Kopi TIMES Universitas Islam Malang

Tidak Panik Namun Waspada" Tips dan Trik Menghadapi 2019-NCoV

Sabtu, 15 Februari 2020 - 12:57 | 35.53k
Tidak Panik Namun Waspada
Dr. Rahma Triliana, M.Kes, PhD Dekan FK UNISMA.
FOKUS

Universitas Islam Malang

Pewarta: Humas Unisma | Editor: AJP-5 Editor Team

TIMESINDONESIA, MALANG – Dengan munculnya berita dan informasi dari banyak pihak terkait Virus flu baru (novel Coronavirus, 2019-NCoV) yang muncul di Cina, di propinsi Wuhan, tentunya membuat banyak pihak, terutama khalayak ramai menjadi cemas. Hal ini karena informasi yang masuk dan diterima melalui berbagai jalur informasi seperti media massa dan media sosial demikian banyak, ramai dan bahkan bombastis sehingga memberikan dampak tersendiri pada hidup kita dalam berbangsa, bermasyarakat dan bersosialisasi dengan negara tetangga.

Untuk itu, sebelum kita melakukan banyak tindakan yang justru tidak baik untuk masa depan kita, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan masyarakat awam guna menghadapi 2019-NCoV ini

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

1) Tidak Panik (Don’t panic)

Saat membuka WhatsApp atau facebook atau youtube, twitter dan lain-lainnya, informasi terkait 2019-NCoV ini banyak beredar. Foto, video, comment, cerita dan lain-lain yang sebenarnya sumber beritanya dipertanyakan. Untuk itu, jangan panik. Dalam kondisi kegawatdaruratan (out-break/kejadian luar biasa (KLB) infeksi di sebuah daerah termasuk sebagai bagian dari kondisi gawat darurat), prinsip utamanya adalah sikap waspada dan bukan panik (alert but not anxious). Tenang menghadapi bahaya, tidak panik dan tidak cemas adalah kunci menyelesaikan masalah terkait KLB seperti ini.

2) Dapatkan informasi dari sumber yang tepat

Kunci kedua dalam menghadapi 2019-NCoV ini adalah mendapatkan informasi yang tepat dari sumber yang tepat pula. Mendapatkan data dan fakta yang kebenarannya jelas dan nyata. Jangan termakan jargon, hoax atau dis-informasi yang dapat membuat anda menjadi panik dan cemas. Untuk itu, kunjungi situs resmi terkait hal ini misalnya dari Organisasi Kesehatan Dunia seperti WHO di https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public atau di https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/index.html (situs resmi kontrol dan pengendalian penyakit menular dari Amerika Serikat) atau dapat juga membaca informasi dan keterangan yang dikeluarkan oleh kementrian kesehatan Indonesia melalui laman http://infeksiemerging.kemkes.go.id/ atau di http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/. Pahami informasi yang ada dan kembangkan mekanisme untuk anda dan keluarga/lingkungan anda sesuai dengan kondisi yang ada. Jika anda mengalami kesulitan, maka hal yang paling mudah adalah mengunjungi dokter atau tenaga kesehatan yang anda percayai terkait hal ini.

3) Pahami Kondisi 2019-NCoV saat ini

Sampai dengan tanggal 31 Januari 2020, informasi yang kita peroleh terkiat 2019-NCoV ini dapat disimak pada link informasi video dari WHO ini (https://www.youtube.com/watch?time_continue=25&v=mOV1aBVYKGA&feature=emb_title). 2019-NCoV pertama ditemukan di bulan Desember, 2019, di Wuhan Cina, saat ada pasien dengan pneumonia (infeksi paru) yang meninggal akibat infeksi virus ini sehingga kemudian dikenal dengan istilah Novel coronavirus atau 2019-NCoV. Virus ini adalah golongan virus yang memiliki inti/materi genetik RNA (rantai tunggal) yang diselubungi protein amplop berbentuk seperti mahkota sehingga disebut dengan istilah Corona-virus. Ada banyak jenis Corona-virus yang dapat menyebabkan penyakit namun sebagian besar hanya menyebabkan sakit flu ringan dan gangguan pencernaan. Namun, ada juga yang menyebabkan penyakit berat seperti SARS-CoV di tahun 2003 yang pertama muncul di Cina dan MERS-CoV yang pertama muncul di Arab Saudi di tahun 2012 dan saat ini 2019-NCoV yang muncul di Cina.

2019 NCoV diketahui awalnya menyerang individu yang mengkonsumsi ikan laut dan hewan hidup di pasar kota Wuhan, Ibu kota Propinsi Hubei Cina. Wuhan Adalah kota besar yang padat penduduk dan metropolis di wilayah Cina Pusat sehingga risiko penularan penyakit ini pun tinggi sehingga menyebar pada anggota keluarga kemudian pada petugas kesehatan dan individu-individu yang kontak dengan penderita.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Virus 2019 NCoV diduga berasal dari kelelawar atau ular (masih perlu verivikasi lanjutan) yang kemudian menular ke manusia karena adanya mutasi genetik atau adanya kontak lama dengan individu yang pertama kali sakit (patient-zero). Dari pasien ini kemudian transmisi 2019-NCoV pun mulai menyebar dari manusia ke manusia melalui kontak langsung, droplet (saat pasien batuk atau bersin) atau apabila memegang/menyentuh benda yang terkontaminasi virus. Oleh sebab itu, salah satu hal penting pada pencegahan penyebaran virus ini adalah pola hidup bersih (seperti mencuci tangan) dan menggunakan masker atau sarung tangan apabila berada di daerah endemis

Individu yang terinfeksi 2019-NCoV dapat mengalami keluhan seperti dari ringan sampai berat dengan keluhan yang umum berupa demam, batuk, dan sesak nafas. Dalam kondisi yang berat, 2019-NCoV dapat menyebabkan infeksi paru berat, gagal organ hingga kematian. Untuk mengetahui apakah seseorang menderita infeksi ini atau tidak, dapat diperiksa dengan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction atau PCR yang mengidentifikasi struktur genetik dari virus dalam sampel yang diberikan. Pemeriksaan ini umumnya membutuhkan waktu yang agak lama karena tidak semua laboratorium dan rumah sakit memiliki fasilitas ini. Selain itu, PCR di Indonesia masih jarang dan relatif mahal.

Pengobatan infeksi 2019-NCoV hingga saat ini belum ada yang spesifik membunuh virusnya secara langsung sehingga pengobatan yang ada sifatnya suportif. Misalnya jika pasien sesak diberikan oksigen, bila demam tinggi diberikan antipiretik, jika kekurangan cairan diberikan cairan infus, atau semacamnya. Selain itu, hingga saat ini belum ada vaksin anti-2019 NCoV dan antivirus juga masih dalam tahap penelitian dan pengembangan vaksin dan atau anti virusnya.

Walaupun hingga kini belum ada pengobatan maupun vaksin yang spesifik terhadap 2019-NCoV, melakukan prosedur standar higiene pribadi seperti menutup mulut dengan masker, tisu atau tangan jika bersin, menghindari individu yang sakit,

mencuci tangan dengan sabun dan air atau dengan hand-sanitizer secara teratur. Apabila anda memiliki hewan peliharaan jangan lupa untuk menjaga kebersihan dan kesehatan hewan peliharaan dan secara rutin mencuci tangan setelah kontak dengan hewan peliharaan dan memasak produk daging atau produk hewani dengan baik atau dimasak tanak.

.Jika sakit atau merasa tidak enak badan, sebaiknya tinggal di rumah dan periksa kedokter agar memperoleh penanganan yang tepat dengan segera. Jika mengalami demam, batuk, dan sulit bernafas/sesak, segeralah ke dokter, terutama apabila kontak dengan individu yang baru bepergian atau baru kontak dengan individu yang berasal dari propinsi Hubei Cina. Individu yang diduga mengalami 2019-NCoV perlu dikarantina selama minimal 2 minggu untuk mencegah penularan dan penyebaran penyakit ke secara global

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

4) Bersama Kita Bisa

Saat ini, 2019-NCoV sudah dinyatakan positif di 27 negara berikut ini (Menurut https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/locations-confirmed-cases.html#map per 1 Februari 2020). Dan Indonesia masih negatif. Walaupun sudah ada beberapa rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang mengajukan pemeriksaan untuk adanya dugaan infeksi 2019-NCoV ini, namun belum ada laporan resmi/confimed case yang dipublikasikan oleh pemerintah maupun kementrian kesehatan republik Indonesia

1.  China
2.  Hong Kong
3.  Macau
4.  Taiwan
5.  Australia
6.  Cambodia
7.  Canada
8.  Finland
9.  France
10. Germany
11. India
12. Italy
13. Japan
14. Malaysia
15. Nepal
16. Philippines
17. Russia
18. Sri Lanka
19. Singapore
20. Spain
21. Sweden
22. Thailand
23. The Republic of Korea
24. United Arab Emirates
25. United Kingdom
26. United States
27. Vietnam

Oleh sebab itu, persiapan diri dan negara terkait hal ini perlu dilakukan dimulai dengan evakuasi WNI yang ada di kota Wuhan yang kemudian dikarantina selama minimal 2 minggu untuk mencegah penularan di Indonesia. Selain itu, menutup akses dan melakukan karantina pada individu yang baru bepergian dari Cina terutama dari propinsi Hubei juga dapat dilakukan untuk mengkarantina agar penyakit tidak menyebar masuk ke Indonesia.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Meningkatkan daya tahan tubuh dengan konsumsi nutrisi yang baik, olahraga teratur, tidur yang cukup serta mengkonsumsi buah dan sayur secara seimbang juga dapat membantu mengurangi penyebaran infeksi ini karena daya tahan kelompok/populasi yang tinggi akan meningkatkan imunitas kelompok akan adanya penyakit infeksi (herd immunity)

Sebelum mengakhiri, mari mengingat kembali bahwa 2019-NCoV ini adalah virus yang baru muncul, sehingga informasi yang ada akan terus berubah.

Jangan lupa untuk selalu memverivikasi informasi yang ada dapat di laman-laman resmi untuk menghindari kepanikan. Mari melek informasi, membaca teliti dan menganalisa situasi tanpa cepat termakan informasi baru yang kebenarannya masih belum pasti. Berkonsultasilah pada tenaga medis profesional di sekitar anda jika anda sakit dan jika ada riwayat kontak dengan penderita yang diduga berasal atau baru bepergian dari kota Wuhan atau propinsi Hubei. Jangan menutup-nutupi riwayat penyakit atau riwayat perjalanan agar penatalaksanaan supportive yang dibutuhkan dan pencegahan penularan dan penyebaran penyakit dapat dilakukan sejak awal dan sejak dini.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

***

*)Oleh: Dr. Rahma Triliana, M.Kes, PhD, Dekan FK UNISMA

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*)Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi. 

*)Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id


Opini Kopi Times Unisma Malang Universitas Islam Malang FK Unisma
Publisher : Rochmat Shobirin
Reaksi Anda
KOMENTAR

EKORAN

TIMES TV

Pasar Rakyat UMKM Herbangin Hadir di Kota Kediri

Pasar Rakyat UMKM Herbangin Hadir di Kota Kediri

22/02/2020 - 20:01

Lagu Indonesia Raya Mengantar Keberangkatan WNI dari Natuna

Lagu Indonesia Raya Mengantar Keberangkatan WNI dari Natuna
Grup Musik Angklung Shalawatan Meriahkan CFD di Situbondo

Grup Musik Angklung Shalawatan Meriahkan CFD di Situbondo
Pilkada Kabupaten Malang 2020, Hasan Abadi Optimis dapat Rekom Partai

Pilkada Kabupaten Malang 2020, Hasan Abadi Optimis dapat Rekom Partai
Bacalon Bupati Malang Merebut Rekom Partai

Bacalon Bupati Malang Merebut Rekom Partai
Follow TIMES Indonesia di Google News

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Kenapa Amerika Serikat Cabut Indonesia dari Daftar Negara Berkembang?
    Kenapa Amerika Serikat Cabut Indonesia dari Daftar Negara Berkembang?
    25/02/2020 - 15:04
  • Hujan Ekstrim dan Mitigasi Iklim di Pekalongan
    Hujan Ekstrim dan Mitigasi Iklim di Pekalongan
    25/02/2020 - 14:57
  • Belajar Menulis Dari Para Kiai
    Belajar Menulis Dari Para Kiai
    25/02/2020 - 14:22
  • Pembangunan Daerah Butuh Perempuan Terdidik
    Pembangunan Daerah Butuh Perempuan Terdidik
    25/02/2020 - 13:38
  • Polemik RUU Omnibus Law, Gaya Bercinta Urusan Negara?
    Polemik RUU Omnibus Law, Gaya Bercinta Urusan Negara?
    25/02/2020 - 13:11
  • Pesan Mao Tze Tung
    Pesan Mao Tze Tung
    25/02/2020 - 12:10
  • Atasi Mental Inlander Dengan Budaya Literasi
    Atasi Mental Inlander Dengan Budaya Literasi
    25/02/2020 - 11:20
  • Siapkah Brebes Menghadapi Revolusi Industri 4.0?
    Siapkah Brebes Menghadapi Revolusi Industri 4.0?
    25/02/2020 - 08:40
  • Selamatkan Teman yang Terseret Arus, Remaja Tenggelam di Kali Ciliwung
    Selamatkan Teman yang Terseret Arus, Remaja Tenggelam di Kali Ciliwung
    26/02/2020 - 01:05
  • Bawaslu Beberkan Indeks Kerawanan Pemilu: Manokwari dan Sulut Paling Tinggi
    Bawaslu Beberkan Indeks Kerawanan Pemilu: Manokwari dan Sulut Paling Tinggi
    26/02/2020 - 00:35
  • Zidane: Ini Laga Madrid Vs Man City, Bukan Zidane Vs Guardiola!
    Zidane: Ini Laga Madrid Vs Man City, Bukan Zidane Vs Guardiola!
    26/02/2020 - 00:15
  • Banjir Jakarta Tengah Malam: Air di 42 RW Capai 71 Cm, Jaktim Terbanyak
    Banjir Jakarta Tengah Malam: Air di 42 RW Capai 71 Cm, Jaktim Terbanyak
    26/02/2020 - 00:00
  • Ayah Jessica Iskandar Jadi Korban Tabrak Lari
    Ayah Jessica Iskandar Jadi Korban Tabrak Lari
    25/02/2020 - 23:21
  • Kolonel TNI Ungkap Sosok Al-Issa, Tokoh Islam Dunia yang Tiba di UIN
    Kolonel TNI Ungkap Sosok Al-Issa, Tokoh Islam Dunia yang Tiba di UIN
    26/02/2020 - 00:03
  • Gara-gara Lakukan Hal Konyol, Bintang Muda Madrid Absen di El Clasico
    Gara-gara Lakukan Hal Konyol, Bintang Muda Madrid Absen di El Clasico
    26/02/2020 - 00:02
  • Banjir Bekasi, Video Penampakan Biawak atau Buaya Ini Viral di Twitter
    Banjir Bekasi, Video Penampakan Biawak atau Buaya Ini Viral di Twitter
    26/02/2020 - 00:02
  • Bikin Heboh, Ronaldo Unggah Foto Mandi Rame-rame
    Bikin Heboh, Ronaldo Unggah Foto Mandi Rame-rame
    26/02/2020 - 00:04
  • Kaesang Unggah Video Karyawannya Main Banjir, Warganet Ngadu ke Jokowi
    Kaesang Unggah Video Karyawannya Main Banjir, Warganet Ngadu ke Jokowi
    26/02/2020 - 00:44