Kopi TIMES

Meneropong Pilkada 2020, Sulitnya Mencari Calon Pemimpin?

Rabu, 19 Februari 2020 - 15:35 | 32.58k
Meneropong Pilkada 2020, Sulitnya Mencari Calon Pemimpin?
Mahpudin (Mahasiswa Magister Ilmu Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM)

TIMESINDONESIA, BANTEN – Rasanya baru beberapa bulan kita melewati hiruk pikuk perpolitikan yang melelahkan dalam menentukan calon presiden beserta anggota dewan. Sekarang suhu politik akan mulai kembali memanas menyusul pelaksanaan pilkada serentak tahun 2020 yang akan diselenggarakan pada 23 September di 270 daerah di Indonesia. Dalam konteks ini, mencari pemimpin daerah yang berintegritas atas nama kepentingan rakyat menjadi hal yang sangat penting agar proses demokratisasi tidak tercederai oleh perilaku calon kepala daerah terpilih nanti. Sudah cukup demokrasi dirongrong oleh elit nasional melalui sejumlah produk kebijakan yang “ngawur”.

Namun praktik politik yang bekerja dalam rezim pemilu seringkali membuat rakyat tidak percaya bahwa pilkada akan menghadirkan calon yang memiliki integritas dan kapabilitas. Rentetan kepala daerah yang masuk dalam daftar nama KPK semakin mempertegas bahwa pemilu hanya soal tarik menarik kekuasaan dan berebut jabatan. Ketika pemilu berlangsung, rakyat dimobilisasi oleh calon kandidat dengan menjual ragam janji-janji kesejahteraan. Namun pasca pemilu, rakyat semakin tereksklusi dan kerap menjadi korban atas perilaku kepala daerah yang tidak amanah.

Beberapa Kejanggalan

Sulitnya mencari calon kepala daerah yang berintegritas dapat dibaca dari realitas politik apa yang terjadi sebelum hari pemilihan (pre election). Pertama, pilkada hanya menjadi arena politik bagi elit yang memiliki modal finansial yang besar. Hal ini pula yang menjelaskan fenomena berkembang biaknya dinasti politik. Anggota keluarga dari kepala daerah sebelumnya perlan-pelan mulai memperluas jejering kekuasaannya lewat pintu pilkada. Pada pilkada 2017 lalu, sekitar 12 daerah dimenangkan oleh dinasti politik. Larangan keluarga petahana untuk mencalonkan diri sebenarnya sempat diatur pada Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Kepala Daerah. Namun MK membatalkan ketentuan tersebut dengan alasan merampas hak politik warga negara.

Masuknya keluarga petahana dalam pilkada tentu membuat iklim demokrasi tidak sehat. Karena persaingan dalam pilkada hanya dikuasai oleh keluarga tertentu. Selain itu, kekuasaan yang terkonsentrasi hanya pada keluarga atau kalangan tertentu rawan memunculkan penyalahgunaan jabatan. Mengutip pribahasa Lord Acton “kekuasaan cenderung korupsi, sedangkan kekuasaan yang absolut (besar) maka besar pula korupsinya.”

Kedua, mantan terpidana korupsi masih dibolehkan untuk mencalonkan diri. Sejauh ini belum ada aturan yang melarang mantan terpidana korupsi mencalonkan diri dalam pemilu. KPU sempat mengeluarkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) nomor 20 tahun 2018, tetapi aturan ini hanya melarang mantan terpidana korupsi untuk mencalonkan diri sebagai anggota legistlatif bukan kepala daerah. Belum sempat diterapkan, aturan ini pun dikemudian hari dibatalkan oleh MA, lagi-lagi dengan alasan mengambil hak politik orang lain. Padahal ini bukan soal merampas hak politik individu tetapi soal hajat hidup orang banyak. Menjadi sulit diharapkan memiliki pemimpin kepala daerah yang berintegritas jika calon pemimpin tersebut pernah terlibat dalam tindakan korupsi.

Ketiga, pencalonan yang sentralistik. Partai memiliki peran yang sangat besar untuk mengusung calon kandidat yang akan mengikuti pilkada. Kewenangan memberikan rekomendasi pencalonan berada di tangan pimpinan partai di Jakarta. Hal ini seringkali menjadikan proses pecalonan syarat dengan politik transaksi. Calon kandidat yang mampu memberikan mahar politik lebih besar kepada partai memiliki peluang yang besar pula untuk mendapatkan rekomendasi partai. Seringkali, calon kandidat tidak hanya melamar ke satu partai untuk memaksimalkan dukungan. Artinya ada banyak uang yang harus dikeluarkan. Tentu hal ini membuat calon kandidat yang nantinya terpilih berfokus bagaimana mengembalikan modal yang sudah dikorbankan selama proses pencalonan. Sehingga fokus pada kinerja pemerintahan dan pembangunan masyarakat tidak mendapat perhatian lebih. Barangkali kondisi ini pula yang mejelaskan banyaknya kepala daerah yang terjerak kasus korupsi.

Keempat, politik uang. Patut disadari bahwa fenomena politik uang masih sering terjadi dalam setiap pemilu. Calon kandidat yang merasa tidak cukup percaya diri untuk memenangkan persiangan dalam pilkada menggunakan strategi politik uang. Rakyat diiming-imingi sejumlah uang atau barang dalam besaran dan bentuk yang beragam supaya rakyat memilih mereka. Kenyataan ini pun jelas membuat pilkada tidak lebih hanya soal jual beli suara pemilih, sementara penekanan pada visi-misi dan strategi pembangunan daerah seringkali luput diperbincangkan oleh calon kandidat.

Mencari Pemimpin

Tulisan ini tentu tidak bermaksud membuat kita sebagai pemilih menjadi pesimis akan kemungkinan munculnya calon pemimpin kepala daerah yang bersih dan berintegritas. Apa yang sudah dipaparkan sebelumnya juga tidak bermaksud menihilkan peluang munculnya calon daerah yang berkualitas. Disamping kenyataan banyaknya kepala daerah yang terjerat kasus korupsi, tentu saja masih ada kepala daerah di wilayah lain yang benar-benar bekerja untuk rakyat. Tulisan ini justru ingin mengingatkan kepada kita untuk memilih calon pemimpin yang benar-benar teruji kapabilitasnya. Sebagai pemilih kita harus mengedepankan pertimbangan rasional sehingga hak pilih kita tidak jatuh pada orang yang salah.

Selain itu, juga penting untuk mengawal berjalannya pilkada untuk meminimalisir segala praktik kecurangan dan kejanggalan selama proses pilkada. Menolak menerima uang dari calon kandidat dan berani untuk melaporkan segala praktik kecurangan kepada Bawaslu merupakan salah satu langkah sederhana untuk mendukung terciptanya pilkada yang berintegritas.

***

*)Penulis: Mahpudin (Mahasiswa Magister Ilmu Politik dan Pemerintahan FISIPOL UGM).

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id


Opini Mahpudin pilkada 2020 petahana
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
KOMENTAR

EKORAN

Kawal Informasi Seputar COVID-19 Secara Tepat dan Akurat

Ini merupakan sumber informasi inisiatif sukarela warganet Indonesia pro-data, terdiri dari praktisi kesehatan, akademisi, profesional & pemerintah.

Jumlah Kasus di Indonesia Saat Ini

1,285

+130 Positif

64

+5 Sembuh

114

+12 Meninggal
Statistik Kasus COVID-19 di Indonesia
Last update: Minggu, 29 Maret 2020 - 15:40 Sumber: kawalcorona.com
Honda HRV

TIMES TV

Ketua DPRD Kota Malang Sumbang dan Apresiasi MBLC

Ketua DPRD Kota Malang Sumbang dan Apresiasi MBLC

23/03/2020 - 20:12

Pembuatan Sarcovid, Karya Anak Bangsa Untuk Negeri Pertiwi

Pembuatan Sarcovid, Karya Anak Bangsa Untuk Negeri Pertiwi
Wisma Atlet di Kemayoran Sudah Bisa Dioperasian sebagai RS Darurat Penanganan Covid-19

Wisma Atlet di Kemayoran Sudah Bisa Dioperasian sebagai RS Darurat Penanganan Covid-19
Satu Jam Mengenal Pemikiran Didik Gatot Subroto

Satu Jam Mengenal Pemikiran Didik Gatot Subroto
Jokowi Bagi Tips Cegah Virus Corona

Jokowi Bagi Tips Cegah Virus Corona

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Tangani Corona: Sigap dan Lebih Cepat, Sebelum Ada Panik dan Terlambat!
    Tangani Corona: Sigap dan Lebih Cepat, Sebelum Ada Panik dan Terlambat!
    30/03/2020 - 11:01
  • Mudik Virtual di Era Corona
    Mudik Virtual di Era Corona
    30/03/2020 - 10:20
  • Membahasakan Corona dengan Bahasa Merakyat
    Membahasakan Corona dengan Bahasa Merakyat
    29/03/2020 - 14:47
  • Wabah Covid19 dan Pendidikan AntiKorupsi
    Wabah Covid19 dan Pendidikan AntiKorupsi
    29/03/2020 - 10:56
  • Menyikapi Wabah dengan Tawakkal dan Ikhtiar yang Benar
    Menyikapi Wabah dengan Tawakkal dan Ikhtiar yang Benar
    28/03/2020 - 15:35
  • Arti Penting Lembaga Pemasyarakatan dalam Sistem Peradilan Pidana
    Arti Penting Lembaga Pemasyarakatan dalam Sistem Peradilan Pidana
    28/03/2020 - 14:26
  • Memperkokoh Identitas Menuju World Class University
    Memperkokoh Identitas Menuju World Class University
    28/03/2020 - 14:01
  • Hidup Lebih Sehat Jika Positif Corona
    Hidup Lebih Sehat Jika Positif Corona
    28/03/2020 - 13:58
  • Diduga Tertular Anaknya yang Baru dari Jakarta, Pasien Suspect Meninggal
    Diduga Tertular Anaknya yang Baru dari Jakarta, Pasien Suspect Meninggal
    30/03/2020 - 13:35
  • Jokowi: Imbauan Larangan Mudik Saja Tak cukup, Harus Lebih Tegas
    Jokowi: Imbauan Larangan Mudik Saja Tak cukup, Harus Lebih Tegas
    30/03/2020 - 13:30
  • Dukung Physical Distancing, Sisternet Buka Kelas Edukasi Online
    Dukung Physical Distancing, Sisternet Buka Kelas Edukasi Online
    30/03/2020 - 13:30
  • Pernikahan Tertunda, Putri Beatrice Akhirnya Ambil Keputusan Darurat
    Pernikahan Tertunda, Putri Beatrice Akhirnya Ambil Keputusan Darurat
    30/03/2020 - 13:30
  • Gisella Anastasia Unggah Foto Aib, Netizen Auto Ngakak
    Gisella Anastasia Unggah Foto Aib, Netizen Auto Ngakak
    30/03/2020 - 13:30
  • WHO Tegaskan Virus Corona Tak Menular Lewat Udara
    WHO Tegaskan Virus Corona Tak Menular Lewat Udara
    30/03/2020 - 06:38
  • WHO: Jangan Semprot Disinfektan ke Badan, Bahaya!
    WHO: Jangan Semprot Disinfektan ke Badan, Bahaya!
    30/03/2020 - 07:51
  • Selamat, 6 Zodiak Ini Terlahir untuk Jadi Orang Kaya dan Sukses
    Selamat, 6 Zodiak Ini Terlahir untuk Jadi Orang Kaya dan Sukses
    30/03/2020 - 08:31
  • Emak-emak Ini Pakai Helm dan Berhenti saat Lampu Merah, Ada Tapinya
    Emak-emak Ini Pakai Helm dan Berhenti saat Lampu Merah, Ada Tapinya
    30/03/2020 - 09:21
  • Waspadai Penularan Virus Corona Melalui Hal Ini
    Waspadai Penularan Virus Corona Melalui Hal Ini
    30/03/2020 - 05:53