Kopi TIMES

Radikalisasi di Era 4.0 

Rabu, 22 Januari 2020 - 17:16 | 58.92k
Radikalisasi di Era 4.0 
Stanislaus Riyanta, analis intelijen dan terorisme, mahasiswa doktoral Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia
Editor: Yatimul Ainun

TIMESINDONESIA, JAKARTARADIKALISME adalah proses yang membuat kelompok atau individu menjadi berpaham radikal. Dalam konteks ini paham radikal adalah aliran yang mencapai tujuan dengan menggunakan kekerasan atau cara ekstrim. Paham radikal yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok inilah yang kemudian bisa menjadi akar terjadinya aksi teror.

Proses radikalisasi hingga terjadinya aksi teror melalui beberapa tahapan. Fathali Moghaddam dalam teorinya yang dikenal dengan Staircase to Terrorism menyebutkan bahwa proses seseorang menjadi teroris melalui enam tangga.

Pertama, individu mencari solusi tentang apa yang dirasakan sebagai perlakuan yang tidak adil; kedua, individu membangun kesiapan fisik untuk memindahkan solusi atas persoalan tersebut dengan penyerangan yang dianggap sebagai musuh; ketiga, individu mengidentifikasi diri dengan mengadopsi nilai-nilai moral dari kelompoknya.

Pada tangga keempat, setelah seseorang memasuki organisasi teroris, dan hanya ada kemungkinan kecil atau bahkan tidak ada kesempatan untuk keluar hidup-hidup. Tangga kelima seseorang menjadi siap dan termotivasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan terorisme. Pada tangga terakhir adalah tangga dimana seseorang sudah berada pada puncak keyakinan untuk melakukan aksi teror.

Di era 4.0, dimana peran teknologi terutama internet sangat dominan, informasi dapat diperoleh dengan cepat dan mudah. Hal tersebut ternyata juga berpengaruh terhadap radikalisasi. Pada era sebelumnya radikalisasi dilakukan dengan tatap muka secara selektif, sembunyi-sembunyi, dan memerlukan waktu cukup lama, namun saat ini radikalisasi dapat dilakukan dengan sangat cepat, masif dan terbuka. Konten-konten dengan narasi radikal disebarkan melalui media sosial dan situs web sehingga mudah diakses oleh siapa saja.

Konten dengan narasi radikal yang bertentangan dengan Pancasila hingga konten tentang teknik perakitan dan penggunaan bom tersedia dengan bebas dan sangat mudah diakses. Konten tersebut mempunyai daya tarik yang kuat bagi generasi muda. Usia muda terutama remaja yang memerlukan ruang untuk eksistensi dan pencarian jati diri mendorong generasi tersebut membuka ruang bagi masuknya paham radikal tersebut.  

Dengan situasi saat ini maka tahapan seseorang atau kelompok untuk menjadi teroris menjadi lebih cepat. Perkembangan teknologi di era 4.0 menciptakan short cut proses untuk menjadi teroris. Adanya konten radikal yang bebas diakses melalui media sosial dan situs web, membuat seseorang atau kelompok yang mengakses konten tersebut langsung manapaki tangga ketiga untuk menjadi teroris.

Fathali Moghaddam menjelaskan bahwa tangga ketiga adalah kondisi dimana seseorang mengidentifikasi diri dengan mengadopsi nilai-nilai moral dari kelompoknya. Pada tangga ketiga ini seseorang mulai berkenalan dengan ideologi radikal yang menawarkan solusi bagi kondisi sosial politik berlanjut pada upaya mempelajari ide-ide, nilai-nilai, dan strategi perjuangan kelompok radikal.  Seseorang yang sudah berada pada tangga ini cenderung akan eksklusif dan memisahkan diri dengan pihak lain yang dianggap berbeda.

Radikalisasi di era 4.0 sudah terbukti menjadi semakin cepat. Bebarapa kasus terorisme yang melibatkan generasi muda seperti yang terjadi di: Gereja Katolik Medan (28/8/2016), serangan terhadap polisi di Cikokol (20/10/2016), dan aksi dua remaja putri di Mako Brimob (10/5/2018), diketahui terpapar paham radikal melalui media sosial atau situs web. Generasi muda tersebut lebih tepat jika dianggap sebagai korban radikalisasi yang terjadi melalui internet.

Penangkapan puluhan orang terduga teroris pada bulan Oktober 2019 juga mengungkap fakta radikalisasi di era 4.0. Mabes Polri melalui Divisi Humas menyebutkan bahwa 90 persen dari 36 terduga teroris yang ditangkap pada bulan Oktober 2019 berbaiat kepada ISIS secara online.

Selanjutnya, Polri juga menjelaskan bahwa kelompok tersebut melakukan interaksi lewat media sosial serta aplikasi percakapan seperti Whatsapp dan Telegram. Bahkan mereka juga belajar melakukan aksi teror dan merakit bom secara online.

Fenomena radikalisasi di era 4.0 yang semakin cepat ini harus ditangani dengan baik. Konten-konten dengan narasi radikal yang menyebar secara masif harus dikendalikan. Tindakan tegas untuk menghentikan dan membatasi konten tersebut perlu dilakukan, walaupun fakta pembatasan atau penghapusan satu konten akan disambut dengan munculnya puluhan bahkan ratusan konten lainnya.
Jika pengendalian konten sulit dilakukan maka cara lainnya adalah dengan melakukan kontra narasi. 

Mengingat sasaran paparan paham radikal yang terbesar adalah generasi muda, maka kontra narasi yang disebarkan menyesuikan dengan kebutuhan dan daya tarik anak muda. Kontra narasi yang disusun oleh pemerintah akan cenderung formal dan standard, berbeda jika konten-konten tersebut disusun oleh generasi muda secara langsung yang tentu akan lebih sesuai dengan kebutuhannya.

Mudahnya generasi muda terpapar paham radikal juga harus menjadi kritik bagi doktrinasi ideologi Pancasila dan nasionalisme. Jika doktrin ideologi Pancasila dan nasionalisme tersebut berhasil dilakukan maka ancaman paham radikal seharusnya bisa dibendung dan dilawan. Sebaliknya jika doktrin tersebut belum berhasil dilakukan maka generasi muda akan mencari ideologi lain yang lebih menarik sesuai dengan kebutuhannya.

Radikalisasi di era 4.0 harus disikapi dengan serius dan melibatkan masyarakat luas. Benteng pertahanan harus dibangun sehingga ancaman paham radikal bisa dibendung. Narasi radikal yang disebarkan harus dilawan dengan kontra narasi. Tanpa melibatkan masyarakat luas terutama generasi muda, maka radikalisasi di era 4.0 akan semakin gencar, teroris-teroris baru akan bermunculan, dan akhirnya radikalisasi di era 4.0 adalah jalan instan menjadi teroris.

* Penulis, Stanislaus Riyanta, analis intelijen dan terorisme, mahasiswa doktoral Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id



Publisher : Sholihin Nur

EKORAN

TERBARU

  • Bantuan Kuota Internet Jawab Keluhan Wali Murid untuk Menunjang Belajar Daring
    Bantuan Kuota Internet Jawab Keluhan Wali Murid untuk Menunjang Belajar Daring
    01/10/2020 - 15:56
  • Sebanyak 320 Prajurit Korem 152 Babullah Ternate Naik Pangkat
    Sebanyak 320 Prajurit Korem 152 Babullah Ternate Naik Pangkat
    01/10/2020 - 15:46
  • Oktober 2020, Kementan RI Dorong Percepatan Tanam Padi
    Oktober 2020, Kementan RI Dorong Percepatan Tanam Padi
    01/10/2020 - 15:42
  • TMMD 109 Danrem 044 Gapo Membuka Akses Simpang Pancur OKU
    TMMD 109 Danrem 044 Gapo Membuka Akses Simpang Pancur OKU
    01/10/2020 - 15:37
  • Anggota DPR RI Supriyanto: Kewajiban Pemda adalah Melaksanakan Pembangunan
    Anggota DPR RI Supriyanto: Kewajiban Pemda adalah Melaksanakan Pembangunan
    01/10/2020 - 15:33
  • Kabar Duka, Satu Dokter RSUD Koesma Tuban Meninggal karena Covid-19
    Kabar Duka, Satu Dokter RSUD Koesma Tuban Meninggal karena Covid-19
    01/10/2020 - 15:27
  • HUT ke-75 TNI, Kodim 0703 Cilacap Gelar Karya Bakti dan Bakti Sosial
    HUT ke-75 TNI, Kodim 0703 Cilacap Gelar Karya Bakti dan Bakti Sosial
    01/10/2020 - 15:25
  • DPRD Malut Minta Kemendagri RI Tetapkan Pj Bupati Haltim Berdasarkan Usulan Gubernur
    DPRD Malut Minta Kemendagri RI Tetapkan Pj Bupati Haltim Berdasarkan Usulan Gubernur
    01/10/2020 - 15:23
  • Dirjen PHU Kemenag RI: Keberangkatan Umrah Indonesia Masih Menunggu Izin Saudi
    Dirjen PHU Kemenag RI: Keberangkatan Umrah Indonesia Masih Menunggu Izin Saudi
    01/10/2020 - 15:18
  • Ipuk Fiestiandani Prioritaskan Program Pemulihan Ekonomi Akibat Covid-19 di Banyuwangi
    Ipuk Fiestiandani Prioritaskan Program Pemulihan Ekonomi Akibat Covid-19 di Banyuwangi
    01/10/2020 - 15:15

TIMES TV

Rahasia Tubuh Bugar dan Cantik Aktris Yurike Prastika

Rahasia Tubuh Bugar dan Cantik Aktris Yurike Prastika

17/09/2020 - 11:27

[CEK FAKTA] Pemerintah Bagikan Laptop bagi Siswa dan Guru Terdampak Covid-19

[CEK FAKTA] Pemerintah Bagikan Laptop bagi Siswa dan Guru Terdampak Covid-19
Warga SDK Santa Maria 2 Turut Rayakan HUT 33 Arema FC

Warga SDK Santa Maria 2 Turut Rayakan HUT 33 Arema FC
Hari Ulang Tahun  Arema FC, Ideologi dan Prinsip Dasar Arek-arek Malang

Hari Ulang Tahun  Arema FC, Ideologi dan Prinsip Dasar Arek-arek Malang
[CEK FAKTA] Gibran Tantang Rocky Gerung, Presiden Jokowi Serahkan Jabatan ke Prabowo

[CEK FAKTA] Gibran Tantang Rocky Gerung, Presiden Jokowi Serahkan Jabatan ke Prabowo

iGuides

  • De Potrek Bromo, Cafe Viral Terekomendasi 5 Star iGuides
    19/07/2020 - 16:35
  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20

KOPI TIMES

  • Mobilisasi Orkestrasi Kampus Merdeka Merajut Keberagaman
    Mobilisasi Orkestrasi Kampus Merdeka Merajut Keberagaman
    01/10/2020 - 04:52
  • Generasi Alfa, Teknologi Pembelajaran dan Indonesia 2045
    Generasi Alfa, Teknologi Pembelajaran dan Indonesia 2045
    30/09/2020 - 16:22
  • Mendambakan Sentuhan Ketenangan
    Mendambakan Sentuhan Ketenangan
    30/09/2020 - 02:14
  • Covid-19 Bukan Hambatan untuk Hajat Kekuasaan
    Covid-19 Bukan Hambatan untuk Hajat Kekuasaan
    30/09/2020 - 01:06
  • Febri Diansyah Mundur, Apa yang Kini Diharapkan dari KPK?
    Febri Diansyah Mundur, Apa yang Kini Diharapkan dari KPK?
    30/09/2020 - 00:00
  • Covid-19 dan Ujian Ketangguhan Mental
    Covid-19 dan Ujian Ketangguhan Mental
    29/09/2020 - 23:17
  • Dari Tewasnya Aktivis Hingga Tak Dapat Keadilan: Catatan Setahun Tragedi Sedarah
    Dari Tewasnya Aktivis Hingga Tak Dapat Keadilan: Catatan Setahun Tragedi Sedarah
    29/09/2020 - 22:02
  • Penataan Industri Era Pandemi
    Penataan Industri Era Pandemi
    29/09/2020 - 14:39
  • Tak Cuma Warga, Baliho Gambar Figur Tanpa Masker Wajib Diturunkan di Maluku
    Tak Cuma Warga, Baliho Gambar Figur Tanpa Masker Wajib Diturunkan di Maluku
    01/10/2020 - 15:55
  • 5 Potret Marshanda dengan Berbagai Gaya Rambut, Cantiknya Nggak Luntur
    5 Potret Marshanda dengan Berbagai Gaya Rambut, Cantiknya Nggak Luntur
    01/10/2020 - 15:53
  • Indeks Manufaktur RI Jeblok Lagi Gara-gara PSBB
    Indeks Manufaktur RI Jeblok Lagi Gara-gara PSBB
    01/10/2020 - 15:52
  • Jadi Pembeda di Tengah Marak Hoaks, Jurnalisme Cek Fakta Itu Maha Penting
    Jadi Pembeda di Tengah Marak Hoaks, Jurnalisme Cek Fakta Itu Maha Penting
    01/10/2020 - 15:51
  • Korlap Aksi Demo Bebaskan Jerinx SID Diperiksa Polisi
    Korlap Aksi Demo Bebaskan Jerinx SID Diperiksa Polisi
    01/10/2020 - 15:51
  • Ditunjuk-tunjuk Jenderal Gatot, Kolonel TNI Ucu Tetap Tenang dan Sopan
    Ditunjuk-tunjuk Jenderal Gatot, Kolonel TNI Ucu Tetap Tenang dan Sopan
    01/10/2020 - 00:04
  • Arsip Sejarah di Beijing Beberkan Bukti Kudeta Aidit dan PKI
    Arsip Sejarah di Beijing Beberkan Bukti Kudeta Aidit dan PKI
    01/10/2020 - 08:34
  • Pemilik Kartu BPJS Dapat BLT Rp4 Juta, Cek Faktanya
    Pemilik Kartu BPJS Dapat BLT Rp4 Juta, Cek Faktanya
    01/10/2020 - 06:29
  • Dua Perwira TNI Dibunuh Pakai Kunci Mortir di Hari Kesaktian Pancasila
    Dua Perwira TNI Dibunuh Pakai Kunci Mortir di Hari Kesaktian Pancasila
    01/10/2020 - 05:00
  • Transkip Perbincangan Aidit dengan Mao Zedong Terkait Kudeta PKI
    Transkip Perbincangan Aidit dengan Mao Zedong Terkait Kudeta PKI
    01/10/2020 - 10:14