Kopi TIMES

Sudah Jualan Agama Hari Ini?

Jumat, 06 Desember 2019 - 16:56 | 29.37k
Sudah Jualan Agama Hari Ini?
Ach Dhofir Zuhry.
Editor: Yatimul Ainun

TIMESINDONESIA, MALANG – Apakah gawai Anda sudah dijejal-sesaki dengan berita oknum pseudo penceramah yang mencaci-maki Wakil Presiden sebagai babi? Silakan berselancar mundur ke tahun 2015, siapakah pimpinan Ormas yang mula-mula menghina Presiden dam lantas diikuti secara berjamaah oleh cecunguk-cecunguk amatir lainnya? Gelombang hujatan, tsunami ujaran kebencian dan hoaks-hoaks beraroma sorgawi yang melokomotifi gerbong-gerbong demo berkepanjangan tak satupun yang tidak bermuatan politik. Tapi, apakah Negara takut kepada Ormas-ormas Pentungan yang memang sengaja dipelihara oleh segelintir oknum Jenderal? 

Di kota metropolitan dan maniak industri, kehidupan sudah sedemikian anyir dan berlendir. Jabatan politik, gelar akademik, gelar bangsawan, gelar ustadz dan habib, tukang ceramah, tukang demo, popularitas, pengetahuan, nasib baik, anatomi fisik, semuanya diperjualbelikan, atau setidaknya digali potesi-potensi ekonomis dari segala yang (dianggap) ada, tanpa terkecuali Tuhan dan agama.

Pendek kata, semua telah menjadi pasar. Setiap jengkal kehidupan telah mendapati puncak kegilaannya yang paling konsumtif, pemuja syahwat dan penyembah selangkangan. Memang manusia telah manjadi bagian dari teknologi, padahal, tadinya teknologi (terutama virtual) adalah bagian dari manusia. Apa yang terjadi? Manusia kehilangan diri dan akal sehatnya. Anda tahu, bahkan di luar politik elektoralpun, mangsa paling empuk bagi para srigala bisnis, oligark kekuasaan dan pengasong agama adalah siapapun yang cuti nalar alias berotak cingkrang. 

Sekali lagi, di jantung kota-kota besar, di mana para imigran berjudi dan kaum urban berkerumun mengais nasib mereka, Tuhan semakin sulit ditemukan. Sehingga, menjadi kaum urban harus pandai-pandai mencari Tuhan. Lho, bukannya di pasar semua serba ada? Tuhan dan agama pun nyaris seperti kacang rebus, bukan?

Di zaman "mabuk jualan" ini, bukan hanya aset Negara dan tangis rakyat yang dijual, Tuhan, Nabi dan agama pun dipoles sedemikian rupa untuk dijual, minimal agama sebagai bumbu dan pemanis bagi segala jenis jualan hormon. Oleh karena itu, jangan kaget jika dekade ini kita sedang panen ustadz karbitan, pseudo ulama, dai picisan yang ceramahnya hanya berisi provokasi dan disinformasi. Kabar buruknya, pasar akan terus menyediakan mereka sebanyak mungkin, selama sebagian dari kita tetap menginginkan mereka. 

Adapun politisasi sentimen dan sentimentalisasi (pilihan) politik semakin berjibun. Pasar, seperti halnya Tuhan, memang membantu siapapun yang membantu dirinya sendiri. Artinya, Anda harus menjadi petarung dan pendekar pilih tanding menjual atau jika tidak, Anda akan dijual, menindas atau malah ditindas! Akan tetapi, Tidak seperti Tuhan, pasar tidak memaafkan mereka yang tidak tahu apa yang mereka lakukan. Pasar memiliki pusaran purba yang hanya tunduk pada hukum untung-rugi. Terang sekali bahwa agama dan Negara seolah hanya takut kepada pemilik modal, para tengkulak, predator bisnis, oligark kekuasaan, demagog dan pengasong khilafah. 

Baiklah, kita kembali ke fokus perbincangan, mengapa sulit mencari Tuhan di perkotaan, di pusaran ekonomi dan politik? Sebenarnya, Tuhan ada di mana-mana dan di siapa-siapa, semau-mauNya, tanpa apa dan bagaimana. Tuhan adalah Pihak Kedua ketika Anda sedang sendiri, menjadi Pihak Ketiga manakala Anda sedang berdua. Apabila Anda seorang pengkhotbah di gereja atau pura, maka Tuhanlah salah satu jemaat Anda. Dan, ini yang banyak politisi, para begundal dan gerombolan bromocorah Parlemen tak percaya, setiap kali mereka rapat atau sidang menentukan, me-mark up, dan lalu menyunat anggaran, Tuhan juga sedang geleng-geleng sembari tersenyum di tengah-tengah mereka.

Sesekali, kalau Anda bosan karena terlalu sering piknik dan liburan ke luar sana, keluar diri, tengoklah ke dalam diri Anda, masuklah ke relung paling dalam. Ada apa? Karunia paling berarti yang dihadiahkan Tuhan dalam hidup ini sesungguhnya bukanlah gelimang kekayaan, gemerlap jabatan, pesona wanita yang molek jelita, prestasi dan kemewahan hidup, akan tetapi waktu dan kesempatan, yakni kesempatan menjadi manusia yang berakal sehat, kesempatan untuk tidak menyia-nyiakan waktu. Bukankah banyak di antara kita yang masih binatang?

Bagaimana dengan peluang? Ya, peluang menjadi orang waras. Sayangnya, peluang yang dikirimkan Tuhan tidak membangunkan para pemalas, orang yang tidur dan pura-pura tuli, Tuhan hanya menyapa orang-orang yang siaga dan mempersiapkan diri bagi datang-Nya. Prinsip ini nyaris kian menjauh dari arus deras modernisme dan industrialisme berbasis Medsos. 

Manusia supra modern yang justru semakin menggila dan menggilas masa depan Negerinya amat sulit menyadar-insyafi dan apalagi merubah budaya konsumtif dan permisif yang telah mengakar sampai ke sumsum meraka. Implikasinya, setiap upaya menetralisir dan menutup "pasar" tertentu, ongkosnya adalah dengan membuka pasar yang lain. Peradaban dari pasar ke pasar ini, dari jual-beli politik lendir sampai birokrasi pendidikan, dari penggelembungan anggaran sampai mark up pengadaan kepalsuan, serta dari makelar kasus sampai pialang agama dan kebudayaan, semuanya adalah peradaban pasar.

Pertanyaannya: siapakah kita di tengah virtualisasi gila-gilaan Internet of Thing ini? (1) Apakah manusia modern ini adalah Tuhan? (2) Siapakah kita di tengah pasar ini? Atau malah (3) kaum urban tak tentu arah itu adalah kita sendiri, yang limbung dan mau diperjualbelikan di era disrupsi? Dan, (4) apakah kita adalah pribadi yang menyadari ketiganya?

Opsi pertama jelas tidak, meski faktanya, masing-masing diri sok berperan menjadi Tuhan tak ada yang lebih nikmat selain menguasai dan menindas, lebih-lebih atas nama agama dan Nabi. Seolah dikawal malaikat Jibril gitu loh. Opsi kedua-ketiga adalah tempat bermain kita. Jika Anda adalah pasar, Anda adalah tempat bertemunya tengkulak, penjual dan pembeli. Masing-masing menghasrati keuntungan. Jika Anda adalah pasar bagi kehidupan orang lain, jangan biarkan setiap orang yang datang pada Anda, pergi tanpa merasa mendapat yang mereka cari, yakni merasa lebih baik dan lebih bahagia, terutama atas nama agama. Jika Anda, ormas dan institusi tempat Anda bernaung adalah barang dagangan, maka segeralah beralih pada opsi keempat, yakni menyadari semua itu dengan merubah dan memperbaiki: (1) diri sendiri, baru yang lain, (2) dari yang kecil dan remeh-remeh, dan (3) mulai dari sekarang!

Anda bisa membekuk segala jenis ego 4.0 yang menuntut serba cepat di muka bumi ini. Ego adalah akronim dari Edging God Out (menjauh dari Tuhan, bahasa Arab: syaitan), sehingga bagi para kekasihNya, ego dijinakkan sedemikian rupa dengan cara olah batin (riyadhah) dan penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Menyadari hal itu teramat penting dan mahal! 

Namun demikian, yang mengkhawatirkan bukanlah apakah Tuhan ada di pihak kita, tapi apakah kita berada di pihak Tuhan. Apa sebab? Tuhan tidak pernah membangunkan para pemalas! Sehingga, akhir dari upaya terbaik manusia adalah awal dari campur tangan Tuhan. Oya, sudahkah Anda jualan agama dan memusuhi atas nama Tuhan hari ini? Sebelum Anda menjawab sebilah tanya itu, perkenankan saya mengakhiri tulisan iseng ini dengan kalimat: sudah saatnya demokrasi kita bersikap intoleran terhadap segala intoleransi yang membonceng agama dan keagungan Nabi.(*)

*) Penulis, Ach Dhofir Zuhry

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id


Ach Dhofir Zuhry Opini Kopi TIMES
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok
Reaksi Anda
KOMENTAR

EKORAN

Follow TIMES Indonesia di Google News

TIMES TV

Panglima TNI Dampingi Presiden RI Pantau Banjir dari Udara

Panglima TNI Dampingi Presiden RI Pantau Banjir dari Udara

06/01/2020 - 10:22

Ini Video 3D Tiga Pemenang Sayembara Gagasan Desain Kawasan Ibu Kota Negara

Ini Video 3D Tiga Pemenang Sayembara Gagasan Desain Kawasan Ibu Kota Negara
Wisata Dyno Park 3

Wisata Dyno Park 3
Milenial Glow Garden, Newest Wonder at Jatim Park 2 Malang

Milenial Glow Garden, Newest Wonder at Jatim Park 2 Malang
Wisata Teknologi Tinggi Funtech

Wisata Teknologi Tinggi Funtech

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Kalkulasi Politik Pilkada Tuban 2020, Afirmasi Antar-Poros Ciutkan Nyali Bacalon
    Kalkulasi Politik Pilkada Tuban 2020, Afirmasi Antar-Poros Ciutkan Nyali Bacalon
    20/01/2020 - 23:43
  • Melawan Maksiat Hoaks di Pilkada 2020
    Melawan Maksiat Hoaks di Pilkada 2020
    20/01/2020 - 19:09
  • 50 Tahun Refly Harun: Refly Harun dan Generasi Konstitusi Baru
    50 Tahun Refly Harun: Refly Harun dan Generasi Konstitusi Baru
    20/01/2020 - 16:13
  • Ada Askab, Ada Papdesi, Ada Apa Banyuwangi Sebenarnya?
    Ada Askab, Ada Papdesi, Ada Apa Banyuwangi Sebenarnya?
    20/01/2020 - 08:41
  • Apakah Revisi RUU Pemasyarakatan Mempermudah Para Koruptor untuk Mendapatkan Hak Bersyarat?
    Apakah Revisi RUU Pemasyarakatan Mempermudah Para Koruptor untuk Mendapatkan Hak Bersyarat?
    19/01/2020 - 20:19
  • TGB di Kancah Nasional: Meredupkah?
    TGB di Kancah Nasional: Meredupkah?
    19/01/2020 - 16:57
  • Reintegrasi Sosial: Sebuah Metronom Penegakan Hukum yang
    Reintegrasi Sosial: Sebuah Metronom Penegakan Hukum yang "Hilang"
    18/01/2020 - 14:03
  • Anak Depresi Salah Siapa?
    Anak Depresi Salah Siapa?
    18/01/2020 - 10:14
  • Babak Baru Kasus Bunuh Diri Siswi SMP di Ciracas
    Babak Baru Kasus Bunuh Diri Siswi SMP di Ciracas
    21/01/2020 - 09:43
  • IHSG Pagi Ini Dibuka Bergerak di Zona Hijau
    IHSG Pagi Ini Dibuka Bergerak di Zona Hijau
    21/01/2020 - 09:41
  • Cara Perkuat Kekebalan Tubuh, Konsultan Nutrisi Beberkan Tips
    Cara Perkuat Kekebalan Tubuh, Konsultan Nutrisi Beberkan Tips
    21/01/2020 - 09:37
  • Diduga Pelaku Klitih, Seorang Remaja Tertangkap Warga di Giwangan
    Diduga Pelaku Klitih, Seorang Remaja Tertangkap Warga di Giwangan
    21/01/2020 - 09:36
  • Polisi Tahan 19 Orang Buntut Bentrok Dua Ormas di Cikampek
    Polisi Tahan 19 Orang Buntut Bentrok Dua Ormas di Cikampek
    21/01/2020 - 09:35
  • Jenius Banget, Bocah 3 Tahun Punya IQ 142 jadi Anggota Termuda Mensa
    Jenius Banget, Bocah 3 Tahun Punya IQ 142 jadi Anggota Termuda Mensa
    21/01/2020 - 05:58
  • Gemesin, 4 Momen Anak-anak The Daddies Lengket Sama Kevin Sanjaya
    Gemesin, 4 Momen Anak-anak The Daddies Lengket Sama Kevin Sanjaya
    21/01/2020 - 00:08
  • 7 Shio Ini Diprediksi Bakal Beruntung dan Punya Banyak Peluang di 2020
    7 Shio Ini Diprediksi Bakal Beruntung dan Punya Banyak Peluang di 2020
    21/01/2020 - 06:40
  • Vanesha Prescilla Diganti Mawar de Jongh, Adipati: Keputusan Bagus
    Vanesha Prescilla Diganti Mawar de Jongh, Adipati: Keputusan Bagus
    21/01/2020 - 04:30
  • Aksi Kocak Wiranto Saat Greysia/Apriyani Juarai Indonesia Masters
    Aksi Kocak Wiranto Saat Greysia/Apriyani Juarai Indonesia Masters
    21/01/2020 - 00:30