Kopi TIMES

50 Tahun Refly Harun: Refly Harun dan Generasi Konstitusi Baru

Senin, 20 Januari 2020 - 16:13 | 70.75k
50 Tahun Refly Harun: Refly Harun dan Generasi Konstitusi Baru
Erwin Natosmal Oemar, Ketua DPP IKADIN

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Dalam ingatan saya yang sumir, saya mulai berinteraksi lebih dekat dengan Refly Harun sekitar tahun 2012 pasca-sebuah sidang pengujian undang-undang di Mahkamah Konstitusi. Selesai persidangan itu, saya diajak Feri Amsari untuk berbincang bersama dirinya dalam sebuah taksi.

Di sepanjang perjalanan, Refly Harun terus menerus mengutuki dirinya dengan menyebut bahwa ia adalah seorang pengacara paling bodoh di Indonesia karena membakar lapaknya sebagai pengacara konstitusi di Mahkamah Konstitusi.

Sebagaimana kita ketahui bersama, pada tahun 2010, Refly Harun pernah menulis di sebuah surat kabar terkait patgulipat sengketa pilkada di pengadilan konstitusi yang dihormati itu. Ketua Mahkamah Konstitusi waktu itu, Moh. Mahfud MD, kemudian menujuk dirinya sebagai ketua tim investigasi yang menyelidiki dugaan suap terhadap salah seorang hakim konstitusi bersama Bambang Widjojanto, Adnan Buyung Nasution, dan Saldi Isra. Meski sempat diancam pidana oleh Mahfud MD karena tuduhannya itu, Bang Refly ternyata gagal membuktikan keterlibatan Akil Mochtar.  Namun satu orang hakim konstitusi waktu itu, Anwar Sanusi sempat mengundurkan diri setelah diadakannya penyelidikan terhadap dugaan yang disampaikannya.

Kembali pada perbincangan di dalam taksi, saya dan Feri Amsari pun protes dan keberatan dengan pernyataan dirinya yang terus menerus menyesali apa yang terjadi di masa lampau. Kami merasa bahwa ia sudah berada di jalan yang benar dalam membuka isu yang tidak sedap di lembaga produk reformasi tersebut, dan memang sudah seharusnya begitu.

Tidak satu pun yang perlu ia sesalkan, meski upaya mengungkapkan kerisauannya terhadap lembaga penegak konstitusi yang dicintainya itu berimplikasi terhadap nasibnya, entah sebagai kuasa hukum atau sebagai ahli konstitusi. Apalagi pada hari itu, saya dan Feri Amsari melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Akil Mochtar memperlakukan dirinya secara “tidak adil” dalam sebuah persidangan.

Intensitas saya dengan Bang Refly makin sering saat saya dan dirinya diminta Bang Mulya (Todung Mulya Lubis) untuk menulis biografi politiknya. Sayangnya, di tengah proses penyusunan buku itu, Akil Mochtar ditangkap KPK. Namanya pun makin melambung dan menjadi incaran awak media, dan ia nampaknya mulai kesulitan mengatur waktunya.

Meskipun proyek itu tidak selesai, interaksi saya dengan dirinya pun masih tetap berlanjut dalam banyak diskusi dan forum bahkan saya pun pernah diminta dirinya untuk mengedit dua bukunya Harapan Itu Bernama Jokowi: Catatan Hukum Refly Harun 2014-2016 dan Menakar Konsistensi Berpikir; Refly Harun di Panggung Indonesia Lawyer Club (ILC).

Konstitusionalisme

Dalam peta intelektual hukum ketatanegaraan di Indonesia, pasca-generasi emas tumbuhnya para pemikir konstitusi seperti Mahfud MD, Jimly Asshidiqie, Yusril Ihza Mahendra, dan Fajrul Fallakh, muncul sebuah generasi baru ketatanegaran. Saya menyebutnya sebagai generasi konstitusi baru. Sebuah generasi yang aktif mendorong pertumbuhan konstitusi pasca-Reformasi dan terlibat aktif pula menjaga diskursus publik dalam pelbagai variannya seperti antikorupsi, kepemiluan, kelembagaan baru, dan lain sebagainya. Di antara generasi konstitusi baru itu, Refly Harun merupakan salah seorang esksponen terkemuka di generasinya bersama Denny Indrayana, Saldi Isra, Irman Putra Sidin, Zainal Arifin Mochtar, dan Bivitri Susanti.

Meskipun mereka tumbuh bersama dan mempunyai hubungan yang sangat dekat antara satu dengan yang lainnya, corak pemikiran ketatanegaraan Refly agak berbeda dengan rekan-rekan sepantarannya itu. Saya melihat pemikirannya lebih condong ke arah konstitusionalisme dibandingkan dengan pengamat konstitusi lainnya.

Meminjam penjelasan Andras Sajo, pakar konstusi terkemuka dari Hungaria, perbedaan antara konstitusi dan konstitusionalisme terletak pada penekanan terhadap hak asasi manusia. Atau menurut Brian Tamanaha, profesor dan teoritikus negara hukum, hak asasi manusia merupakan elemen pembeda antara corak sebuah negara hukum dalam artian “tipis” dan negara hukum dalam artian “tebal”.

Begitu eratnya relasi hak asasi manusia dan konstitusi, terlihat dari mayoritas batu uji yang digunakan dalam pengujian undang-undang di Mahkamah Konstitusi merujuk pada Pasal 28 UUD 1945 (pasal hak asasi manusia). Sayangnya, dalam peta pemikiran konstitusi terkini, dalam pandangan subjektif saya, tidak banyak pakar konstitusi yang benar-benar agak dalam membaca diskursus antara hak asasi manusia dan konstitusi.

Padahal, meminjam pandangan Andras Sajo, substansi dari konstitusi adalah perlindungan terhadap hak asasi manusia itu sendiri. Dalam pengamatan saya, mungkin hanya Adnan Buyung Nasution, Todung Mulya Lubis, dan Fajrul Fallakh yang mempunyai corak pemikiran konstitualisme yang tebal (dalam kesempatan lain saya akan menjelaskan hal ini lebih dalam). Sedihnya, dua dari tiga pakar konstitusi itu pun sudah meninggalkan kita semua.

Melihat latar belakang Bang Refly, kita tidak perlu terkejut jika pandangannya lebih mendekati corak berpikir konstitusionalisme. Ia pernah menjadi asisten Bang Buyung dan menyelesaikan gelar masternya dalam program Human Rights Law di University of Notre Dame sehingga pemahamannya soal korelasi antara hak asasi manusia dan konsitusi cukup mendalam dalam merespon permasalahan hukum dan ketatanegaran yang berkembang sangat cepat.

Selain dirinya, mungkin hanya Mbak Bibip (Bivitri Susanti) yang cukup cergap dan tidak ikut arus populisme hukum dalam upaya pencarian negara hukum pasca-Reformasi. Corak konstitusionalisme Bang Refly dapat dilacak dari sejumlah komentarnya dan komitmennya terhadap kebebasan berpendapat dan berekspresi, perlindungan terhadap kebebasan beragama, dan sejumlah isu publik dan hak asasi manusia lainnya.

Catatan saya terhadap pandangannya cuma soal pendapatnya yang emosional soal hukuman mati dalam kasus korupsi Akil Mochtar. Kita paham bahwa kasus ini mungkin agak personal bagi dirinya. Namun saya hakul yakin bahwa dalam hatinya paling dalam, ia punya komitmen yang mendalam terhadap perlindungan terhadap hak asasi manusia sebagai poros dasar dalam perbincangan kita bernegara, yang terkadang kerap disalahpahami oleh orang-orang yang kerap tidak sabar dalam menata budaya kita dalam berhukum dan berkonstitusi.

Akhir kata, harapan saya Bang Refly tetap pada aras konstitusionalisme sebagai jalan sunyi di tengah menjamurnya para penekun konstitusi dalam satu atau dua dasawarsa terakhir. Selamat ulang tahun ke-50 Bang! Panjang umur dan produktif selalu dalam menjaga akal sehat publik. (*)

*) Erwin Natosmal Oemar, Ketua DPP IKADIN

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id


Opini korupsi refly harun erwin natosmal oemar ilr bang refly mk mahkamah konstitusi 50 tahun refly harun
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
KOMENTAR

EKORAN

Kawal Informasi Seputar COVID-19 Secara Tepat dan Akurat

Ini merupakan sumber informasi inisiatif sukarela warganet Indonesia pro-data, terdiri dari praktisi kesehatan, akademisi, profesional & pemerintah.

Jumlah Kasus di Indonesia Saat Ini

1,790

+113 Positif

112

+9 Sembuh

170

+13 Meninggal
Statistik Kasus COVID-19 di Indonesia
Last update: Kamis, 02 April 2020 - 15:50 Sumber: kawalcorona.com
Honda HRV

TIMES TV

Ketua DPRD Kota Malang Sumbang dan Apresiasi MBLC

Ketua DPRD Kota Malang Sumbang dan Apresiasi MBLC

23/03/2020 - 20:12

Pembuatan Sarcovid, Karya Anak Bangsa Untuk Negeri Pertiwi

Pembuatan Sarcovid, Karya Anak Bangsa Untuk Negeri Pertiwi
Wisma Atlet di Kemayoran Sudah Bisa Dioperasian sebagai RS Darurat Penanganan Covid-19

Wisma Atlet di Kemayoran Sudah Bisa Dioperasian sebagai RS Darurat Penanganan Covid-19
Satu Jam Mengenal Pemikiran Didik Gatot Subroto

Satu Jam Mengenal Pemikiran Didik Gatot Subroto
Jokowi Bagi Tips Cegah Virus Corona

Jokowi Bagi Tips Cegah Virus Corona

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Bukan Lockdown, Indonesia Punya Dasa Wisma untuk Tuntaskan Corona
    Bukan Lockdown, Indonesia Punya Dasa Wisma untuk Tuntaskan Corona
    02/04/2020 - 22:40
  • Pembelajaran Online di Tengah Pandemi Covid-19, Tantangan yang Mendewasakan
    Pembelajaran Online di Tengah Pandemi Covid-19, Tantangan yang Mendewasakan
    02/04/2020 - 22:28
  • Covid-19 dan Investasi Saham
    Covid-19 dan Investasi Saham
    02/04/2020 - 15:13
  • Di Era Wabah, Jangan Ada Pelanggaran HAM
    Di Era Wabah, Jangan Ada Pelanggaran HAM
    02/04/2020 - 14:19
  • Sputnik dan Kita
    Sputnik dan Kita
    02/04/2020 - 13:43
  • Politik Hukum Berbasis Keadilan Gender
    Politik Hukum Berbasis Keadilan Gender
    02/04/2020 - 13:10
  • Menakar Kampus Merdeka ala Nadiem
    Menakar Kampus Merdeka ala Nadiem
    02/04/2020 - 12:28
  • Corona oh Corona!
    Corona oh Corona!
    02/04/2020 - 09:02
  • Bhayangkara FC Pastikan Kontrak dengan Sponsor Masih Aman
    Bhayangkara FC Pastikan Kontrak dengan Sponsor Masih Aman
    03/04/2020 - 02:45
  • Wamendes: Desa Harus Terlindungi dari Pemudik
    Wamendes: Desa Harus Terlindungi dari Pemudik
    03/04/2020 - 02:05
  • 2 Perwira TNI AL Berstatus PDB Virus Corona Meninggal di Jakarta
    2 Perwira TNI AL Berstatus PDB Virus Corona Meninggal di Jakarta
    03/04/2020 - 01:05
  • Pakar Sebut Sistem Kekebalan Tubuh Manusia Tidak Bekerja On dan Off
    Pakar Sebut Sistem Kekebalan Tubuh Manusia Tidak Bekerja On dan Off
    03/04/2020 - 00:51
  • Boca Juniors Tutup Peluang Datangkan Edinson Cavani
    Boca Juniors Tutup Peluang Datangkan Edinson Cavani
    03/04/2020 - 00:20
  • Begini Cara Dapat Token Listrik Gratis dan Diskon Tagihan PLN
    Begini Cara Dapat Token Listrik Gratis dan Diskon Tagihan PLN
    03/04/2020 - 00:34
  • Manantang Maut Lewat Mike Tyson, Aktor Nekat Ini Bernasib Tragis
    Manantang Maut Lewat Mike Tyson, Aktor Nekat Ini Bernasib Tragis
    03/04/2020 - 00:44
  • Pandemi Corona Bikin Juventus Sulit Bayar Gaji, Ronaldo Pulang ke MU
    Pandemi Corona Bikin Juventus Sulit Bayar Gaji, Ronaldo Pulang ke MU
    03/04/2020 - 01:34
  • Gawat, Bek Norwich Ketahuan Buka Situs Dewasa
    Gawat, Bek Norwich Ketahuan Buka Situs Dewasa
    03/04/2020 - 00:10
  • Pandemi Corona di Kamp Pengungsi Rohingya, 1 Toilet Digunakan 40 Orang
    Pandemi Corona di Kamp Pengungsi Rohingya, 1 Toilet Digunakan 40 Orang
    03/04/2020 - 01:22