatat PMTB atau investasi fisik pada kuartal IV-2019 hanya tumbuh 4,06%. Angka itu lebih rendah dibandingkan kuartal IV-2018 yang tumbuh 6,01% dan kuartal III-2019 4,21%. 

Bahaya stagnansi mentok 5%

Direktur Eksekutif Riset Core Indonesia, Piter Abdullah, menyatakan keadaan ini tidak ada hubungannya dengan kufur nikmat atau tidak. Tapi jika kondisi ini berlarut-larut justru diprediksi akan menyebabkan ancaman bagi ekonomi Indonesia sendiri.

Ada bahaya besar di balik stagnansi pertumbuhan ekonomi. Dia menjelaskan, dengan pertumbuhan ekonomi 5% menyebabkan  lapangan kerja yang tercipta tidak cukup menyerap angkatan kerja yang bertambah 3 juta jiwa setiap tahun.

Penjelasannya begini, pertumbuhan ekonomi 1% dapat menciptakan sekitar 250.000 lapangan kerja. Berarti jika pertumbuhan 5% hanya bisa menyerap 1.250.000 jiwa. Artinya jika pertumbuhan ekonomi dibiarkan stagnan 5%, masih 1.750.000 jiwa lagi yang belum dapat pekerjaan.

Bagaimana jika ini berjalan bertahun-tahun? Lima hingga sepuluh tahun saja bangsa ini akan terbebani dengan masalah pengangguran. Bisa dibayangkan apa yang terjadi? Bukannya naik, pertumbuhan ekonomi justru akan anjlok dan jeblok. Rakyat hidup susah, apalagi jika subsidi tak diberi. 

Antara halusinasi dan prestasi

Apa yang diraih dalam roda ekonomi saat ini bukanlah prestasi yang dapat diapresiasi. Tapi sekadar halusinasi prestasi. Bahkan masyarakat harusnya sadar karena selama ini dikibuli. Bagaimana tidak? Kondisi pertumbuhan yang stagnan justru diminta sabar diri. Lebih parah lagi, kalau merasa marah dengan hasil yang ada malah dibilang kufur nikmat. Situ sehat?

Jikalau kita belajar agama, kufur nikmat maknanya mengingkari nikmat. Nikmat di sini berarti segala sesuatu yang diberikan Allah kepada hambaNya. Secara sederhana ya tidak mau bersyukur. Bagaimana cara bersyukur yang benar? Ibaratnya udah diberi kehidupan ya membalasnya dengan ketaatan. Bukan malah mengingkari aturanNya. Kalau begini siapa sebenarnya yang kufur nikmat? Rakyat atau yang lainnya?

Tidak bisa dipungkiri, penyebab utama masalah ini karena bangsa ini memakai sistem ekonomi kapitalis. Dengan sistem berbasis ribawi. Menghalalkan segala cara untuk mendapat keuntungan. Bahkan menjadikan pemerintah sebagai pelayan korporasi, atau bahkan sebagai pelaku korporasi. Bukan urusan umat yang penting, tapi urusan konglomerat yang lebih genting.

Jika kebijakan tak kunjung diambil secara tepat, cermat dan mantap, tak akan mungkin masalah ini teratasi. Maka, perlu adanya tindakan khusus. Mengembalikan peran negara sebagai pelayan umat. Bukan pemalak umat. 

Dengan menarik kembali aset sumber daya alam (SDA) yang diambil asing. Dikelola sendiri. Dipakai untuk memberi kebutuhan rakyat. Mulai dari sandang, pangan, papan, pendidikan dan kesehatan. Sekalian melunasi seluruh utang negara. Dan berhenti menjadi negara pengutang. 

Memberhentikan riba dan pengelolaan uang non real. Semua usaha berbasis real. Sehingga kekayaan yang ada adalah kekayaan real. Termasuk memberhentikan segala sistem jual beli atau muamalah yang merugikan dan menumpuk dosa.  Sistem seperti ini hanya ditawarkan oleh sistem ekonomi Islam. Dimana dalam perjalanannya sistem ini adalah sistem non ribawi.
Wallahu 'alam bishowab.

***

*)Oleh : Henyk Nur Widaryanti S. Si., M. Si., Dosen Universitas Soerjo Ngawi.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*)Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi. 

*)Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id



Publisher : Rochmat Shobirin
KOMENTAR

EKORAN

TERBARU

  • Pemkab Bondowoso Perbolehkan Shalat Idul Adha di Masjid, Tapi..
    Pemkab Bondowoso Perbolehkan Shalat Idul Adha di Masjid, Tapi..
    08/07/2020 - 15:00
  • Kampung Tangguh Nelayan Pertama Resmi Dibentuk di Banyuwangi
    Kampung Tangguh Nelayan Pertama Resmi Dibentuk di Banyuwangi
    08/07/2020 - 14:49
  • BNPB: Pembangunan Lima Jembatan di Bantul Selesai September 2020
    BNPB: Pembangunan Lima Jembatan di Bantul Selesai September 2020
    08/07/2020 - 14:44
  • Pasien Pemulihan Covid-19 Dipindahkan ke Aparma Unipdu Jombang
    Pasien Pemulihan Covid-19 Dipindahkan ke Aparma Unipdu Jombang
    08/07/2020 - 14:40
  • Sultan Corona, Pengusaha Tajir Asal India Ini Pakai Masker Emas Seharga Rp58 Juta
    Sultan Corona, Pengusaha Tajir Asal India Ini Pakai Masker Emas Seharga Rp58 Juta
    08/07/2020 - 14:36
  • Perkembangan Islam di Korsel Cukup Menggembirakan
    Perkembangan Islam di Korsel Cukup Menggembirakan
    08/07/2020 - 14:33
  • Presiden Brazil Bolsonaro Positif Terpapar Covid-19
    Presiden Brazil Bolsonaro Positif Terpapar Covid-19
    08/07/2020 - 14:30
  • Inilah Protokol yang Dikeluarkan Disnakeswan Lamongan untuk Pelaksanaan Kurban Idul Adha
    Inilah Protokol yang Dikeluarkan Disnakeswan Lamongan untuk Pelaksanaan Kurban Idul Adha
    08/07/2020 - 14:27
  • Cegah Antrean, Pemkot Yogyakarta Tambah Loket Drive Thru KTP Elektronik
    Cegah Antrean, Pemkot Yogyakarta Tambah Loket Drive Thru KTP Elektronik
    08/07/2020 - 14:24
  • Punya 20 Ribu Relawan Idealis dan Berpengalaman, Cak Angga Optimistis di Pilwali Surabaya
    Punya 20 Ribu Relawan Idealis dan Berpengalaman, Cak Angga Optimistis di Pilwali Surabaya
    08/07/2020 - 14:20

TIMES TV

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

Implementasi Pancasila dalam Dunia Pendidikan

30/06/2020 - 20:22

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?

Pilkada Serentak 2020 di Papua. Sudah Tepatkah Waktunya?
Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil

Ngevlog Bareng Owner Bubur Ayam Abah Odil
Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang

Peduli Kampung Tangguh, Ibu Panglima TNI Bantu Masker Batik untuk Warga di Malang
Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

Menebalkan Alis dengan Tepat, Mata Terlihat Lebih Indah

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Gerakan Pakai Masker dan Upaya Rebranding Indonesia
    Gerakan Pakai Masker dan Upaya Rebranding Indonesia
    08/07/2020 - 14:05
  • Peretasan Siber dan Teroris Tipe Baru
    Peretasan Siber dan Teroris Tipe Baru
    08/07/2020 - 11:09
  • Normal Baru dan Potensi Masalah Baru di Dunia Pendidikan
    Normal Baru dan Potensi Masalah Baru di Dunia Pendidikan
    07/07/2020 - 17:24
  • Mendongkrak Daya Beli Petani pada Era New Normal
    Mendongkrak Daya Beli Petani pada Era New Normal
    07/07/2020 - 16:11
  • Tafsir Sastra Ramayana (4) Naluri dan Kekuasaan
    Tafsir Sastra Ramayana (4) Naluri dan Kekuasaan
    07/07/2020 - 15:48
  • Serba Hiperrealitas di Era Konsumsi Massal
    Serba Hiperrealitas di Era Konsumsi Massal
    07/07/2020 - 15:20
  • Mengukur Komitmen Pembelajaran Daring
    Mengukur Komitmen Pembelajaran Daring
    07/07/2020 - 14:44
  • Daring Menuju Next Normal
    Daring Menuju Next Normal
    07/07/2020 - 14:08
  • WHO akan Terbitkan Laporan Baru Menanggapi Penyebaran Virus Corona di Udara
    WHO akan Terbitkan Laporan Baru Menanggapi Penyebaran Virus Corona di Udara
    08/07/2020 - 15:45
  • Rekor! Kasus Positif Corona di Indonesia Melejit 1.863 Orang per Hari Ini
    Rekor! Kasus Positif Corona di Indonesia Melejit 1.863 Orang per Hari Ini
    08/07/2020 - 15:44
  • Masuki Masa AKB, Ini 5 Tempat Wisata di Jakarta yang Bisa Kamu Kunjungi
    Masuki Masa AKB, Ini 5 Tempat Wisata di Jakarta yang Bisa Kamu Kunjungi
    08/07/2020 - 15:43
  • Beras Bansos untuk Kota Serang Susut, Mandor Gudang : Itu Karena Suhu Udara
    Beras Bansos untuk Kota Serang Susut, Mandor Gudang : Itu Karena Suhu Udara
    08/07/2020 - 15:43
  • Anak Teknik Sipil Menangis Lihat Ini, Viral Foto Jalan Rusak Nekat Dicat
    Anak Teknik Sipil Menangis Lihat Ini, Viral Foto Jalan Rusak Nekat Dicat
    08/07/2020 - 15:43
  • Jet Pembantai Tentara Turki Diduga Pesawat yang Mau Diborong Prabowo
    Jet Pembantai Tentara Turki Diduga Pesawat yang Mau Diborong Prabowo
    08/07/2020 - 06:00
  • Mobil Ketua Parpol Ditemukan Dekat Rumah Gangster Vikas Dubey
    Mobil Ketua Parpol Ditemukan Dekat Rumah Gangster Vikas Dubey
    08/07/2020 - 10:19
  • Ngerinya Tubuh Baru McGregor Setelah Pensiun, Seperti Monster
    Ngerinya Tubuh Baru McGregor Setelah Pensiun, Seperti Monster
    08/07/2020 - 00:02
  • Ronaldo Pantas Disalahkan Atas Kekalahan Juventus
    Ronaldo Pantas Disalahkan Atas Kekalahan Juventus
    08/07/2020 - 08:04
  • Intip Koleksi Mobil Vikas Dubey, Preman yang Lebih Sadis dari John Kei
    Intip Koleksi Mobil Vikas Dubey, Preman yang Lebih Sadis dari John Kei
    08/07/2020 - 05:39